gili trawangan : living and tourism are coupled

DSC_0275

In any case, a little danger is a small price to pay for ridding a place of tourists.
― Tahir Shah, In Search of King Solomon’s Mines


Aku selalu menyesal memikirkan bahwa beberapa tahun yang lalu aku ke Lombok tapi tidak mampir Gili Trawangan apalagi mencoba snorkeling. Maklumlah dulu masih unyu dan belum banyak traveling (maksudnya, masih jadi traveler tingkat mahasiswa) dan belum bisa berenang. Makanya pas ada kesempatan ke Lombok lagi aku yang berencana tinggal hanya semalam di pulau ini jadi extend jadi dua malam. Tentunya supaya bisa menikmati one day tour snorkeling berkeliling beberapa point yang asyik di laut.

Gili (yang berarti pulau) Trawangan cukup mudah dicapai dari pulau Lombok atau Bali. Dari Lombok bisa menggunakan kapal kayu sedang yang berjalan tiap jam sepanjang hari dari pelabuhan Bangsal dengan tarif 15-20 ribu rupiah (kira-kira sesudah penyesuaian), atau mungkin speedboat dari beberapa operator hotel terkemuka di Lombok. Dari Bali banyak ditawarkan fastboat langsung ke Gili Trawangan melalui pelabuhan Padangbai dan harus mengecek jadwalnya terlebih dahulu.

gili trawangan port

gili trawangan port

“Mbak, trip snorkeling jalan jam 10 pagi ini, gabung yuk,” sapa salah satu operator menawarkan jasanya padaku yang bersepeda pagi-pagi sambil mencari sarapan, namun mata melirik kiri kanan mencari aktivitas asyik hari itu. Ada banyak operator snorkeling yang menawarkan jasa share trip dengan kapal berkapasitas 10-15 orang. Tahun lalu harganya rata-rata hanya Rp 100.000 per orang sudah termasuk sewa snorkle dan fin. “Bisa sewa pelampung juga nggak, Mas?” tanyaku yang masih ragu dengan kemampuan berenangku di laut. “Bisa mbak, tambah tiga puluh ribu saja,” jawabnya. Aku setuju dengan tawarannya dan berjanji akan kembali jam 10 nanti sesudah sarapan dan mengembalikan sepeda ke hotel.

Kapal bertolak jam 10.15 dari pantai Gili Trawangan bagian timur menuju beberapa titik spot snorkeling. Di dalam kapal kayu ini lebih banyak turis bule daripada domestik yang bersama-sama hendak menikmati terumbu karang yang terhampar di bawah laut ini. Sayang, aku tidak memiliki kamera underwater untuk mengabadikan pesona bawah laut di sini. Namun kapal-kapal cantik berseliweran di titik-titik terjun, cukup menarik diabadikan berlatar gunung-gunung di Lombok.

leaving the beach

leaving the beach

classic boat

classic boat

Sesuai dengan paket yang sudah dijelaskan, kapal sandar di Gili Meno untuk makan siang. Di pulau kedua ini banyak berderet restoran di tepi laut dengan berbagai macam menu seafood. Tentu saja biaya makan tidak termasuk dalam paket ini, sehingga kami harus membeli sendiri makanan sesuai selera dan kantong masing-masing.

Sekitar jam 4 sore, sesudah lelah berenang-renang di laut hingga Gili Air, kapal kembali merapat di Gili Trawangan. Masih ada waktu untuk menikmati sunset! Aku berjalan cepat untuk kembali ke hotel, meminjam sepeda lagi dan mengayuhnya kuat-kuat ke arah barat.

lunch at gili meno

lunch at gili meno

Jalan utama di Gili Trawangan berada di tepi pantai. Dengan perkerasan tanah, di tepinya berdiri banyak hotel, restoran, penyewaan sepeda, butik. Jalan dipertahankan tetap tanah karena transportasi umum di pulau ini adalah Cidomo, yaitu semacam cikar namun hanya dengan dua ban yang berasal dari ban mobil, dan ditarik kuda. Binatang ini butuh tanah untuk kenyamanan kaki-kakinya melangkah.

cidomo brought heavy things

cidomo brought heavy things

Sepeda dan pejalan kaki paling banyak menguasai jalan-jalan itu. Beberapa turis bule, kadang hanya memakai bikini saja dengan handuk tersampir kembali ke hotelnya. Mungkin mereka habis berenang di pantai yang keseluruhannya berpasir putih itu. Jalan itu memang hanya sekitar 8-10 meter saja dari garis pantai. tidak terdengar raungan motor seperti yang biasa ada di desa-desa di pulau. Ya, kendaraan bermotor tidak diperkenankan untuk eksis di nusa kecil ini, sehingga menjadi satu keistimewaan yang membuat tempat ini amat populer di kalangan turis mancanegara.

