semilir nauli, bungalow di kaki rinjani

11-nauli-bungalow-sembalun-lombok-pekarangan

Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaanku ketika tiba di Nauli Bungalow tengah malam itu, selain perasaan yang campur aduk antara Rinjani, Sembalun, dan kenangan-kenangan tentangnya beberapa tahun sebelumnya. Sebenarnya aku tidak pernah berpikir untuk kembali ke kaki Rinjani selama sehari semalam untuk memandangi gunung yang pernah gagal kudaki sampai puncak itu.

Namun tempat ini manis, dan teramat sayang untuk dilupakan. Di tengah hembusan angin, aku merasakan kehangatan tuan rumah yang membuatku nyaman. Tidak ada konter resepsionis atau lounge besar seperti halnya hotel berbintang, hanya satu bangunan ruang bersama dengan meja-meja makan dan televisi yang menyambut. Dingin gemerutuk seketika terasa ketika turun dari mobil. Kami duduk-duduk dulu di situ sambil bertemu mas Teguh yang sudah menanti perjalanan kami. Tanpa jendela kaca yang melindungi, angin menelusup lewat sisi-sisi bangunan.

“Lihat keluar sana, itu Rinjani sudah kelihatan,” kata mas Teguh, induk semang kami selama di Lombok.

Aku merapatkan kemeja flanel yang kupakai dan berlari keluar. Lamat-lamat kutangkap dalam penglihatan, gestur Rinjani yang amat mudah dikenali berdiri kokoh walau pun di tengah kegelapan malam. Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa memberi terang langit kelam itu. Aku masih berdiri di tengah pekarangan kompleks bungalow itu ketika lampu taman tiba-tiba padam. Ah, indah sekali karunia mata ini, sambil memperhatikan punggungan menanjak menuju puncak 3726 mdpl yang seolah memanggilku untuk mencobanya kembali.

Karena jumlah tim cewek kami ganjil, ternyata aku mendapat kamar yang harus dihuni bertiga dengan Zahra dan Dian. Kami tinggal di bungalow-bungalow kecil di tengah pekarangan yang luas. Kamarku cukup luas, dengan dua ranjang besar dari perabot bambu dan satu ekstra bed. Di belakangnya, ada lavatory dari marmer yang dangkal. Kamar mandi berupa shower yang dilengkapi dengan air panas dan dingin terbuka terbuka sebagian di bagian atas, sehingga tidak diperlukan pengudaraan buatan. Di ujung yang lain, sebuah kloset duduk yang bagus membuat penghuni sementara akan merasa nyaman.

“Lho, ini bed satunya nggak ada selimutnya. Mesti minta lagi,” kataku melihat extra bed yang akan ditempati Dian malam itu. Kami keluar dan berlari-lari kecil ke bangunan utama memberitahu pemilik penginapan untuk meminta satu selimut lagi daripada menggigil tengah malam.

1-nauli-bungalow-sembalun-lombok-bedroom

2-nauli-bungalow-sembalun-lombok-lavatory-towel

3-nauli-bungalow-sembalun-lombok-shower-closet

Ketika Mbak Lia, pemilik penginapan yang manis itu segera mengantarkan selimut ke bungalow kami, malah ia tertahan oleh banyak obrolan. Menurut ceritanya, dulu ia sering sekali ke Sembalun untuk penelitian tugas kuliahnya, dan jatuh cinta pada tempat ini, dan membelinya ketika dijual oleh pemilik terdahulu. Kami mengobrolkan tentang film Leher Angsa yang berlokasi syuting di desa ini, dan sudah kutonton dua tahun yang lalu.

“Filmnya jadi diputar, ya? Kirain nggak jadi tayang,” ungkapnya gembira. “Dulu kan tema filmnya sempat kontroversi di sini.” Haha, film manis produksi Alenia film itu yang membawaku tertarik ke Sembalun dulu. Cerita tentang satu desa yang memiliki kebiasaan buang air yang unik di sungai versus keinginan memiliki kakus sesuai prasyarat sanitasi.

