desa mandeh yang permai

8-desa-mandeh-sumatera-barat

Konon kabarnya, di pelukan ibulah perasaan berubah menjadi damai, semua lelah sirna. Tak terkecuali ke desa Mandeh yang berarti ibu, menjadi rumah pulang selama tiga hari. Lelah sudah bertualang di laut pada siang, terdampar sore dan malam untuk beristirahat di sini. Terletak dikelilingi perbukitan, akses desa ini paling mudah adalah menggunakan kapal dari Carocok Tarusan, terus melalui muara memasuki sungai.

Kapal berderet bertambat di sepanjang sempadan. Sungai yang dangkal membuat kapal harus berjalan perlahan. Bilah kayu digunakan untuk mengemudi, mendorong kapal mengarahkan. Agar pertemuan dengan kapal-kapal lain yang melintas tidak terjadi tumbukan.

Di balik sungai terdapat rumah-rumah berderet membelakangi sungai. Rupanya bangunan-bangunan ini menghadap ke jalan utama desa hanya satu memanjang ramai. Tak ada rumah mewah dengan pilar romawi di sini, hanya rumah-rumah kayu yang menyiratkan kesederhanaan. Sepanjang sore anak-anak bermain-main di jalan, ditimpali oleh suara ayam berpetok-petok berlarian.

Ternyata di desa ini tak hanya pandai melaut, tapi juga menyiapkan kapalnya. Berjalan di tepian sungai di bawah pohon kelapa, menyusur hingga akhir desa. Di satu pelataran bertemu dengan rangka kapal yang masih dibangun. Bilah-bilah kayu tersusun melengkung, membentuk tulangan yang akan ditutup papan, siap dibawa berlayar anggun.

Di ujung desa terbentang sawah , seketika mengingatkan pada memori masa kecil, menggambar dua gunung lengkap dengan jalan di tengah beserta sawah di kiri dan kanan. Menguning menghampar menunggu dipanen, ditiup angin dalam hembusan. Tak cuma ada damai di sini, terdengar juga cakap lantang orang bersahut-sahutan.

Matahari muncul perlahan-lahan dari balik bukit, menyimak pagi yang baru yang permai.

1-desa-mandeh-sumatera-barat

2-desa-mandeh-sumatera-barat

4-desa-mandeh-sumatera-barat

5-desa-mandeh-sumatera-barat

6-desa-mandeh-sumatera-barat

7-desa-mandeh-sumatera-barat

9-desa-mandeh-sumatera-barat

10-desa-mandeh-sumatera-barat

11-desa-mandeh-sumatera-barat

12-desa-mandeh-sumatera-barat

13-desa-mandeh-sumatera-barat

14-desa-mandeh-sumatera-barat

15-desa-mandeh-sumatera-barat

16-desa-mandeh-sumatera-barat

17-desa-mandeh-sumatera-barat

18-desa-mandeh-sumatera-barat

19-desa-mandeh-sumatera-barat

20-desa-mandeh-sumatera-barat

21-desa-mandeh-sumatera-barat

22-desa-mandeh-sumatera-barat

23-desa-mandeh-sumatera-barat

24-desa-mandeh-sumatera-barat

25-desa-mandeh-sumatera-barat

26-desa-mandeh-sumatera-barat

kalau di masa tua nanti ketika bangun tidur bisa memandangi dan sebahagia hamparan kekuningan seperti ini, rasanya tak ada alasan untuk mati muda.

Perjalanan 22-26 Juli 2015 bareng KAPA FTUI
pic 1 : ginting, christo, faris, imam, kemal, decby
pic 2 : decby, aulia, indri, ibu, widya, pak ujang, christo, faris, uda armed.

Advertisements

25 thoughts on “desa mandeh yang permai

  1. mysukmana says:

    keren itu mbak andri, yang masih penasaran bagi saya adalah gimana sih bikin itu kapal, kayunya bisa rapi n mlengkung bagian samping..btw dalam rangka apa nih kesini mbak..

    • indrijuwono says:

      Kayunya bisa melengkung tentu karena dipahat. Lengkung mengikuti hidrodinamisnya air. Ini sih ilmu turun menurun sepertinya.
      Ke sini buat stay at night karena siangnya diving di perairan Mandeh..

  2. Gara says:

    Iya, permai. Hijau nyiur diselipi sawah, perahu mengapung di atas sungai yang tenang. Hm, permainya :hehe. Berasa hilang semua beban pikiran, bersyukur banget-banget bisa melihat cahaya matahari menerpa padi-padi :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s