cerita kupu dan batu dari bantimurung dan leang-leang

0-cover-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

“and when all the wars are over, a butterfly will still be beautiful.”
― Ruskin Bond, Scenes from a Writer’s Life

Tak lengkap berada di Maros tanpa berkunjung ke kerajaan kupu-kupu di Bantimurung dan gos-goa prasejarah di Leang-leang. Daerah yang masih berada di antara gugusan tebing-tebing batu ini menjadi habitat dari banyak spesies serangga yang berwarna-warni cantik itu. Info tentang Bantimurung cukup mudah didapat dari berbagai tulisan di blog sebagai salah satu tempat wisata yang wajib didatangi apabila berkunjung ke Makassar.

Sebenarnya Bantimurung yang berada di kabupaten Maros ini lebih dekat dengan Bandara Hasanuddin, sehingga kalau tiba dengan pesawat, bisa saja langsung ke sini. Apalagi sekarang ini banyak penerbangan ke Makassar dengan tiket pesawat murah yang membuat banyak orang bisa bepergian ke manapun dengan harga yang cukup terjangkau, menjelajahi sudut-sudut unik nusantara.

Karst Maros yang sebagian sudah aku nikmati di Rammang-rammang, kali ini memiliki kehidupan yang berbeda dengan bebatuan diam di sana, karena di Bantimurung merupakan habitat kupu-kupu. Dengan naik angkutan umum dari Pasar Maros, aku dan Lukman tiba di lokasi ketika masih pagi, sehingga tempatnya tidak terlalu ramai. Di sebelah luar banyak orang menjual suvenir gantungan kunci berbentuk kupu-kupu yang bisa dijadikan oleh-oleh. Agak miris dan sedih melihat serangga cantik itu diawetkan dalam wadah akrilik.

Sesudah membeli tiket masuk seharga Rp. 25.000,- per orang, begitu masuk gerbang kami ditawari seorang pemandu yang hendak mengantar berkeliling obyek wisata Bantimurung. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai pemandu, supaya lebih banyak pengetahuan yang bisa didapat di sini. Lagipula, tarifnya tidak terlalu mahal koq.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah museum kupu-kupu yang berada di belakang gedung hotel yang masih dibangun. Di dalamnya, ratusan jenis kupu-kupu dari berbagai jenis diawetkan dan dipelajari. Banyak sekali motif unik kupu-kupu yang terkelompokkan berdasarkan habitatnya. Pantas saja, seorang ahli kupu-kupu bisa mengenali asal serangga ini hanya dengan melihat motif sayapnya. Museum kupu-kupu ini tampak tidak terawat bangunannya meskipun isinya cukup lengkap, dari Mauritius hingga Brazil.

1-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

2-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

3-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

Di samping museum ini terdapat taman kupu-kupu yang ditangkar dan dipelihara sambil diteliti. Lucunya, kupu-kupu bersayap gelap ini mudah sekali tertarik dengan warna-warna merah pada bunga kembang sepatu, juga bajuku yang waktu itu berwarna cerah. Kupu-kupu di sini bertelur, menjadi kepompong, hingga menetas menjadi serangga indah yang beterbangan. Beberapa dari mereka hanya bergerak mengelilingi satu batang pohon saja, mungkin dirasa di situ adalah rumah.

Memang Sulawesi adalah surga kupu-kupu sehingga menarik Alferd Wallace, seorang naturalis, ahli biologi dan geografi asal Inggris untuk tinggal dan mengamati kehidupan hewan-hewan di sana.

“Dalam perjalanan pulang di tengah hari yang panas, saya beruntung bisa menemukan tiga spesimen Ornithopera, jennis kupu-kupu paling besar, paling sempurna, paling cantik yang pernah ada. Hati saya bergetar saat mengeluarkannya dari jaring dan melihat bahwa mereka berada dalam kondisi yang masih sempurna. Warna dasar serangga mengagumkan ini hitam dan cokelat kemerahan. Sayap bawahnya bergaris halus dan berhiaskan sebaris bintik kuning. Badannya berhiaskan bintik-bintik putih, kuning dan jingga, sedangkan kepala dan dadanya berwarna hitam pekat. Bagian bawah dari sayap bawahnya berwarna putih satin, dengan bercak hitam serta kuning di pinggir sayap.” (Kepulauan Nusantara, h.161, Komunitas Bambu)