Mbak Lia bercerita bahwa ia sudah berkali-kali mendaki Rinjani sewaktu muda. “Kalau sudah punya anak begini, tenaganya kurang,” candanya. Ia menyemangatiku agar kembali mencoba mendaki gunung cantik itu. “Hm, nanti kupikir lagi. Harus latihan fisik tiga bulan, nih. Aku nggak sekuat itu badannya,” balasku.

“Sewaktu erupsi Baru Jari Rinjani kemarin, banyak yang menanyakan, Lia mengungsi ke mana?” ceritanya. “Padahal di sini sih nggak ada hujan abu atau apa pun, karena terbawa angin jauh di atas.” Mbak Lia menunjuk ke Rinjani, “Kalau malam begini, letupan pijarnya bisa terlihat dari sini, terang dan cantik sekali.” Pendakian ke Rinjani memang ditutup ketika terjadi erupsi gunung kecil yang berada di dalam danau Segara Anak, kawah Rinjani itu, namun masih ada saja pendaki-pendaki nakal yang lewat jalur lain untuk mencapai tepi danau hanya untuk mengabadikan muntahan lava gunung Baru Jari.

Kalau ke Bukit Pergasingan, yang akan kami tuju besok, memakan waktu tiga jam hingga puncaknya, demikian ia memberi info. “Ah, masa? Kata Mas Teguh cuma satu dua jam,” aku memperjelas. Ia tersenyum ringan, “Ya, mungkin kalau cepat bisa.” Aku jadi menimbang-nimbang, sepertinya informasi mbak Lia lebih bisa dipercaya, nih.

Di area yang luas ini hanya terdapat empat bungalow dengan fasilitas yang sama dengan yang kutempati. Bangunan-bangunan mungil ini menghadap langsung ke gunung Rinjani yang indah di hadapan. Hanya saja, sayang karena aku tiba lagi di sini sesudah turun dari Bukit Pergasingan sudah di atas jam sepuluh pagi, puncak Dewi Anjani itu sudah tidak terlihat karena tertutup awan dan kabut. Hmm, pasti dingin sekali di atas sana, kenangku.

Atap-atap bungalow ini menggunakan ilalang yang dihamparkan dengan cara yang sama seperti rumah-rumah suku Sasak yang berada di Sembalun. Warna-warni bangunan mempercerah suasana di area luas ini. Lantainya sendiri cukup unik, kukenali sebagai teraso yang dicor langsung. Lebih hemat daripada ubin biasa. Mungkin di kemudian hari akan ada bungalow tambahan sehingga suasana di sini bisa lebih ramai.

4-nauli-bungalow-sembalun-lombok

5-nauli-bungalow-sembalun-lombok

6-nauli-bungalow-sembalun-lombok

9-nauli-bungalow-sembalun-lombok-teras

8-nauli-bungalow-sembalun-lombok-tangga-teraso

10-nauli-bungalow-sembalun-lombok-rinjani tertutup

    Tapi tahukah kamu, apa hal yang paling mengasyikkan dilakukan di sini?
    Yang paling asyik adalah tidak melakukan apa-apa.
    Tidur-tiduran di hammock, sambil menikmati semilir angin hingga kantuk datang.
    Atau menari, berlari sekeliling pekarangan yang berwarna kecoklatan lembut itu, mengikuti irama sang bayu.

Satu bangunan besar tempatku tiba tadi malam adalah tempat tinggal mbak Lia dan keluarga kecilnya. Susunan meja makan yang tidak berubah sejak semalam ditambah bonus kehangatan obrolan dengan penghuninya. Perabot bambu dan lantai semen membuat suasanya lebih akrab.

Di salah satu sudut pekarangan terdapat beberapa meja kecil dari kayu, yang menyenangkan untuk mengobrol-ngobrol ringan sambil membaca buku. Dengan sisi yang menghadap ke Bukit Pergasingan dan Rinjani, membuat betah untuk berlama-lama di situ. Jika lapar, bisa memesan mie instan dari dapur Mbak Lia. Kuah hangat dan teh manis dipadu pemandangan yang luar biasa ini menjadi tempat yang dirindukan.

