berkata-kata Jakarta : Kata Fakta Jakarta

Editor : Elisa Sutanudjaja, Anggriani Arifin, Gita Hastarika
Penulis : Rujak Center for Urban Studies
Info Grafis : Farid Rakun
Rancang Grafis : Cecil Mariani, Patricia Adele
Tahun : 2011, Softcover
Jumlah hal. : 384 halaman
ISBN : 978-602099898-1-6

Membaca-baca buku ini, jadi pengen nanya, kenapa kamu mau tinggal di Jakarta?
Ah, aku nggak tinggal di Jakarta. Cuma kerja aja di sini. Setiap hari pulang ke pinggiran Jakarta.

Tapi kan kamu sehari-hari di Jakarta. Coba, berapa banyak waktu yang kamu habiskan di Jakarta!
Hmm, jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam. Wah, empat belas jam! Benar juga ya, aku banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Kalau dipikir-pikir, semestinya aku sudah menjadi penduduk Jakarta, karena sudah 60 % waktuku kuhabiskan di Jakarta. Aku mencari uang dengan menjadi penduduk Jakarta selama itu. Belum lagi kalau lembur, wih!

Tapi menjadi penduduk setengah hari begitu beda dengan yang sehari-hari tinggal di Jakarta. Yang tinggal di Jakarta harus menghadapi kemacetan setiap hari. Dalam jarak dekat sekalipun. Bayangkan dari Salemba ke Kramat saja tidak bisa dicapai dalam waktu 10 menit di pagi hari. Apalagi di Tanah Abang. Paling ruwet daerah sekitar situ. Yang tidak tinggal di Jakarta tinggal naik kendaraan umum langsung dan bisa sampai di tengah kota.
Ya, itu untuk yang kendaraan umumnya seperti kereta, tentu sangat praktis, karena langsung ke tengah kota tanpa harus melewati jalan raya yang macet luar biasa. Bayangkan, kalau tidak naik kereta, orang-orang pinggiran itu berangkat jam setengah enam atau jam enam pagi! Sayangnya, tidak semua daerah terjangkau kereta. Coba kamu pikir, kenapa jalan-jalan menuju Jakarta begitu macet?

Karena mobil pribadi, kan? Banyak yang tidak memaksimalkan ruang di mobil pribadinya. Satu mobil diisi satu orang saja. Lalu pada saat masuk daerah 3 in 1 pakai joki. Tapi di daerah bukan 3 in 1 itu mobil-mobil pribadi bikin macet. Apa semua Jakarta diberlakukan 3 in 1 aja supaya tidak macet lagi?
Wah, mana bisa begitu selama sistem transportasi umum tidak diperbaiki? Transportasi diperbaiki sehingga bisa mencapai jumlah kebutuhan warga Jakarta, baik yang warga tetap atau warga siang hari saja, barulah kita bisa melepas kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum. Tapi, selama pemerintahnya hanya sibuk membangun jalan layang ini itu yang banyak menggunakannya juga kendaraan pribadi. Coba lihat Jl Antasari itu, jalanan itu sehari-hari penuh dengan kendaraan pribadi, dulu. Lalu dibuat jalan layang di atasnya. Yang bakal lewat siapa? Kendaraan pribadi, oy! Jalur angkutan umum di Jl Antasari itu kan cuma sedikit. Bandingkan dengan padatnya Fatmawati- Panglima Polim. Kenapa nggak di situ aja? Sayang kan pepohonan hijau di Antasari yang harus ditebangi?

 

Padahal tanaman hijau kan sangat perlu untuk keteduhan dan juga sebagai paru-paru kota. Apa memang untuk dapat udara bersih di Jakarta harus mahal ya? Membangun taman-taman kota yang Cuma bisa dinikmati masyarakat menengah. Sementara masyarakat menengah ke bawah, harus berdesakan dalam gang sempit, dengan udara dan sanitasi yang sangat kurang. Justru anehnya, di tepi daerah padat, selalu ada tanah kosong, namun dimiliki pengembang besar. Tak berapa lama lagi, pasti berubah jadi perkantoran atau mal.
-baca kelanjutannya->

Advertisements

surga baca di tengah kampus beringin

“Namun pada saat itupun aku tahu bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan lebih luas.”
― Jostein Gaarder- Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Sebuah bukit batu yang tumbuh di tepian danau. Mungkin itu persepsi seseorang ketika melihat gedung 8 lantai di depan gedung Rektorat Universitas Indonesia. Gedung yang difungsikan sebagai perpustakaan pusat ini memang memiliki bentuk yang unik dibanding dengan bentuk-bentuk bangunan lain di UI yang cenderung vernakular.1)

Menurut sang arsitek, Budiman Hendropurnomo, bentuk unik itu diilhami dari prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Nusantara jaman dahulu. Prasasti yang merupakan rekaman sejarah kejadian penting pada masanya, kini menjadi sumber ide untuk menjadikan rumah bagi sekitar 6 juta buku di dalamnya. Tidak hanya buku, di sini juga ada dokumen, manuskrip, jurnal, peta, rekaman audio visual sebagai koleksinya. Sistem peminjaman berbasis pada ICT (Information and Communication Technology) yang memungkinkan pengunjung untuk mengakses berbagai pusat pembelajaran dan sumber informasi elektronik, seperti e-book dan e-journal di perpustakaan lain di dunia.2)

