mengaut kabut dieng #2 : di antara kawah sikidang dan candi arjuna

covercandi

Apakah yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas; lalu mengkristal dalam dingin; kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi; dan menimpa pohon jambu itu; tergelincir dari daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah dan jatuh ke bumi.

Hujan dalam Komposisi 2 ~ Sapardi Joko Damono

cerita sebelumnya :mengaut kabut dieng #1 : menuju negeri di awan

Ada banyak yang bilang janganlah bepergian di cuaca hujan. Tapi di negeri khatulistiwa ini, tidak mungkin tidak hujan di penghujung tahun. Usai hujan di dataran tinggi, memberikan dingin yang menggigit, kabut yang melingkupi, dan rasa hangat dalam kebersamaan. Maka tak ada rasa takut dalam hujan selain bahwa menganggapnya sebagai anugerah semesta sebagai waktu yang diberikan untuk menunggu reda.

Cuaca rupanya agak tidak bersahabat siang itu. Gerimis tipis mengiringi perjalanan selanjutnya ke Kawah Sikidang yang ditempuh sekitar 10 menit dengan mobil. Di jalan kami sempat bertemu dengan anak gimbal yang merupakan satu kekhasan kawasan Dieng. Anak gimbal yang kami lewati hanya satu dan sedang asyik bermain sepeda. Menurut mitosnya, di umur 12 tahun atau akil baliq ketika mereka harus dicukur habis rambut gimbalnya, apa pun yang diminta oleh si anak gimbal ini ketika diruwat harus dipenuhi.

Continue reading

Advertisements

mengaut kabut dieng #1 : menuju negeri di awan

cover

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang neg’ri di awan
Di mana kedamaian menjadi istanahnya
Dan kini tengah kau bawa
Aku menuju kesana

Negeri di Awan : Katon Bagaskara

Perlahan, matahari mulai menampakkan cahayanya dari lembayung keunguan, hingga jingga kemerahan. Menggandeng si gadis kecil di pendakian pertamanya, kuletakkan kamera, ingin melihat keindahan negeri di awan ini dengan mata, bukan intipan lensa. Matahari seperti berada di antara Gunung Sindoro dan Gunung Merbabu perlahan naik dan memulai tugasnya menyinari buwana.

Perjalanan ini berawal dari sebuah ide menghabiskan akhir tahun dengan road trip ke Jawa Tengah. Tidak sulit mengumpulkan teman-teman untuk diajak menikmati suasana di Dieng yang menjadi latar film anak-anak “Ambilkan Bulan” itu. Juga sebuah film dokumenter yang aku lupa judulnya, berlatar desa ini yang kutonton di Goethe Institut beberapa bulan silam pun membuatku ingin bertandang dan melihat kehidupan petani kentang di ketinggian 2000an mdpl tersebut. Tetapi dengan teman-teman yang tersebar di pulau Jawa, yang mau ikut dari Jakarta akhirnya hanya kami bertiga, aku, Felicia, dan Novi (teman Feli). Dengan si gadis kecilku Bintang yang baru berusia 6 tahun dan sopir, berangkatlah kami dari Depok menuju Wonosobo yang di sana sudah janjian dengan Rhea dari Surabaya, Erry dari Semarang dan Sansan dari Jogja.
Continue reading