sitinggil : little house on the prairie

Untuk mereka
yang merindukan rumah–
tempat berbagi cinta, kenangan,
dan tawa yang tidak pernah pudar.
-Windry Ramadhina : Memori-

Pagi itu tak ada cericit burung, tak ada motor menderu, atau pompa air berdengung, melainkan angin lembah yang berhembus langsung ke teras membangunkanku. Terdengar gonggong anjing sayup-sayup dan suara ayam berkokok. Perlahan terpaan sinar matahari dari timur mulai membuat bayangan pepohonan. Oh, ini Bandung. Kota yang terkenal dengan kota Kembang entah di mana kembangnya. Di sinilah terasa udara segar yang malu-malu menggigit. Di perbukitan di atas kota Bandung itu sendiri. Dago Giri nama daerahnya. Sejuk udaranya mengingatkan pada Bandung seharusnya sebagai kota yang dikelilingi pegunungan.

Aku tak tahu bagaimana menyebut rumah ini. Pemiliknya menyebut ini sebagai Warung Sitinggil. Entah dari mana mirip-miripnya tempat ini dengan sebuah warung. Kalau menurut pengamatanku biasanya warung (makan) adalah sebuah tempat yang ada bangku panjangnya untuk makan bebarengan, namun di sini tidak. Ini lebih seperti dangau, tempat beristirahat di kala lelah bekerja. Pengunjung bebas untuk duduk di teras rumahnya yang berupa dua anjungan lebar menjorok menghadap lembah. Sambil mengunyah nasi bakar khas warung ini, pengunjung dimanjakan untuk menikmati semilir angin berkesiur dan pemandangan padang ilalang yang menghampar berbatas hutan di tepian. Di situ punggungan Dago, Awiligar, Bojongkoneng ditampakkan.

anjungan penerima, bambu berbaris, pelat kayu
mezzanin bambu dengan tangga kayu

Dari jalan setapak menuju rumah, langsung bertemu dengan anjungan pertama yang sering difungsikan sebagai ruang menerima tamu. Terdapat tiga kursi beda model menghadap ke lembah. Lantai dari papan kayu yang disusun memanjang dengan ketinggian sekitar 60 cm dari tanah, berdiri disangga umpak batu kali dan tiang kayu rasamala bekas dengan sekur kayu sebagai penguat ketahanan strukturnya. Di sampingnya terdapat ruang duduk, meja makan dan dapur dalam ruang tertutup berdinding GRC yang dibatasi oleh pintu kaca setinggi 2 meter dengan kusen kayu dan kaca bekas juga. Kesederhanaan bahan pembuatnya tidak mengurangi nilai kecantikan bangunan ini.


Di atas anjungan pertama ada ruang duduk yang pelat lantainya dari batang bambu berdiameter kurang lebih 4 cm berbaris rapi, namun kuat dibebani. Awalnya terasa gamang ketika menaiki lantai dua ini, tak percaya apakah batang-batang bambu mungil yang ditahan oleh balok kayu setiap 1 m ini mampu menahan beban bergerak di atasnya. Namun sensasi berjalan di atasnya cukup menggelikan kaki dengan deru angin yang menelisik di sela-sela batang bambu mungil.

koridor berderak

Menuju area pribadi dan anjungan kedua, melalui koridor pendek yang menghubungkan keduanya, selebar 1.2 meter. Selain untuk laluan, duduk-duduk dengan kaki menggantung pun asyik dilakukan di area ini. Atapnya beton tipis dengan bekisting seng yang tidak dilepas. Koridor ini ternaungi oleh pohon besar yang ada di halaman Sitinggil. Bila bergerak di sini, akan terdengar suara kayu berderit. Jika tidak ingin berbunyi, harus berjalan berjingkat. Namun ini masalah jika berat badanmu tidak memungkinkan untuk melangkah dengan ujung jari. Di tengah malam, derit akan terdengat keras, namun kadang hilang dibuai angin.

anjungan utama, kolaborasi bambu dan kayu
kamar tidur di ujung yang tersembunyi

Anjungan kedua adalah area utama dan favorit semua tetamu Sitinggil. Pemandangan luar biasa disajikan dari sini. Di anjungan berukuran 3 x 6 m ini terhampar bukit lembah hingga samar-samar di kejauhan bisa menyaksikan padatnya mobil yang merayap di Pasar Simpang, Dago. Ada dua buah meja rendah di anjungan ini yang sering dipakai oleh tamu sebagai alas ngobrol, membuka laptop, membaca buku, makan, ngopi, atau hanya duduk-duduk di terasan ini sampai tertidur dihembus semilirnya angin. Mau bawa serombongan teman untuk nongkrong bareng di sini pun boleh. Bilah-bilah bambu yang mengalasi anjungan ini seperti dangau, memperkuat konsep tempat ini sebagai tempat istirahat dari segala kepenatan. Tempat lari dari keramaian. Tentu saja, dari sela-sela bambu selalu ada angin yang menyelisip dan mendinginkan jari kaki yang telanjang. Atapnya pun dari susunan bambu yang berlapis lembaran fiber gelombang transparan untuk menahan air hujan. Siapa pun yang berada di sini akan jatuh cinta pada sepinya. Gemerisik pohon yang beradu ditiup angin, langit kebiruan, dan pemandangan cekungan Bandung, bisa membuat lupa diri untuk berjam-jam diskusi. Di sudut pun bisa mengeluarkan pekak pikiran dalam tulisan, atau hanya sekadar melamun mencari inspirasi sebait puisi? Walaupun menurut seorang teman, tempat ini cocok untuk yang patah hati, tanpa melankoli lagu-lagu pengusir galau, hanya memandang hijau bukit di kejauhan atau cakrawala pembatas senja, bisa melupakan sejenak apa yang menyesak.

