upaya mengembalikan hijau

Good design is sustainable, Great design is responsible

Yang membuat aku banyak berpikir ketika mengunjungi beberapa bangunan yang menerapkan prinsip green building di Singapura ini, ternyata ada investor yang mau menanamkan modal yang cukup besar untuk sistem ini bisa dijalankan. Kebanyakan pengembang di negeri sendiri ketakutan dengan initial cost atau maintenance cost yang tinggi pada sistem dan tidak berpikir bahwa nilai penghematannya akan membuatnya untung sesudah beberapa tahun.

Bangunan-bangunan ini berdiri tidak hanya untuk jangka waktu yang pendek, sehingga bagaimana ia bekerja dan ‘menghidupi’ dirinya sendiri pun perlu dilakukan jangka panjang, tidak sekadar menaikkan biaya perawatan pada penyewa lantainya, tapi juga membuatnya cerdas dan hemat sehingga meminimalisasi dampak lingkungan terhadap generasi sesudahnya.

Terdapat tiga bangunan yang sempet dikunjungi lagi untuk mempelajari Green Building. Dua di antaranya berfungsi sebagai kantor di tepian Singapura, sedangkan yang satunya digunakan sebagai hotel di salah satu pusat kotanya. Bangunan Solaris dan Sandcrawler Building berada di area Fusionopolis ini yang dikhususkan untuk teknologi, media, physical science dan engineering industries. Area ini tadinya adalah markas militer, sehingga tak heran jika banyak tanaman aslinya yang rusak di sini. Selain bangunan-bangunan, di tengah area juga dikembangkan One North Park yang bisa disusuri tengah hutannya dengan jalur kayu sejauh 950 m, juga menjadi habitat burung-burung yang bisa diamati sembari berjalan kaki.

Solaris

Bangunan hijau ini terletak di daerah Fusionopolis, tak jauh dari One North MRT Station. Sesudah melewati Galaxy Mall, Solaris berdiri di seberang jalannya yang berderet dengan bangunan-bangunan tinggi lainnya. Didesain oleh TR Hamzah & Ken Yeang, arsitek berusaha untuk melestarikan tanaman-tanaman yang pernah ada di sini, memperbaiki kerusakan ekologis dan keanekaragaman hayati.

Bentuk Solaris sangat mudah dikenali, dengan kurva melengkungnya berdinding putih, tanpa sudut dari sisi-sisi luar bangunan. Terdiri dari dua menara yang terhubung dengan atrium tinggi dengan ventilasi alami. Dari lantai-lantai kantornya terdapat ramp menerus dari bawah sampai atas di bagian luarnya berfungsi sebagai lansekap dengan konsep hijau vertikal untuk meningkatkan ekosistem area. Luasan area hijau ini 8000 meter persegi, lebih luas dari area tanah di mana berdirinya bangunan ini.

Masuk ke area atriumnya, cahaya matahari melimpah di dalam tanpa bantuan cahaya lampu di siang hari. Dinding-dinding kaca yang menerus hingga atap, ditambah skyroof dengan kaca warna kebiruan dengan daya serap yang tinggi sehingga membuat atrium tidak terasa panas walau pun waktu sudah menunjukkan tengah hari. Sisi-sisi tower yang menghadap ke atrium juga berdinding kaca sehingga matahari pun menerangi sisi-sisi dalam bangunan. Cocok sekali dengan nama Solaris yang disandangnya.

Jika dilihat dari dekat, dinding-dinding atrium kaca ini tidak terpasang masif, melainkan miring dengan ditambahkan perforated steel pada bagian bawahnya. Sistem seperti ini mengakibatkan udara bisa masuk melalui lubang-lubangnya dan beban mesin pendingin berkurang banyak. Menurut greenroof.com, Solaris menghemat hingga 36% energi juga dari lansekap pada fasade bangunan karena berfungsi sebagai thermal buffer bagi bangunan. Selain itu, penggunaan kaca low-e mengakibatkan nilai External Thermal Transfer Value turun hingga 39 W/m2 dikombinasikan dengan kanopi yang berfungsi sebagai solar shading.

Karena tidak mendapatkan izin untuk naik ke rooftop, maka kami hanya mengamati bangunan dari sisi lantai dasarnya saja. Dilihat dari daftar perusahaan, ternyata salah satu lantai tower disewa oleh kantor regional Autodesk Asia Tenggara. Sayangnya di bagian atas tidak ada restoran atau ruang publik yang bisa diakses dengan mudah. Upaya efisiensi Solaris tidak hanya pada energi, tapi juga pada sistem pengolahan airnya yang didaur ulang.

