MRT Jakarta: menuju ujung yang kini dekat

 

“Time goes faster the more hollow it is. Lives with no meaning go straight past you, like trains that don’t stop at your station.”
― Carlos Ruiz Zafón, The Shadow of the Wind

 

Jakarta, bukan lagi sejenis kota yang luasannya hanya sekitar jalur cantik Sudirman Thamrin saja, meskipun banyak orang mengaku-ngaku tinggal di Jakarta. Cinere, bukan Jakarta, karena ternyata masuk dalam kotamadya Depok, walaupun cukup jauh dari pusat kotanya. Ciputat, termasuk Tangerang Selatan, sepertinya menjadi wilayah idaman yang tenar di tahun 90-an, karena banyak teman yang bertinggal di sana. Ciledug, baru beberapa bulan lalu kutahu bahwa ia tak termasuk wilayah ibukota, sehingga tak bisa memberikan hak suara untuk Pilkada Jakarta.

Dengan banyaknya kantong-kantong bertinggal di tepi-tepi Jakarta, tidak bisa hanya mengandalkan kendaraan pribadi saja untuk memenuhi kebutuhan perekonomian di pusat kota, namun sangat perlu adanya moda angkut dengan kapasitas yang cukup besar untuk membawa penduduk yang berpindah di pagi dan sore hari. Transportasi umum yang sudah ada sekarang, lama kelamaan semakin baik, namun masih banyak yang menggunakan jalur yang sama dengan kendaraan pribadi sehingga warga masih mengalami macet yang cukup panjang di jam sibuk.

Di jalur tengah Bogor-Jakarta, sudah terlayani dengan moda Commuter Line, yang bisa dengan mudah digunakan oleh penduduk di jalurnya untuk tiba di pusat kota, kemudian berganti dengan moda transportasi lainnya. Di beberapa stasiun bahkan sudah terkoneksi dengan shelter Transjakarta sehingga perpindahan antar moda menjadi mudah dan praktis. Bahkan banyak sekali perusahaan transportasi yang bergabung dengan TransJakarta sehingga aku agak kehilangan jejak akan jalur-jalur bis yang dulu kuhapal dengan mudah ini.

Pada bulan November 2017, aku diundang untuk mengunjungi proyek terowongan MRT di Bundaran HI (ceritanya di sini), dan juga di waktu yang lain melihat bornya dan proses ekskavasi tanahnya di jalur Bendungan Hilir, serta sempat masuk terowongannya lagi bareng-bareng media nasional. Di proyek yang sudah direncanakan sejak awal 90-an itu memang berlaku manajemen kerja yang rapi dan teratur, untuk mengejar target operasi pada akhir Maret 2019. Siapa kira, untuk sekelas megaproyek ini bisa konsisten untuk mengejar jam tayang sesuai target yang sudah dikumandangkan.

Dua minggu lalu aku kembali mendapat undangan dari Kak Mungki Indriati Pratiwi, salah satu alumni Arsitektur UI yang berkarya untuk MRT bersama ILUNI FTUI untuk Trial Run MRT, yaitu ujicoba rangkaian ini sebelum nanti kelak diluncurkan. Pada masa unit kereta ini, hampir keseluruhan pekerjaan finishing arsitektur di bagian dalam stasiun sudah selesai, pekerjaan ME juga semestinya sudah selesai jika dilihat dari duct house yang banyak muncul di tepi-tepi jalan Sudirman, hanya saja beberapa transportasi gedung seperti eskalator dan lift yang belum berfungsi.

Rombongan kami turun menuju Stasiun Bundaran HI melalui anak tangga yang sudah terfinish dengan rapi, hingga area komersial yang cukup luas. Pada saat difungsikan penuh nanti, harus menggunakan kartu pass MRT untuk melewati gate masuk. Dengan banyaknya tempat makan dan minum di sini, diharapkan akan menjadi area komersil baru. Turun hingga platform, kami menunggu rangkaian kereta MRT datang. Hmm, jadi ingat kalau berjalan-jalan di Singapura yang setiap kali selalu keluar masuk kereta seperti ini. Interior dalam platformnya pun relatif mirip. Untuk kenyamanan pengguna disabilitas, tinggi platform dan jalan masuk kereta dibuat rata, sehingga perpindahannya menjadi lebih mudah.

