Tag Archives: travel bloggers indonesia

sriwijaya air menuju langit nusa tenggara

0-cover-sriwijaya-air-sunrise

Setiap perjalanan terbangku bermula, aku selalu memasrahkan diri pada semesta, pada birunya langit dan awan-awan putih yang menggelayut, pada udara yang menjadi tempatku berada, pada menit-menit yang terhitung pasti, akan semuanya aku berdoa.

Selalu aku memilih untuk duduk di tepi jendela, di mana lubang kecil itu akan menunjukkan lansekap tanah, tinggi rendah nusa di bawahku. Di sana kadang aku memandang sawah, jalan, kumpulan pemukiman, sungai berkelok, dan gunung-gunung. Benar, gunung adalah pemandangan favoritku jika sedang berada di udara. Jika tidak sedang tertutup awan, membaca gunung seperti berbicara pada alam, pencapaian pada ketinggian tapak. Membaca peta, mencocokkan apa yang ada di kepala dengan yang dibawah sana, menerka-nerka nama. Continue reading sriwijaya air menuju langit nusa tenggara

flores flow #7 : 14 tindak tanduk asyik di wae rebo !

IMG_2114

Apa yang bisa kamu lakukan di satu pemukiman adat yang berjarak 3 jam berjalan kaki dari desa terdekat? Perjalanan ditemani desau angin, riuhnya burung-burung bernyanyi, gemericik air, ditemani patok-patok jarak yang membuat perjalananmu terasa makin dekat? Wae Rebo, harmoni pemukiman di atas bukit, di mana keselarasan dijaga, kehidupan yang tersembunyi, adalah salah satu kekayaan budaya Indonesia. Tidak menyia-nyiakan kesempatan berada di sana, jauh dari penatnya kehidupan kota sehari-hari, hirau dari bising kendaraan bermotor, ketika semua hal di sini berjalan begitu lambat.

Perjalanan ke Wae Rebo dilakukan kira-kira 2 hari sebelum Festival Penti dimulai. Sebenarnya menarik juga untuk tetap tinggal sampai ketika festival berlangsung, tapi melihat persiapan mereka juga merupakan satu pengalaman tersendiri. Karena festival ini, penduduk Wae Rebo bisa naik turun sampai dua kali sehari! Jika pendatang seperti aku membutuhkan empat jam untuk naik dan tiga jam untuk turun, warga asli Wae Rebo bisa naik sambil membawa beban bahan makanan satu hingga dua jam, dan turun hanya satu jam! Bahkan kami naik bebarengan dengan satu anak kecil berumur dua atau tiga tahun yang tidak digendong sama sekali. Hebat sekali!

Berjalan ke Desa Wae Rebo harus ditemani pemandu supaya kami tidak tersesat dan salah melangkah ke daerah terlarang. Mereka juga bercerita tentang desa dan kebiasaan-kebiasaan setempat. Sembari berjalan selama tiga jam, dapat banyak sekali cerita tentang desa.
Jadi, tindak tanduk apa yang asyik di Wae Rebo?
Continue reading flores flow #7 : 14 tindak tanduk asyik di wae rebo !

mengulik adlienz : si gadis pelarian laut

adlien

You did not kill the fish only to keep alive and to sell for food, he thought. You killed him for pride and because you are a fisherman. You loved him when he was alive and you loved him after. If you love him, it is not a sin to kill him. Or is it more?
― Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea

Hah, dapat jatah mereview blognya Adlienz! Asyik! Buat aku, perempuan bernama lengkap Atrasina Adlina ini amat istimewa, karena ialah satu-satunya dari teman-teman di Travel Bloggers Indonesia, yang pernah sampai di rumahku di Depok! Biasanya kan orang suka malas karena rumahku jauh di selatan sana, tapi malam itu sepulang aku kerja ia yang sedang berlibur mengunjungiku di Depok.

Pemilik blog Adlienerz.com ini kukenal dari jejaring TBI ketika ia masih bekerja di Maumere, ujung Nusa tenggara Timur. Sekarang ia ditugaskan di Ambon, Maluku untuk mengawasi perdagangan ikan di Indonesia yang akan dikapalkan ke luar negeri. Sementara itu sebelumnya ia kuliah di Makassar, Sulawesi Selatan. Keren bukan? Tempat-tempat di mana ia tinggal adalah tempat-tempat yang super pengen aku singgahi di Indonesia.

Adlienz sangat mencintai laut. Kecintaan ini yang membawanya memilih untuk belajar Kelautan di Universitas Hasanuddin Makasar, alih-alih belajar di Depok, tempatnya berasal. Makassar yang telah membawa berkeliling laut-laut Indonesia untuk bertugas membuatnya lebih mencintai dunia kemaritiman Indonesia seperti diceritakan dalam tulisan Just Follow your Travelling Passion, guys!!
Continue reading mengulik adlienz : si gadis pelarian laut

jakarta : berjalan di jantung kota

cover

walk, friendship, and ice cream are good companion.

Lapangan Monas tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Area hijau seluas kurang lebih 80 ha ini sering menjadi pilihanku untuk bersantai. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam. Lokasinya di jantung kota Jakarta membuatnya mudah dikunjungi. Apalagi dengan gedung-gedung pemerintahan di sekelilingnya, membuat akses transportasi mengitarinya tak pernah mati.

“Aku sering ke sini. Hampir setiap hari kalau naik kereta lewat sini. Kalau menunggu jadwal kereta malam juga di sini. Kadang-kadang pulang kantor ngobrol dengan teman-teman juga di lapangan monas,” ceritaku pada kak Tekno Bolang yang pagi itu datang duluan dengan Rio hijaunya. Janjian jam tujuh pagi, pemilik blog lostpacker.com baru tiba jam setengah sembilan sambil tersenyum lebar. Aku saja baru tiba jam delapan setelah jogging dari stasiun Gondangdia. Hari ini memang rencana jalan-jalan bareng Travel Blogger Indonesia di Jakarta.

Kami berjalan ke arah halte Museum Nasional sambil menunggu kak Firsta yang katanya datang naik bis transjakarta. Tepi Monas dengan jalur pedestrian dibatasi dengan pagar setinggi 3 meter. Beberapa tahun sebelumnya, gubernur Jakarta kala itu, Sutiyoso yang mengusulkannya. Akibatnya taman Monas tidak lagi bisa dimasuki dari mana pun, melainkan hanya bisa dari pintu-pintu besar di sudut-sudutnya. Banyak penentangan terhadap kebijakan ini dulu, karena menjadikan taman Monas tidak ramah lagi untuk warganya. Di pemerintahan sekarang, ada tambahan bangku-bangku di tepian pedestrian yang bisa digunakan untuk istirahat menikmati lalu lalang kendaraan.
Continue reading jakarta : berjalan di jantung kota