renjana rinjani : menuju kabut di hening sang dewi

DSC_0542

Roads go ever ever on,
Under cloud and under star.
Yet feet that wandering have gone
Turn at last to home afar.
Eyes that fire and sword have seen,
And horror in the halls of stone
Look at last on meadows green,
And trees and hills they long have known.
– J.R.R Tolkien, The Lord of the Rings

Kami turun dari mobil Isuzu Panther bak terbuka yang dikemudikan Bang Mamad dari Dinas SAR Rinjani. Angin dingin menerpa wajah-wajah yang hendak mendaki gunung berketinggian 3726 mdpl itu. Di depan kami, lembah desa Sembalun dengan dengan latar belakang pegunungan Rinjani yang berdiri gagah. Aku menghirup udara segar pagi itu. Jay merapatkan jaketnya, dingin rupanya juga menggigit kulitnya yang tebal itu.

Membuka bekal yang kami beli tadi di desa Aikmel, kami bersama-sama sarapan dengan lahap. Untuk mendaki Gunung Rinjani, kami ditemani oleh Budi dan Sopyan yang bertindak sebagai porter dan guide yang akan mengawal perjalanan kami. Sebenarnya kami hendak ditemani oleh Bang Icin, yang menjadi narahubung awalku dari Pancor, Lombok Timur. Bang Icin, pendiri tim SAR Rinjani, sudah mendaki gunung cantik itu lebih dari 100 kali. “Kalau Bang Icin ikut, jalannya cuma 2 jam hingga pos 3,” kata Sopyan. “Memang seharusnya berapa jam?” tanyaku. “Yah, kira-kira 5 jam, lah,” jelas pemuda berperawakan kecil itu.

Selain terpengaruh oleh cerita beberapa teman yang pernah mendaki gunung ini, salah satu motivasiku untuk naik Rinjani adalah film Leher Angsa, yang kutonton setahun sebelumnya. Film anak-anak tersebut bersetting desa Sembalun Bumbung yang menjadi titik awal pendakian kami. Dan juga, katanya savana Sembalun ini mirip dengan setting film yang tak pernah bosan kutonton, The Lord of the Rings yang syuting di New Zealand. Dari berbagai info yang kudapat, jalur naik lewat Sembalun ini banyak menjadi favorit pendaki, karena relatif landai dan pemandangannya indah membentang. Kami berencana turun lewat jalur Senaru di sebelah utara Rinjani.

semangat full!

semangat full!

jay, budi, bang mamad, bang icin, sopyan, dan aku sebelum masuk sembalun

jay, budi, bang mamad, bang icin, sopyan, dan aku sebelum masuk sembalun

Kami berhenti di kantor Taman Nasional Gunung Rinjani untuk mengisi data dan membayar enam ribu rupiah per orang. Jumlah yang terlalu murah menurutku, untuk dibayarkan sebagai biaya pengelolaan Taman Nasional yang luas ini. “Kalau pendaki lain, start-nya dari sini, mbak Indri,” kata Bang Icin sambil menunjukkan satu gerbang di samping kantor Taman Nasional. Untungnya, karena diantar mobil sehingga kami bisa memulai pendakian agak lebih dalam sehingga hemat waktu sekitar setengah jam jalan.

“Pelan-pelan saja mbak Indri, kuatkan tekad untuk mencapai puncak, pasti bisa!” pesan Bang Icin sebelum ia melepas kami untuk mulai pendakian. Sebenarnya beliau ingin memandu kami, namun harus mengantar anak didiknya mengikuti pertandingan pencak silat di Kalimantan Timur. Senyum lebar terutas di wajahnya yang tak lagi muda itu. Budi membawakan carrier-ku yang berkapasitas 40 liter. Berempat kami berpamitan pada bang Icin dan bang Mamad untuk memulai pendakian.

bang icin dan bang mamad melepas kami

bang icin dan bang mamad melepas kami

jalur pendakian yang kering

jalur pendakian yang kering

savana yang menghampar

savana yang menghampar

Savana yang luas menyergap pandangan kami dengan latar puncak gunung yang menjadi target pendakian. Di kiri dan kanan hanya padang ilalang dengan rerumputan setinggi lutut hingga perut. Ditemani angin semilir ringan, ilalang tersebut seolah menari. Di belakang kami adalah desa Sembalun yang berada di lembah yang elok dengan tebing-tebing pegunungan yang menaunginya. Panas terik melingkupi bulan November yang semestinya sudah masuk musim penghujan itu. Rasanya penggalan-penggalan sajak di buku The Lord of The Rings amat cocok dibacakan di padang-padang yang kami lalui ini.