Ketika rangkaian kereta, kami masuk ke dalamnya dengan teratur. Tentu saja rombongan kami (terlihat) rapi, apalagi pakai kaos seragam, langsung duduk-duduk di bangku, atau ada yang penasaran tetap berdiri sambil merasakan goyangan kereta. Dari Stasiun Bundaran HI hingga Bundaran Senayan, jalur MRT berada di terowongan bawah tanah, sehingga tiada yang bisa dilihat dari luar jendela. Sinyal ponsel pun tenggelam, meskipun kelak akan dipasang wifi sepanjang jalur sehingga pengguna tidak putus koneksi.

PT MRT Jakarta memiliki 16 rangkaian kereta yang siap dioperasikan dengan setiap rangkaiannya terdiri dari 6 gerbong. Dengan jarak keberangkatan (headway ) setiap 5 menit pada jam sibuk, diperkirakan akan mengangkut 130.000 penumpang per hari. Kereta berjalan dengan kecepatan hingga 80 km/jam di underground, serta 100 km/jam pada elevated track. Walaupun menggunakan Automatic Train Operation dari pusat, tapi tetap ada masinis yang akan mengontrol jalannya kereta.

Usai melewati stasiun Bundaran Senayan, kereta naik perlahan muncul ke permukaan, dan masuk pada elevated track yang membentang di atas hingga Stasiun Lebak Bulus. Dari ketinggian, bisa dilihat pemandangan kota seperti Masjid Al Azhar, Blok M Plaza dan sekitarnya, hingga toko-toko sepanjang Jalan Panglima Polim yang cukup padat dan riuh.

Sebagai moda untuk menikmati kota, MRT ini sama menariknya dengan elevated track-nya Commuter Line yang sudah terlebih dulu ada. Hanya saja karena laluannya di tengah-tengah area kota yang sangat padat, apalagi jalan Panglima Polim yang menjadi hantu kemacetan Jakarta Selatan, tidak melalui salah satu ikon menarik untuk dinikmati di jalur perjalanan. Mungkin bagi kami anak arsitek, jalur ini cukup maha penting karena deretan toko keramik, karpet, maupun showroom sanitary terkenal berada di sini. Stasiun Blok A yang dekat dengan toko aneka bahan bangunan ini pasti harus mudah dicapai. Tenang, bahan bangunannya nanti dikirim saja, tidak usah dibawa dengan MRT.

Tak sempat lama-lama menikmati Fatmawati, jalur sudah berbelok ke arah TB Simatupang dengan stasiun Fatmawati yang cukup besar dan selalu menyita perhatian dari jalan tol. Stasiun dengan tangka tubular dan penutup kanvas ini cukup luas sebagai area silang ganti wilayah selatan Jakarta dan sekitarnya. Dari tempatku berdiri, tampak satu unit lift dengan hoistway kaca bernuansa modern. Kereta juga berhenti di sini seperti di stasiun sebelumnya, hanya saja karena ini Trial Run jadi penumpang tidak diperkenankan turun, hanya mengintip sedikit dari pintu yang otomatis terbuka.

Berulang kali melewati bawah stasiun Fatmawati ini, aku yakin titik ini akan menjadi junction yang cukup sibuk. Semestinya akan ada ruang henti kendaraan untuk yang berganti moda transportasi lain ke MRT, atau pengaturan ruas pejalan kaki yang nyaman untuk mencapainya. Selain menjadi ujung dari area pemukiman di dalam Jalan Fatmawati (yang di ujungnya sana ada Cinere), ada dua ikon penting yang harus diselesaikan jalur pejalan kakinya dengan baik, yaitu dari dan ke RS Fatmawati dan Cilandak Town Square. Sebagai ruang publik yang cukup populer di dekat stasiun ini, pasti akan meningkatkan penggunaan MRT menuju tempat-tempat tersebut.

