bisik daun ti garut

0-garut-trauma-healing-pasca-banjir-story-telling-cover

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana
Sapardi Djoko Damono – Dalam Doaku

“Aku mau story telling, ya!”

Demikian usulku ketika bang Irvan memperlihatkan e-flyer acara Bisik Daun Ti Garut, sebuah acara yang diadakan sebagai bagian dari kegiatan Trauma Healing untuk korban banjir bandang di Garut beberapa waktu lalu. Anak-anak memang selalu mencuri perhatianku ketika bepergian ke mana pun karena wajah-wajah mereka yang polos membuat ingin berkenalan dan mengobrol. Story telling yang sepertinya hanya memakan waktu dua tiga jam saja pasti akan lebih mudah daripada masa mengajar di Kelas Inspirasi yang seharian. Walaupun sama-sama berhadapan dengan anak-anak, bercerita sepertinya lebih tidak harus membuat materi ajar yang terlalu berat. Kurang lebih sama seperti menulis, hanya saja diungkapkan secara verbal.

Udara sejuk berangin menyelimuti pagi di Garut yang dilingkupi oleh awan dari puncak-puncak gunung yang melingkupinya. Kota berangin yang dikelilingi oleh Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Cikuray dan Gunung Papandayan ini berada di ketinggian 717 mdpl, di mana ketika berdiri di mana pun sudut kotanya, yang dilihat adalah gunung gemunung yang melingkupi. Rupanya dari sanalah perihal udara yang mengalir sepoi-sepoi sehingga hari terus-menerus terasa di mana pagi berasal. Tiba di kota ini, yang terlintas adalah membaringkan diri pada hammock yang diikat pada batang-batang pohon sambil menikmati awan berarak dari satu puncak ke yang lain.

2-garut-dampak-banjir-tarogong-kidul-kali-cimanuk

3-garut-dampak-banjir-tarogong-kidul-kali-cimanuk

Karena itu, cukup mengejutkan ketika aku mendengar tiga minggu yang lalu bahwa banjir bandang menerjang kota pegunungan ini dari aliran sungai Cimanuk tetiba membawa air dalam jumlah yang berkali lipat biasanya dan menghanyutkan rumah-rumah yang berada di tepian sungai di kota Garut sehingga banyak orang-orang banyak kehilangan tempat tinggal, ruang beraktivitas, dan ruang bermain anak-anak yang ceria. Dalam beberapa jam saja air naik jauh di atas ketinggian tanggul dan menghanyutkan bangunan yang sebagian besar dari kayu dan membuat penghuninya harus pindah. Sebagian dari mereka tinggal di rusunawa, di wisma LEC, dan kerabatnya yang lain dengan bantuan pemerintah atau insidental dari komunitas tanggap bencana.

Daerah sisa paparan banjir menyisakan lahan bukaan sejauh hampir 30 meter dari bantaran sungai yang sebenarnya sudah ditanggul di tepi sungai Cimanuk di kecamatan Tarogong Kidul, tak jauh dari terminal Guntur. Sementara itu, di tepi-tepi yang tidak ditanggul, tanah-tanah runtuh ke sungai beserta apa yang ada di atasnya. Mengejutkan karena dataran Garut ini masih termasuk dalam daerah tengah, sesudah hulu, belum tiba di hilir sungai yang biasanya lebih padat. Duhai Gunung Cikuray di kejauhan, apa yang membuatmu marah dan mengirimkan air begitu banyak dari muara?

Kulihat anak-anak sedang asyik berkerumun bersama dengan beberapa relawan di tepi bantaran sungai. Wajah manis khas pasundan dengan senyum sumringah di bibir menyambutku yang sedang berjalan-jalan santai di atas tanggul. “Nanti datang ke depan LEC, ya. Ada baca cerita..,” ajakku. Khas anak-anak, mereka saling bersembunyi di balik temannya tapi dengan senyum penasaran memperhatikan siapa ‘tamu’ ini. Gemas sekali. Karena itu, aku selalu suka mengobrol dengan anak-anak, menggali apa yang mereka rasakan.