Kami sempat bertemu dengan rombongan pesepeda gunung yang kuat mengayuh mendaki di jalur pematang kering itu. “Mau sampai puncak, mas?” tanyaku ketika bertemu di salah satu titik istirahat. “Enggak, mbak! Cuma sampai pos 2 saja,” jawab salah satu dari mereka. Iring-iringan sepeda agak jauh di depan memudahkan aku untuk mengikuti arah jalur di tengah savana luas itu, sementara Budi sudah berada cukup jauh di depan.

Aku, Jay, dan Sopyan berjalan beriringan sambil berfoto-foto. Di kiri kanan ada beberapa bekas ilalang yang terbakar. Sopyan bercerita bahwa sebulan yang lalu ada yang tersesat di savana ini sampai lima hari baru ketemu. “Mereka berangkat jalan malam tanpa pemandu. Kalau siang memang ramai pendaki sehingga orang agak jauh di depan masih bisa kelihatan dan diikuti. Kalau malam kan gelap dan jarang yang jalan malam. Mereka mungkin mengikuti jalur penggembala kambing atau kerbau, yang tidak sama dengan jalur pendaki,” cerita Sopyan. Aku memandang sekeliling. Padang savana yang luas ini memang bisa membuat orang yang hanya berorientasi puncak namun lepas dari jalur pendakian.

porter yang membawakan keperluan rombongan

porter yang membawakan keperluan rombongan

puncak impian di depan mata

puncak impian di depan mata

perjalanan masih panjang

perjalanan masih panjang

Kami melalui sungai yang kering dan hanya nampak batu-batunya saja. Menurut Sopyan lagi, kalau di musim penghujan sungai ini penuh air karenanya pendakian ke Rinjani lewat jalur Sembalun ini ditutup karena jalurnya tidak bisa dilewati. “Wah, kalau Januari Februari curah hujannya tinggi, jalanan jadi agak licin. Bisa sih dilewati, tapi harus ekstra hati-hati. Capek juga kalau jalan pas hujan,” jelas Sopyan.

Jalan landai mulai bergerak naik. Suara motor trail yang menderu-deru di belakang kami agak mengganggu telinga. Kupikir di alam terbuka begini aku tak akan mendengar suara mesin. Ah, rupanya ia satu tim dengan pesepeda-pesepeda itu. Terlihat beberapa pengendara sepeda beristirahat di sebuah pondok beratap seng hijau di kejauhan. “Itu pos 1, mas?” tanyaku. Sopyan mengiyakan.

Kami tiba jam 10.50 di pos 1. Tampak di belakang pondok banyak sampah bertebaran. Duh, sayang sekali pemandangan elok ini harus dirusak oleh tinggalan pendaki yang berhenti di sini. Kami minum dan berfoto-foto meminjam sepeda yang pengendaranya masih beristirahat. Bajuku sudah basah oleh keringat dan cuaca makin terik. Setelah agak reda penatnya, kami berjalan lanjut ke pos 2.

kontras langit biru

kontras langit biru

jembatan berumput

jembatan berumput

ceruk-ceruk rahasia

ceruk-ceruk rahasia

Jalur ke pos 2 cukup lebar, bukan lagi berupa pematang-pematang, namun jalur bebatuan dan tanah yang cukup keras. Beberapa kali kami bertemu dengan rombongan pendaki lain di turun di jalur Sembalun. Mungkin mereka naik lewat jalur Senaru dan turun di jalur Sembalun. Ada beberapa jembatan juga yang dilewati. Seperti di bawah tadi, sungai atas sini juga kering. Musim kemarau yang panjang membuat daerah ini berwarna kuning keemasan, tak juga berkurang keindahan lansekap alam di sini.

