Tag Archives: bogor

menemani senja di orange resto

0-cover-orange-resto-bogor

“Orange? Like Effie’s hair?” I say.
“A bit more muted,” he says. “More like sunset.”
― Suzanne Collins, Catching Fire

Apa sih harapanmu ketika senja tiba? Kalau mengingat masa kecilku dulu, senja adalah saat bermain, saat untuk bertamu, atau saat ketika sudah mandi dan berdandan rapi untuk minum teh dan membaca buku. Namun sore itu aku tiba di Orange Resto, yang berlokasi di Jl Sancang, tak jauh dari pintu tol Jagorawi, tanpa mandi dan tanpa larangan untuk masuk restoran dan memesan sejumlah penganan. Continue reading menemani senja di orange resto

1O1 suryakancana bogor : latar gede-pangrango

cover

Suatu hari ketika aku rindu bangun di kota yang lain, menikmati jendela yang berbeda, menghirup udara pagi yang lebih sejuk, mengamati ruang kota yang dinamis, menghamparkan pegunungan dalam jarak, tanpa menjadi terlalu penat. Kesibukan sehari-hari ke arah utara, menelan derap langkah kaki di stasiun dan pergerakan cepat membuatku ingin melambat sejenak.

Slow down, you need a rest.

Seorang teman pernah bercerita bahwa ia jatuh cinta pada Bogor yang dijuluki kota hujan, menyukai pohon-pohon besarnya di sepanjang jalan, makanan-makanan pinggir jalan yang lezat, gadis-gadis cantik dan ramah, rusa-rusa di depan istana, embun pagi dan rerintik di sore hari. Dan begitulah, titik-titik air dari langit menyambutku yang turun di stasiun Bogor.

Dear rain, hide my tears.
Continue reading 1O1 suryakancana bogor : latar gede-pangrango

melalui rel : hidup adalah perjuangan !

hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti
usah kau menangisi hari kemarin.. [Dewa 19]

07.03. pagi.
Tua muda, berjejalan mengejar waktu, seakan ingin bertanding dengan kecepatan. Tak peduli panas, tak peduli keringat, untuk sebuah ketepatan. Kadang terselip wajah cantik yang harus melesakkan badannya ke dalam kumpulan manusia di badan besi itu dengan sedikit pergerakan. Manusia yang buat mereka, ‘waktu adalah uang’ adalah semboyan harian. Merekalah yang memberi denyut negeri ini, merekalah yang benar-benar memburu tepat waktu jika tidak ingin potong gaji. Merekalah yang memberikan pelayanan padamu di pusat perekonomian kota ini.

Dua ribu lima ratus rupiah Bogor-Jakarta, delapan puluh menit kurang lebih.

Yang beruntung bisa duduk di kursi, yang lain bisa berdiri berjejalan, yang tidak bisa masuk bertengger di atap. Siapa yang tidak beruntung? Merekalah orang-orang yang akan berkata, masih untung terbawa, jadi tidak terlambat. Mengeluh, namun menerima. Dua ribu lima ratus rupiah, lebih dari 60 km jauhnya, mau dapat enak? Dinikmati sajalah, katanya.

Mereka yang bekerja dengan tenaga, dari segala sektor, dari petugas kebersihan, sampai penjaga gerai ponsel. Dari sekretaris kantor sampai asisten manager. Dari ibu-ibu yang mau berobat ke rumah sakit sampai yang hendak kulakan barang dagangan. Tanpa gengsi. Semua mengejar waktu. Menyusur rel panjang yang (seharusnya) tanpa halangan. Tanpa macet seperti jalan aspal. Tanpa asap knalpot. Semua menumpukan waktu pada badan besi ini. Berharap tidak terlambat, dan mendapatkan kesempatan dan rejeki di hari itu. Merekalah pelaku perekonomian negeri ini, yang membuat roda bisnis berputar. Yang mengejar waktu. Yang seharusnya diperhatikan.

Ini sarana sehari-hari rakyat. Yang (seharusnya) dirawat dengan karcis kita, pajak kita. Yang menjadi tumpuan banyak orang dalam memutar kehidupannya, bukan hanya untuk memutar nasib negeri ini. Bukan kami tidak peduli pada negeri, tapi sudah terlalu sibuk dengan urusan perut sendiri.
Dua ribu lima ratus rupiah. Sedikit memang. 80 menit. Relatif lama. Sekitar 60 km jaraknya. Cukup jauh. Pada KRL Ekonomi sebagian waktunya dipasrahkankan. Setiap hari berdoa supaya tak ada gangguan supaya bisa sampai tempat kerja sesuai rencana dan kembali di malam harinya pada keluarga tercinta.

depok-manggarai. 10.06.11