makassar dan hujan sehari

0-cover-makassar

Apakah kamu merasa terganggu bila hujan menemani saat liburanmu? Ketika berharap cuaca cerah menemani hari-hari yang ditunggu. Alih-alih merasa sebal, mungkin lebih baik berteman dengannya, dan melakukan hal-hal lain yang tetap membuat liburanmu istimewa. Dengarlah suara air bergemuruh di luar, cium aroma tanah dan pohon yang gembira menyambutnya.

Begitulah hujan menyambut kami yang baru turun di bandara Sultan Hasanuddin. Cuaca yang cerah sepanjang perjalanan dari Jakarta hingga Makassar, berubah menjadi kelabu usai pesawat mendarat. Dan begitu ranselku keluar dari bagasi, hujan deras menderu di luar tertumpah dari langit. Indriani, bekas teman sekantorku di Jakarta menyambut kami di mobilnya. Ia langsung mengajak sarapan Coto Makasar. Continue reading

Advertisements

annelies pujaan minke, si bunga penutup abad

teater-bunga-penutup-abad-booklet

Annelies telah berlayar. Kepergiannya laksana cangkokan muda direnggut dari batang induk. Perpisahan ini menjadi titik batas dalam hidupku: selesai sudah masa-muda. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian – dan dia takkan balik berulang.(Anak Semua Bangsa)

Duhai Annelies, gadis Indo jelita yang meruntuhkan hati Minke, si philogynik, juga hati banyak orang yang membaca kisahnya pada buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Gadis muda anak seorang Belanda dan Nyai Pribumi yang hidup di tahun 1898 di dalam rumah besar Wonokromo, dilahirkan, mempesona karena kecantikan, kehalusan dan kemanjaannya.
Continue reading

dunia anna : utang energi pada lingkungan

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

“Segera kamu akan mendapatkan kembali dunia ini persis seperti sediakala saat aku seumurmu, tapi kamu harus berjanji untuk merawatnya. Karena itu berarti kamu mendapatkan kesempatan baru. Mulai sekarang kita harus selalu menjaganya, karena setelah ini tidak akan ada kesempatan lagi.”(h.55)

“Aku kepingin melihat salju.”
Itu permintaan Bintang setiap kali aku baru pulang bepergian, di mana ia berpikir bahwa luar negeri itu pasti ada saljunya, nggak seperti di Indonesia (tentu saja aku menjelaskan bahwa di puncak Jayawijaya itu bersalju) yang beriklim tropis. Kekhawatiran tentang pemanasan global dan kemungkinan salju di kutub mencair pun sama dengan kekhawatiran ketika ia dewasa kelak, masihkah salju ada untuk diremas di tangannya? Atau aku harus menabung lebih cepat untuk bisa mengajaknya ke utara melintasi batas musim dari garis lintang?
Continue reading

71 di 17

indonesia-merah-putih-17-agustus

Indonesia adalah sebuah negeri yang diperjuangkan sebagai negara.
Merdeka dari ujung laut nusantara hingga gunung gemunungnya.
Merdeka untuk menjaganya sebagai sumber daya berkelanjutan.
Merdeka membangun pikir anak bangsa melampaui batas-batas angan.
Merdeka dalam pesona spektrum warna alamnya,
Biru langit. Jingga senja. Hijau hutan. Lembayung temaram.
Kuning bunga matahari. Merah bendera.

Indonesia dalam bentuk apa yang menarikmu?
Dalam Garuda sebagai lambang negara?
Dalam perjuangan budaya membangun nama bangsa?
Dalam peluh keringat atlet mengibarkan merah putih dari podium kemenangan?
Dalam perjalanan keliling nusantara yang mengharu biru?
Dalam kebanggaan berpakaian tradisional di negeri orang?
Atau dalam kecapan sambal goreng di ujung lidah?

71 tahun hanyalah merdeka sebagai negara,
karena sebagai negeri seharusnya Indonesia merdeka selamanya.

17 Agustus 2016. Pagi.
photo by Valentino Luis.

menemani senja di orange resto

0-cover-orange-resto-bogor

“Orange? Like Effie’s hair?” I say.
“A bit more muted,” he says. “More like sunset.”
― Suzanne Collins, Catching Fire

Apa sih harapanmu ketika senja tiba? Kalau mengingat masa kecilku dulu, senja adalah saat bermain, saat untuk bertamu, atau saat ketika sudah mandi dan berdandan rapi untuk minum teh dan membaca buku. Namun sore itu aku tiba di Orange Resto, yang berlokasi di Jl Sancang, tak jauh dari pintu tol Jagorawi, tanpa mandi dan tanpa larangan untuk masuk restoran dan memesan sejumlah penganan. Continue reading

semalam di la hasienda, kupang

1-la-hasienda-kupang

Aku tak terlalu berpikir banyak untuk tempat tinggal manakala harus tinggal sehari di Kupang. Atas rekomendasi seorang teman, kami menuju Hotel La Hasienda yang tidak terlalu jauh dari bandara sebagai tempat bermalam sebelum terbang ke Jakarta keesokan harinya. Ketika memasuki halaman hotel yang berada di depan jalan penuh flamboyan, aku langsung jatuh hati.

Fasade hotel bernama ala Spanyol ini memang didesain ala negeri Andalusia ini. Warna merah marun yang mendominasi bangunan, ditambah dengan sulur-sulur tanaman merambat di dindingnya, membuatku merasa nyaman di tengah panasnya Kupang pada sore hari itu. Sepertinya desain bangunannya memang untuk mengingatkan pemiliknya pada panasnya negeri matador itu. Jika di negeri aslinya hacienda berarti tanah pertanian, maka di lokasi ini lebih diisyaratkan pada ‘rumah yang nyaman di tanah tersebut. Continue reading

nyiur hijau rote ndao

rote-0-menjelang senja

“Nemberala, Pak,” begitu kusebutkan tujuanku pada supir mobil sewaan yang menawarkan jasanya sesaat sesudah aku dan ketiga temanku tiba di Pelabuhan Ba’a, sesudah menempuh perjalanan selama dua jam dengan kapal cepat dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Tempat itu kutuju karena dekat dengan pantai paling selatan Pulau Rote, pulau paling selatan di nusantara yang masih berpenghuni.

Dengan mobil sewaan, kami mulai melalui jalan-jalan di pulau Rote yang cukup mulus beraspal dan memang menjadi salah satu jalan utama menjelajah pulau. Ketika melewati area Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, aku jadi tahu bahwa sumber listrik di pulau ini menggunakan tenaga diesel, dengan kapal-kapal pengangkut solar yang rutin merapat.
Continue reading