flores flow #7 : 14 tindak tanduk asyik di wae rebo !

IMG_2114

Apa yang bisa kamu lakukan di satu pemukiman adat yang berjarak 3 jam berjalan kaki dari desa terdekat? Perjalanan ditemani desau angin, riuhnya burung-burung bernyanyi, gemericik air, ditemani patok-patok jarak yang membuat perjalananmu terasa makin dekat? Wae Rebo, harmoni pemukiman di atas bukit, di mana keselarasan dijaga, kehidupan yang tersembunyi, adalah salah satu kekayaan budaya Indonesia. Tidak menyia-nyiakan kesempatan berada di sana, jauh dari penatnya kehidupan kota sehari-hari, hirau dari bising kendaraan bermotor, ketika semua hal di sini berjalan begitu lambat.

Perjalanan ke Wae Rebo dilakukan kira-kira 2 hari sebelum Festival Penti dimulai. Sebenarnya menarik juga untuk tetap tinggal sampai ketika festival berlangsung, tapi melihat persiapan mereka juga merupakan satu pengalaman tersendiri. Karena festival ini, penduduk Wae Rebo bisa naik turun sampai dua kali sehari! Jika pendatang seperti aku membutuhkan empat jam untuk naik dan tiga jam untuk turun, warga asli Wae Rebo bisa naik sambil membawa beban bahan makanan satu hingga dua jam, dan turun hanya satu jam! Bahkan kami naik bebarengan dengan satu anak kecil berumur dua atau tiga tahun yang tidak digendong sama sekali. Hebat sekali!

Berjalan ke Desa Wae Rebo harus ditemani pemandu supaya kami tidak tersesat dan salah melangkah ke daerah terlarang. Mereka juga bercerita tentang desa dan kebiasaan-kebiasaan setempat. Sembari berjalan selama tiga jam, dapat banyak sekali cerita tentang desa.
Jadi, tindak tanduk apa yang asyik di Wae Rebo?

1. berkenalan
Penduduk Wae Rebo terkenal sangat ramah. Mereka akan mengulurkan tangan untuk berkenalan setiap kali bertemu. Karena akan ada Festival Penti, maka penduduknya bekerja bakti dengan membersihkan dan merapikan jalur sepanjang naik. Kami ditemani seorang pemandu bernama Pak Aven yang baru naik juga sesudah mengantar anaknya sekolah di Kombo. Ketika kami lewat, mereka akan berhenti dan mengulurkan tangan untuk bersalaman sambil tersenyum ramah. Pak Vitalis dan Pak Wilibrodus menemani kami berjalan sambil mengangkat ayam dan beras. Ketika di sungai aku bertemu seorang bapak bernama Petrus. Sambil berjalan lagi, kenalan lagi dua kali dengan bapak bernama Petrus yang sedang merapikan jalan setapak. Menjelang desa, bertemu lagi dengan seseorang bapak bernama sama.
“Pak, di sini banyak yang bernama Petrus?”
“Ada empat, sepertinya sudah bertemu semua, ya?”

14-1

2. menunggu
Setelah empat jam berjalan ditambah duduk-duduk sebentar, kami tiba di bangunan istirahat yang digunakan untuk menunggu. Pak Aven membunyikan kentongan untuk memberi kode untuk mama-mama bahwa ada tamu datang dari jauh. Kami harus menunggu beberapa saat karena memang harus menghormati tradisi yang ada. Setelah kira-kira dua puluh menit, kami turun dan memasuki kampung Wae Rebo lalu memasuki Mbaru Gendang untuk meminta ijin kepada tetua supaya diperkenankan untuk tinggal sementara di Wae Rebo. Pak Aven yang membantu menerjemahkan kepada Opa Rafael, tetua yang kami temui saat itu. Prosesi ini wajib untuk dilakukan setiap tamu yang datang.

14-2

3. minum kopi
Perutku yang terkadang tidak kuat kopi ini ternyata bisa menghabiskan empat gelas kopi sehari di Wae Rebo tanpa merasa mual sedikit pun. Di tengah udara dingin di sini nyaman sekali menenggak kopi sesudah berjalan selama empat jam. Sementara menunggu makanan disajikan, minuman pembuka adalah kopi. Badan yang lelah menjadi lebih segar juga peredaran darah yang lancar. Siang minum kopi, sore minum kopi, bahkan sebelum tidur pun aku minum kopi. Rasanya tidak terlalu pekat, namun enak! Kopi bukan hanya gaya hidup di sini, tapi minuman sehari-hari.

