Tag Archives: garut

buku untuk cipangsor

 “It is better to light a candle than curse the darkness.”

― Eleanor Roosevelt

Satu bulan yang lalu, aku mengikuti acara peresmian fasilitas MCK dan penjernihan air di Garut, Jawa Barat. Di situ ada yang menarik perhatianku yaitu anak-anak balita yang menyanyikan berbagai lagu dengan lucu dan riang, bersama dengan tari-tarian yang mereka bawakan. Rupanya mereka adalah murid-murid PAUD Al-Mukti Cipangsor yang sehari-harinya belajar di bangunan di depan masjid, yang hari itu digunakan sebagai tempat menyajikan makanan.

Anak-anak ini tinggal di desa Cipangsor yang terletak di kabupaten Garut di kaki Gunung Cikuray, namun lokasinya di ketinggian membuatnya agak susah dijangkau. Penduduk desa bermata pencaharian di berbagai sektor informal di kota Garut, selain beberapa keluarga yang menjadi petani. Beberapa kali aku mengunjungi desa ini untuk site visit pembangunan MCK, sayangnya ketika itu belum bertemu dengan PAUD dan murid-murid di sini.
Continue reading buku untuk cipangsor

bisik daun ti garut

0-garut-trauma-healing-pasca-banjir-story-telling-cover

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana
Sapardi Djoko Damono – Dalam Doaku

“Aku mau story telling, ya!”

Demikian usulku ketika bang Irvan memperlihatkan e-flyer acara Bisik Daun Ti Garut, sebuah acara yang diadakan sebagai bagian dari kegiatan Trauma Healing untuk korban banjir bandang di Garut beberapa waktu lalu. Anak-anak memang selalu mencuri perhatianku ketika bepergian ke mana pun karena wajah-wajah mereka yang polos membuat ingin berkenalan dan mengobrol. Story telling yang sepertinya hanya memakan waktu dua tiga jam saja pasti akan lebih mudah daripada masa mengajar di Kelas Inspirasi yang seharian. Walaupun sama-sama berhadapan dengan anak-anak, bercerita sepertinya lebih tidak harus membuat materi ajar yang terlalu berat. Kurang lebih sama seperti menulis, hanya saja diungkapkan secara verbal. Continue reading bisik daun ti garut

kampung naga dalam uraian uriya

cover
“Tiap orang harus berani mengembara, mematangkan diri, memetik tiap pengalaman menjadi guru, yang akan memberi makna hidup lebih dalam, dan boleh pulang kelak, bila ia sudah cukup paham akan apa arti hidup. Dan itu semua hanya akan diperoleh di tempat yang jauh dari kampung halaman, yang tak pernah punya janji masa depan.”
-Mohammad Sobary

Ini adalah kali keduaku ke Kampung Naga. Hampir tiga tahun yang lalu aku tiba di pemukiman tradisional ini ketika matahari hampir tenggelam sehingga tak banyak menggali tentang tempat ini karena keburu gelap. Saat matahari kembali ke peraduannya, gelap seakan jatuh di desa ini. Tak ada terang lampu yang menengahi rembang petang. Satu dua obor dihidupkan di depan rumah-rumah yang membujur arah timur barat. Suara bedug mesjid besar dipukul tiga kali, diikuti kumandang adzan maghrib tanpa pengeras suara. Angin lembah menyelisip di sela-sela rumah, memberi sedikit gigil pada yang berdiri di luar rumah. Suara tenggerek bersahut-sahutan dari hutan di balik sungai. Merdu seperti berirama khas pedesaan. Satu tempat yang tak jauh dari peradaban kota. Ah, beradab adalah satu makna relatif dalam satu habitat. Tak semua harus mengikuti satu parameter bukan?

Sebenarnya Kampung Naga berada hanya sekitar 30-an km dari kota Garut. Namun karena berada dalam kabupaten Tasikmalaya, maka sering orang tersesat hingga dikira Kampung Naga berada di jalur Garut Tasikmalaya yang melalui Malangbong, satu jalan propinsi di jalur selatan yang populer sebagai alternatif menuju Timur. Padahal Kampung Naga berada di jalur Garut Tasikmalaya via Singaparna, jadi agak ke sebelah baratnya kota Garut menuju selatan. Bila berada di kota Garut, ambillah arah petunjuk jalan yang menuliskan kecamatan Salawu atau Singaparna. Dari terminal Garut juga bisa naik bis 3/4 atau elf yang melaluinya. Jangan khawatir kelewatan, supir atau kenek jalur itu pasti menurunkan di depan gerbang Kampung Naga.
Continue reading kampung naga dalam uraian uriya

tak cuma ada dodol di garut

CDMA/GSM smartphone 5"
CDMA/GSM smartphone 5″

The Caller: If you have to ask, you’re not ready to know yet.
– Phonebooth [Movie-2002]

Seberapa penting sih smartphone buat kamu? Buat aku yang lebih sering mematikan ponsel ketika bepergian merasa nggak terlalu perlu juga sih. Apalagi kalau pergi ke tempat terpencil yang mungkin sinyal juga tiada. Agak-agak bingung juga apa yang akan aku perbuat ketika aku mendapat Smartfren AndromaxV ketika diundang datang ke acara buka puasa bersama. Iya, setelah beberapa kejadian smartphoneku tidak bisa berfungsi maksimal ketika dibawa jalan-jalan, fitur lain apa yang sebenarnya bisa digunakan?

Dua minggu lalu aku berjalan-jalan ke Kampung Naga Tasikmalaya bersama Bintang, lalu menjemput Lanny dan Fadi dari Jakarta, dan Sanjaya yang datang dari Jogja. Jalur Kampung Naga ini ada di daerah Singaparna yang termasuk dalam Kabupaten Tasikmalaya, namun harus dicapai dengan melalui kota Garut. Kebetulan saat itu Smartfren AndromaxV-nya terbawa, sehingga fitur-fiturnya dicoba oleh diriku yang sebenarnya agak gaptek ini.
Continue reading tak cuma ada dodol di garut