bandara ngurah rai : sudah cukup?

cover

People who meet in airports are seventy-two percent more likely to fall for each other than people who meet anywhere else.
― Jennifer E. Smith, The Statistical Probability of Love at First Sight

Jam sembilan pagi waktu setempat, pesawatku menjejakkan roda-rodanya di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Di bandara yang terlihat besar ini, ternyata terminal kedatangan domestiknya tidak terlalu besar, hanya ada 4 conveyor berjalan untuk mengeluarkan barang-barang dari bagasi. Tanpa ada petunjuk yang jelas carousel mana yang akan mengeluarkan dua ransel kami di pesawat Air Asia yang baru saja tiba dari Yogyakarta ini, kami mondar mandir sampai akhirnya terlihat si wortelku yang bersarung hitam dan ransel merah Jay yang tergolek di ban berputar itu.

Aku menanyakan ke petugas transit Merpati, apakah ada bis yang bisa membawa kami langsung ke terminal keberangkatan, karena tadi kelihatannya jauh pikirku.

Continue reading

Advertisements

kuta beachwalk : oase hijau dan air di tepi pantai

cover

If the sky, that we look upon
Should tumble and fall
All the mountains should crumble to the sea
I won’t cry, I won’t cry
No, I won’t shed a tear
Just as long as you stand, stand by me

[Ben E. King – Stand By Me]

“Tiw, pinjam sandal dong buat jalan-jalan.. gue cuma bawa sandal jepit selain sepatu trekking.”
“Hah, buat apa? Di Beachwalk itu, orang dandannya ya kayak elo gitu, Ndri. Celana pendek sama sandal jepit.”

Aku tiba di Bali setelah berkeliling Jawa Timur hampir 4 hari akhir tahun 2012 lalu, naik kapal ferry dari Banyuwangi. Pikirku, daripada kembali lagi ke Surabaya yang memakan waktu hampir 7 jam, lebih baik aku menyeberang ke Bali dan terbang kembali ke Jakarta lewat Denpasar. Cuma sekitar 3 jam jarak antara Gilimanuk-Denpasar. Lagipula, aku bisa mengunjungi sahabatku Tiwi dan beristirahat sejenak sebelum kembali ke kota tempatku mencari uang.

Aku mengajak Tiwi ke Kuta Beachwalk, satu bangunan social hub di Kuta yang baru jadi namun masih soft opening. Bangunan seluas 93.005 m² ini berada di Pantai Kuta, tepat di pusat keramaiannya, sehingga mudah dijangkau orang yang sedang berwisata di pantai yang terkenal sampai mancanegara ini. Didesain oleh Envirotec Indonesia, biro konsultan tempatku bekerja selama 3 tahun ini. Walaupun aku tidak ikut dalam tim desain maupun pelaksanaannya, tapi aku jatuh hati pada banyaknya koridor terbuka pada bangunan ini, juga pola-pola organik yang membuatnya lunak.
Continue reading

rumah kayu : mengembalikan kesinambungan yang sesungguhnya

10314653_758357130851760_1233024590034466818_n

Beberapa hari yang lalu aku membaca di halaman facebook Rumah Intaran mengadakan sayembara desain rumah kayu. Menarik sekali, karena Rumah Intaran yang kukenal sebagai studio arsitektur yang berbasis alam berlokasi di Singaraja, Bali, mengundang mahasiswa arsitektur untuk berkompetisi mendesain Rumah Kayu dengan bahan-bahan kayu bekas berupa kayu bongkaran rumah tua dan kapal yang hendak difungsikan lagi dalam bangunan baru seperti rumah, studio, akomodasi, bangunan publik, bangunan komersial, dan lain sebagainya.

Ide tentang sayembara desain rumah kayu ini berangkat dari keinginan menggairahkan lagi arsitektur nusantara dan menggalinya dari genius lokal nusantara. Seperti diketahui, kebanyakan dari warisan budaya arsitektur Indonesia adalah rumah kayu, dalam berbagai bentuk dan ukuran. Dari tanah Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan bahkan paparan pulau-pulau di Selatan Indonesia pun kebanyakan menggunakan kayu sebagai bahan utama. Menunjukkan bahwa kayu sebenarnya adalah materi yang mudah didapat dan dikembangkan, maupun dijaga keberadaannya.
Continue reading

green kiwi : a compact fresh

cover

Don’t be afraid to go out on a limb. It’s where all the fruit is.
[Shirley MacLaine]

Akhirnya aku tahu mengapa orang selalu merekomendasikan kawasan Bugis sebagai tempat tinggal sementara di Singapore, tentunya selain China Town. Aksesnya yang mudah dari bandara, dengan ongkos kurang dari 2 SGD, naik MRT kurang dari 30 menit, bisa beristirahat sesudah menempuh perjalanan selama 2 jam udara dari Tanah Air.

Kali ini aku menginap di Green Kiwi Backpacker Hostel, dengan pertimbangan hemat daripada di hotel berbintang. Lokasi hostel ini terletak tepat di Bussorah Street, jalan yang luar biasa cantik dengan ruko-ruko detail melayu peranakan, bebas kendaraan bermotor dan langsung menuju Masjid Sultan, salah satu ikon wisata di titik bernafaskan melayu ini.

Dari depan stasiun Bugis, aku berjalan santai 15 menit sampai ketemu jalan bertegel merah yang banyak dilalui turis asing itu, dengan pohon kelapa dan warna-warna cantik bangunannya.
Continue reading

travel bloggers : double date

cover

So no one told you life was gonna be this way
Your job’s a joke, you’re broke, your love life’s D.O.A.
It’s like you’re always stuck in second gear
When it hasn’t been your day, your week, your month, or even your year, …
[The Rembrandts – OST F.R.I.E.N.D.S]

Apa yang kamu pikirkan jika ada dua cowok travel blogger dan dua cewek travel blogger yang kebetulan harus melakukan perjalanan bersama? Terserah. Ya, terserah adalah jawaban pertama ketika memilih apa yang harus diputuskan. Karena masing-masing dari mereka sudah pernah get lost di kota ini, maka mereka juga bingung mau melakukan apa di acara hari bebas ini. Mereka itu kami, empat orang Indonesia yang baru keluar dari hotel berbintang (karena jatah inap gratisnya habis) sesudah seru-seruan dengan Skyscanner Bloscars Award dan pindah ke hostel di kawasan wisata untuk mendapatkan pengalaman baru.

Baru untukku dan Firsta, yang baru pertama kali menginap di hostel. Kalau Fahmi dan Ariev sih sudah sering dalam perjalanan backpacker mereka. Jadi pilihan hostel direkomendasikan oleh Fahmi, sementara kami (aku) tinggal memilih (setelah 5-7 kali ‘terserah’ muncul di percakapan WA) yang paling cocok. Alasan kami mendarat di Green Kiwi Hostel di kawasan Bugis karena lokasinya yang unik, banyak bangunan menarik, dekat Masjid Sultan yang terkenal, dan tak jauh dari jangkauan transportasi umum. Foto di atas itu, jalanan di depan hostel kami, langsung menghadap Masjid Sultan.
Continue reading