14-3

4. tidur
Ada Mbaru Niang yang dijadikan sebagai tempat menginap tamu selama di Wae Rebo. Di dalamnya terdapat kasur, bantal dan selimut yang bisa dipergunakan. Karena denah bangunannya melingkar, maka tidur bersisi-sisian dengan orang-orang lain juga dalam posisi melingkar juga. Jika semua sisi sudah penuh, maka posisi tidur tambah ke bagian tengah. Menurut Pak Aven, di sini pernah memuat 58 orang. Saat aku ke sana, pengunjung yang mengisi bangunan ini hanya empat orang. Sebenarnya, jika cuaca dingin, selimutnya tidak cukup tebal menahan udara pada jam tiga pagi. Menyesal juga sleeping bag ditinggal di Denge.

14-4

5. bertandang
Sembari menunggu senja menjelang, dan ketika orang-orang sudah pulang dari kebun, bisa bertandang ke Mbaru Niang yang ada di sebelah-sebelah, mengobrol dengan penghuninya. Mereka sudah terbiasa dikunjungi, dan akan menyambut dengan hangat. Tapi menurutku, lebih mudah mengobrol dengan bapak-bapak, karena kalau mama-mama cenderung pemalu. Bapak-bapak akan menghabiskan sore di halaman sambil bermain gitar, atau mengobrol sambil merokok. Semua penduduk yang sedang duduk-duduk atau baru datang akan mengajak bersalaman dan menyebutkan namanya. Mereka bercerita tentang rumah yang ditempatinya, tentang pengunjung yang pernah datang, tentang Festival Penti yang sedang disiapkan. Karena hari itu cuma sedikit orang, kami menjadi pusat perhatian.

14-5

6. memilih biji kopi
Tidak semua penduduk tinggal di Mbaru Niang. Beberapa tinggal di rumah-rumah kayu yang berada sebelum dari lapangan bundar Wae Rebo. Di depan halaman rumah mereka ada pohon kopi yang berbuah. Selain di halaman, kopi juga ditanam di kebun-kebun sekitar. Hampir semua penduduk memiliki kebun kopi dan mengolahnya. Ketika berkunjung ke rumah Pak Aven, beliau menceritakan berbagai macam kopi yang dimilikinya. Ada robusta, arabica, kopi colombia, bahkan kopi luwak asli. “Luwak di sini berkeliaran di kebun, sehingga asli yang keluar seperti ini,” Pak Aven memperlihatkan kopi yang masih bercampur kotoran luwak yang mengeras.

14-6

7. mendaki bukit
Bagaimana melihat seluruh desa Wae Rebo? Naiklah ke bukit kecil yang di sebelahnya ada perpustakaan berdiri. Lokasinya di atas rumah Pak Aven, melalui jalan setapak yang bisa didaki ringan. Menurut informasi, perpustakaan ini disumbangkan oleh Hatta Rajasa. Di luarnya adalah tempat strategis untuk melihat pemandangan desa di cekungan bawah dengan pegunungan-pegunungan di belakangnya. Walaupun angin lembah bertiup lumayan kencang berhembus dari atas ke bawah, sore hari terlihat permainan cahaya matahari memberikan bayangan naungan yang jatuh pada desa, pagi hari pemandangan serupa dilatari oleh gumpalan kabut.

14-7

8. menumbuk kopi
Melihat mama menumbuk kopi sepertinya bukan pekerjaan sulit. Setiap pagi biji-biji kopi yang ditebar untuk dikeringkan itu ditumbuk dan dihaluskan di dalam lesung. Melihatnya sepertinya mudah, tapi begitu dicoba ternyata tak semudah dalam pandangan. Alu yang lumayan berat di tangan harus dipukulkan langsung ke dalam lesung untuk menghaluskan biji-biji kopi yang baru disangrai. Untuk anak kota yang biasanya cuma mengangkat pensil sepertiku, pekerjaan ini cukup berat. Terkadang alu lolos tidak masuk pas ke bundaran lesung. Harum kopi menguar selama penumbukan ini. Hmm, wangi! Kopi ditumbuk hingga halus menjadi bubuk.