Tidak seperti pos 1 yang berada di jalur punggungan, pos 2 Tengegean tersebunyi di cekungan. Sesudah satu jembatan, jam 11.45 kami tiba di tempat yang amat ramai oleh pendaki yang sedang beristirahat makan siang. Satu rombongan pendaki dan porternya yang memasak makanan di dekat jembatan. Rupanya ada sumber air di dekat pos 2, sehingga tempat ini menjadi tempat favorit untuk makan siang. Wuih, beberapa pojokan berubah menjadi dapur mini dengan juru masak yang lihai memasak ala resto seperti capcay, tumis, dan lauk lainnya. Bau harumnya tak tertahan menggoda perut. Sementara porter mereka memasak, pendaki-pendaki yang rata-rata bule itu tidur-tiduran di bawah keteduhan.

Sementara Budi mengambil air di jeriken plastik yang ia bawa, aku memakan biskuit bekal kami karena perut juga belum terasa terlalu lapar. Di ujung atas ada satu tenda terbuka yang berisi serombongan turis Jepang yang sedang beristirahat makan siang dan di dekat situ juga ada seperangkat alat masak. Rupanya tempat ini memang titik favorit turis maupun pemandu untuk beristirahat.

siapa bersembunyi di balik ilalang?

siapa bersembunyi di balik ilalang?

manusia, kecil di tengah alam

manusia, kecil di tengah alam

roda membawa lebih jauh

roda membawa lebih jauh

Tak lama di pos 2 yang padat, kami melanjutkan perjalanan. Medan sudah mulai mendaki berbatu di atas tanah liat. Kami harus mulai mengatur nafas dan langkah kaki supaya terus kuat berjalan. Desa Sembalun sudah jauh sekali di belakang. Budi berjalan lebih dulu diikuti aku, Jay dan Sopyan. Jalanan mendaki sambil sesekali bertemu trek ‘bonus’. Ini istilah trekking yang berarti jalanan agak datar atau landai. Lama kelamaan jarak yang terbentang antara aku dan Jay makin jauh. Sesekali aku berhenti beristirahat untuk menunggunya sampai di titik aku berada.

Setelah satu jam lebih berjalan mendaki, kami tiba di pos 3. Aku membuka ranselku yang dibawa Budi dan mengeluarkan perbekalan kami untuk makan siang. Kami melahap nasi bungkus yang tadi pagi dibeli, kemudian tidur-tiduran sejenak mengembalikan energi. “Masih tiga jam lagi sampai Plawangan Sembalun,” kata Budi sambil menghembuskan rokoknya. Pria ini berperawakan tinggi langsing. Sudah lebih dari dua puluh kali ia melalui jalur Sembalun ini. “Nanti jalannya menanjak terus, pelan-pelan saja. Kalau nggak kuat istirahat sebentar,” tambahnya menunjuk punggungan yang lumayan curam yang akan menjadi jalur pendakian kami selanjutnya. Aku menguatkan tekad, harus bisa!

Banyak orang yang memilih untuk beristirahat di Pos 3 dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Karena tidak semua orang mau untuk berjalan langsung ke Plawangan Sembalun yang (rencananya) memakan waktu 3 jam dengan sudut pendakian hampir 45 derajat yang sudah dibayangkan akan melelahkan. Seperti tempat-tempat lain yang biasa dijadikan camp, di sini pun cukup banyak sampah. Di balik salah satu batu, ada banyak sekali sampah anorganik, bungkus makanan, kantong plastik, dan lainnya, yang berserakan. Malu rasanya pada turis bule yang banyak berlalu lalang melihat tempat dengan pemandangan indah ini penuh sampah.

lansekap cantik pengusir lelah

lansekap cantik pengusir lelah

perlahan, tapi terus naik

perlahan, tapi terus naik

Benar kata Sopyan, setelah Pos 3 jalanan mulai mendaki. Kami melalui hutan yang agak jarang pepohonannya. Jalurnya tanah keras berundak-undak dengan pepohonan yang jarang-jarang di kanan dan kiri. Ada beberapa rombongan pendaki di depan kami, sehingga tidak terlalu khawatir kehilangan arah. Tapi jika tidak hati-hati, bisa saja tersesat ke lereng di samping. Tapi seperti semua cerita yang pernah kudengar, Rinjani memiliki jalur pendakian yang indah. Lereng kiri dan kanan yang mulai berkabut sore itu menambah kecantikan selimut pegunungan itu.