Melihat bentuknya, seperti hamparan batu yang berada di atas bukit. Bentuk perpustakaan yang terlihat agak acak, seperti bongkahan batu yang ditancapkan di tanah untuk menandai sesuatu. Bentuk prasasti abu-abu di tengah gaya vernakular umum ini memberikan identitas yang kuat sekali terhadap bangunan Perpustakaan ini. Berani untuk memberikan sesuatu yang beda, tetapi memberikan ciri khas yang unik. Lokasi perpustakaan ini di tepi Danau Balairung (sekarang namanya Danau Kenanga), dipindahkan dari lokasi lamanya yang berada di balik hutan Rektorat UI, sekarang satu area dengan bangunan-bangunan utama di UI yang juga mengelilingi danau, Rektorat, Balairung, Masjid UI.

-baca kelanjutannya->

transportasi minim informasi

Hampir setiap hari ketika saya berangkat ke kantor naik kereta, selalu harus bertanya pada petugas porter karcis, “Keretanya sampai di mana, Pak?” atau “Kereta ke Tanah Abang sudah jalan belum?”
Ini kalau kadang-kadang saya terlambat atau keretanya yang terlambat datang. Dan tiap hari juga saya berpikir, ini bapak petugas portir apa tidak bosan menerima pertanyaan seperti itu, karena bukan saya saja yang bertanya, tapi mungkin hampir separuh dari pengguna jasa angkutan kereta juga bertanya demikian.

Informasi mengenai posisi kereta hanya diketahui oleh petugas yang berhubungan dengan petugas-petugas di stasiun lain, yang akan mengumumkannya ke khalayak penumpang di stasiun, kurang lebih 10 menit sekali. Nah, sementara menunggu diumumkan, penumpang sering tidak sabar dan bertanya pada petugas karcis. Petugas yang sudah lelah menjawab kadang menjawab dengan nada kesal karena menerima pertanyaan berulang. Karena apabila mengandalkan bertanya pada petugas, sering juga tidak tepat.
Petugas bilang, “Sebentar lagi, mbak..”
“Berapa menit lagi?”
“Tunggu aja, mbak, sudah di Citayam..”

Berarti 6-8 menit lagi kira- kira. Ternyata kereta baru muncul 15 menit kemudian. Padahal sudah bela-belain menunggu dan tidak sarapan, supaya bisa masuk dengan tenang. Eh, gara-gara informasi yang kurang benar, terpaksa berangkat dengan perut lapar.

Saya pikir, kenapa tidak dibuat sistem informasi sederhana saja. Daripada papan besar di pintu stasiun itu dijual untuk iklan tak laku-laku, lebih baik untuk papan informasi digital yang menginfokan posisi kereta akan tiba berapa menit lagi. Sehingga orang selalu terbaharui dengan informasi itu dan dapat mengatur waktu sempitnya itu dengan baik. Misalnya saja dengan sempat sarapan, beli kue, atau ke kamar kecil. Atau sederhana saja seperti titik-titik berlampu yang akan dipindahkan nyala lampunya kalau berpindah stasiun.

-baca kelanjutannya->

review buku : RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau

RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau by Nirwono Joga, Iwan Ismaun
My rating: 4 of 5 stars

Penulis : Nirwono Joga dan Iwan Ismaun
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011, Softcover
Jumlah hal.: 272 halaman
ISBN : 9789792271850

Hijau. Tanaman hijau adalah kebutuhan manusia mutlak untuk mempertahankan hidupnya. Tanaman menyerap karbondioksida yang kita keluarkan dan mengeluarkan oksigen untuk kita hirup. Oleh karena itu kita sebenarnya tidak bisa hidup tanpa tanaman hijau. Persyaratan 30% untuk kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) itu seharusnya merupakan kebutuhan yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh.

Buku ini memang hanya memberi judul RTH 30% Resolusi (Kota) Hijau. Namun dalam contoh keseluruhan yang dibahas hanya kota Jakarta, pusat segala kecarutmarutan korupsi negeri, bahkan untuk lahan hijau yang tidak selalu jadi pertimbangan. Kota Jakarta yang makin sedikit lahan hijaunya dari tahun ke tahun. Di halaman 37 dipaparkan peta berkurangnya RTH di Jakarta sejak tahun 1972-2008. Selalu miris melihat fenomena seperti ini di kota. Di setiap kota yang mengklaim dirinya lebih maju, selalu area terbuka hijaunya menjadi berkurang. Pembangunan pusat perbelanjaan, perkantoran, industri, sangat sering meninggalkan kebutuhan akan Ruang Terbuka Hijau. Sekarang ini kita bisa lihat, berapa banyak pusat perbelanjaan di Jakarta yang tidak menyisakan satu jengkal tanah pun untuk RTH. Sisa lahan yang ada, menjadi jalan, perkerasan, parkir. Dianggapnya itu ruang terbuka yang bisa menyerap air. Padahal dengan kebanyakan jalan beton seperti sekarang ini, air tidak bisa menembus ke melalui pori-pori jalan, karena dasar beton dialas plastik. Bukan hanya aspal di atas sirtu (pasirbatu) yang bisa terlewati air dengan mudah.