1-garut-dampak-banjir-tarogong-kidul

4-garut-dampak-banjir-tarogong-kidul-kali-cimanuk

5-garut-dampak-banjir-tarogong-kidul-kali-cimanuk

6-garut-dampak-banjir-tarogong-kidul-kali-cimanuk

Aku dan Ghaniyya kembali ke depan Wisma LEC, di mana sudah berkumpul panitia dari Wanadri maupun dokter-dokter muda dari Mer-C yang akan memberikan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis kepada penduduk desa Tarogong Kidul dan sekitarnya. Tempat ini dipilih karena sebelumnya sudah menjadi posko bantuan untuk korban banjir Cimanuk ini. Kang Soma dari Wanadri sudah beraksi dengan sapaan riuh melalui pengeras suara memanggil-manggil warga untuk turut berpartisipasi dalam acara ini. Kesibukan mulai tampak di sana-sini. Orang mondar-mandir membawa kardus. Panggung sudah berdiri di lapangan futsal. Panitia yang sedang checksound. Dokter-dokter yang bersiap-siap bertugas. Anak-anak berteriak-teriak di taman bermain. Pohon-pohon sedikit bergoyang dan menggugurkan semut-semut yang sering bermain di batang-batangnya.

Panitia memberikan tempat padaku di bawah pohon rindang untuk berbagi cerita dengan anak-anak yang sedang menunggu giliran pengobatan bersama ibu-ibunya. Aku membuka satu tulisan favoritku yang kutulis untuk Getaway Magazine beberapa waktu lalu, yaitu tentang perjalanan ke Kalimantan menyusuri sungai Sekonyer untuk bertemu dengan orangutan. Cerita itu kupilih karena sama-sama berlatar belakang sungai seperti kondisi di sini. Aku bercerita bahwa di Kalimantan transportasi utamanya adalah jalur air dari sungai, sehingga kebanyakan orang-orang berlalu lalang naik kapal.

7-bisik-daun-ti-garut-trauma-healing-pasca-banjir-story-telling

8-bisik-daun-ti-garut-trauma-healing-pasca-banjir-story-telling

9-bisik-daun-ti-garut-trauma-healing-pasca-banjir-story-telling

Anak-anak sangat tertarik dengan gambar-gambar orangutan yang menghiasi cerita yang kutulis di majalah itu. Tangannya yang panjang, rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan, dan anak orangutan yang menempel terus pada badan ibunya hingga usia 6 tahun menarik mereka untuk tekun mendengar. Selain itu aku juga menceritakan tentang bekantan berhidung panjang yang membangunkan di pagi hari karena teriakan-teriakan antar mereka di sela-sela pohon di tepi sungai. Melihat anak-anak antusias dan riang dengan cerita ini, sembari menyelipkan pesan pada mereka untuk tetap menjaga hutan di kemudian hari. “Kita sama-sama makhluk hidup yang hidup berdampingan di tempatnya masing-masing. Kalau kita tidak merusak hutan yang menjadi tempat tinggal orangutan, mereka tidak akan mendekat dan mengganggu.”

10-garut-trauma-healing-pasca-banjir-story-telling

11-garut-trauma-healing-pasca-banjir-story-telling

Menjelang siang, suasana yang mengikuti pemeriksaan kesehatan pun semakin banyak. Lebih banyak lagi anak-anak yang berkerumun sambil mendengarkan ceritaku. Beberapa anak masih betah mendekat dan mendengarkanku cerita macam-macam. Sembari membagikan beberapa buku yang kubawa, akhirnya aku mengganti trik dengan menyuruh mereka bercerita. Kuminta mereka bercerita tentang perjalanan dari rumah ke sekolah, tentang apa saja yang dilihat. Rupanya masih malu-malu dan perlu dipancing satu-satu. Walaupun sekolah di tempat yang berbeda, rata-rata anak-anak ini berjalan kaki ke sekolah setiap hari dengan jarak 20-30 menit dan hampir selalu bersama-sama, tanpa diantar orang tuanya. Yang sudah kelas empat SD akan menjaga adik-adiknya dari kelas yang lebih rendah.

