jembatan penyeberangan: tentang menghubungkan ruang

You don’t build walls;
you build bridges between people.
[Andrew Cuomo]

Jembatan selalu menghubungkan apa yang diputuskan oleh aliran. Ketika ada kebutuhan laluan dari sisi satu ke sisi lainnya, diperlukanlah penghubung yang diberi nama jembatan ini. Jalur yang dulu hanya berdiri di atas sungai beraliran lambat atau deras, kini berdiri di atas lahan kering yang juga merupakan aliran yang tidak mungkin diputus begitu saja. Lahan itu bernama jalan raya, yang di tengah metropolitan sering lebih membahayakan daripada air bah.

Perkembangan transportasi Jakarta yang diprediksi akan meningkat seiring dengan mulainya operasional MRT di tahun 2019 akan menaikkan juga volume pejalan kaki di antara jalurnya. Jalan Sudirman pada ruas Semanggi-Bundaran Senayan merupakan salah satu etalase Jakarta yang memiliki paduan antara bangunan tinggi dan ruang terbuka hijau sehingga memberikan tantangan menarik bagi jalur laluan manusia yang akan meningkat ini.

Jika melalui ruas ini sekarang, terbentang tiga Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), yang merupakan karya kolaborasi Arkonin dan Pavilion 95 dengan ciri cincin-cincin yang memeluk bentang jalur cepat dan lambat dari sisi tenggara ke barat laut. Sebagai pintu keluaran MRT nanti, pengalaman menyusuri koridor ini akan menjadi unik. Walaupun ada MRT, Transjakarta masih menjadi penghubung kota yang bisa diandalkan, karenanya JPO ini tetap dipertahankan.

JPO RATU PLAZA

JPO pertama berada di depan Ratu Plaza, terkoneksi dengan Halte Transjakarta Bundaran Senayan, menghubungkan sisi timur area SCBD dan Senopati, ke arah pusat perbelanjaan area Senayan. Secara eksisting, jembatan ini sebelumnya sudah ada dan selalu digunakan oleh pejalan kaki, maupun pengguna Transjakarta untuk melintas atas Jalan Sudirman.

Pembaruan desainnya pada cincin-cincin yang memeluk badan jembatan, yang dibuat dengan material alumunium sandwich panel pada rangka baja dengan jarak sekitar 1 m. Beratap solid polycarbonate, JPO ini terlindung dari panas dan hujan. Saat ini masih cukup banyak petugas yang berjaga di sini, mungkin untuk menghindari corat-coret dari tangan-tangan jahil.

JPO SENAYAN

Bersama ILUNI Arsitektur UI, Pak A. Noerzaman dari Arkonin dan Kak Firman Herwanto dari Pavilion 95 yang merupakan alumni UI menjelaskan proses desain dan teknis JPO ini. Yang paling menyita perhatian adalah jembatan yang berada tepat di depan pintu masuk Gelora Senayan, dengan bentuk melintir yang dihasilkan dari bentuk putaran cincin-cincin sebagai fasade dengan struktur jembatan asli seperti sebelumnya. Penghubung gerak dari seriusnya gedung-gedung dan dinamismya ruang terbuka menjadi menarik dengan jalur antara yang ‘melintir’ ini.

Di siang hari laluan ini menarik dengan , menciptakan pengalaman ruang yang menarik dari garis-garis dan bayangan yang jatuh, sedangkan di malam hari setelah dibuka menjadi amat ramai oleh anak-anak muda yang berfoto, tentunya juga karena adanya permainan cahaya yang menarik hasil desain Kak Agust Danang dan tim untuk Pavilion 95. Beberapa skema warna menghadirkan nuansa menarik, mulai dari merah putih, berganti warna, hingga pelangi.

JPO POLDA

Jika terbiasa naik bus Transjakarta dan berhenti di Halte Polda untuk menuju kawasan SCBD, sementara sedang tidak berhenti di situ karena jembatannya yang sedang direnovasi juga. Meskipun saat ini sedang tidak bisa dilalui, namun beberapa saat lagi pasti bermanfaat bagi pencinta transportasi umum dan pejalan kaki ini. Menurut Kak Firman, hanya JPO Polda ini yang terpaksa harus mengubah struktur karena setelah diperiksa, pondasi di depan Hotel Sultan tidak layak lagi.

Mengutamakan keselamatan, akhirnya segmen jembatan di depan Hotel Sultan hingga median jalan menuju Halte Polda pun dipindahkan beberapa meter. Didudukkan di atas pondasi baru, ditambahkan struktur lagi di tengah median untuk menghubungkannya dengan segmen Halte Polda-SCBD.

Sama seperti dua jembatan sebelumnya, sebagai pijakan kaki menggunakan engineered wood deck yang nyaman dilalui serta tidak licin. Dalam kondisi hujan, air bisa dengan mudah mengalir di antara bilah-bilah deck sehingga tidak menggenang di laluan. Dua lajur langkan untuk pegangan tangan di ketinggian anak-anak dan orang dewasa pun menggunakan engineered wood bulat segenggaman tangan, dilengkapi juga dengan pelindung modul kawat baja kotak-kotak sehingga udara mengalir dengan nyaman.

 

 

Pejalan kaki merupakan populasi terbesar pengguna jalan yang berkumpul di satu titik, melalui penghubung, menggunakan transportasi publik yang harus dijaga bersama-sama. Kenyamanan dan keamanan menjadi factor utama penggunaan salah satu fasilitas umum ini. Jembatan, sebagai salah satu laluan, juga bisa menjadi ikon kota yang bukan tidak mungkin penggunanya akan terus bertambah dari waktu ke waktu.

Video pencahayaan : highlights IG story @miss_almayra

Jakarta, 09.03.19 | 19:56 | EatNEat

A bridge is a meeting place.
a possibility, a metaphor
[Jeanette Winterson]

9 thoughts on “jembatan penyeberangan: tentang menghubungkan ruang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s