pembangunan berkelanjutan, dimulai dari [kecil]

“If by chance I have omitted anything more or less proper or necessary, I beg forgiveness, since there is no one who is without fault and circumspect in all matters.”
– Fibbonacci

photo from shau architect.

Berulang kali mendengan kata-kata Sustainable Development Goals sepanjang masa kuliah, tentu melekatkan otak pada tujuh belas tujuan yang ingin dicapai oleh dunia melalui Perserikatan Bangsa-bangsa untuk mendapatkan tatanan dunia yang seimbang dan berkelanjutan sehingga bisa dinikmati hingga anak cucu nanti. Di dunia arsitektur, konstruksi dan pendidikan tentu tidak ketinggalan sebagai salah satu subjek pelaku untuk mencapai tujuan tersebut. Fokus pada sektor edukasi ini yang menjadi perhatian arsitek Indonesia yang berpartisipadi dalam ajang kompetisi global yaitu LafargeHolcim Awards. Dua dari finalis tingkat dunia ini ternyata berasal dari Indonesia dan bercerita mengenai proses desainnya pada 27 September 2018 di Jakarta Design Center. Continue reading

Advertisements

pakuncen stealing memory

Maybe it’s just an environmental issue that could take me back to Jogja and stay there for more than two weeks, kind of long journey because it’s been years since I’m not  leaving home for such a long time. Especially to the city with a love-hate memory before.

Because of the theme is Low Carbon Eco City, I submitted myself as one of the teams who will develop one of the city village in Jogja. Not a ‘real’ develop, because we are in a contest with another team to present the best design for the chosen city village.

But the great one is, we work not with our team from Universitas Indonesia, but we spread into five teams and have to work together with other students some university in Central Java, and from France also. Yes, this is the time to learn about connectivity in a different culture. My team was named Bromo, consist of 4 Indonesian students, me,  Bayu, Wisnu and Yohana and 4 France students, Perrine, Aurelien, Come, Mahy, with a different background such as architecture, urban planning, sustainability, and landscape. Also Mr. Romeo from France with Mrs Ova Candra and Mr Teguh Utomo from Indonesia who guiding us to do the project.  Of course, with that composition, we deserve to have a good solution for the place that we’ve been assigned. Continue reading

trizara: piknik kaya rasa

Lembang adalah salah satu tempat favoritku di Bandung. Sejak aku SD hingga beberapa tahun yang lalu, aku selalu ke Lembang dengan keluarga, menikmati udara dinginnya yang menggigit kulit. Sayangnya bukan cuma aku yang tahu bahwa Lembang itu indah, sehingga makin banyak orang yang menuju ke sana dan mengakibatkan akses menujunya menjadi padat dan macet.

Karena itu, sepertinya memang untuk liburan di Lembang tak cukup satu hari. Makanya ketika dapat tawaran untuk menginap di Trizara Resorts di Lembang selama 3 hari 2 malam, aku langsung mengiyakan. Apalagi bersama teman-teman travel blogger yang lain, pasti bakal banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sana bersama-sama, dibanding hanya liburan sendiri saja.

Perjalanan dari Jakarta ke Lembang sekitar 3 jam lebih, melalui jalan tol Cikampek, jalan tol Cipularang hingga keluar di pintu tol Pasteur. Bis yang membawa kami melaju terus di Jl Pasteur untuk berbelok di depan RS Hasan Sadikin, melewati Mal Paris van Java, terus ke atas bertemu Jl Cipaganti dan Jl Setiabudi, lewat depan terminal Ledeng dan UPI, lalu terus menanjak ke atas melalui jalan berkelak-kelok. Penasaran juga di mana sebenarnya Trizara ini berada, ternyata tepat sebelum gerbang selamat datang Lembang, bis berbelok ke kiri arah Cihanjuang. Sempat berhenti di depan restoran tahu, penumpang berganti dari bis ke angkot untuk masuk ke jalur menanjak yang menantang, dan akhirnya tiba di gerbang Trizara. Continue reading

upaya mengembalikan hijau

Good design is sustainable, Great design is responsible

Yang membuat aku banyak berpikir ketika mengunjungi beberapa bangunan yang menerapkan prinsip green building di Singapura ini, ternyata ada investor yang mau menanamkan modal yang cukup besar untuk sistem ini bisa dijalankan. Kebanyakan pengembang di negeri sendiri ketakutan dengan initial cost atau maintenance cost yang tinggi pada sistem dan tidak berpikir bahwa nilai penghematannya akan membuatnya untung sesudah beberapa tahun.

Bangunan-bangunan ini berdiri tidak hanya untuk jangka waktu yang pendek, sehingga bagaimana ia bekerja dan ‘menghidupi’ dirinya sendiri pun perlu dilakukan jangka panjang, tidak sekadar menaikkan biaya perawatan pada penyewa lantainya, tapi juga membuatnya cerdas dan hemat sehingga meminimalisasi dampak lingkungan terhadap generasi sesudahnya. Continue reading

kenapa aku kuliah lagi?

kuliah-di-ui-1

Banyak yang tahun lalu bertanya kenapa aku memutuskan untuk kuliah lagi, setelah belasan tahun aku memilih bekerja. Sebenarnya selalu banyak alasan untuk sekolah lagi, selain karena memang pada dasarnya kan aku ini suka sekolah, ya.

Keinginan ini sebenarnya tercetus bahkan sejak aku baru lulus, tapi karena saat itu masih belum musim untuk melanjutkan ke gelar master, akhirnya kuputuskan untuk menundanya dan bekerja dahulu. Sebenarnya sih aku berpikir, lulusan arsitektur mau mengambil master di bidang apa? Kalaupun belajar urban planning, nah nanti jatuhnya malah bekerja di real estate atau di kantor pemerintah. Nah, karena nggak kepingin bekerja jadi pegawai negeri itu maka aku malah menunda sekian lama itu. Karena dulu, untuk berkeinginan masuk jurusan arsitektur saja aku memantapkan niat selama tujuh tahun, lho. Makanya, karena biaya S2 ini jauh lebih mahal dari S1, jadi pilihannya harus serius dan benar-benar, deh. Continue reading

arsitektur dan sustainabilitas, sebuah harapan untuk keseimbangan

arsitektur-sustainabilitas-writing

Menghadapi bumi yang semakin tua ini, sustainable architecture atau yang biasa dikatakan arsitektur berkelanjutan adalah topik yang menarik untuk dipelajari. Arsitektur sebagai peninggalan ikon waktu menjadi salah satu bentukan yang mengubah bentuk alam menjadi bentuk binaan. Perubahan-perubahan tapak yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia ini seringkali melupakan bahwa sebenernya kehidupan manusia sebagai pengguna ruang bangunan amat tergantung oleh alam, karena itu bagaimana pun desain lingkungan binaan, harus selalu memperhatikan alam, mengembalikan keseimbangan dan tidak menjadi pongah. Continue reading