Awalnya Jay berada di depanku, namun setelah beberapa saat, aku mendahului dia di satu titik. Jadi aku berjalan mengikuti Budi, sementara Jay dengan Sopyan. Kami sudah tidak banyak bercakap. Latihan lariku selama berbulan-bulan rupanya mulai diuji di sini. Sesekali aku berpegangan pada batang atau akar tanaman untuk membantu mengangkat badanku. Medan yang berat dan energi yang sudah berkurang setelah berjalan setengah hari memperlambat kecepatan kami.

Ternyata ada satu lagi pos bayangan di atas hutan tadi. Jam 16.15 kami beristirahat sebentar di pondok yang sudah tak beratap itu. Angin yang bertiup agak kencang mendinginkan badan yang berkeringat. Aku memakai jaket yang kusimpan di daypack-ku karena takut masuk angin. “Tidur dulu sebentar, In,” kata Jay yang langsung membaringkan tubuhnya di dinding pondok. Langit sudah menghilang birunya, digantikan oleh kabut tipis. Pemandangan lansekap hijau yang luas, sedikit mengurangi rasa lelah pendakian. “Di sana Plawangan Sembalun, mbak In,” kata Sopyan sembari menunjuk satu punggungan datar di atas sana. Kelihatannya sih tidak terlalu jauh. Tapi jarak vertikalnya? Hm, aku senyam senyum saja sambil meregangkan kaki.

medan mendaki

medan mendaki

kemilau keemasan memotong bukit

kemilau keemasan memotong bukit

bawa beban pun bisa lewat

bawa beban pun bisa lewat

lihatlah lebih jauh

lihatlah lebih jauh

Lima belas menit kemudian kami berjalan lagi. Jalur di depan tampak seperti gerumbulan semak saja dengan beberapa pendaki di dalamnya. Kami mengikuti mereka sambil mencari-cari jalan yang cukup enak. Angin masih bertiup agak kencang mengiringi perjalanan kami. Usai terengah-engah di situ aku dan Budi tiba di satu padang rumput yang agak landai. Ah, sudah semakin mendekati Plawangan Sembalun! Aku sempat duduk-duduk menunggu Jay dan Sopyan yang tidak kunjung terlihat. Begitu raincover biru yang dibungkuskan Jay di ranselnya terlihat, aku melambaikan tangan. Ia tampak kelelahan di bawah sana. Aku sempat berpikir untuk turun dan membantunya naik, tapi pikiranku juga ingin terus naik mengikuti Budi yang sudah mendaki lagi. Akhirnya aku ikut memasuki hutan yang agak rapat di depan, karena tidak kuat lagi dengan angin yang menderu.

gerumbul pepohon

gerumbul pepohon

matahari mulai turun

matahari mulai turun

lereng di pandangan kanan

lereng di pandangan kanan

Setelah berjalan sekitar setengah jam, kami berdua beristirahat sambil menunggu Jay dan Sopyan tiba. Ternyata mereka tidak terlalu jauh bedanya, hanya di belakang kami 15 menit saja. Rupanya Sopyan memindahkan tenda bawaannya untuk diangkut Budi. Kami berjalan bersama-sama lagi, mendaki mengikuti jalur dengan banyak akar melintang. Lama kelamaan tetap saja jarak membentang antara kami makin jauh karena kekuatan fisik masing-masing. Mula-mula Budi masih kelihatan berkelebatan di antara pepohonan di depanku, tapi lama kelamaan kemerisiknya tak terdengar lagi. Teringat katanya sebelum naik tadi, “Terus saja, ikuti jalur ke atas sampai Plawangan Sembalun.”

savana terakhir berangin kencang

savana terakhir berangin kencang

lembah sembalun, sebelum masuk hutan

lembah sembalun, sebelum masuk hutan

Kelihatannya memang sudah tak jauh. Hari yang mulai surup membuat lampu-lampu di punggungan Plawangan Sembalun terlihat berkelip. Aku menjepretkan kamera sekadar ingin mengetahui jam berapa sekarang. Kunyalakan senter untuk menyinari jalur yang meremang. Budi sudah tidak terlihat lagi di mana. Melihat ke bawah pun tak kuketahui keadaan Jay dan Sopyan yang entah jauh atau dekat. “Mas Budiiii, Mas…”