4-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

5-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

6-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

7-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

Dari situ kami menuju tempat yang paling terkenal di Bantimurung, yaitu air terjunnya yang lebar dan luas. Jika berdiri terlalu dekat dengan air terjunnya, percikan-percikan air ini bisa saja membuat orang yang berdiri di dekatnya kebasahan. Untunglah banyak batu-batu dalam jarak tertentu tempat berdiri dan berfoto-foto cantik di situ.

Air terjun Bantimurung berasal dari sungai Pattunuang yang bermuara di gunung Bulusaraung. Walaupun tidak terlalu tinggi, namun lebarnya yang mencapai hampir 10 m membentuk lapis-lapis air yang berbeda karena efek posisi batu-batu yang ada di baliknya. Di bagian bawah air terjun, disewakan ban renang untuk pengunjung yang mau bermain-main di perairan ini. Tapi karena musim penghujan, tak banyak pelancong yang bermain di air karena dikhawatirkan hanyut.

9-bantimurung-leang-leang-air-terjun

8-bantimurung-leang-leang-air-terjun

10-bantimurung-leang-leang-air-terjun

Ketika mengamati air terjun bertingkat tiga itu, ternyata di bawah jembatan tampak sekumpulan kupu-kupu yang asyik bercengkrama dengan bebatuan. Kupu-kupu berwarna biru itu beterbangan berkelompok sepertinya sambil mengalihkan perhatian supaya tidak diburu. Memang kami harus memperhatikan dengan baik supaya serangga ini terlihat.

12-bantimurung-leang-leang-air-terjun

Sambil berjalan di di tepi air terjun menaiki perkerasan batu, Pak Abidin pemandu kami bercerita bahwa air sungai ini kerap meluap di musim penghujan. Bekas-bekas air hujan tampak di jalur perkerasan yang dibatasi koral sikat itu, sementara beberapa kupu-kupu hitam mengikuti langkah kami, mungkin tertarik pada baju berwarna cerah ini, atau memang di situlah jalannya (hm, manusia memang suka ge-er gitu, lah).

13-bantimurung-leang-leang-air-terjun

Di ujung jalan setapak, Pak Abidin menunjukkan Goa Batu. Sebagai seseorang yang menghabiskan masa muda dengan goa-goa, lokasi ini membangkitkan berbagai nostalgi yang menggugah. Goanya cukup besar, dengan stalagtit yang menggantung dan stalagmit yang bermunculan dari dasar goa. Jalurnya yang berupa satu koridor besar bisa dimuati banyak orang sekaligus. Karena cukup banyak pelancong yang datang, maka suara-suara pun cukup banyak juga yang menggema di dalam. Beberapa ceruk menarik perhatian orang-orang untuk berfoto di situ, padahal dahulu digunakan sebagai tempat bertapa. Tentu saja dengan pencahayaan di dalam goa yang gelap bisa dibantu dengan cahaya senter atau lampu petromax yang disewakan. Titik-titik air sisa hujan yang melipir di dinding-dinding permukaan berkilauan ditimpa cahaya.

19-bantimurung-leang-leang-goa-batu

14-bantimurung-leang-leang-goa-batu

15-bantimurung-leang-leang-goa-batu

16-bantimurung-leang-leang-goa-batu

17-bantimurung-leang-leang-goa-batu

18-bantimurung-leang-leang-goa-batu

Ketika kami keluar Bantimurung, Pak Abidin yang juga hendak pulang kebetulan menawarkan kami untuk menumpang mobilnya dan juga mengantar kami ke Leang-leang, tujuan kami selanjutnya. Setelah sempat menikmati sop Konro di jalan raya Bantimurung, mobil berbelok lagi ke arah utara dan melintasi jalur dengan tebing-tebing batu di kiri dan kanannya.