Sandcrawler Building

Pertama melintasi bagian samping Sandcrawler Building ini tanaman-tanaman yang sudah besar ini langsung mencuri perhatian. Rasanya seperti tepian bangunan ini dikelilingi hutan. Sempat terpikir juga, apa ada ular di sini di antara tanaman-tanaman ini? Naungan bangunannya nyaman, dan hutannya benar-benar mengundang penasaran.

Bagian depan bangunan ini adalah area hijau hutan tropis dengan jalur pejalan kaki yang teduh berkeliling. Sebuah bangku yang duduk sendirian di tengah hutan bambu mencuri perhatianku. Mungkin karyawan bangunan kantor ini kalau istirahat bisa menenangkan pikiran di sini. Sempat berpikir area ini seolah Jumanji dengan hutan yang tumbuh sendiri dalam waktu singkat. Taman ini bisa dengan mudah diakses oleh siapa saja yang lewat di depannya dan masuk ke dalam area halaman yang tak berpagar ini.

Sandcrawler Building yang juga merupakan kantor dari Lucas Film yang terkenal dengan serial Star Wars-nya ini terdiri dari sembilan lantai dengan denah berbentuk V dengan seolah dinding kaca yang memeluk hutan di dalamnya. Tiap-tiap lantai ini menjorok ke luar sehingga memberi naungan jendela lantai di bawahnya. Pada jendelanya juga dinaungi oleh sunshading alumunium sehingga potensi terik matahari tidak sampai dalam.

Sebagai kantor salah satu perusahaan film besar, lamat-lamat dari jendela terlihat model-model karakternya berdiri berjajar di lantai 3. Di tamannya sendiri kami bertemu patung Master Yoda, karakter unggulan dari seri Starwars berdiri di tengah kolam yang berjarak 1.2 m dari tepian.
Di sisi yang menempel bangunan ternyata dipisahkan oleh kolam dengan dinding dituruni air, yang bila diintip di sebelah bawahnya ternyata restoran. Aliran air di luar memberikan suhu udara yang lebih rendah sebelum didinginkan oleh sistem. Sandcrawler building didesain oleh Andrew Bromberg of Aedas, sama dengan yang mendesain Star Vista Building di Buona Vista.

Park Royal Hotel

Galur-galur seperti kue lapis ini menyita perhatianku ketika berjalan dari arah Chinatown menuju Hong Lim Park. Beberapa kali melewati bangunan ini dalam kunjungan sebelumnya di Singapura, akhirnya aku berkesempatan untuk mampir walau sejenak. Park Royal Hotel at Pickering sangat mudah dikenali karena diselubungi oleh lapisan beton yang berlekuk-lekuk horisontal, dalam beberapa shading warna kecoklatan seperti tanah. Di atas bangunan lantai podiumnya, terdapat taman-taman yang terlihat jelas dari jalan raya, nuansa kehijauan yang menyejukkan mata di siang yang kebetulan usai hujan itu.

Yang menarik perhatianku dari bangunan ini adalah tidak ada jarak sempadan bangunan sehingga trotoar yang dibangun dengan menyatu dengan konsep lansekap ruang luarnya bisa dengan mudah dilalui orang-orang yang melintasi tepi jalan ini walaupun tidak menginap di hotel. Tidak ada beda level yang terlalu tinggi atau pagar batas yang membuat bangunan ini terpisah dari jalan. Proses percaya pada publik dan dipercaya publik ini yang membuat bangunan ini terasa ramah, walaupun berfungsi sebagai hotel berbintang lima.

Sebagai desainer bangunan, WOHA menyatakan bahwa area hijau di Park Royal ini mencapai 200% dari luas lantai dasar yang terpakai. Dengan tema bangunan yang terinspirasi dari formasi batuan, lapisan-lapisan pada kulit adalah gagasan dari lapisan sedimen pada bangunan. Setiap lapisan yang beralur memiliki banyak bayangan pembentuk naungan. Sayangnya, karena kami cuma bisa melihat dari level jalan, lansekap hijau di atas ini tidak bisa dinikmati secara langsung. Bentuk organik ini pun hanya hingga lantai podium saja, karena tower-tower hotelnya kembali pada bentuk persegi level tertinggi.