Ketika Teh Dika bergabung dan mengajak bermain do mi kado, anak-anak ini pun riuh bercerita mereka mau menjadi apa. Neng Bulan, salah satu gadis kecil yang terus menempel padaku, mengaku ingin menjadi guru. Ilmi yang ingin menjadi dokter, kuminta untuk memperhatikan bagaimana dokter-dokter Mer-C bekerja di dalam sana. Sebagian besar anak lelaki ingin menjadi polisi atau tentara. Ah, profesi-profesi di masa depan yang berguna untuk negeri yang indah ini, sambil memeluk anak-anak ini.

12-garut-trauma-healing-pasca-banjir-story-telling

13-garut-trauma-healing-pasca-banjir-tim-ui

Ratusan orang juga memadati rangkaian pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis yang diadakan oleh Tim Mer-C. Dokter-dokter muda ini kali ini berpraktek di dalam gedung TK yang disulap jadi posko kesehatan untuk selama beberapa jam. Rupanya panggilan dari pengeras suara yang sepanjang pagi berkumandang ini menarik banyak orang untuk memanfaatkan kesempatan untuk mengetahui kondisinya paska banjir lalu. Namun suasananya sangat bisa dijaga tertib bergantian pasien datang dan pergi.

14-garut-trauma-healing-pasca-banjir-pengobatan-gratis

15-garut-trauma-healing-pasca-banjir-pengobatan-gratis

16-garut-trauma-healing-pasca-banjir-pengobatan-gratis

17-garut-trauma-healing-pasca-banjir-pengobatan-gratis

17-garut-trauma-healing-pasca-banjir-pengobatan-gratis-mer-c

Acara tidak berakhir dengan pemeriksaan kesehatan dan bercerita saja. Sesudah dhuhur, bang Irvan dari ILUNI UI menyerahkan bantuan berupa tripod pada ibu Ani, salah satu pengungsi yang tadi hadir dalam pemeriksaan kesehatan. Bantuan ini diharapkan bisa mempermudah Ibu Ani yang kini tinggal di rusun ini untuk beraktivitas sehari-hari.

43-garut-trauma-healing-pasca-banjir-bantuan-tripod

Di lapangan futsal pun digelar berbagai acara yang diawali dengan pertunjukan barongsai oleh anak-anak asuhan Panti Aledja yang memainkan kolaborasi apik antara dua barongsai berkostum merah dan biru dan penabuh genderangnya. Anak-anak pun riuh berkerumun di menonton barongsai sekaligus lari bertemperasan ketika salah satu barongsai itu mendekat. Lucu sekali melihat kegembiraan mereka di siang hari yang mulai berawan itu.

21-garut-trauma-healing-pasca-banjir-anak-anak-barongsai

22-garut-trauma-healing-pasca-banjir-anak-anak-barongsai

22-garut-trauma-healing-pasca-banjir-anak-anak-barongsai-a

23-garut-trauma-healing-pasca-banjir-anak-anak-barongsai
Pertunjukan dilanjutkan dengan pementasan Taiko dari Panti Aledja juga dengan alunan genderang yang ritmis dan rancak. Tetabuhan ini mengundang warga untuk hadir menyaksikan hiburan rakyat ini, tak terkecuali anak-anak yang kini duduk di kursi-kursi yang disusun di bawah tenda. Sembari berinteraksi, permainan Taiko ini memang mencuri perhatian banyak orang untuk berkumpul di lokasi. Dirangkai dengan pembacaan puisi alam oleh Ine Febriyanti dan lagu-lagu dari Maximum Theory, titik-titik hujan yang membasahi lapangan pun seolah diabaikan, tenggelam oleh keriaan bersama dalam hiburan untuk rakyat ini. Dalam kesempatan ini juga diserahkan secara simbolis bantuan untuk Garut dari ILUNI UI dan ITB’83 yang diterima oleh Ibu Nety Lilis selaku Camat Tarogong Kidul. Semoga bantuan ini bisa berguna untuk penduduk yang memperbaiki fasilitas bersama untuk pemukiman yang dijauhkan dari sempadan sungai.

