dunia anna : utang energi pada lingkungan

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

“Segera kamu akan mendapatkan kembali dunia ini persis seperti sediakala saat aku seumurmu, tapi kamu harus berjanji untuk merawatnya. Karena itu berarti kamu mendapatkan kesempatan baru. Mulai sekarang kita harus selalu menjaganya, karena setelah ini tidak akan ada kesempatan lagi.”(h.55)

“Aku kepingin melihat salju.”
Itu permintaan Bintang setiap kali aku baru pulang bepergian, di mana ia berpikir bahwa luar negeri itu pasti ada saljunya, nggak seperti di Indonesia (tentu saja aku menjelaskan bahwa di puncak Jayawijaya itu bersalju) yang beriklim tropis. Kekhawatiran tentang pemanasan global dan kemungkinan salju di kutub mencair pun sama dengan kekhawatiran ketika ia dewasa kelak, masihkah salju ada untuk diremas di tangannya? Atau aku harus menabung lebih cepat untuk bisa mengajaknya ke utara melintasi batas musim dari garis lintang?

Buku ini bercerita tentang Anna dan Nova, yang terpisah jarak 70 tahun sesudah 2012 dengan kondisi Norwegia yang begitu jauh berbeda. Anna, gadis 16 tahun yang tinggal di Norwegia kini menemukan bahwa salju yang biasa dilihatnya setiap menjelang akhir tahun, kali ini menghilang. Rusa-rusa berkeliaran seolah ditinggalkan sinterklas mengantar hadiah natal. Anna cemas dengan keadaan yang tidak lagi sama dengan masa kecilnya dulu.

Di tempat yang sama, sumber energi telah habis di tahun 2082, mobil-mobil tak lagi bisa berjalan karena tak ada lagi bahan bakar untuk dieksplor, spesies-spesies punah satu demi satu, tak ada lagi keseimbangan lingkungan akibat perbuatan manusia di tahun- tahun sebelumnya. Nova, gadis 16 tahun yang hidup pada masa itu, menemukan surat Anna. Lucunya di masa di mana sumber energi bakar sudah habis, manusia kembali pada masa berabad sebelumnya, dengan berkendara naik unta, dan memotong pohon dengan kampak biasa.

Nova sayang, aku tidak tahu bagaimana rupa dunia saat kau membaca surat ini. Tapi kau tentu tahu. Kau tahu bagaimana kesudahan perusakan iklim, seberapa menurunnya kondisi alam dan mungkin tahu secara terperinci jenis-jenis hewan dan tumbuhan apa saja yang punah…(h.60)

Perubahan iklim global lama kelamaan menjadi hal yang tidak terelakkan. Bukan tidak mungkin tinggi muka air laut akan naik terus karena suhu bumi semakin panas akibat pembakaran energi di mana-mana. Sumber daya yang zaman dahulu tidak dimanfaatkan namun lama kelamaan menjadi gantungan hidup manusia untuk membuat bumi lebih modern. Titik-titik penghasil energi yang kemudian menjadi perebutan dan dasar atas pergerakan ekonomi dunia.

Semua atas dasar modernitas. Semakin ‘maju’ peradaban, semakin besar konsumsi energi yang dibutuhkan. Semakin banyak kendaraan bergerak, semakin lama komputer menyala, semakin besar kebutuhan listrik, mesin-mesin bergerak, membuahkan perhatian pada dua sisi: perkembangan teknologi untuk mengeksplorasi energi, atau nada skeptis yang menyatakan, “memang kita butuh semua itu?”

Di pom bensin di bawah sana banyak mobil berdatangan masuk ke halaman parkirnya, dan biasanya para pengemudi membiarkan mesin terus menyala saat mereka masuk ke dalam toko dan membeli hotdog atau kentang. Anna jengkel melihat semburan asap knalpot mobil-mobil yang sedang berhenti itu. Mobil hotdog, pikirnya. Asap knalpot yang biru keabu-abuan itu tampak lebih tajam dan jelas karena suhu sedang jauh di bawah nol, mungkin minus sepuluh atau dua belas. Di jendela sempit di kamarnya tidak terpasang termometer luar, tapi pada saat musim dingin seperti ini Anna telah belajar seni menebak suhu dengan melihat warna dan konsistensi asap knalpot mobil. (h.71)

Energi, bukan semata tentang bahwa anda sanggup membayar, tapi bisakah dimanfaatkan secukupnya supaya masih ada cukup sebagai cadangan anak cucu kita. Dan ketahanan lingkungan adalah harga yang setara utang dari energi yang terus menerus dibakar. Setiap liter bahan bakar yang membuat manusia berpindah, setiap liter energi untuk mengubah benda menjadi berbentuk fungsi lain, seharusnya memiliki pajak terhadap lingkungan yang dikotorinya. Pertanyaannya adalah, seberapa setimbang dana yang dibayarkan pengguna energi (dan penghasil polutannya juga) yang benar-benar digunakan untuk memperbaiki lingkungan yang rusak oleh kebutuhan menggunakan energi?

Jika kita terus menerus memperbaiki lingkungan dengan dana yang harus dibayar oleh pengelola energi, mungkinkah di kemudian hari memang akan terjadi kesetimbangan?

