awal mula yang selalu berputar

Apa yang berubah dari diriku selama empat tahun ini? Yang jelas banyak. Sepertinya aku jadi lebih tenang, tidak sering marah-marah dan lebih menguasai diri. Memang tidak semua hal terjadi tanpa sebab, dan aku tahu ada satu penyebab besar yang membuat ini semua berubah. Terlalu rumit, tak perlu lah diceritakan panjang lebar di sini.

Lalu aku menjadi tergila-gila pada buku. Pada sesuatu yang dinamakan jendela dunia. Pada kata-kata yang membiusku untuk melompat ke dalamnya. Buku-buku yang semula hanya menjadi penghuni rakku, bermain-main di pikiranku, kini menarikku untuk bertualang bersamanya. Iya, benar. Aku harus mulai berjalan untuk menemukan harapan-harapan yang terbaca dari huruf-huruf yang menari itu.

“Hallo Jesse, ikut aku!” seru setumpuk buku Balada si Roy yang menghuni kamarku. Koleksi yang membuatku jatuh cinta pada sosok pemuda bandel yang kukenal sejak masa remajaku. Dulu aku hanya mengaguminya hingga timbul keinginan untuk menapaktilasi perjalanannya hingga ke India, yang rupanya saat ini masih menjadi angan-angan belaka.

Namun lama kelamaan mimpi-mimpi itu seakan memberi tanda-tanda terwujud. Dimulai dengan berkenalannya aku dengan mas Gol A Gong, si pencipta karakter Roy puluhan tahun lalu itu. Ia terus memberikan semangat untuk berjalan dan menulis. Kenapa menulis? Karena dengan menulislah ia merasa bisa membagikan ceritanya pada orang lain, bisa memberitakan apa yang orang lain tidak tahu, sekaligus menyemangati.

Sesudah itu, rasanya aku selalu melakukan perjalanan dari waktu ke waktu, dari libur ke libur. Aku menyebutnya, escape. Aku berjalan untuk menemukan bahan tulisan, begitu kilahku.

Tanya seorang teman,”Bagaimana cara mendapat ide tulisan?”
Aku hanya menjawab, banyak. Apa saja. Yang penting kamu keluar dari rutinitasmu dan membuat hal tidak rutin itu istimewa. Membuat hal-hal itu menjadi menarik untuk diceritakan. Jika setiap hari naik Commuter Line tapi jalannya lancar-lancar terus, tentu tidak ada bahan cerita.

Jadi aku mulai menyusuri kembali aspal dan rel yang pernah kutinggalkan delapan tahun yang lalu. Mencari riak-riak keceriaan di sela rutinitas yang dijalani setiap hari. Tersesat, salah jalan, sudah pasti tidak terencana dalam perjalanan, namun aku memilih untuk tidak larut dalam kesalahan kecil. Aku membuat rencana, mencari teman lalu kembali melakukan perjalanan. Sekembalinya aku menulis, bercerita tentang pengalamanku.

Hanya pengalaman? Tidak. Tulisan harus memakai hati, kata seorang teman. Curahkan perasaanmu ketika sedang menulis cerita. Apa dirasa sedih atau gembira. Ini kesulitanku. Aku lebih suka bercerita tentang hal gembira. Sedangkan hal-hal sedih biasanya kusimpan sendiri. Kuanggap bahwa cerita sedih itu kalah oleh kebahagiaan yang kudapat selama perjalanan.

Laut, jalan. Laut, gunung. Laut. Karena aku menemukan diriku sendiri di sana. Mungkin ada bagian darahku yang pernah tertumpah di laut, dan membuatku ingin kembali ke sana.

Lalu lama kelamaan, aku lelah. Berlari, berjalan, menulis menjadi sesuatu hal yang menjadi rutin. Aku kehilangan gairah untuk melakukannya lagi. Aku pun berhenti pada satu titik, yang ternyata adalah titik awalku lagi.

Aku membuka buku-buku perjalanan, dan kali ini niatanku adalah menjadi seperti mereka. Menjadi seperti orang-orang ini bisa perbuat, memberi cerita yang menggetarkan hati. Aku mulai menulis dengan serius, belajar lebih banyak, membaca lebih babnyak, sampai tiba gairahku untuk melakukan perjalanan lagi. Aku ingin bercerita lebih banyak, pikirku.

Terkadang orang berpikir bahwa untuk menjadi hebat seseorang harus melakukan perjalanan. Mungkin itu salah satunya jalan, namun tidak satu-satunya. Mengawali dengan menulis, atau bercerita, atau mengawali dari perjalanan, tak ada salahnya. Awal itu ada di mana-mana. Tergantung bagaimana kamu memulainya. Suatu saat itu akan terus berputar, kembali pada mimpi-mimpi yang pernah ada, dan berkaitan.

Awal dan mula, akan selalu kembali. Tiba-tiba hari ini aku kembali memikirkan India…

Depok, 30 juni 2014
jesse. the girl who play basketball.

1904265_10202922785128178_6588419261916803543_n (1)

Advertisements

18 thoughts on “awal mula yang selalu berputar

  1. Firsta says:

    Mbak Indri, aku juga pingin ke India tapi banyak keinginan-keinginan lain juga. As always. Banyak maunya.

  2. Adie Riyanto says:

    Luar biasa berarti kerjaanmu hari senin kemarin. Menulis sekian banyak postingan kayaknya untuk memenuhi tenggat waktu. Aku wis ra kuat, lagi akeh gawean hahaha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s