Sawah-sawah menjadi latar depan dari gugusan karst yang memanjang sebagai bagian dari karst Maros yang ketiga terbesar di dunia. Lalu taman-taman batu juga tumbuh di sekitar sawah di tengah hujan rintik-rintik yang membasahi bumi. Aku meminta turun sejenak untuk mengabadikan bebatuan itu.

20-bantimurung-leang-leang-karst-maros

21-bantimurung-leang-leang-karst-maros

22-bantimurung-leang-leang-karst-maros

23-bantimurung-leang-leang-karst-maros

Ternyata di depan Situs Leang-leang juga terdapat taman batu yang dari sejak pintu gerbangnya hingga mulut goa. Bongkahan-bongkahan ini sejak lama berada di sini sebagai bagian dari karst Maros. Meskipun tak terlalu ramai, tapi taman ini asyik sekali untuk mengadakan acara-acara berbau arkeologi. Rumput-rumput basah di sekitar bebatuan menjadi kontras terhadap keras dan hitamna bebatuan ini.

25-bantimurung-leang-leang-karst-maros

26-bantimurung-leang-leang-karst-maros

Memasuki goa Leang-leang, kami harus menaiki puluhan anak tangga secara bergantian. Jadi apabila ada rombongan yang berada di dalam, maka rombongan yang lain harus menunggu dulu di tepi luar goa karena jalan masuknya yang sempit. Goa yang kami masuki dinamakan Leang Petta Kere, pada ketinggian 45 mdpl dan 10 meter dari permukaan tanah. Ada teras kecil pada bagian pintu goanya yang termasuk dalam kategori kekar tiang. Salah satu yang membuat Leang Petta Kere ini terkenal adalah lukisan babirusa, cap tangan manusia, dan alat batu serpih bilah serta mata panah.

27-bantimurung-leang-leang-karst-maros

28-bantimurung-leang-leang-karst-maros

29-bantimurung-leang-leang-karst-maros

Menurut penelitian, kemungkinan lukisan-lukisan ini sudah berumur 5000 tahun dan digambar oleh manusia prasejarah yang tinggal di atas di dalam goa ini. Hm, berarti cerita-cerita manusia goa di masa lalu itu memang benar adanya dengan adanya bukti-bukti di sini. Bayangkan pada zaman dahulu manusia goa itu harus memanjat cukup tinggi hingga sampai pintu leang yang berada 10 km dari tanah. Mungkin dahulu di sekitar sini banyak binatang buas yang membuat mereka harus tinggal di ketinggian.

30-bantimurung-leang-leang-karst-maros

31-bantimurung-leang-leang-karst-maros

32-bantimurung-leang-leang-karst-maros

Kami masih melintasi taman batu itu lagi sebelum meninggalkan situs prasejarah yang cantik itu. Sekitar 30 menit perjalanan kemudian, kami melewati bandara Hasanuddin sebelum masuk kota Makassar lagi. Naah, ternyata lokasi Bantimurung dan Leang-leang ini memang tak jauh dari bandara, bisa menjadi tempat pertama yang dituju ketika tiba. Penerbangan ke Hasanuddin memang cukup banyak, dan bisa dicari dengan mudah dari situs tiket2.com yang sering menjual tiket pesawat promo. Apalagi transportasi dari Bandara ke Maros yang cukup mudah didapatkan, dan hujan tidak akan menghalangi…

33-bantimurung-leang-leang-karst-maros

perjalanan 29.12.2015 bantimurung, leang-leang, makassar.
ditulis di depok, bandung, garut, dan seterusnya..

Advertisements

8 thoughts on “cerita kupu dan batu dari bantimurung dan leang-leang

  1. iyoskusuma says:

    Ah, Bantimurung.. Leang-leang…. Rencana mau ke sini akhir tahun gagal. Tertunda. Pengen banget liat cap tangan manusia purba di sana. Konon salah satu yang tertua di dunia ya.

    • indrijuwono says:

      semoga bisa yaa. waktu itu aku rencana di mei tahun lalu pas promo AA, eeh ternyata relasinya ditutup. jadilah aku pergi ke mana-mana kusuka. jadi akhir tahun nekad ikut kak olip mudik (padahal di sana jalan sendiri juga), jadilah ke makassar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s