Hanya membutuhkan waktu 30 menit dari Bundaran HI hingga Stasiun Lebak Bulus yang paling ujung. Mungkin hanya 3 bab novel bisa diselesaikan untuk perjalanan yang terbilang singkat ini. Kami turun dari rangkaian MRT lalu berganti kereta di jalur yang lain. Perpindahan antar jalur ini harus melalui tangga satu lantai di bawah lantai platform untuk naik lagi ke platform arah Jakarta lagi. Jangan khawatir, kelak akan dibantu dengan lift maupun eskalator sehingga tidak perlu bersusah payah seperti kami yang Trial Run ini. Unit-unit mekanikal itu sudah terpasang, hanya mungkin belum disetting lagi untuk penggunaan normalnya nanti. Stasiun Lebak Bulus ini, kelak pasti menjadi junction yang ramai dari pemukim dari Ciputat, Cirendeu dan sekitarnya.

Dari sisi timur stasiun bisa ditengok depo kereta MRT yang berjajar-jajar keretanya di lokasi yang dulunya stadion Lebakbulus. Setelah berfoto bersama seluruh rombongan, kami pun naik kembali ke rangkaian kereta yang baru datang. Rombongan sudah tidak rapi lagi seperti ketika sedang foto, melainkan berpencar ke sana kemari. Rupanya sesudah tadi ke arah Lebak Bulus menikmati perjalanannya, kali ini adalah saat untuk menikmati kereta!

Banyak yang mondar-mandir antar gerbong, berfoto-foto dengan petugas, hingga ketika kereta berjalan lurus di jalur Fatmawati-Panglima Polim, kami pun melakukan hal unik yang nggak bakal terulang lagi, yaitu line dance di MRT! Diiringi lagu Cintaku dari mulut masing-masing, 12 anggota Dancing Engineers asyik bergoyang dengan langkah-langkah yang setiap minggu dipelajari. Sungguh kami ini nggak ada malunya karena kebetulan ditonton oleh teman-teman sendiri. Ternyata getaran kereta cukup nyaman selama kami berdansa, walaupun sesekali harus pegangan di atas, tapi tak seorangpun dari kami yang jatuh. Untungnya sebelum kereta turun ke underground di Bundaran Senayan, tarian ini sudah berakhir.

Rasanya hanya sambil bergosip-gosip ringan dan mengobrol sebentar ketika kereta meluncur melewati jalur underground hingga tiba kembali di Stasiun Bundaran HI. Kami pun keluar dengan tertib dengan perasaan puas sudah mencoba salah satu proyek pemerintah yang pembangunannya menggunakan skema three sub level agreement antara Pemerintah Jepang (melalui JICA) dan Pemerintah Pusat RI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan PT MRT Jakarta. Sepatuku yang berhak 5 cm dan kebetulan dipakai di sini, tidak memberiku gangguan berarti.

Sambil kembali menaiki tangga hingga permukaan, aku berpikir alangkah lebih baiknya apabila lebih banyak anak sekolah yang mencoba sistem transportasi publik modern ini, untuk membangun rasa keterbutuhan dan menikmati kotanya dengan nyaman. Karena di kemudian hari memang akan lebih banyak dari generasi muda sebagai pengguna aktif yang diharapkan menjaga fasilitas umum ini dengan baik.

Aku sendiri mungkin akan amat jarang naik MRT karena memang tidak tinggal dan berkegiatan di dekat jalurnya. Sebagai yang tinggal di Depok paling efisien adalah naik Commuterline yang disambung TransJakarta atau ojek online. Memang naik transportasi publik adalah pilihan, tapi sebuah keharusan untuk tatanan kota berkelanjutan dan nyaman, untuk bumi yang lebih sehat.

Dan, selamat menikmati Trial Run untuk umum selama 2 minggu ke depan, dan fasilitas MRT dengan full service di akhir Maret 2019!

Depok, Minggu 10 Maret 2019. 20:40

Foto tambahan Depo, Lebakbulus dan Al Azhar: Budi Wasono
Foto hore & VIdeo : The Dancing Engineers team

baca juga:
MRT : Jakarta Underground

8 thoughts on “MRT Jakarta: menuju ujung yang kini dekat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s