Sejauh ini Nova tidak merasa bersalah menikmati jalan-jalan setapak yang berliku ini, karena ia tahu meski hutan birch ini masih ada, sebagian besar flora dan fauna gunung ini telah sirna. Daaerah ini telah kehilangan alam pegunungan tradisionalnya tempat sapi-sapi, domba dan kambing sedang merumput di musim panas seperti kebiasaan zaman dahulu. Dan ia tahu bahwa harga yang harus dibayar untuk sebuah labirin jalan setapak dalam hutan birch itu ialah kekeringan yang membakar, bencana kelaparan, dan krisis cuaca di belahan lain dunia. (h. 126)

Isu tentang lingkungan kurang menjadi seseksi energi di negeri ini. Eksplorasi migas masih terkait dengan upaya politis pengelolaannya, untuk kekayaan sebagian orang, padahal dampak dari kebijakan ini adalah taruhan terhadap lingkungan di masa depan. Upaya-upaya energi terbarukan masih berada di kluster-kluster kecil yang dibicarakan sepihak, kurang adanya pendekatan kebijakan yang persuasif dan dukungan untuk menjadi viral dan tren yang selalu didengung-dengungkan.

Mungkin jika Anna berkunjung ke kampung Ciptagelar, Banten, maka ia punya lebih banyak ide yang akan disebarkannya pada dunia. Di desa yang memanfaatkan energi dari air terjun ini masih sangat menjaga kearifan lokal dengan sistem bertani tradisional, bahkan berdialog pada tanah yang akan memberikan tanda-tanda alam mengenai kapan mereka siap ditanami untuk memberikan manfaat yang lebih pada warganya. Bahkan Abah Anom si pemimpin desa ini pun bukan warga biasa, beliau bisa merakit pemancar televisi, termasuk meliput acara-acara desa untuk ditonton kembali oleh warganya. Lokasi desanya di daerah pegunungan tidak menghalanginya mendapatkan akses informasi untuk memajukan desa, tapi tidak meninggalkan kesadaran untuk lingkungan demi masa depan bumi yang dicintai.

Supaya kita dapat memelihara keaneka ragaman hayati di planet ini, kita perlu melakukan sebuah pergeseran cara berpikir secara besar-besaran seperti yang dilakukan Copernicus. Memercayai bahwa benda-benda langit berputar mengelilingi bumi adalah sama naifnya dengan hidup sambil menganggap bahwa sematanya hanya untuk kita hari ini. Zaman hidup kita ini tidak memiliki arti sentral lebih dari seluruh zaman yang akan datang. Bagi kita tentuu saja zaman kita adalah yang terpenting. Namun kita tidak dapat hidup seakan zaman kitalah yang penting bagi mereka yang akan datang sesudah kita. (h.158)

Berangkat dari hati, kesadaran tentang lingkungan masa depan ini ditumbuhkan sejak kecil sehingga kelak anak-anak tumbuh menjadi pejuang-pejuang lingkungan yang sadar bahwa bumi ini hanya titipan. Tanah, air dan udara yang sekarang masih agak bersih harus terus diperbaiki kualitasnya di masa depan.

Ini bukan sekadar ketakutan akan habisnya sumber energi, tapi betapa besarnya dampak yang harus terbayarkan kepada bumi, berapa besar pembukaan lahan untuk mencari energi, berapa luas habitat kehidupan yang akan hilang dan berapa banyak spesies yang akan punah karena kehilangan tempat tinggalnya. Sadarkah bahwa pohon-pohon itu pun kelak akan berubah menjadi fosil meskipun kita lambat menebangnya?

Sejauh manakah cakrawala etika kita? Ujung-ujungnya permasalahan nini kembali pada pertanyaan tentang identitas. Apakah manusia itu? Dan siapakah aku? Jika aku hanya diriku – badan yang sedang duduk dan menulis ini– maka aku adalah sekadar suatu ciptaan tanpa harapan. Dalam pengertian yang luas. Namun aku memiliki sebuah identitas yang lebih mendalam ketimbang sekadar badanku dan masa hidupku yang singkat di bumi ini. Aku adalah bagian dari –aku juga mengambil bagian dalam– sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang diriku sendiri. (h.208)

dunia-anna-jostein-gaarder-ui-climate-change

Dunia Anna ditulis oleh Jostein Gaarder, penulis buku Dunia Sophie dan beberapa novel filsafat lain, berasal dari Norwegia dan sangat peduli terhadap isu-isu lingkungan untuk dunia masa depan. Tahun 2012, Gaarder sempat datang ke Indonesia dan memberikan ceramah tentang Climate Change.

Advertisements

9 thoughts on “dunia anna : utang energi pada lingkungan

  1. omnduut says:

    Hiks kok komenku gak masuk ya >.<

    Aaaak mbak Indri udah ketemu sama belio ❤ *menatap sirik
    Aku baca beberapa bukunya mbak. Dunia Sophie, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Mimpi, Gadis Jeruk (kalo gak salah lupa2 inget hehe) namun yang paling aku suka itu Cecilia dan Malikat Ariel. Mungkin banyak quote kece dan paling ringan dibandingkan buku lain hwhwhw.

    Jadi mupeng baca Dunia Anna 🙂 TFS

    • indrijuwono says:

      ajak ke banyak tempat yang dekat sekali dengan alam, sehingga tumbuh kecintaannya secara alami pada alam. hutan, sungai, sawah, lembah, menikmati segarnya dunia yang bisa jadi kalau nanti dunia semakin panas, munngkin itu semua akan hilang..

  2. lilik says:

    Bagus sekali, anak2 jaman sekarang sudah tidak kenal dengan alamnya. mereka dekat dengan gadgetnya. Alam seolah tidak berarti, sungguh generasi muda yang sangat disayangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s