24-garut-trauma-healing-pasca-banjir-anak-anak-taiko

24-garut-trauma-healing-pasca-banjir-anak-anak-taiko-a

26-garut-trauma-healing-pasca-banjir-anak-anak-panitia

28-garut-trauma-healing-pasca-banjir-panitia-wanadri

29-garut-trauma-healing-pasca-banjir-anak-anak

29-garut-trauma-healing-pasca-banjir-panitia-wanadri

Bahagia rasanya melihat antusias warga yang memeriahkan acara. Teriakan anak-anak yang tak kalah oleh suara hujan. Pembawa acara yang bersemangat. Pemain genderang yang kuat. Pengisi acara yang tampil maksimal. Pedagang yang berkerumun di sisi lapangan. Tim yang mondar-mandir tanpa kenal lelah. Orang-orang yang baru dikenal maupun beberapa orang yang dikenal sebelumnya. Langit yang berganti-ganti warna. Biru ke kelabu. Kelabu hingga putih. Hujan. Cerah. Hujan. Cerah lagi. Hingga senja menjelang dan matahari pamit dari pandangan. And the show still go on.

25-garut-trauma-healing-pasca-banjir-pengunjung

30-garut-trauma-healing-pasca-banjir-ine-febriyanti

31-garut-trauma-healing-pasca-banjir-ine-febriyanti

32-garut-trauma-healing-pasca-banjir-bantuan-iluni-ui-itb

33-garut-trauma-healing-pasca-banjir-anak-anak

Terima kasih atas kesempatan berbaginya untuk abang Irvan Toreza, Ghaniyya, KAPA FTUI, ILUNI UI, teteh Luly dan tim dokter dari Mer-C, akang Syarief, teh Ayu, teh Dika, kang Soma, Willy dan tim Wanadri, kang Gada dari Sumber Alam, dan semua yang sudah berkolaborasi untuk acara ini, tabik hangat untuk semuanya.

Ketika aku, bang Irvan dan Ghaniyya pamit saat layar tancap diputar di bawah hujan turun, kang Syarief berpesan, “Indri, ditunggu lagi di Garut. Pintu Panti selalu terbuka.”

Aku terharu. Perjalanan dengan niat baik selalu mendatangkan kenalan-kenalan baru yang baik juga. Rasanya seperti menemukan kampung halaman lagi.

34-garut-trauma-healing-pasca-banjir-taiko

35-garut-trauma-healing-pasca-banjir-ine-febriyanti-ghaniyya-dika-putri-indri-juwono

36-garut-trauma-healing-pasca-banjir-tim-hore

37-garut-trauma-healing-pasca-banjir-tim-hore

38-garut-trauma-healing-pasca-banjir-tim-ui

39-garut-trauma-healing-pasca-banjir-tim-cewek

40-garut-trauma-healing-pasca-banjir-tim-wanadri-aledja

41-garut-trauma-healing-pasca-banjir-luly-larissa

42-garut-trauma-healing-pasca-banjir-indri-irvan-ghaniyya

Bisik Daun Ti Garut, 29.10.2016. thanks Ghaniyya yang sudah memotret story telling.
ditulis di Bogor, 04.11.2016

Advertisements

7 thoughts on “bisik daun ti garut

  1. omnduut says:

    Itu mbak yang rambut panjang aku kira tadi Medina Kamil. Rada mirip 😀

    Senengnya kalau main ke desa-desa, ketemu anak-anak yang masih polos, ceria, mainnya sama temen bukan sama gadget. Bisa ketularan aura positifny 🙂

    Alam di sana juga indah. Liat sungai yang jernih gitu kok ya pingin nyebur (pake ban, gak bisa renang soalnya) hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s