dua puluh empat jam di Palu

Sebelum memulai petualangan di lautan Sulawesi Tengah, aku tiba di Palu, ibukota propinsi yang selama ini hanya tahu dari buku geografi saja. Mendarat di sini pada jam setengah sebelas WITA, rasanya seperti sudah tengah hari saja, karena kota ini memang berada dekat dengan garis khatulistiwa dengan posisinya di 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT.

Dilihat dari udara, kota ini didominasi oleh atap seng gelombang yang menjadi penutup bangunan-bangunan dengan berbagai warna. Ketika mengobrol dengan supir yang menjemput kami, memang di Palu tidak banyak ada tanah liat sehingga tidak umum mengubahnya menjadi genting. Kalauppun ada, pasti hanya digunakan sebagai bata saja.

Kota Palu berada di tengah teluk Palu, berbentuk memanjang dari timur ke barat, sehingga garis pantainya memanjang berbentuk huruf U. Di tengahnya, terdapat Sungai Palu yang dihubungkan dengan jembatan Palu berwarna kuning yang cukup terkenal. Area pusat kota lebih banyak pada Palu di sisi timur teluk, termasuk area perdagangan dan pusat pemerintahan, sementara yang arah ke barat relatif lebih sepi. Namun, di sisi selatannya, kota juga berkembang dengan pesat dengan jalan-jalan aspal yang bagus dan lebar.  Continue reading