Di ujung anjungan kedualah pemilik dan keluarganya beristirahat setiap hari. Ada dua kamar tidur yang berdampingan dan satu kamar tidur lagi di atasnya. Zona pribadi yang diletakkan di ujung privasi. Kaca-kaca bekas yang bersilangan antara kaca bening dan kaca gelap memberikan nuansa permainan cahaya tersendiri di dalam ruangan ini. Sebuah jendela besar menghadap lembah ada pada kamar utama untuk menikmati pemandangan dan bersyukur tiap pagi. Kamar-kamar ini pun berdinding GRC dengan kusen-kusen berkaca. Satu-satunya yang berdinding permanen hanyalah kamar mandi. Terdapat satu gentong bergayung berisi air jika kuat memercikkan air sedingin es ke badan pagi-pagi sekali.

berkeliling ladang, lewati lembah

Jika ingin mencoba melakukan penjelajahan kecil, bisa berkeliling melintasi padang rumput di depan Sitinggil dan dilanjutkan menembus hutan tropis yang agak pekat selama 10 menit, lalu akan ditemukan ladang cabai dan tomat yang disusun serupa terasering. Semakin menuruni lembah akan ditemukan tanaman kol, brokoli, bahkan kacang panjang. Sebuah sungai mungil dengan jembatan bambu akan ditemui pada ujung lembah, tempat bisa beristirahat sejenak, menyeberangi dengan melompat. Perjalanan kembali ke atas melalui tengah kebun singkong dan diakhiri dengan savana luas yang harus ditempuh dengan mendaki. Keringat yang dikeluarkan setara dengan kegembiraan yang mengalir ketika tiba kembali di halaman.

remang malam di sitinggil

Ketika cahaya matahari mulai meremang dan udara dingin menjelang, di area datar di depan koridor paling nyaman untuk menghangatkan badan. Bisa berkumpul mengelilingi api unggun sambil memandangi kerlip lampu di bukit kejauhan. Ditemani cahaya suram dari lampu berwarna kuning di masing-masing anjungan, kayu-kayu ditambahkan untuk membuat bara yang telah dihidupkan tidak padam. Menyenangkan sekali mengobrol di suasana seperti ini. Aih, api unggun memang selalu memberikan kehangatan.

Berceloteh sampai pagi pun tak apa asalkan tahan dengan udara menggigit yang mulai merayap sejak waktu disebut dini hari. Jika tak kuat kedinginan di luar, bisa masuk ke area dapur dan ruang makan atau di ruang keluarga di atas. Tapi sebuah kantung tidur pun cukup untuk membuatmu terlelap di malam yang bertabur bintang-bintang dan sinar lampu di kejauhan, menunggu untuk dibangunkan matahari pagi dan senyum ramah pemilik rumah. Sebuah rumah indah yang hangat di tengah udara dingin, tak perlu mahal namun amat menyatu dengan alam sekitarnya.

selamat pagi, siang, sore dan malam

Rumah Kayu Dago Giri, karya Yu Sing dan Akanoma.
ditulis di Jakarta, 9-14 Juni 2012. 03:11 dini hari. foto koleksi Indri Juwono.
terima kasih untuk mas Dhandy, mbak Sekar, mas Daniel, Gagah dan adiknya, untuk keramahannya selama berkunjung

warung.itempoeti.com | @warungsitinggil

Advertisements

10 thoughts on “sitinggil : little house on the prairie

  1. anton says:

    … apakah ini bleh dikunjungi yg ingn menikmati suasana rumah ini? klo memang warung(sejenisnya) berarti bleh dong mampr klo pas lewat..

      • agus says:

        kesan pertama dalam pikiranku terhadap rumah ini adalah…..exciting house!lama aku ingin memiliki rumah seperti itu,baru sekarang aku temukan inspirasinya,lahan aku sudah punya,tinggal membikinnya suatu saat nanti thank,s u for the information.

  2. trucos clash of lords 2 says:

    With the push of a single button, a user will be able to launch a series of complicated commands.
    When discovered, just about every golden egg shows the particular purpose, too.

    Articles of information need to be built around
    keywords in order to bring in the free traffic from the search engines.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s