Tidak ada suara yang menjawab panggilanku. Aku sendirian. Suara angin menderu berhembus di udara sedikit membuatku gentar. Hari sudah mulai gelap. Aku mesti berani. BERANI. Pilihannya antara jalan terus ke atas sendirian atau menunggu Jay dan Sopyan. Tapi kuputuskan untuk jalan terus pelan-pelan. Sesekali aku terantuk akar sambil mencari jalan. Sempat aku jatuh ketika gagal menaiki satu tanjakan dan berpegangan pada pepohonan. Kutenangkan diri sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Pokoknya aku harus terus berjalan, berjalan, begitu kutanamkan dalam pikiranku. Aku memikirkan kondisi Jay. Mudah-mudahan ia dan Sopyan baik-baik saja di bawah.

Sepertinya hampir satu jam aku berjalan sendiri. Rasa takut yang tadi menyergap, sudah mulai kukuasai. Ketika hutan itu terlewati, aku bertemu dengan satu tenda yang penghuninya sedang menyorot-nyorotkan senter. “Ini sudah Plawangan Sembalun, Mas? Teman saya barusan lewat sini,” sapaku. “Terus lagi saja, mbak, mungkin di balik bukit yang itu,” jawabnya ramah.

Aku menengadah. Langit cerah sekali berhiaskan ribuan bintang dengan jarak berdekatan. Memandang langit seperti ini meluruhkan lelah dan ketakutanku berjalan sendirian. Langkahku menjadi ringan sambil memandang lengkung langit penuh dengan bintang. Penyemangat hidupku. Saat itu, langit rasanya dekat sekali…

Meniti jalan setapak itu aku menemukan Budi yang sedang mendirikan tenda kami. Setengah jam kemudian Jay dan Sopyan datang. Sayangnya, kabar dari Jay bahwa ia tidak bisa melanjutkan perjalanannya ke puncak karena kakinya cedera.

Jam tiga pagi aku dibangunkan Sopyan yang akan menemaniku ke puncak. Aku mengenakan celana summit, kupluk, sarung tangan, masker, inner jacket dan raincoat serta membawa sebotol air dan biskuit. Dingin menggigit di sekitar ujung hidungku yang tak tertutup. Aku memasang senter kepala dan melangkah mengikuti Sopyan di depan.

Jalur berpasir terus-terusan menemani perjalanan kami.
Pasir ini semakin diinjak, akan semakin mudah merosot.
Aku terus melangkah pelan-pelan, sampai matahari terbit dari balik punggungan puncak.
Danau Segara Anak perlahan terlihat di samping kanan.
Jurang menganga di sebelah kiri.

Aku berjalan terus sambil mengatur nafasku. Angin berdesir kencang hingga gigiku gemeletuk. Sudah lima jam sejak kami meninggalkan Plawangan Sembalun dan belum juga sampai di kaki pendakian menuju puncak. Titik tertinggi itu rasanya tak kunjung mendekat. Dingin mulai menyelusup lewat sepatu dan menggigit ujung jariku. Aku gemetaran…


perjalanan : 3-7 nopember 2013
ditulis : 27 oktober 2014 | 01.37 WIB | early morning

cerita selanjutnya menuju puncak : renjana rinjani : jalan mengenali diri

cerita persiapan > renjana rinjani : bukan hanya membawa hati
cerita penerbangan > air asia dalam rengkuhan mimpi rinjani

Advertisements

8 thoughts on “renjana rinjani : menuju kabut di hening sang dewi

  1. meidianakusuma says:

    huwooo gununggggg 😀
    jadi inget sore ini kita juga bahas pergunungan, Savananya Rinjani cantikk yaah ;3, aku ngelihat savana di Baluran aja udah girang sendiri *ahahhahaah*
    haduhh aku masih belum yakin sih kalo naik-naik ke gunung, tapi berharap someday bisa daki gunung tetep boleh kan kak *joget joget*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s