14-8

9. makan
Makan pagi, siang dan malam di Wae Rebo disiapkan oleh mama-mama yang bergantian memasak. Sewaktu aku ke sana, kami membayar Rp. 250.000,- per orang untuk semalam termasuk untuk makan 3x, biaya menginap, dan iuran untuk perawatan kampung. Masakannya sederhana namun enak untuk mengganjal perut yang selalu lapar karena dingin. Di sela-selanya juga ada penganan untuk dicemil sementara menunggu waktu makan tiba. Paling enak makan kerupuk singkongnya yang krenyes-krenyes mengenyangkan. Karena tidak ada warung, harapan perut hanya tertumpu pada jam makan.

14-9

10. mengamati bangunan
Mbaru Niang di Wae Rebo adalah alasan utamaku datang ke sini. Struktur rumah kerucut yang dibangun ulang untuk mempertahankan arsitektur lokal, bagaimana memperlakukan alam sebagai penunjang kehidupan, tentang tanah, ruang-ruang tinggal, budaya yang melingkupi. Banyak waktu yang digunakan untuk mengamat-amati bangunan di sini. Banyak hal tentang proses pembangunannya yang dikerjakan secara gotong royong ini dengan tetap menjaga kearifan lokalnya. Penduduklah yang paling paham dengan kebutuhan mereka akan rumah, juga sebagai ruang religi.

14-10

11. membaca cerita untuk anak
Anak-anak adalah alasan keduaku berada di Wae Rebo. Sengaja membawa buku untuk berbagi cerita kepada mereka, tentang negeri-negeri yang lain, tentang anak-anak seumur mereka juga. Buku adalah jendela bagi anak-anak ini untuk membangun desanya juga kelak. Anak-anak sangat antusias ketika diminta duduk dan mendengarku bercerita tentang dongeng di negeri-negeri asing. Mereka begitu jujur dan polos untuk bertanya, mengkritik, berebut. Selain membaca buku anak, ternyata mereka semua suka sekali pada buku ‘Pesan dari Wae Rebo’ yang bercerita tentang proses renovasi beberapa bangunan di desanya. Mereka mengenali apa yang tertulis sebagai bagian kehidupan sehari-harinya.

14-11

12. bermain
Seru! Anak-anak balita di Wae Rebo mengisi sore hari dengan bermain. Larutlah dalam keceriaan mereka berlarian, menikmati masa muda yang tidak akan kembali lagi. Walaupun saling pukul, saling ejek, namun mereka kembali berbaikan dan asyik berlompat-lompatan bersama lagi. Aku mengajak mereka bernyanyi dan bersenam, “Kepala, pundak, lutut, kaki.” Berulang-ulang sambil tertawa riang. Puas bermain di sore hari, paginya mereka akan menunggu di depan Mbaru Niang untuk tamu untuk mengajak bermain lagi. Ambil hati anak-anak dengan menjadi bagian dari mereka sehingga kenangannya melekat. Sebelum tiba umur mereka harus meninggalkan Wae Rebo untuk sekolah.

DSC_0382

13. bercengkrama
Walaupun mama-mama ini pemalu, tapi masih bisa mengobrol dengan mereka sambil menemani memasak. Setiap hari mama-mama ini memasak bersama-sama di area tungku besar di tengah rumah untuk keluarganya. Di Mbaru Gendhang aku bertemu dengan Mama Christina yang bercerita tentang kamar tinggalnya, juga koleksi gelas bermotif bunga yang cantik di lemari di depan kamarnya. Di Mbaru Gendang beberapa kamar memiliki lemari peralatan makannya sendiri. Hidup berdampingan bersama beberapa keluarga dalam satu rumah membuat mereka saling menjaga dan rukun. Terkadang di siang hari mama-mama ini menenun di bawah Mbaru Niang.

14-13

14. memandang bintang
Malam hari di Wae Rebo dengan langit cerah sangat cocok untuk mengamati langit, tidur-tiduran di rumput dan melihat deretan titik-titik bercahaya itu di udara. Ditemani angin pegunungan yang cukup dingin namun tidak kencang, siluet pegunungan di belakangnya membentuk lansekap manis. Seandainya tak ada cahaya dan gelap gulita, bintang pasti terlihat lebih cemerlang. DIAM.

