kecup pantai gawu soyo dan ture loto : ya’ahowu nias #4

cover

Akankah aku memilih untuk hidup di bumi setelah mengetahui dengan pasti bahwa aku tiba-tiba akan dicabut dari sana, dan barangkali di tengah-tengah kebahagiaan yang memabukkan? Atau, akankah aku, bahkan pada tahap yang paling awal, dengan hormat menolak untuk ikut dalam permainan ini?
[Gadis Jeruk – Jostein Gaarder]

terbangun dari tidur di : ketika museum pusaka nias bertemu debur samudera : ya’ahowu nias #3

Aku selalu suka melihat laut. Debur ombak selalu memberikan kedamaian pada hati. Apalagi diterpa angin sambil merentangkan tangan dan membaui asin yang meruak ke udara. Tak cuma pantai, pelabuhan dengan kapal dan laut tidak biru pun bisa membuang efek negatif yang mungkin kebetulan sedang hinggap. Mungkin karena aku dilahirkan di tepi laut di Cirebon sehingga selalu akrab dengan perbatasan darat dan perairan ini. Kapal, ombak, dan batas cakrawala selalu menarikku untuk kembali.

Seusai segar mandi, kami dijemput Java dan supirnya untuk menjelajah ke Nias Utara. Sepertinya hari kedua ini tema petualangan kami adalah air, karena sesudah berenang-renang di laguna tadi pagi, siang ini kami menuju Pantai Gawu Soyo yang berpasir merah dan snorkeling di Pantai Ture Loto.

Perjalanan ke utara melalui jalan-jalan yang cukup mulus sesudah diperbaiki LSM paska gempa. Setelah satu jam jalanan mendatar, mobil berbelok ke arah barat. Karena hari ini hari Jumat, masih banyak pelajar berseragam yang kami temui di jalan baru saja pulang sekolah. Di Nias utara ini kami mulai menemukan masjid berada di tengah pemukiman warga yang rata-rata berdinding kayu. Menurut Java, di sini banyak perantau yang berasal dari Aceh.

Mobil melintasi perbukitan dan hutan-hutan. Sinyal telepon timbul tenggelam di sini. Rupanya jalan yang naik turun berbelak-belok begini lebih baik dilalui oleh pengendara yang mahir dan sudah sering melintasi tempat ini. Ini alasan Java memilih membawa supir untuk mengantar kami semua. Ada beberapa titik yang katanya sering ada ‘bajing loncat’ atau penodongan mobil. Makanya lebih baik tidak lewat jalan ini malam-malam. Kalaupun iya, di titik-titik tertentu harus membunyikan klakson supaya tidak diganggu. Itu menandakan kalau supirnya ‘kenal’ dengan daerah ini. Melihat sepinya lokasi jalan tengah hutan ini, memang rentan terjadi tindak kejahatan di malam hari yang satu-satunya penerangan adalah lampu mobil yang lewat.

“Hezaso lala sinumalo ba Gawu Soyo nakhi?” tanya Java pada serombongan anak sekolah baru pulang yang berjalan kaki ke rumahnya memastikan jalan yang benar ke Pantai Gawu Soyo di Desa Ombolata Kecamatan Afulu Kab. Nias Utara. Tidak adanya angkutan umum membuat puluhan pelajar memenuhi jalan pada jam pulang sekolah sampai kediamannya masing-masing. Kami memastikan bahwa jalan yang kami tempuh benar menuju pantai Gawu Soyo yang berpasir merah. Untunglah jalannya benar ke sana.

Dua jam lebih perjalanan dari Gunungsitoli akhirnya kami melihat deretan pohon kelapa di pantai yang sepi, tak ada bangunan sama sekali di sekitarnya. Berlarian kami keluar dari pantai melintasi semak-semak dan hutan pohon kelapa, benar saja, pasir pantai ini berwarna putih kemerahan! Rupanya koral pada daerah ini berwarna merah sehingga pasir pantainya berwarna campuran koral merah dan butiran putih.

pantai berpasir merah di utara Nias

pantai berpasir merah di utara Nias

dan hanya kami yang berada di sana..

dan hanya kami yang berada di sana..

write your name!

write your name!

menyambut laut dengan gembira

menyambut laut dengan gembira

i love you the sea!

i love you the sea!

Tampak ada tiga orang perempuan berada di dalam lubang sambil mengeduk pasir dan memasukkannya ke karung. Oh, rupanya mereka mengambil pasir ini untuk dijadikan hiasan lansekap sebuah hotel di Gunungsitoli.

