rumah kayu : mengembalikan kesinambungan yang sesungguhnya

10314653_758357130851760_1233024590034466818_n

Beberapa hari yang lalu aku membaca di halaman facebook Rumah Intaran mengadakan sayembara desain rumah kayu. Menarik sekali, karena Rumah Intaran yang kukenal sebagai studio arsitektur yang berbasis alam berlokasi di Singaraja, Bali, mengundang mahasiswa arsitektur untuk berkompetisi mendesain Rumah Kayu dengan bahan-bahan kayu bekas berupa kayu bongkaran rumah tua dan kapal yang hendak difungsikan lagi dalam bangunan baru seperti rumah, studio, akomodasi, bangunan publik, bangunan komersial, dan lain sebagainya.

Ide tentang sayembara desain rumah kayu ini berangkat dari keinginan menggairahkan lagi arsitektur nusantara dan menggalinya dari genius lokal nusantara. Seperti diketahui, kebanyakan dari warisan budaya arsitektur Indonesia adalah rumah kayu, dalam berbagai bentuk dan ukuran. Dari tanah Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan bahkan paparan pulau-pulau di Selatan Indonesia pun kebanyakan menggunakan kayu sebagai bahan utama. Menunjukkan bahwa kayu sebenarnya adalah materi yang mudah didapat dan dikembangkan, maupun dijaga keberadaannya.

10357236_764090953611711_3616932351050944572_n

Banyak anggapan beredar bahwa kayu harganya mahal, dan perawatannya cukup sulit. Tapi sekarang banyak kayu bekas yang beredar, yang sudah teruji ketahanannya karena dulu dipotong di saat, umur dan ukuran yang tepat, sehingga masih kuat hingga sekarang. Kebanyakan kayu baru yang dijual sekarang ini tidak cukup tua ketika dipotong, sehingga membutuhkan perawatan yang lebih ketika digunakan.

Kayu-kayu yang dipakai untuk materi sayembara ini adalah kayu-kayu bekas yang berasal dari kapal tua yang rusak yang terdampar di Serangan, Bali. Umur persisnya tidak tahu, dan tidak ada perawatan khusus. Seorang teman yang pengepul membelinya, membongkarnya di laut dan menariknya di daratan.

Di dunia industri konstruksi sudah lama dijejali bahwa baja adalah satu produk yang tahan lama, karena ramah lingkungan, tidak menebang hutan. Tapi ingatkah berapa besar energi yang dikeluarkan untuk melebur bijih besi menjadi sesuatu benda yang dibilang everlasting ini? Bagaimana jika ramah lingkungan itu berarti benar-benar kembali ke alam, menggunakan bahan alam dan memperbaharuinya lagi?

10339738_762380330449440_5430727606455411833_n

Menurutku, kayu juga bisa menjadi sesuatu bahan yang berkesinambungan. Material ini bisa tumbuh. Orang-orang di jaman dahulu membangun rumah kayu sekaligus menanam kembali tanaman ini supaya bisa menggantikan apabila rumah kayu ini kelak lapuk. Melakukan apa yang kini digaung-gaungkan sebagai sustainability dengan menanam calon penggantinya. Kesinambungan yang sederhana. Masyarakat Baduy Dalam masih melakukan ini. Mereka menanam bambu dan pinang untuk mengganti kelapukan bangunan mereka sekitar 5-10 tahun sekali. Ada tanggung jawab terhadap alam setiap mengambil, mereka akan menanam lagi sebagai penggantinya.

Kayu adalah material hangat yang sesuai dengan iklim tropis Indonesia. Arsitektur kayu juga tahan terhadap gempa yang banyak terjadi di negara-negara kita yang berada di sabuk pegunungan. Dalam pengerjaannya yang sangat kaya akan ilmu ketrampilan tangan dan gotong royong, arsitektur kayu menyerap banyak tenaga kerja.

Dengan mengkhususkan peserta adalah mahasiswa S1 Arsitektur, diharapkan akan timbul kesadaran untuk mempelajari lagi arsitektur kayu yang sudah mulai jarang digunakan karena kecenderungan untuk terus membuat bangunan modern dan meninggalkan genius lokal yang sebenarnya banyak mewarnai arsitektur nusantara.

