Tag Archives: desa

selamat pagi desa binamzain asmat papua

“It is good to have an end to journey toward; but it is the journey that matters, in the end.”
― Ursula K. Le Guin, The Left Hand of Darkness

Aku teringat pertama kali jatuh cinta pada Kolf Braza, adalah ketika pagi menyapa usai beristirahat setelah perjalanan panjang dari Agats. Kabut dan embun menyapa dari pucuk-pucuk pohon sagu, yang siluetnya memberikan dimensi kala mengedarkan pandangan mata. Udara dingin menggigit kulit, dengan semburat kebiruan di kejauhan, sementara burung-burung bersahutan menyambut pagi.

Aku melangkah pada jalan kayu yang melayang di atas tanah seperti pada titian, menghirup aroma pagi yang haru. Di sekumpulan sisi lain desa, anjing-anjing menggonggong membangunkan satu sama lain, seperti panggilan untuk memulai hari. Pagi yang setengah riuh dari Kolf Braza, sebelum matahari menggeliat dan pergerakan dimulai. Continue reading selamat pagi desa binamzain asmat papua

buku untuk cipangsor

 “It is better to light a candle than curse the darkness.”

― Eleanor Roosevelt

Satu bulan yang lalu, aku mengikuti acara peresmian fasilitas MCK dan penjernihan air di Garut, Jawa Barat. Di situ ada yang menarik perhatianku yaitu anak-anak balita yang menyanyikan berbagai lagu dengan lucu dan riang, bersama dengan tari-tarian yang mereka bawakan. Rupanya mereka adalah murid-murid PAUD Al-Mukti Cipangsor yang sehari-harinya belajar di bangunan di depan masjid, yang hari itu digunakan sebagai tempat menyajikan makanan.

Anak-anak ini tinggal di desa Cipangsor yang terletak di kabupaten Garut di kaki Gunung Cikuray, namun lokasinya di ketinggian membuatnya agak susah dijangkau. Penduduk desa bermata pencaharian di berbagai sektor informal di kota Garut, selain beberapa keluarga yang menjadi petani. Beberapa kali aku mengunjungi desa ini untuk site visit pembangunan MCK, sayangnya ketika itu belum bertemu dengan PAUD dan murid-murid di sini.
Continue reading buku untuk cipangsor

desa mandeh yang permai

8-desa-mandeh-sumatera-barat

Konon kabarnya, di pelukan ibulah perasaan berubah menjadi damai, semua lelah sirna. Tak terkecuali ke desa Mandeh yang berarti ibu, menjadi rumah pulang selama tiga hari. Lelah sudah bertualang di laut pada siang, terdampar sore dan malam untuk beristirahat di sini. Terletak dikelilingi perbukitan, akses desa ini paling mudah adalah menggunakan kapal dari Carocok Tarusan, terus melalui muara memasuki sungai.

Kapal berderet bertambat di sepanjang sempadan. Sungai yang dangkal membuat kapal harus berjalan perlahan. Bilah kayu digunakan untuk mengemudi, mendorong kapal mengarahkan. Agar pertemuan dengan kapal-kapal lain yang melintas tidak terjadi tumbukan. Continue reading desa mandeh yang permai

jatuh cinta kepada hijau

Suatu pagi di tengah liburanku di Jogja, aku memilih untuk bersepeda berkeliling daerah tempatku menginap, alih-alih menyusuri kota yang makin ramai. Udara pagi sejuk sisa hujan semalam. Lokasi ini tidak terlalu jauh dari kota, hanya beberapa ratus meter dari ringroad. Banyak hal-hal yang sudah lama tidak kulihat di kota melintas, dan membuatku berpikir banyak. Alangkah hidupnya tempat ini.

sawah
Aku mulai dari meninggalkan kompleks perumahan menemukan persawahan luas membentang. Di sekitar sawah itu selalu terdapat pohon pisang, sementara tepian jalan diteduhi dengan pohon lamtoro. Pelan kukayuh sepedaku, sambil menghirup udara yang masih segar walaupun waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Sawah-sawah yang baru tumbuh beberapa bulan itu seakan menyapa, “Hai, sudah lama kami tidak menyapamu. Ayo turun dan bermain dengan kami.”

sawah di godean, sleman.
sawah di godean, sleman.

Sudah lama aku tidak melihat sawah kecuali dalam perjalanan ke luar kota. Di Jakarta sudah tidak ada sawah lagi yang ditemukan. Daerah penyangganya seperti Bekasi dan Karawang, yang dulu dikenal sebagai lumbung padi, sudah berganti wujud sebagai ladang industri, yang memerah jengkal lahannya menjadi berpenghasilan berkali lipat yang masuk kantong pengusaha.
Continue reading jatuh cinta kepada hijau

sesudah 10 tahun, lalu : kota atau desa?

seruas jalan di jakarta-pusat
seruas jalan di jakarta-pusat

“i think of all the thousands of billions of steps and missteps and chances and coincidences that have brought me here. Brought you here, and it feels like the biggest miracle in the world.”
― Lauren Oliver, Before I Fall

Beberapa tahun terakhir ini aku merasa gundah atas keprofesian arsitek-ku ini. Setelah 10 tahun menimba profesi sebagai arsitek, aku sampai pada titik, now what? Apa lagi yang harus aku lakukan?
Mungkin agak terlalu sombong kalau melihat aku, baru 10 tahun saja sudah gundah, apalagi bos-bosku yang sudah puluhan tahun jadi arsitek. Gundahku ini bukan karena aku tak ingin lagi menjadi arsitek, namun lebih karena aku terlalu mencintai pekerjaan ini. Aku menikmati menorehkan setiap garis menjadi sketsa, mengutik-utik susunan ruang dan sirkulasi, negosiasi dengan klien, memilih material, bahkan begadang sampai larut malam untuk memenuhi janji pada klien. Then what? Selalu itu yang jadi pertanyaanku. Apakah memang menjadi arsitek itu melulu hanya mendesain bangunan yang bagus-bagus untuk memuaskan kebutuhan klien? Apakah sebenarnya ada klien-klien ‘bayangan’ yang sebenarnya membutuhkan perhatian?

Sesudah menjadi arsitek yang merupakan cita-cita masa kecilku, lalu aku bercita-cita menjadi Urban Planner, Perencana Kota. Namun dengan maraknya praktek suap dan politisasi proyek, hal itu kukubur. Bolak-balik ke Dinas Tata Kota dan mengurus IMB dengan suap di sana sini, penataan Jakarta yang cenderung amburadul dan hanya menguntungkan penanam modal, penataan kota-kota lain di luar Jakarta yang malah mengkiblatkan diri pada Jakarta, membuat aku berpikir, ngapain ya kerjaan Urban Planner itu? Kenapa semua harus berkiblat ke Jakarta? Kenapa daerah tidak membangun sesuai apa yang mereka butuhkan, sesuai ciri khas masing-masing desa sehingga semakin unik dan kayalah Indonesia. Misalnya saja, semua kota kecil butuh pasar, namun tidak semua butuh ruko yang menjamur di mana-mana. Kenapa tidak dibiarkan koridor-koridor bisnis kota yang cantik itu dibiarkan, alih-alih mengubahnya menjadi pusat perbelanjaan besar? Kenapa semakin banyak daerah yang dibangun menjulang sehingga tingkat kepadatannya semakin tinggi?
Continue reading sesudah 10 tahun, lalu : kota atau desa?