dua puluh empat jam di Palu

Sebelum memulai petualangan di lautan Sulawesi Tengah, aku tiba di Palu, ibukota propinsi yang selama ini hanya tahu dari buku geografi saja. Mendarat di sini pada jam setengah sebelas WITA, rasanya seperti sudah tengah hari saja, karena kota ini memang berada dekat dengan garis khatulistiwa dengan posisinya di 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT.

Dilihat dari udara, kota ini didominasi oleh atap seng gelombang yang menjadi penutup bangunan-bangunan dengan berbagai warna. Ketika mengobrol dengan supir yang menjemput kami, memang di Palu tidak banyak ada tanah liat sehingga tidak umum mengubahnya menjadi genting. Kalauppun ada, pasti hanya digunakan sebagai bata saja.

Kota Palu berada di tengah teluk Palu, berbentuk memanjang dari timur ke barat, sehingga garis pantainya memanjang berbentuk huruf U. Di tengahnya, terdapat Sungai Palu yang dihubungkan dengan jembatan Palu berwarna kuning yang cukup terkenal. Area pusat kota lebih banyak pada Palu di sisi timur teluk, termasuk area perdagangan dan pusat pemerintahan, sementara yang arah ke barat relatif lebih sepi. Namun, di sisi selatannya, kota juga berkembang dengan pesat dengan jalan-jalan aspal yang bagus dan lebar. 

Berkaitan dengan nama kotanya yang unik, berasal dari kata Topalu’e yang artinya tanah yang terangkat. Menurut kisah, daerah ini dahulu adalah lautan dan menjadi daratan sesudah ada gempa dan pergeseran lempeng membentuk daratan dan lembah. Ada juga yang mengatakan bahwa Kota Palu berasal dari bahasa Kaili yaitu Volo, yang berarti bambu. Tanaman yang ditemukan dari daerah Tawaeli hingga Sigi ini sangat erat kaitannya dengan masyarakat suku Kaili untuk penggunaan sehari-hari.

Lalu apa saja sih yang bisa dalam waktu yang singkat di kota Palu dan sekitarnya? Jalan-jalan dong. Sebenarnya kami berencana untuk paralayang di Matantimali, tapi karena waktu ketibaan kami yang terlalu siang dan sudah mati angin, jadi terpaksalah diundur hingga waktu yang tidak ditentukan. Hm, alasan untuk mengunjungi Palu lagi, nih.

1. Makan Kaledo

Kaledo adalah akronim Kaki Lembu Donggala, disajikan dengan kuah hangat seperti sop, dengan bumbu rempah yang kaya rasa khas Sulawesi. Kalau pernah makan coto makassar, agak-agak mirip dengan intensitas kuah yang lebih ringan, lah. Kaledo ini dimakan dengan irisan ubi sebagai pengganti nasi. Jangan ditanya, pastilah bikin kenyang dan nagih terus kepingin nambah, apalagi sesudah menyeruput-seruput tulang sesudah dagingnya habis.

2. Pantai Tanjung Karang

Berkendara kurang lebih satu jam dari Palu ke arah Donggala, akan bertemu dengan pantai ini, pasirnya putih dan banyak perahu kayu, menjadikan pantai ini cukup menarik untuk dilintasi. Sayangnya hujan rintik-rintik ketika tiba di sini. Jadi pindah deh..

3. Pantai Pusat Laut

Yang paling asyik adalah adanya sumber air tawar yang berada di pantai dengan air yang bening banget dan mengundang sekali untuk diloncati (tapi aku takut). Air ini berasal dari sumur bawah tanah yang tetap jernih dan bersih walaupun orang-orang sudah berulangkali berenang di dalamnya. Dengan kedalaman sekitar 5-7 meter, dasar kolam terlihat dengan jelas walaupun dilihat sekitar lima meter dari atas permukaan air. Banyak anak-anak yang meminta dilempari koin untuk diambil oleh mereka yang rupanya pandai sekali menyelam walaupun tanpa belajar serius. Konon kabarnya, ada penghubung antara laut lepas dengan air yang ada di pusat laut ini.

Sementara itu, tepian pantainya merupakan pantai pasir putih halus dengan ombak tenang untuk dinikmati sore-sore. Pepohonan yang akarnya menjulur-julur banyak dipasangi ayunan yang melupakan umur pengunjungnya yang kebanyakan dewasa ini. Jadi senanglah bermain segala ayunan sambil ditemani sepoi-sepoi angin hingga matahari menghilang.

4. Minum Sarabba dan Pisang Gepe

Lelah berkegiatan seharian? Minuman paduan jahe, telur, madu, gula ini paling pas untuk menghangatkan badan dan mengembalikan energi yang tertumpah seharian. Di warung-warung tepi pantai, sarabba disajikan bebarengan dengan pisang gepe sebagai camilan bersama sebelum makan malam menjelang. Jadi walaupun terkena angin laut, tapi dijamin tidak akan masuk angin, karena perut terisi dan tenggorokan hangat.

