Tag Archives: sembalun

warisan lampau desa adat beleq, sembalun

0-cover-sembalun-desa-adat-beleq-blek

Atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu berterima kasih kepadamu dan bersukaria 
Lahir dari tanah, menguning di sawah, menjadi beras di tampah, kemudian nasi memasuki tenggorokan hambamu yang gerah, adalah cara paling mulia bagi padi untuk tiba kembali di pangkuanmu
[Emha Ainun Najib]

Bagian mana dari desa Sembalun yang menjadi favoritku? Aku rasa, aku suka semuanya. Terlebih lagi jika berada di ketinggian dan memperhatikan sawah-sawah yang menghampar permai di bawah sana, mendengarkan cericit burung dan angin yang mengalun.

Desa Sembalun ini bukan hanya Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung saja seperti yang sering diberitakan oleh media-media, namun lebih luas lagi di sekitarnya, begitu cerita Mbak Lia, pemilik Nauli Bungalow tempatku tinggal selama di Sembalun. Ia bercerita, sewaktu beberapa tahun yang lalu ada syuting film di sini, artis-artisnya merasa damai, karena bisa menjalani hidup seperti manusia biasa, tidak dikejar-kejar penggemar seperti biasa jika hidup di kota besar. “Kalau Dude Herlino yang datang, pasti dikerubutin juga sih..”
Continue reading warisan lampau desa adat beleq, sembalun

semilir nauli, bungalow di kaki rinjani

11-nauli-bungalow-sembalun-lombok-pekarangan

Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaanku ketika tiba di Nauli Bungalow tengah malam itu, selain perasaan yang campur aduk antara Rinjani, Sembalun, dan kenangan-kenangan tentangnya beberapa tahun sebelumnya. Sebenarnya aku tidak pernah berpikir untuk kembali ke kaki Rinjani selama sehari semalam untuk memandangi gunung yang pernah gagal kudaki sampai puncak itu.

Namun tempat ini manis, dan teramat sayang untuk dilupakan. Di tengah hembusan angin, aku merasakan kehangatan tuan rumah yang membuatku nyaman. Tidak ada konter resepsionis atau lounge besar seperti halnya hotel berbintang, hanya satu bangunan ruang bersama dengan meja-meja makan dan televisi yang menyambut. Dingin gemerutuk seketika terasa ketika turun dari mobil. Kami duduk-duduk dulu di situ sambil bertemu mas Teguh yang sudah menanti perjalanan kami. Tanpa jendela kaca yang melindungi, angin menelusup lewat sisi-sisi bangunan.

“Lihat keluar sana, itu Rinjani sudah kelihatan,” kata mas Teguh, induk semang kami selama di Lombok.
Continue reading semilir nauli, bungalow di kaki rinjani

renjana rinjani : menuju kabut di hening sang dewi

DSC_0542

Roads go ever ever on,
Under cloud and under star.
Yet feet that wandering have gone
Turn at last to home afar.
Eyes that fire and sword have seen,
And horror in the halls of stone
Look at last on meadows green,
And trees and hills they long have known.
– J.R.R Tolkien, The Lord of the Rings

Kami turun dari mobil Isuzu Panther bak terbuka yang dikemudikan Bang Mamad dari Dinas SAR Rinjani. Angin dingin menerpa wajah-wajah yang hendak mendaki gunung berketinggian 3726 mdpl itu. Di depan kami, lembah desa Sembalun dengan dengan latar belakang pegunungan Rinjani yang berdiri gagah. Aku menghirup udara segar pagi itu. Jay merapatkan jaketnya, dingin rupanya juga menggigit kulitnya yang tebal itu.

Membuka bekal yang kami beli tadi di desa Aikmel, kami bersama-sama sarapan dengan lahap. Untuk mendaki Gunung Rinjani, kami ditemani oleh Budi dan Sopyan yang bertindak sebagai porter dan guide yang akan mengawal perjalanan kami. Sebenarnya kami hendak ditemani oleh Bang Icin, yang menjadi narahubung awalku dari Pancor, Lombok Timur. Bang Icin, pendiri tim SAR Rinjani, sudah mendaki gunung cantik itu lebih dari 100 kali. “Kalau Bang Icin ikut, jalannya cuma 2 jam hingga pos 3,” kata Sopyan. “Memang seharusnya berapa jam?” tanyaku. “Yah, kira-kira 5 jam, lah,” jelas pemuda berperawakan kecil itu.
Continue reading renjana rinjani : menuju kabut di hening sang dewi

renjana rinjani : bukan hanya membawa hati

cover1

To travel is the experience of ceasing to be the person you are trying to be, and becoming the person you really are.
― Paulo Coelho, Warrior of the Light