Saat itu jam 11 siang sehingga matahari hanya membuat sedikit bayangan kami tampak. Tidak ada orang di pantai selain kami berlima. Air laut biru dari dekat sampai kejauhan menghampar. Kami berlarian di siang panas itu di pasir halus yang cantik itu.

Takut hitam? Ah, basi itu. Di pantai tidak boleh takut hitam! Biarkan matahari menerpa kulit yang sudah terlindungi sunblock. Lengan lembab terlihat berkilau di udara terik itu. Uih, seandainya ini pagi, asyik sekali pasti bermain debur-debur ombak di laut. Sesekali aku berlari ke laut menyongsong ombak yang berpecahan.

formasi 1

formasi 1

formasi 2

formasi 2

formasi 3 : tendang!

formasi 3 : tendang!

formasi 4 : menyerah!

formasi 4 : menyerah!

formasi 5 : terus!

formasi 5 : terus!

formasi 6 : lompat!

formasi 6 : lompat!

formasi 7 : terbang!

formasi 7 : terbang!

jump in the air!

jump in the air!

Setengah jam dari pantai merah kami menuju Pantai Ture Loto. Ini adalah pantai karang yang berada di utara Pulau Nias di desa Balofadoro Tuho tempat kami akan menjelajah terumbu karang yang cantik. Agak lebih ramai di sini. Terdapat dermaga dan warung-warung di tepian pantai. Juga sederetan perahu yang bisa kami sewa untuk ke gugusan atol di tengah. Anak-anak kecil berlompatan dari dermaga langsung ke laut.

Aku dan Lanny berjalan berkeliling karang-karang itu sementara Java tawar menawar dengan tukang perahu yang akan membawa kami ke tengah. Lanny heran melihat terumbu karang yang bermunculan di permukaan. “Biasanya ini adanya di kedalaman,” ujar perempuan yang suka menyelam ini.

Ketika kami kembali ke warung-warung untuk menemui Java yang sudah menyewa perahu sampai sore dengan tarif Rp 225.000, ibu-ibu penjaganya berkata, “Dulu pantainya sampai sana,” menunjuk jalan arah kami datang, sekitar 100 m dari tempat kami berada. “Setelah gempa, dasar pantainya naik, jadi air lautnya mundur sampai sini,” tambahnya. Wah, rupanya di sini ada bukti perubahan muka bumi akibat gempa.

pantai dan dermaga

pantai dan dermaga

terumbu karang yang naik ke permukaan

terumbu karang yang naik ke permukaan

anak pantai asyik berenang

anak pantai asyik berenang

perahu terdampar

perahu terdampar

Kami berlima naik perahu jukung kecil yang dikemudikan oleh tukang perahu dan anaknya yang berusia 10 tahun-an. Langit biru cerah panas di atas menjadikan latar foto yang menarik. Aku tersenyum lebar merasakan angin memberantakan rambutku berkibar-kibar. Sanjay mengenakan rompi pelampungnya karena ia tak begitu mahir berenang. Ombak tak terlalu tinggi menggoyangkan perahu kami. Kami melewati gugusan karang atol namun tukang perahu tetap melaju ke tengah laut.

Di tengah guncangan ombak setinggi 30-50 cm, perahu berhenti. “Di sini kalau mau menombak ikan,” seru tukang perahu sambil menunjuk ke laut. Anaknya mengacungkam stiir yang ia bawa. Memang terlihat beberapa ikan mondar-mandir di kedalaman 8 meter itu. Lanny dan Fadi langsung melompat nyemplung sesudah sebelumnya memasang snorkel masing-masing.

Aku memakai fin dan snorkel dan turun perlahan dari tepi perahu. Byur, ombak naik turun langsung menghantam posisi snorkel yang belum stabil. Aku terus menggerakkan kaki supaya tetap mengambang. Kubetulkan posisi snorkel, dan mulai tengkurap mencoba melihat dasar laut yang tak kelihatan. Sepertinya perairan ini cukup dalam. Tak begitu jelas pemandangan bawah lautnya. Snorkelku yang beberapa kali kemasukan air mengurangi kenyamanan menikmati pemandangan.

Cuma 15 menit di situ, Java memutuskan naik lagi ke kapal dan kami mengikutinya. Agak susah juga mengangkat badan ke perahu dalam kondisi berarus itu, padahal beratku tidak terlalu banyak, lho. Segera setelah semua berada di atas kapal, kapal diarahkan kembali ke gugusan atol karang yang tadi kami lewati.

gugusan atol

gugusan atol

Kami berhenti di satu karang besar berdiameter sekitar 4 meter. Kami berlompatan turun dari perahu yang akan menjemput kami lagi nanti jam 4 sore. Ternyata di sini tidak terlalu dalam, namun pemandangannya indah sekali. Langsung kami mencemplungkan diri dan berkeliling melihat keindahan bawah laut ini.