14-14

Kalau ada hal yang tidak asyik dilakukan di Wae Rebo, maka jawabannya cuma satu. MANDI. Keringat bisa menguap ditelan sejuk. Ada mata air yang bisa digunakan untuk mandi, dan ada kamar mandi juga di belakang Mbaru Niang tamu. Tapi tetap saja, enggan. Mendingan melakukan 14 tindak tanduk asyik di atas. Tunggu cerita lebih panjang tentang anak-anak, tentang rumah, tentang hal=hal yang tak terduga.

photo 1,3,5,7,8,11,13 courtesy ofย Jay
photo 2,4,6,9,12,14 by myself

Tulisan ini adalah postingan asyik bareng geng Travel Blogger Indonesia untuk memeriahkan 14 Februari, sembari masih masuk dalam rangkaian cerita perjalanan Flores flow. Nggak merayakan kok, cuma memanfaatkan momen. #14on14 love to hug you all!

1. Astin Soekanto ย | ย Makna Filosofis 14 Motif Tenun dari Nusa Tenggara
2. Danang Saparudin | 14 hal manis dan murah di Inggris
3. Danan Wahyu | 14 alasan mengunjungi Kerinci
4. Arie Okta | 14 Ragam Wisata Tanah Kelahiran
5. Ridwan SK | 14 Barang Yang Sebaiknya Kamu Bawa Ketika Traveling
6. Albert Ghana | 14 Objek Wisata Menarik di Kalimantan Barat
7. Lenny | 14 travel selfie around USA
8. Tekno Bolang | 14 Senja yang Bikin Kamu Galau
9. Fahmi Anhar | 14 Tempat Wisata Menarik di Dubai
10. Wisnu Yuwandono | 14 Foto Romantis di Sekitar Kepulauan Komodo
11. Yofangga | 14 film inspirasi perjalanan
12. Teguh Nugroho | 14 Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang Semarang
13. Dea Sihotang | 14 Things to do in Paris
14. Indri Juwono | 14 tindak tanduk asyik di wae rebo!
15. Parahita Satiti | 14 tempat cantik untuk Natarajasana
16. Titiw Akmar | 14 Lagu Momen untuk Traveling
17. Bobby Ertanto | 14 SEO Basic Travel Blogging ala Virus Traveling
18. Adlien | 14 Alasan kenapa harus Traveling Saat Muda
19. Rembulan Indira | 14 Places I want to Share with my Loved One
20. Wira Nurmansyah | 14 Tips Simpel agar Komposisi Foto makin Kece
21. Olive Bendon | 14 Langkah Menikmati Perjalanan tak Biasa
22. Indra Setiawan | 14 Hal yang bisa dilakukan di Palangkaraya
23. Badai Taufan Gio | 14 Hal Seru jalan bareng Traveler Dunia
24. Rijal Fahmi | 14 Kuliner Unik Penang yang Bikin saya Mupeng

Advertisements

76 thoughts on “flores flow #7 : 14 tindak tanduk asyik di wae rebo !

  1. Matius Teguh Nugroho says:

    Ah, tinggal di sana benar-benar mengingatkan kita tentang bagaimana hidup yang bersahaja. Sehari-hari diwarnai dengan bercerita, bertamu, bermain, bekerja, berjalan, damai tanpa terganggu dering notifikasi smartphone atau koneksi internet di PC yang menggoda.

    Aku paling tertarik dengan kopinya. Sajian pedesaan itu sederhana tapi memang nikmat ya! Mudah-mudahan ada kesempatan berkunjung ke sana. Request tulisan tentang budget dan itinerari ๐Ÿ˜€

  2. Gara says:

    Paling bagus dari sebuah perjalanan adalah menyatu dengan masyarakat, menyatu dengan keseharian mereka, dinamika mereka, dan alam tempat mereka hidup, karena jelajah adalah untuk empati, untuk merasa apa yang mereka rasa. Betul-betul tercermin dalam tulisanmu kali ini, Mbak.

    Saya paling suka dengan bebintangannya. Sayang, sepertinya cahayanya terlalu terang :hehe

  3. Ridwan SK says:

    Kalau di Flores ada Wae Rebo, di Jawa juga ada.. Rebo Wage, haha..