Sejauh yang aku ketahui, mendaki gunung adalah perjalanan dengan persiapan yang sangat banyak. Terlebih lagi perjalanan yang dilakukan lebih dari dua hari tanpa dekat dengan fasilitas layaknya di penginapan normal. Persiapan bukan cuma untuk diri sendiri, namun juga supaya jalur-jalur gunung yang kita jejaki tidak menanggung beban berat karena kita melalui dan sedikit merusaknya.

Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang merupakan salah satu gunung-gunung tinggi di Indonesia dengan ketinggian 3726 mdpl, menjadi salah satu impianku untuk melintasi padang-padangnya. Mendengar cerita beberapa orang yang pernah ke sana, terbit rasa iri untuk ikut menjelajahinya. Savana, jalur hutan, danau dan kabut, seperti memanggil-manggilku. Tapi kakiku yang kecil ini, apa sanggup? Pengalamanku mendaki gunung hanya berkisar gunung-gunung di Jawa Barat di masa pendidikan pencinta alam belasan tahun yang lalu, serta beberapa gunung wisata seperti Anak Krakatau, Bromo, Ijen, yah, bolehlah kalau Tangkuban Parahu mau dihitung. Jadi untuk menjelajah gunung ini perlu persiapan lebih untukku daripada pendaki-pendaki yang terbiasa.

Continue reading renjana rinjani : bukan hanya membawa hati

air asia dalam rengkuhan mimpi rinjani

cover

Free as a bird | It’s the next best thing to be | Free as a bird
Home, home and dry | Like a homing bird I’ll fly | As a bird on wings
Whatever happened to | The life that we once knew? | Can we really live without each other?
[Beatles]

“Lari, mbak! Pesawatnya sudah boarding!” begitu mas-mas pemeriksa tiket meneriaki kami yang tiba di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta pada pukul 05.50 menit di tanggal 5 Maret 2011 pagi. Pesawat dijadwalkan terbang pada jam 06.15. Tentu saja maskapai yang lebih sering tepat waktu daripada delay-nya ini tidak ingin kehilangan predikatnya hanya karena rombongan konyol seperti kami. Untung saja, Sisil yang mem-booking tiket untuk kami sudah melakukan mobile check-in. Jadi, kami semua tinggal melenggang masuk kabin pesawat.

Seharusnya.

Kejadiannya, aku, Sisil, Ika dan Ayu harus berlari-lari sepanjang terminal 3, dari bawah hingga galeri koridor, lorong hingga naik pesawat. Sepertinya semua penumpang bernapas lega ketika kami berempat masuk pesawat. Muka merah padam sengaja disembunyikan ketika duduk di kursi masing-masing yang terpencar. Demi menghemat biaya, kami tidak me-reserve nomor kursi. Jadilah bebas terpencar begini. Memang asyiknya naik Air Asia itu, dari pemesanan hingga check-in kita bisa lakukan secara online, dengan tambahan berbagai fasilitas yang dibutuhkan saja. Jadi kalau tidak butuh bagasi, tidak beli. Tidak butuh memilih tempat duduk, tidak beli. Tidak butuh makanan di jalan, tidak perlu beli juga. Cocok sekali untuk pengguna jasa yang minimalis seperti aku. Irit, maksudnya.

Tiket AirAsia ini dibeli beberapa minggu sebelum berangkat. Memang bukan tiket promo, namun tetap saja harganya termurah dibandingkan maskapai lain. Dengan armada Airbus A320, harga murah ini tetap didukung kelayakan kualitas penerbangan. Terbukti kami yang langsung tidur begitu lepas landas dan baru sadar kembali karena sinar matahari mulai menerpa jendela-jendela. Yay, hanya 35 menit waktu tempuh Jakarta-Jogja, saatnya untuk menikmati kota budaya ini dan bertemu dengan komunitas Goodreads Indonesia Jogja yang janjian ketemu di Benteng Vredeburg.
Continue reading air asia dalam rengkuhan mimpi rinjani