Tag Archives: snorkeling

rekomendasi sewa kapal di labuan bajo

Labuan Bajo mungkin adalah salah satu tempat yang menarik hatiku di Indonesia. Gugusan pulau-pulaunya yang membentang dengan lautnya yang biru cerah membuat hidup di kapal selama tiga hari menjadikan hati dipenuhi kebahagiaan. Mulai dari pelabuhan, bertemu dengan berbagai macam jenis kapal mulai dari kapal ferry, kapal Pelni, kapal barang, kapal tongkang, kapal nelayan, hingga kapal pinisi menjangkar dengan indahnya di perairan pelabuhan pada areanya masing-masing. Continue reading rekomendasi sewa kapal di labuan bajo

gili trawangan : living and tourism are coupled

DSC_0275

In any case, a little danger is a small price to pay for ridding a place of tourists.
― Tahir Shah, In Search of King Solomon’s Mines


Aku selalu menyesal memikirkan bahwa beberapa tahun yang lalu aku ke Lombok tapi tidak mampir Gili Trawangan apalagi mencoba snorkeling. Maklumlah dulu masih unyu dan belum banyak traveling (maksudnya, masih jadi traveler tingkat mahasiswa) dan belum bisa berenang. Makanya pas ada kesempatan ke Lombok lagi aku yang berencana tinggal hanya semalam di pulau ini jadi extend jadi dua malam. Tentunya supaya bisa menikmati one day tour snorkeling berkeliling beberapa point yang asyik di laut.

Gili (yang berarti pulau) Trawangan cukup mudah dicapai dari pulau Lombok atau Bali. Dari Lombok bisa menggunakan kapal kayu sedang yang berjalan tiap jam sepanjang hari dari pelabuhan Bangsal dengan tarif 15-20 ribu rupiah (kira-kira sesudah penyesuaian), atau mungkin speedboat dari beberapa operator hotel terkemuka di Lombok. Dari Bali banyak ditawarkan fastboat langsung ke Gili Trawangan melalui pelabuhan Padangbai dan harus mengecek jadwalnya terlebih dahulu.
Continue reading gili trawangan : living and tourism are coupled

kecup pantai gawu soyo dan ture loto : ya’ahowu nias #4

cover

Akankah aku memilih untuk hidup di bumi setelah mengetahui dengan pasti bahwa aku tiba-tiba akan dicabut dari sana, dan barangkali di tengah-tengah kebahagiaan yang memabukkan? Atau, akankah aku, bahkan pada tahap yang paling awal, dengan hormat menolak untuk ikut dalam permainan ini?
[Gadis Jeruk – Jostein Gaarder]

terbangun dari tidur di : ketika museum pusaka nias bertemu debur samudera : ya’ahowu nias #3

Aku selalu suka melihat laut. Debur ombak selalu memberikan kedamaian pada hati. Apalagi diterpa angin sambil merentangkan tangan dan membaui asin yang meruak ke udara. Tak cuma pantai, pelabuhan dengan kapal dan laut tidak biru pun bisa membuang efek negatif yang mungkin kebetulan sedang hinggap. Mungkin karena aku dilahirkan di tepi laut di Cirebon sehingga selalu akrab dengan perbatasan darat dan perairan ini. Kapal, ombak, dan batas cakrawala selalu menarikku untuk kembali.

Seusai segar mandi, kami dijemput Java dan supirnya untuk menjelajah ke Nias Utara. Sepertinya hari kedua ini tema petualangan kami adalah air, karena sesudah berenang-renang di laguna tadi pagi, siang ini kami menuju Pantai Gawu Soyo yang berpasir merah dan snorkeling di Pantai Ture Loto.

Perjalanan ke utara melalui jalan-jalan yang cukup mulus sesudah diperbaiki LSM paska gempa. Setelah satu jam jalanan mendatar, mobil berbelok ke arah barat. Karena hari ini hari Jumat, masih banyak pelajar berseragam yang kami temui di jalan baru saja pulang sekolah. Di Nias utara ini kami mulai menemukan masjid berada di tengah pemukiman warga yang rata-rata berdinding kayu. Menurut Java, di sini banyak perantau yang berasal dari Aceh.
Continue reading kecup pantai gawu soyo dan ture loto : ya’ahowu nias #4

karimun jawa : bertinggal di tengah laut

“The sea is emotion incarnate. It loves, hates, and weeps. It defies all attempts to capture it
with words and rejects all shackles. No matter what you say about it, there is always that which
you can’t.” 
― Christopher Paolini, Eragon

Manusia, kodratnya memang hidup di atas tanah. Karena itu jika tinggal tidak di tanah, akan kebingungan, dan akal pikirannya akan berusaha mencari cara bagaimana cara bertahan hidup di situ. Contoh sederhana aku rasakan ketika sampai di Wisma Apung, sebuah penginapan di tengah lautan di kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah. Sesudah terayun ombak dan gelombang selama hampir tiga jam sepeninggal dari Jepara, kemudian mendarat di Pulau Karimun Jawa besar, dilanjutkan naik perahu bermotor selama lima menit ke Wisma Apung, aku mendapati diriku merasa lapar amat sangat dan tak ada apa pun yang bisa dimakan di situ.

Penjaga Wisma Apung berkata,”Makanan baru datang jam tujuh malam, mbak. Sekarang lagi dimasak.” Waduh, makan apa ini? Masa kita menyate baby shark yang sedang asyik-asyik berenang di sekeliling penginapan? Jangan dong, hiu kan binatang dilindungi. Akhirnya kami menelepon tour leader dan memintanya untuk membelikan makanan lagi untuk kami dan diantar ke Wisma Apung. Seharusnya kan dia bilang kalau di sini tak ada makanan, sehingga bisa membeli terlebih dahulu di Pulau Karimun Jawa besar sebelum menyeberang. Continue reading karimun jawa : bertinggal di tengah laut