Tag Archives: monas

jakarta : berjalan di jantung kota

cover

walk, friendship, and ice cream are good companion.

Lapangan Monas tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Area hijau seluas kurang lebih 80 ha ini sering menjadi pilihanku untuk bersantai. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam. Lokasinya di jantung kota Jakarta membuatnya mudah dikunjungi. Apalagi dengan gedung-gedung pemerintahan di sekelilingnya, membuat akses transportasi mengitarinya tak pernah mati.

“Aku sering ke sini. Hampir setiap hari kalau naik kereta lewat sini. Kalau menunggu jadwal kereta malam juga di sini. Kadang-kadang pulang kantor ngobrol dengan teman-teman juga di lapangan monas,” ceritaku pada kak Tekno Bolang yang pagi itu datang duluan dengan Rio hijaunya. Janjian jam tujuh pagi, pemilik blog lostpacker.com baru tiba jam setengah sembilan sambil tersenyum lebar. Aku saja baru tiba jam delapan setelah jogging dari stasiun Gondangdia. Hari ini memang rencana jalan-jalan bareng Travel Blogger Indonesia di Jakarta.

Kami berjalan ke arah halte Museum Nasional sambil menunggu kak Firsta yang katanya datang naik bis transjakarta. Tepi Monas dengan jalur pedestrian dibatasi dengan pagar setinggi 3 meter. Beberapa tahun sebelumnya, gubernur Jakarta kala itu, Sutiyoso yang mengusulkannya. Akibatnya taman Monas tidak lagi bisa dimasuki dari mana pun, melainkan hanya bisa dari pintu-pintu besar di sudut-sudutnya. Banyak penentangan terhadap kebijakan ini dulu, karena menjadikan taman Monas tidak ramah lagi untuk warganya. Di pemerintahan sekarang, ada tambahan bangku-bangku di tepian pedestrian yang bisa digunakan untuk istirahat menikmati lalu lalang kendaraan.
Continue reading jakarta : berjalan di jantung kota

review buku : RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau

RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau by Nirwono Joga, Iwan Ismaun
My rating: 4 of 5 stars

Penulis : Nirwono Joga dan Iwan Ismaun
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011, Softcover
Jumlah hal.: 272 halaman
ISBN : 9789792271850

Hijau. Tanaman hijau adalah kebutuhan manusia mutlak untuk mempertahankan hidupnya. Tanaman menyerap karbondioksida yang kita keluarkan dan mengeluarkan oksigen untuk kita hirup. Oleh karena itu kita sebenarnya tidak bisa hidup tanpa tanaman hijau. Persyaratan 30% untuk kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) itu seharusnya merupakan kebutuhan yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh.

Buku ini memang hanya memberi judul RTH 30% Resolusi (Kota) Hijau. Namun dalam contoh keseluruhan yang dibahas hanya kota Jakarta, pusat segala kecarutmarutan korupsi negeri, bahkan untuk lahan hijau yang tidak selalu jadi pertimbangan. Kota Jakarta yang makin sedikit lahan hijaunya dari tahun ke tahun. Di halaman 37 dipaparkan peta berkurangnya RTH di Jakarta sejak tahun 1972-2008. Selalu miris melihat fenomena seperti ini di kota. Di setiap kota yang mengklaim dirinya lebih maju, selalu area terbuka hijaunya menjadi berkurang. Pembangunan pusat perbelanjaan, perkantoran, industri, sangat sering meninggalkan kebutuhan akan Ruang Terbuka Hijau. Sekarang ini kita bisa lihat, berapa banyak pusat perbelanjaan di Jakarta yang tidak menyisakan satu jengkal tanah pun untuk RTH. Sisa lahan yang ada, menjadi jalan, perkerasan, parkir. Dianggapnya itu ruang terbuka yang bisa menyerap air. Padahal dengan kebanyakan jalan beton seperti sekarang ini, air tidak bisa menembus ke melalui pori-pori jalan, karena dasar beton dialas plastik. Bukan hanya aspal di atas sirtu (pasirbatu) yang bisa terlewati air dengan mudah.

Ya, apa yang terjadi jika kita kehilangan Ruang hijau? Tentu kita akan kekurangan udara segar, kekurangan air bersih, kekurangan tempat teduh, dan banyak lagi alasan dari yang lokal sampai global. Di sini dijabarkan, fungsi Ruang Terbuka Hijau untuk konservasi tanah dan air, menciptakan iklim mikro yang baik, pengendali pencemaran, habitat satwa, dan sarana kesehatan dan olahraga. Dalam tata ruang, area hijau muncul dalam cetak biru tata ruang kota. Ada area RTH publik yang sudah ditentukan kawasannya, ada RTH pribadi yang disyaratkan dengan KDB (Koefisien Dasar Bangunan yang berarti persentase luasan maksimal yang boleh dibangun dalam satu tapak) dan KDH (Koefisien Dasar hijau). Nilai ruang terbuka pribadi ini mutlak seharusnya dipatuhi, karena ini adalah untuk kenyamanan bersama. Apabila melanggar, sanksinya adalah bongkar, bukan denda yang bisa digantikan dengan uang, kembalikan pada persentase area terbuka yang tak boleh dibangun. Kembalikan pada fungsi aslinya sebagai area penyerapan air tanah.

-baca kelanjutannya->