Ketentuan karya :
Luas bangunan keseluruhan 50-70 meter persegi, maksimal 3 lantai. Bisa 1 lantai, 2 lantai ataupun split level (mezanin). Rumah kayu menggunakan sistem knock down (bongkar pasang) yang memungkinkan bangunan bisa dipindahkan ke mana saja.

Pemenang lomba karyanya akan dibangun dalam skala 1 : 1 dengan menggunakan material-material kayu bekas seperti kayu ulin, bangkirai dan lain-lain. Bangunan akan dibuat di Workshop Rumah Intaran di Desa Bengkala Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng, untuk selanjutnya akan digunakan sebagaimana fungsinya di proyek yang dikerjakan oleh Rumah Intaran. Sebelum dibangun, desain yang menjadi pemenang akan dibuat maketnya dalam skala1 : 10 dan akan dipublikasikan secara online.

Dalam proses pembangunan skala 1 : 1 Rumah Intaran memiliki otoritas untuk menyesuaikan desain dengan hal-hal teknis yang menyangkut pembangunan juga detail struktur yang dirasa lebih efisien setelah didiskusikan dengan perancangnya. Pemenang dapat pula mengikuti proses pembangunan dari awal hingga akhir di Workshop Rumah Intaran yang diperkirakan memakan waktu selama 2 bulan.

Dalam desainnya, peserta bebas untuk untuk memilih fungsi bangunan yang akan didesainnya. Bisa berupa bangunan akomodasi seperti villa, resort, bungalow, atau bangunan publik seperti perpustakaan atau galeri, juga bangunan komersial misalnya restaurant dan spa, bahkan fungsi pribadi seperti studio seni juga rumah tinggal atau rumah peristirahatan.

Lomba ini sendiri berlangsung sejak tanggal publikasi mulai tanggal 1 Mei 2014 hingga tahapan-tahapan lomba dan pembangunannya yang direncanakan hingga bulan Oktober 2014 dengan juri Bapak Eko Prawoto (Arsitek, dosen UKDW Jogjakarta), Ida Bagus Agung Partha (Pelaku industri kepariwisataan Owner Santrian Group, Sanur – Bali) dan Gede Kresna (Arsitek, pemilik Rumah Intaran), yang akan memilih pemenang yang akan diwujudkan desainnya itu.

Untuk informasi tentang syarat teknis, hadiah, formulir, dan kontak yang bisa dihubungi silakan dibuka tautan : Facebook RUMAH INTARAN

Gede Kresna, Rumah Intaran :
Ketersediaan kayu memang persoalan tapi kita tidak bisa berdalih dan beralih menggunakan material yang justru ikut andil dalam pengerusakan sumber-sumber kayu juga. Di Rumah Intaran ini menjadi perhatian serius. Meskipun sangat sedikit menggunakan kayu baru, kita tetap mengasumsikan punya HUTANG OKSIGEN yang harus dibayar lunas dengan menanam pohon. Penting untuk kita membagi-bagi peran sejak sekarang supaya dengan semakin digairahkannya penggunaan kayu sehingga jumlah kayu dan hutan meningkat. Menjadi Arsitek bukan pekerjaan mudah karena kita dituntut selalu berpikir bukan hanya gambar, melainkan juga keberlangsungan berbagai aspek : Sosial, Ekonomi, Kultural, Ekologi dan juga Spiritual.

1001 Hutang Oksigen RI

dini hari 01:46. di bawah lambrisering.
[seluruh foto diambil dari laman Rumah Intaran]

bisa dibaca juga : arsitek desa dari rumah intaran

Advertisements

12 thoughts on “rumah kayu : mengembalikan kesinambungan yang sesungguhnya

  1. Bobby Ertanto says:

    Pernah punya cita-cita jadi arsitek. Tapi gagal karena masuk IPS. Namun begitu sampai sekarang tetap suka sama desgin/arsitektur bangunan2 cantik. Love this one kak indir. Selalu senang lihat pameran2 rumah. Lomba2 design gini pasti kreatif2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s