Beton bergalur ini menjadi ciri khas yang mengalir horisontal seperti geometri fluida, diumpamakan sebagai tumpuan tanah penahan lansekap hijau di bagian atap podium. Kalau dilihat dari material bangunan, galur-galur ini mengakibatkan luasan bidang yang terkena sinar matahari menjadi lebih besar, sehingga thermal remittance tentu lebih tinggi dan mengakibatkan suhu udara di dalam menjadi lebih rendah daripada dinding polos belaka.

Karena tak menginap di Park Royal, kami hanya memasuki area lobby reception dengan desain yang senada dengan bagian luar, hanya saja menggunakan lapisan-lapisan kayu untuk menutupi dindingnya baik pada area resepsionis maupun area bar. Satu lorong dengan kursi-kursi berderet menjadi tempat istirahat kami sejenak sesudah berjalan seharian, sembari memandangi lalu lalang orang di Pickering street.

Ketiga bangunan ini memiliki kesamaan, yaitu pemanfaatan sebagian area bangunan sebagai lansekap hijau yang berfungsi untuk mengembalikan bukaan tanah yang digunakan sebagai lahan bangunannya. Seringkali pada upaya mendesain lansekap yang lebih banyak di dalam bangunan selalu terbentur dengan biaya maintenance tambahan dan juga mengakibatkan initial cost yang lebih tinggi. Mungkin saja biaya ini tidak tertutupi oleh penghasilan bangunan di tahun-tahun pertama, namun di kemudian hari semestinya alam bisa berterima kasih karena diselamatkan sebagian, dari tanaman-tanaman yang memproduksi oksigen lebih banyak untuk hidup yang lebih sehat. Selain itu, dengan tanaman di sekitar bangunan akan mengakibatkan beban mesin pendingin akan lebih ringan sehingga energi listrik yang digunakan pun pasti akan menurun.

Seandainya hidup hijau tidak hanya sebagai gaya hidup, namun secara skala besarnya bisa diapresiasi sebagai upaya menyelamatkan bumi, pasti kesadaran ini bisa mempertahankan langit biru ini. Jadi bagaimana ide untuk lebih banyak ruang hijau pada bangunan? Pengurangan pajak? Nilai saham naik? Terindeks nilai sustainabilitasnya?

Perjalanan Singapore, Desember 2017.
Ditulis di Jakarta, 12 Januari 2018

data tambahan:
http://www.greenroofs.com/content/articles/126-SOLARIS-at-Fusionopolis-2B-From-Military-Base-to-Bioclimatic-Eco-Architecture.htm
https://www.archdaily.com/363164/parkroyal-on-pickering-woha-2
https://www.archdaily.com/534778/sandcrawler-andrew-bromberg-of-aedas

other story:
simpul belajar the hive singapura
star vista mall singapore

Advertisements

14 thoughts on “upaya mengembalikan hijau

  1. Vira Tanka says:

    aaaah senang sekali dengan blog post ini! aku suka baca penjelasan-penjelasannya kenapa bentuknya begini begitu dan apa dampaknya. makasih, indri! sering-sering ya nulis kayak ginian 😀

    btw, kamu pernah lihat gedung kampus La Salle di Singapura nggak? Menurutku bentuknya menarik. Pengen tahu juga penjelasan tentang fungsi-fungsi bentuknya, apa memang ada atau cuma dekoratif (etapi aku mestinya bisa googling dulu ya 😛 )

    terus, ada juga gedung apartemen The Interlace karya arsitek Ole Scheeren yang aku penasaran.. pengen ke sana kalo ke Singapura. Tapi kalo apartemen mungkin susah ya masuk areanya?

    btw, aku kira kalo gedung banyak kacanya otomatis bikin panas di dalam maupun luar gedungnya. ternyata nggak mesti, ya?

    • indrijuwono says:

      wihiiyy, iya pingin lebih banyak nulis semacam essay kayak gini, supaya travelingnya berfaedah. belum pernah ke La Salle dan Interlace juga, mungkin lain kali kalau ke Singapoh ke sana juga deh, di sini kayaknya belajar banget bagaimana mengatasi iklim tropis deh ya, namun tetap hemat energi.
      enggak mesti sih Vir, tergantung jenis kacanya juga..

  2. Adi says:

    Di Jakarta, beberapa gedung (terutama yang baru), sepertinya sudah mengarah kesana, ada open space dan taman. Meski belum optimal sepertinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s