    Pertama kali liat Wae Rebo dari Jalan-Jalan men, dan langsung kepengen banget pergi ke sana T.T

  4. dansapar says:

    aku mau punya pengalaman yang sama
    balik-balik ke Indonesia jadi pengen ke sana dan berkenalan dengan keempat Pak Petrus dan ngasih buku-buku anak yang dibawa dari sini ke mereka.

      • agnes says:

        Dear mbak indri, aku tahun ini rcn ke waerebo, kami guru2 dari @1000_guru mau TnT a.k.a Travelling n Teaching … mau tanya berarti buku2 yang dibawa bagusnya apa aja yah,… trus mau tanya dari labuan bajo menuju denge mbak naik apa, masih bingung mau sewa mobil atau naik angkot hehehe thx…

      • indrijuwono says:

        Halo kak Agnes, wah.. senangnya ada yang membantu anak-anak di Wae Rebo. Di desa ini anak-anaknya berumur 0-6 tahun, karena kalau sudah waktunya masuk SD mereka tinggal bersama kerabatnya di Kampung Kombo di bawahnya Denge. Bisa dilihat juga anak2nya di : flores flow #9 : anak-anak wae rebo https://tindaktandukarsitek.com/2015/03/01/flores-flow-9-anak-anak-wae-rebo/
        Dari Labuan Bajo bisa sewa mobil sekitar 700rb-an/hari. Mau berapa lama di atas sana? Untuk akomodasi di sana bisa intip sebagian di sini https://tindaktandukarsitek.com/2015/03/21/itinerary-flores-flow/
        salam ๐Ÿ™‚

      • agnes says:

        Iyah saya masih bingung start dari labuan bajo atau maumere yah hehehe,… pengennya labuan bajo dan berakhir di maumere, cuman agak repot pikul2 bukunya kalo dilabuan bajo pengen aku paketin dl ke alamatnya pak blasius tp jangan2 gak nyampe ya hahaha… oh jadi enakan sewa ya,… siiplah.. thx btw buat infonya ya

    • indrijuwono says:

      sepertinya aku malah kenalan dengan semua orang di sana, gara2 festival penti dan mereka kerja bakti. ๐Ÿ˜€
      emm, sama enggak ya? ini mama yang di mbaru gendhang.
      kamu mandi di kamar mandi atau pancuran, kak dal??

  5. Olive B says:

    semasa kecil di kampung paling suka numbuk kopi, wanginya hmmmm …. sekarang semua sudah diganti dengan mesin penggiling kopi

    satu hari nanti mesti sampai di Wae Rebo nih

  6. Rifqy Faiza Rahman says:

    Subhanallah, begitu banyaknya yang bisa dilakukan di sebuah tempat cantik bernama Wae Rebo, bahkan hal sepele sekalipun. Seperti nyaris menahan napas melihat foto-foto dan kegiatan yang dilakukan, tampak sangat mengesankan ๐Ÿ™‚

    • indrijuwono says:

      semoga bisa kak cumiii. duh, rengkuh.
      enggak bisa pakai motor. hanya bisa JALAN KAKI. tapi nggak terlalu berat lah.. sambil mengobrol2 ringan sama pemandu, tahu-tahu sampai. benar kok ๐Ÿ˜‰

  7. makankenyang says:

    waiiiiz eksotis bgt kakak foto2nya….jadi pengen ksana juga
    btw aku dah lama banget ngak minum kopi atau teh dari gelas seperti itu loh..terakhir waktu dulu jaman kecil di kampung ๐Ÿ˜€

  8. Iqbal Kautsar says:

    kalau saya pas di Wae Rebo, selain 14 itu, ada satu lagi yg dilakuin.. Harus ketemu keluarga saya di Wae Rebo: Pak Vitalis Haman. Tinggalnya di Kampung Kombo.. Asli Wae Rebo… Orgnya sangat ramah.. dua kali kesana slalu ditemani dya ke Wae Rebo.. dan, harus ke Wae Rebo ketiga kalinya.. mantaaap

    • indrijuwono says:

      Baca flores flow #8, aku naik ke wae rebo ditemani pak Vitalis juga. baik ya, orangnya.. karena orangnya cuma segitu2 saja, jadi kenal semua deh. pengen banget ke wae rebo lagi, deh. seru!!
      Diantar pak Aven, dan keluarganya juga menyambut hangat. Eh, semua orang Kombo kan orang Wae Rebo juga, bukan? ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s