Tag Archives: budaya

tamansari goa sunyaragi : persinggahan sepi

cover-sunyaragi

“Ngapain ke Goa Sunyaragi, kan cuma batu doang,” begitu kata salah seorang kerabat yang aku tinggali ketika aku pamit hendak ke situs bebatuan di selatan Cirebon itu. Seandainya ia tahu, bahwa keponakannya ini memang tergila-gila pada batu dengan ukuran besar, apalagi Goa Sunyaragi adalah salah satu tempat yang menggoda untuk ditilik, karena susunan batu-batunya yang membentuk ruangan-ruangan bak istana. Gunakan daya khayal secukupnya, dan jadikan dirimu seorang puteri.

Berada tak jauh dari terminal Harjamukti, Goa Sunyaragi bisa dicapai dengan kendaraan umum hingga tepat di depannya, atau dengan kendaraan pribadi. Pertama tiba aku celingukan mencari di mana pintu masuknya karena dikelilingi oleh pagar, sampai seorang petugas memanggilku untuk mendaftar dulu di satu pendopo. Dengan harga karcis sebesar Rp. 8000/orang, bebas berkeliling lingkungan situs yang cukup rapi ini. Bisa juga menggunakan pemandu, sih. Tapi karena mau agak lama, jadi aku hanya menguping sedikit-sedikit dari pemandu di rombongan depan.

Continue reading tamansari goa sunyaragi : persinggahan sepi

keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga

kacirebonan-cover (2)

Family is the most important thing in the world.
– Princess Diana

Ini kota kelahiranku. Selama bertahun-tahun sejak aku kecil, aku selalu belibur ke kota ini ke rumah Mbah Papih dan Mbah Mamih yang berwajah hangat. Mama pernah bercerita kalau keluarga Mbah Papih berasal dari Keraton Kacirebonan. Aku sering tak percaya, karena menurutku kalau orang keraton itu tinggalnya di istana, bukan rumah di kampung seperti kami ini. Tapi ternyata penjelasan tentang asal-usul keluarga kami itu tak pernah aku ketahui dengan pasti hingga sekarang, karena Mbah Papih keburu meninggal dunia ketika usiaku 10 tahun, umur yang belum bisa menampung penjelasan berat. Tapi lama kelamaan itu tak jadi soal bagi kami sekeluarga besar, karena yang lebih kami pentingkan adalah kebersamaan yang tak lupa bertemu setiap tahun sekali.

Banyak orang yang tidak tahu Keraton Kacirebonan, keraton termuda di Cirebon. Keraton ini berdiri sebagai bagian dari Keraton Kanoman yang berdiri terlebih dahulu. Agak terpisah dari kedua keraton sebelumnya, Kacirebonan didirikan tahun 1808 M untuk tempat tinggal Pangeran Raja Kanoman yang kembali dari pengasingannya di Ambon, sementara tahta di Keraton Kanoman sudah diambil alih oleh adiknya, Sultan Anom V. Keraton ini tidak terlalu besar, namun isinya sangat apik dan terawat. Padahal lokasi Keraton Kacirebonan kini malah di tepi Jalan Pulasaren yang cukup ramai dan besar, sehingga mudah dijangkau.

Continue reading keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga

keraton Kanoman, tetap putih di tengah keramaian

cover-keraton-kanoman

Life starts from a white hole and ends in a black hole.
― Santosh Kalwar

Mana yang lebih dulu ada? Keratonnya atau pasarnya? Pasti pemikiran itu muncul ketika mencari posisi Keraton Kanoman. Sejak aku lahir di Cirebon, belum pernah aku sampai ke Keraton ini, selain hanya kudengar lewat nama saja. Kanoman, di keluarga kami, hanyalah nama pasar yang berada di sebelah timur kota. Bukan pasar kering yang cantik, namun pasar benaran, seperti pasar-pasar yang umum ada di Pulau Jawa, lembab, becek, dan padat. Tidak ada bedanya dengan Pasar Pagi yang berada di dekat rumah kami.

Jadi selepas dari Keraton Kasepuhan, aku berjalan kaki ke arah Keraton Kanoman. “Lurus saja jalan ini, neng. Nanti ada jalan masuk di pasar, dilewati, nanti ketemu keratonnya,” kata mamang tukang tahu di ujung jalan Kasepuhan itu. Sambil berjalan di trotoar yang tidak terlalu bersih dan menguarkan bau amis itu (karena Cirebon kota Udang, kuterima saja aroma itu tanpa merasa terganggu), setelah lima belas menit aku menemukan pasarnya. Dan, jalan yang tadi disebutkan oleh tukang tahu itu ternyata cukup lebar, dengan gerbang besar bertuliskan : Pasar Kanoman. Lha?

Continue reading keraton Kanoman, tetap putih di tengah keramaian

peduli budaya lokal untuk pariwisata indonesia

DSC_0586

Hujan gerimis sejak sore mengiringi akhir hari pergantian tahun, kecipuknya ditingkahi oleh lari anak-anak yang bermain di lapangan. Suara petasan pun beradu dengan nyala kembang api, yang menerangi langit malam yang tak berbintang tertutup awan. Aku baru pulang dari pulau seberang, mengingat banyak hal yang kulalui di tahun ini, di mana aku sering melawat baik luar maupun dalam negeri.

Selamat malam Bapak Arief Yahya, Wakil Indonesia untuk mengembangkan potensi-potensi wisata di negeri ini, kepadanya aku titipkan surat untuk pariwisata Indonesia yang lebih baik di tangan anda, Menteri Pariwisata.

Halo Indonesia,
Perkenalkan aku Indri Juwono, seorang arsitek yang hobi berjalan-jalan menyusuri kota dan desa, mengamati lingkungan bangunan dan manusia, mengamati keistimewaan satu-satu daerah, bercerita lewat tulisan tentang tempat-tempat yang dilaluinya.
Continue reading peduli budaya lokal untuk pariwisata indonesia

mencari sepi di istana ratu boko

cover

… Segala yang rupa ini membantu kita mencapai yang tanpa rupa. ― Ayu Utami, Lalita

Membayangkan hanya punya satu hari santai di Jogja di tengah liburan pendekku, aku memilih untuk mengunjungi situs-situs budaya di jalur jalan menuju Solo. Jogja merupakan salah satu kota yang sering kukunjungi, dipermudah dengan adanya layanan Traveloka yang membantu dalam mendapatkan tiket penerbangan dan juga hotel budget dengan cepat, seperti Zodiak dan Whiz Hotel di kota Jogja. Kunjungan ke Jogja ini sebenarnya sudah beberapa kali, tapi banyak alasan ingin terus berkunjung ke sana. Mungkin karena kota ini kental dengan peninggalan kebudayaannya, karena setelah kenal Borobudur dan Prambanan di kunjungan beberapa tahun sebelumnya, aku ingin mengunjungi Istana Ratu Boko yang ternyata masih dalam pengelolaan Borobudur Park.

Pada waktu itu, motor yang kunaiki merayap pelan menaiki tanjakan di jalan aspal menuju kompleks istana Ratu Boko. Aku membayangkan cerita beberapa teman yang bersusah payah mengayuh sepedanya dari tengah kota Jogja sampai tiba di gerbang masuknya. Lokasi Situs Istana Ratu Boko terletak di (Dusun Samberwatu, Desa Sambirejo) dan (Dusun Dawung, Desa Bokoharjo) Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kira-kira 3-4 km sebelah selatan candi Prambanan, menuju jalan raya ke Piyungan. Petunjuk jalan membuat belokan jalan kecil ke tempat ini mudah dikenali. Continue reading mencari sepi di istana ratu boko