Lanny yang pengetahuan bawah airnya paling bagus di antara kami mengajak kami berkeliling sambil memberi tahu nama ikan-ikan yang kami lihat. Arus tenang dan air jernih membuat pemandangan ini semakin indah dilihat. Aku terpesona melihat bawah laut dangkal ini. Kami beristirahat sejenak di atas karang untuk makan bekal nasi padang yang kami bawa dari darat.

Kami berkeliling melihat banyak terumbu karang, binatang-binatang laut, bahkan terlihat belut laut menggelenyar menyisip di antara karang. Sudah tidak mengindahkan matahari terik di atas sana yang membakar kulit. Langit biru cerah memberikan pantulan indah keemasan ke laut. Gugusan atol berwarna toska cukup luas berada di perairan Nias Utara. Tak ada penikmat selain kami berlima membuatnya serasa milik pribadi. “Ayo, San!” seruku mengajaknya berkeliling melihat terumbu-terumbu cantik ini.

watering is healing!

watering is healing!

Belum jam 4, air laut sudah meninggi dan mulai menenggelamkan pulau karang tempat kami mengumpulkan perbekalan. Java dan Sanjay mengumpulkan kamera ke posisi paling tinggi. Wah, bagaimana ini kalau sudah tenggelam dan kapal belum datang? Java melambai-lambaikan tangannya ke daratan. Aku yang memakai kaos pink cerah mengikutinya.

“Lho, katanya sampai jam empat?” seru Lanny yang baru keluar dari air. Aku tertawa, “Pulaunya bisa tenggelam nih nunggu jam empat!”

Untung tak lama kemudian perahu datang menjemput kami yang sudah bersempit-sempit di karang atol yang sudah mulai tenggelam itu. 15 menit kemudian kami sudah sampai di tepian pantai karang itu. Ternyata fasilitas pantai ini cukup lengkap, ada kamar mandi berderet yang bisa kami gunakan untuk berganti baju.

Masuk kembali ke mobil, hampir semuanya tertidur kelelahan karena lama main air. Perjalanan kembali selama dua jam tak terasa lagi. Naik turun bukit melintas hutan dan kota, akhirnya kami tiba kembali di kota Gunungsitoli. Java menawarkan makan malam khas Nias pada kami, “Mau coba sop kodok?” Rrrr.. kami tertawa dan langsung menolak. Sepertinya paling aman memang makan ikan-ikanan saja. Jadilah kami turun lagi di satu restoran seafood yang cukup enak (tapi sayang, udang bakar pesanan kami rupanya berenang ke meja lain).

Usai beres-beres di Museum Pusaka Nias tempat kami menginap malam sebelumnya, Java, Sukma dan Keenan buah hati mereka menjemput kami untuk melanjutkan perjalanan ke Teluk Dalam. Perjalanan malam selama tiga jam setengah itu melalui jalan yang tidak terlalu bagus. Sepanjang jalan menuju selatan itu banyak lubang yang membuat kami terantuk-antuk. Lewat tengah malam barulah kami tiba di pantai surga surfing itu. Ya’ahouw, Sorake!

perjalanan 7 juni 2013
ditulis di kereta jakarta-jogja 1 nopember 2013

cerita selanjutnya > bawomataluo, lompatan di atas bukit : ya’ahowu nias #5

Advertisements

24 thoughts on “kecup pantai gawu soyo dan ture loto : ya’ahowu nias #4

  1. luxi89soulmate says:

    huwaaaaaaaa..aku baru aja dr sana kmrin!!! tapi gara2 pergi ujian yg dianter sepupu, aku gak dibolehin ke pantai pasir merah itu..trus gak bisa snorkeling di pantai yg bekas tsunami..padahal aku udah merengek2 dan sampai nangis2 tp ttp dia nyuruh pulang ke gunung sitoli dgn alasan dimarahi kakek klo kemalaman..bener2 nyebelin. Aku iriiiiiiiiiiiiiii sama kamu…

  2. Torri says:

    I read a lot of interesting articles here. Probably you spend a lot of time writing, i
    know how to save you a lot of time, there is an online tool that creates high quality, google friendly posts in minutes, just type in google – laranita free
    content source

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s