7-nauli-bungalow-sembalun-lombok

12-nauli-bungalow-sembalun-lombok-sitting-groups

13-nauli-bungalow-sembalun-lombok-reading-book

14-nauli-bungalow-sembalun-lombok-team-TW-gathering-2015

Sayang sekali kami harus meninggalkan bungalow manis ini siang hari. Pertemuan dengan keluarga kecil mbak Lia yang mengelolanya dengan sepenuh hati membuatku ingin kembali. “Inaq!” begitu putri kecil Mbak Lia memanggil ibundanya. Gadis berusia tiga tahun ini telah berkali-kali diajak kedua orang tuanya ke Bukit Pergasingan. Sepertinya ia akan menjadi pendaki yang kuat seperti ibunya.

“Nanti kembali lagi, ya. Bawa buku dan cerita yang banyak!”
Duh, ingin rasanya dan bertemu dengan sosok yang menyenangkan ini. Bermain-main dengan anak-anak di sekitar desa, berbagi cerita dengan mereka.

15-nauli-bungalow-sembalun-lombok-pekarangan

Travel Writer Gathering, Lombok Sumbawa 2015
Nauli Bungalow, Sembalun 13-14 Nopember 2015
Ditulis di Depok, 8 Desember 2015, 08:35 pagi.

#TWGathering2015
mendamba flamboyan di lombok selatan
south lombok : the blue, the pink, the beach
warisan lampau desa adat beleq, sembalun

Advertisements

19 thoughts on “semilir nauli, bungalow di kaki rinjani

  1. adventurose says:

    Huaaaa.. Baca ini jadi pengen balik ke Nauli. Pengen tinggal beberapa hari di sana. Inget omongan mbak Lia waktu kita mau pulang, “saya penhennya tamu-tamu seperti kalian ini tinggal lebih lama di sini…”
    Huhuhu mbaaak… Saya juga ga bakal nolak kalo harus tinggal lebih lama di Nauli…

  2. Gara says:

    Bukit pergasingan ini sedang hits. Kendati saya agak risih dengan banyaknya orang berkemah di sana (saya juga pengen sih kemah di puncaknya :haha) soalnya khawatir dengan sampah. Pergasingan memang sedang hits. Banget. Tapi mudah-mudahan membawa karunia juga bagi semua orang yang ada di sana.

    *brb cari tiket mudik*.

  3. adieriyanto says:

    Nyoba komen, semoga gak masuk spam. Tau kan masalahku. Hiks 😥

    Mungkin karena yang punya cewek ya, jadi aku ngobrolnya gak bisa sebebas kalian sama mbak Lia. Orangnya emang menyenangkan sih. Dan bener, kurang lama main di sininya. Klo ada satu aja kita melewatkan sore dengan hujan lebat di tempat ini, aku pasti akan hujan2 sambil jogging di sekeliling kompleks penginapan. Satu hal lagi yang menarik dari Nauli adalah anjingnya jinak banget. Aku yg phobia sama anjing aja sampai gak khawatir digonggongi. 😉

  4. noerazhka says:

    Betapa rindu aku pada sejuknya Sembalun, gagahnya Rinjani dan beragam kenangan yang pernah tercipta di lembah keduanya. Membaca Semilir Nauli, sedikit mengobatinya. Terima kasih, Mba Indri .. 🙂

  5. rifqimochtarlatif says:

    mbaaaaaa, sumpah ini syahdu banget. buat baca buku asik banget kayanya, bisa berjam jam menghabiskan waktu sepertinya. kalo malem tidur di hotel 1000 bintang pasti 😦 mauuuuk ! haha

  6. ainun says:

    Mbakkkk suka ssama suasananya, depan kamar udah bisa liat yg iso2, gunung rinjani, omaigodddd.
    udah ngebayangin disana aja nih, kayaknya kalo aku pasti susah buat beranjak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s