bikinis tourist

bikinis tourist

rental bicycle

rental bicycle

couch restaurant beside the beach

couch restaurant beside the beach

Yang membuat Gili Trawangan unik adalah sisi wisata dan sisi permukiman yang menjadi satu di pulau ini dengan area-area tersendiri. Seolah kita bisa memilih untuk tinggal dan berkegiatan sehari-hari, atau liburan ala turis dengan leyeh-leyeh di pantai atau hotel dan resortnya. Aku tidak tahu pasti apakah semakin gemerlapnya pulau ini meningkatkan kualitas penduduknya, tapi yang jelas penduduk pulau ini ramah-ramah, dari bapak-bapak, ibu-ibu sampai anak-anak memberi senyum dan menjawab dengan sabar apabila ditanyai.

Aku membelokkan sepedaku ke barat, ke arah permukiman penduduk asli Gili Trawangan. Memang itu salah satu jalan yang harus dilalui jika ingin sampai ke sunset point. Berbeda dengan kehidupan di tepi pantai yang agak hingar, pemukiman penduduk ini cukup tenang layaknya sebuah desa. Ibu-ibu menyapu halaman di sore hari, anak-anak bermain-main. Di area desa ini bisa ditemukan warung-warung makan dengan harga yang biasa, bukan harga turis seperti yang ada di kawasan jalan utama.

village area

village area

clean area

clean area

Satu silang temu menarik di pulau ini adalah pasar makanan yang ramai di malam hari. Pasar ini terletak tak jauh di selatan pelabuhan, menjajakan aneka masakan mulai dari ikan bakar, nasi campur, kue-kue jajanan, hingga jus buah segar. Interaksi antara penjual dan pembelinya sangat akrab, sempat beberapa kali menemukan pembeli bertegur sapa menanyakan kabar pada turis bule yang makan nasi campur di situ. Sepertinya turis-turis ini memang punya tempat langganan masing-masing, sehingga mudah dikenali mbak penjual yang melayani. Tapi siap-siap saja diminta pindah apabila tidak pada area duduk yang disediakan penjualnya.

fish food market

fish food market

friendly seller

friendly seller

Area permukiman lebih berat ke Gili Trawangan bagian timur. Mungkin ini karena posisi berlabuhnya kapal penyeberangan ke arah pelabuhan Bangsal di Lombok yang berderet-deret membuat bangunan-bangunan tumbuh dari timur, lalu berangsur-angsur ke tengah. Seiring dengan kepopuleran, bantaran timur ini berubah menjadi area bisnis wisata yang menguntungkan, karena terletak di tepi jalan utama yang selalu dijadikan tempat lalu lalang.

Jika bersepeda terus ke barat, seperti dilihat di peta ada area kosong yang cukup besar. Ketika disusuri langsung, area ini ini rupanya padang rumput yang terbuka dengan banyak binatang ternak yang mencari makan di sini. Beberapa bagian sudah terkapling-kapling seperti hendak didirikan resort besar. Menuju ke pantai barat, aku menemukan cottage-cottage kayu yang agak sepi, mungkin pengelolanya tidak mampu menjaring tamau sampai daerah ini.

Di pantai bagian barat, ada banyak spot untuk menikmati matahari tenggelam. Ada cafe-cafe yang menyediakan bangku-bangku santai sambil berbincang, ada sunset point berupa panggung dari kayu yang sudah cukup ramai. Di sebelah utara bangunan itu, pantainya sudah mulai berbatu karang dengan area pasir yang tidak terlalu lebar.

within dry forest

within dry forest

through the sunset

through the sunset

Aku membalikkan sepeda ke arah selatan, tak jauh dari situ ada pantai pasir memanjang yang cukup sepi. Memang tidak seperti pantai di sisi timur yang bertabur pasir halus, di sini banyak karang-karang kecil yang mungkin menusuk kaki ketika berjalan menapakinya. Namun seperti magnet, ketika aku meletakkan sepeda dan duduk di tepiannya menunggu matahari tenggelam, beberapa orang mulai ikut nongkrong di tepian. Dan di hari yang tidak terlalu cerah itu, matahari perlahan turun hingga peraduan.

soft rocky sunset beach

soft rocky sunset beach

    other side story

Gili (which means island) Trawangan is quite easily reached from the island of Lombok or Bali. From Lombok can use a timber ship that runs every hour throughout the day from the port Bangsal at the rate of 15-20 thousand rupiahs (roughly after adjustment), or maybe a speedboat from some of the leading hotel operators in Lombok. From Bali many fastboat offered direct to Gili Trawangan through Padangbai harbor and had to check the schedule in advance.