Ya, apa yang terjadi jika kita kehilangan Ruang hijau? Tentu kita akan kekurangan udara segar, kekurangan air bersih, kekurangan tempat teduh, dan banyak lagi alasan dari yang lokal sampai global. Di sini dijabarkan, fungsi Ruang Terbuka Hijau untuk konservasi tanah dan air, menciptakan iklim mikro yang baik, pengendali pencemaran, habitat satwa, dan sarana kesehatan dan olahraga. Dalam tata ruang, area hijau muncul dalam cetak biru tata ruang kota. Ada area RTH publik yang sudah ditentukan kawasannya, ada RTH pribadi yang disyaratkan dengan KDB (Koefisien Dasar Bangunan yang berarti persentase luasan maksimal yang boleh dibangun dalam satu tapak) dan KDH (Koefisien Dasar hijau). Nilai ruang terbuka pribadi ini mutlak seharusnya dipatuhi, karena ini adalah untuk kenyamanan bersama. Apabila melanggar, sanksinya adalah bongkar, bukan denda yang bisa digantikan dengan uang, kembalikan pada persentase area terbuka yang tak boleh dibangun. Kembalikan pada fungsi aslinya sebagai area penyerapan air tanah.

-baca kelanjutannya->

trotoar untuk pejalan kaki, bukan motor!

“Yang naik mobil berasa yang punya jalanan, yang naik motor berasa serigala jalanan, yang pejalan kaki berasa gak punya jalan.” 1)

Begitulah kondisi di banyak jalur pejalan kaki di Jakarta. Contoh di atas adalah di depan Stasiun Gambir Jakarta Pusat, salah satu titik silang ganti antar moda transportasi di Jakarta. Selain taksi dan bis, ojek motor adalah salah satu moda transportasi yang dominan di tempat ini.

Di lokasi ini, motor bebas berlalu lalang di atas trotoar yang menghadap ke Jl Medan Merdeka Timur ini. Tak sedikit orang yang merasa terganggu dengan kehadiran motor-motor ini di trotoar. Padahal di tempat khusus pejalan kaki ini, banyak orang yang sedang menunggu bis ke tempat tujuannya masing-masing. Motor dengan seenaknya naik trotoar dan menawarkan jasa ojek. Setengah memaksa dan mengganggu.

Padahal, Stasiun Gambir adalah Stasiun terbesar di Jakarta, yang terbaik (katanya). Depan Tugu Monas, dekat Masjid Istiqlal yang terbesar, bahkan tak jauh dari Istana Kenegaraan. Seharusnya, depan Stasiun Gambir bisa menjadi contoh ketertiban. Tapi lihat saja, malah menjadi contoh ketidak tertiban yang ditiru oleh wilayah-wilayah lain di Jakarta.

Pejalan kaki hanya mengambil tempat kurang dari seperdelapan badan jalan. Dan lokasi mangkal ojek sudah disediakan di ujung stasiun Gambir. Tapi mereka masih saja asyik mondar-mandir di trotoar mencari penumpang pejalan kaki yang putus asa karena angkutan umumnya tak muncul-muncul. Sering, sebagai pejalan kaki, kesal karena mereka seenaknya lewat, membunyikan klakson lagi. Kalau ditegur hanya senyum kecil, tidak merasa bersalah. Kalau sudah begini mau apa? Apa harus dipasang patok-patok di trotoar supaya tidak bisa dilewati motor seperti di Jl Wahid Hasyim?

Tentunya tidak bisa dengan sikap nerimo saja atau ‘orang kayak gitu nggak bisa dibilangin’. Peraturan yang jelas-jelas melarang pengendara motor naik ke trotoar, dan pejalan kaki yang kompak mengusir motor dari trotoar. Fasilitas itu untuk kepentingan bersama, ada porsinya masing-masing. Pejalan kaki yang hanya meminta sedikit dari pembangunan super ibukota, seharusnya mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Di banyak tempat, di tempat-tempat yang jauh lebih tidak tertib daripada stasiun Gambir, sangat mudah ditemukan motor yang naik trotoar, alasan menghindari macet atau ingin cepat sampai. Tak ada sanksi yang jelas untuk pengendara-pengendara nakal ini. Efek domino dari tingginya kepemilikan motor dan tetap sedikitnya jalan yang bisa mereka lalui. Mestinya mereka berpikir, yang buat macet kan ketidaktertiban mereka sendiri, jadi jangan suka menyalahkan macet.

Mari kita berteriak, “Turun lo, motor! Ini tempat pejalan kaki!”

depok. white room. 10-12-11. 01.48.

1) Dari twitter @AbimantraP