5. Makan Uta Dada dan Ayam Panggang

Sembari menikmati kota Palu di ketinggian, kami menyantap Uta Dada, yaitu hidangan ayam yang direbus bersama kuah santan kental dengan cita rasa pedas karena dimasukkan juga potongan cabai rawit hijau untuk menambah rasa. Gurihnya ayam kampung yang berbumbu santan dan serai ini dimakan dengan ketupat hingga memenuhi perut. Tak ketinggalan juga ayam panggang Palu yang berwarna merah seperti rendang, namun rasanya manis seperti terbalur gula merah. Pasti kepingin nambah lagi!

6. Makan Nasi Kuning, Lalampa, dan Ngopi khas Palu

Nasi kuning di Palu ini luar biasa enaknya, ditemani dengan suwiran daging, potongan paru goreng serta bawang goreng palu yang khas, membuat porsi yang besar ini bisa lenyap dalam sekejap. Walaupun sudah menelan beberapa potong lalampa (lemper bakar isi ikan khas Palu) yang tak kalah lezat, tetap saja pesona nasi kuning ini masih bisa menggoyang perut yang lapar di saat sarapan. Kopinya pun tak kalah istimewa, dijerang dengan teko stainless di atas arang, disajikan dengan susu kental manis, menyajikan harum yang khas dan menggoda untuk dinikmati selagi panas. Siap menambah energi!

7. Penggaraman

Di tepi pantai Talise, masih bisa ditemui petani garam tradisional yang mengeringkan air laut menjadi kristal-kristal penguat rasa masakan kita ini. Disekat-sekat menjadi beberapa bagian, proses pembuatan garam secara tradisional ini menjadikannya sebagai mata pencaharian. Tentu karena suhu kota Palu yang sangat terik membuat proses ini bisa cepat terjadi secara alami.

8. Jembatan Kuning

Jembatan dobel lengkung berwarna kuning ini berdiri di muara sungai Palu menghadap ke laut. Sangat mudah ditangkap mata karena letaknya yang tak jauh dari bandara, juga beberapa kali dilewati. Konstruksi lengkungnya dengan rangka baja silang sebagai pengokoh, menjadikan lengkungnya ini sebagai penopang utama untuk mengangkat badan jembatan. Dari pantai Talise, bentuk jembatannya seperti huruf M, terlihat jelas dan kontras dengan bukit-bukit di belakangnya.

9. Rumah Adat Banua Suku Kaili

Salah satu peninggalan suku Kaili yang masih dihuni oleh generasi raja kelima-nya yang tinggal di sini. Lokasinya tak jauh dari bandara dan terawat dengan baik. Memasuki rumah ini, harus dari tangga sebelah kanan bangunan untuk sampai di berandanya. Kemudian masuk ruang dalam yang berupa area luas yang dahulu adalah tempat raja menerima rakyatnya yang datang untuk berdialog. Di sisi kanan terdapat beberapa kamar yang merupakan tempat istirahat raja dan permaisurinya. Untuk anak-anak dan kerabat perempuan menempati ruang atas, sebagai penanda bahwa perempuan itu dilindungi. Seluruh rumah ini masih menggunakan bahan dari kayu, hanya atapnya yang sudah berubah menjadi seng, diganti dari atap rumbia yang merupakan atap asli namun sudah terbakar. Bangunan ini berdiri di atas sebidang tanah kosong kerajaan yang sudah turun temurun dan sekarang dikelola oleh keturunannya. Di salah satu sudutnya, terdapat lumbung untuk menyimpan hasil bumi. Keluar dari istana raja ini, harus menggunakan tangga yang sebelah kiri. Di bawah kolongnya, anak-anak sekitar masih asyik bermain berkumpul.

Loh, koq banyak? Nggak tahu juga, karena kotanya yang kecil, jadi bisa berkeliling dengan cepat ke mana-mana. Selain itu juga tentu karena perut kami yang mudah sekali lapar ini yang membuat aneka makanan yang disajikan terasa lezat dan nikmat. Jadi, kalau punya sejenak waktu transit, buatlah itu jadi sehari, dan dapatkan pengalaman keliling kota yang wakil walikotanya Pasha Ungu ini! Jangan lupa beli bawang gorengnya sebagai oleh-oleh.

April 2017. written at Mei 2017

Advertisements

28 thoughts on “dua puluh empat jam di Palu

  1. Nastin says:

    Recommend place:
    1. Pulau Tinalapu Pagimana, sulteng
    2. Pulau Togean, Parigi, Sulteng
    Heheheh,, salam dari “mutiara di Katulistiwa “

  2. iyoskusuma says:

    Udah baca pelan-pelan biar cacing di perut ga bangun, gagal juga…… Bahahaha.. Itu kaledo singkatan dari kaki lembu donggala, baru tau. Kaki dombanya aja udah kebayang bikin ngiler, ditambah kuah segar dan perasan jeruk pula… Nambah berapa porsi waktu itu, Kak Indri? *rahasia aman bersama saya*

  3. Bama says:

    Sempet beberapa kali terlintas rasa penasaran sama Palu, tapi baru kali ini nemu postingan yang lumayan kasih gambaran apa saja yang bisa dilakukan di sana. Duh, makanannya bener-bener menggoda, terutama lalampa sama kaledo! Lalampa selain isinya ikan ada cabenya juga kah? *langsung ngeces ngebayangin cabe*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s