There are many operators that offer services share snorkel trip by boat with a capacity of 10-15 people. Last year the average price is only Rp 100,000 per person includes the rent snorkle and fins. The boat departed every 10:15 in the morning around the sea, and come back about 3-4 in the afternoon.

Unfortunately, I did not have an underwater camera to capture the underwater scenery here. However beautiful ships milling in some points, quite interesting with mountains background at Lombok Island. First of our snorkeling point called Turtle Point, then leave to one point again which its coral still in good condition.

couple activity

couple activity

glassbottom boat which travel around snorkeling point

glassbottom boat which travel around snorkeling point

In accordance with the package that has been described, the ship docked at Gili Meno for lunch. On this second island’s many restaurants on the waterfront lined with a variety of seafood menu. Of course meal costs are not included in this package, so we have to buy their own food according to taste and each budget. Then after one snorkeling moment again near Gili air, the ship docked back to Gili Trawangan.

The main street in Gili Trawangan are on the waterfront. With pavement ground, standing on the edge many hotels, restaurants, bicycle rentals, boutique. The road is maintained because the land remains public transport on the island is Cidomo, a kind cikar but only with two tires from the tire, and pulled the horse. These animals need the land for the convenience of its legs move.

Bicycle and pedestrian master most streets were. A few Western tourists, sometimes just wearing a bikini with a towel draped just returned to his hotel. Maybe they run out swimming in the white sandy beaches which are all that. Motor vehicles are not allowed to exist in this small homeland, thus becoming one feature that makes this place very popular among foreign tourists.

Gili Trawangan is unique between tourist and the settlement that became one of the island with its own areas. As we can choose to live and everyday activism, or holiday-style tourist at the beach or the hotel and resortnya. I do not know for sure if the glitter of the island is improving the quality of the population, but the population of this friendly island clear-friendly, of fathers, mothers until the children gave a smile and patiently answer when questioned.

bicycles as major transport

bicycles as major transport

restaurant through the way

restaurant through the way

In the direction of a native settlement Gili Trawangan, contrast to life at the seaside is somewhat noisy, is pretty quiet residential area like a village. Mothers swept leaves in the afternoon, the kids playing around. In rural areas this can be found food stalls with the usual price, not tourist prices like the one in the main street area.

One interesting junction in the island is a bustling food market at night. This market is located just south of the port, selling a variety of dishes ranging from grilled fish, rice mix, snack cakes, to fresh fruit juice. The interaction between the seller and the buyer is very familiar, had several times to find a buyer greetings say hello on Western tourists who eat rice mixed in it. It seems these tourists did have a subscription each, so easily recognized by the sellers who serve.

until midnight restaurant

until midnight restaurant

one of high end resort

one of high end resort

Heavier residential areas to the east of Gili Trawangan. Perhaps this is because the position of the ferry port towards Bangsal port in Lombok which rows make buildings grow from the east, then gradually to the middle. Along with the popularity, this eastern plains turned into a lucrative tourist business area, because it is located on the edge of the main road which is always used as a passing place.

Continues to the west, as seen on the map there is a fairly large blank area. When the straight laced, this area is apparently open grasslands with many animals that feed here. Some parts are already plotted as if to set up a large resort. Heading to the west coast, I found a wooden cottages rather quiet, maybe the owners are not able to manage this area.

On the west coast, there are plenty of spots to enjoy the sunset. There are cafes that provide benches relaxed while talking, and a sunset point in the form of a wooden stage already which were quite crowded. Northern of the building, there is rocky beaches with sand area that is not too wide. It’s not like the beach on the east side studded fine sand, here a lot of small rocks that might pierce the feet when walking menapakinya. But like a magnet, when someone sat on the edge waiting for the sunset, some people began to come hang out on the edge. And at the days were going twilight, the sun slowly dropped to the sea.

bicycle 'till sunset point

bicycle ’till sunset point

archwood

archwood

the twilight sea

the twilight sea

visited at 7-9 nopember 2103
see also our accomodation at little woodstock, pleasant stay at gili trawangan

Advertisements

4 thoughts on “gili trawangan : living and tourism are coupled

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s