Tag Archives: jalan kaki

solo traveling at cirebon : bersendiri di kota udang

cover

Menurut aku, salah satu kota yang asyik untuk solo traveling itu adalah Cirebon. Kenapa demikian? Pertama karena aku lahir di sana, namun tidak pernah tinggal di situ sehingga setiap tahun selalu mampir untuk berkunjung pada kerabat. Masalahnya, dari seluruh sepupu-sepupu yang sebaya itu, tak satu pun yang tertarik untuk mengamati peninggalan budaya yang tersebar di berbagai kota seperti aku. Kalau makan, kami tetap pergi beramai-ramai. Jadilah aku yang suka membaca buku sejarah ini berkeliling Cirebon tanpa ditemani pemandu. Solo traveling, kenapa kamu tidak?

Cirebon berada di propinsi Jawa Barat, tepatnya di pesisir pantai utara Jawa yang tak jauh dari perbatasan ke Jawa Tengah. Lokasinya yang sedikit bimbang ini membuat dialek bahasanya cukup berbeda dari bahasa Sunda pada umumnya di propinsi Jawa Barat. Bahasa Cirebon agak bercampur dengan bahasa Jawa, dan cengkok pengucapannya pun agak berbeda. Seperti karakteristik bahasa untuk kota-kota di tepi pantai, pengucapannya tidak halus, cenderung cepat dan keras.

Dengan posisi geografisnya, Cirebon di masa lalu sering dirapati oleh pendatang dari berbagai bangsa, seperti Melayu, Tionghoa, dan Arab. Bertempat juga di jalur pos utara Jawa, menjadi titik perpindahan suku Sunda dan Jawa. Akulturasi dari pertemuan ini membentuk budaya yang kaya baik dari makanan, pakaian, atau bangunan dan masih bisa dinikmati hingga hari ini.

Continue reading solo traveling at cirebon : bersendiri di kota udang

kehilangan jejak di melaka

cover

“There is another alphabet, whispering from every leaf, singing from every river, shimmering from every sky.”
― Dejan Stojanovic

Perempuan itu melangkah turun dari bis yang membawanya dua jam lalu dari Terminal Bersepadu Sepadan di Kuala Lumpur. Hujan badai dan banjir di beberapa bagian ibukota negara Malaysia itu membuatnya terlambat berangkat hingga tiba di kota yang terkenal sebagai persinggahan kapal Portugis di masa lalu itu. Ia menguap. Dua orang yang tadi duduk di depannya mengobrol begitu keras hingga ia tidak dapat tidur di perjalanan. Badannya lelah dan ia ingin segera tiba di penginapan yang sudah dipesannya sebulan yang lalu.

Ia berjalan keluar terminal mengikuti arah orang-orang. Dipandangnya peta yang terpampang di ponselnya. Duh, aku sekarang menghadap mana ya? Ia mulai memperhatikan bangunan-bangunan sekitar sambil orientasi arah. Bukan hal yang terlalu sulit baginya.

Dilihatnya seorang gadis Tionghoa di depan terminal. “Hai, do you know how should I get to Jonker Street? tanyanya. Gadis itu tersenyum, “There’s a bus at the afternoon, but now you should go by taxi.” Continue reading kehilangan jejak di melaka

lintas petronas : ruang terbuka yang bersahabat

cover

A man in the skyscraper needs to feed a pigeon from his window to remember what great thing missing in his life: The touch of nature!
― Mehmet Murat ildan

Siang belum terlalu terik dan aku menengadahkan kepala memandang Menara Petronas. Bangunan yang didesain oleh Cesar Pelli setinggi 452 m itu harus dilihat sambil menudungkan tanganku di depan mata. Kilau keperakan yang membungkus bangunan dengan dengan circular struktur itu sesekali memberi pantulan silau. Aku teringat di masa kuliahku ketika kami belajar mengenai bangunan yang kala itu termasuk tertinggi di dunia. Ketika cita-cita kami masih setinggi langit yang dijangkau oleh arsitek-arsitek terkenal. Dan kali ini, aku berdiri di bawahnya, pencakar langit yang dibuka tahun tujuh belas tahun silam, dan kini masih tegak terawat. Ikon wisata negeri jiran, yang memanggil-manggil untuk dihampiri.

Aku tidak ikut mengantri untuk menaklukkan ketinggiannya. Sesuatu yang tinggi lebih indah dinikmati dari jauh, pikirku ketika itu. Satu permakluman karena aku tiba terlalu siang di Suria KLCC, mal berukuran cukup besar yang berada di podium bangunan Petronas ini. Tiket untuk naik ke atas hanya diberikan dalam jumlah terbatas setiap paginya.
Continue reading lintas petronas : ruang terbuka yang bersahabat

catatan waisyak dari tepi-tepi candi

foto9

Light is more important than the lantern,
The poem more important than the notebook
― Nizar Qabbani

Tahun ini memutuskan melihat Perayaan Tri Suci Waisyak 2555 BE.

Kenapa? Karena ada teman yang mengajak. Sebenarnya ini bukan trip budaya yang direncanakan, namun kok banyak peminat ya? Gara-gara membaca twit Wenny Gustamola dari Bandung yang dapat tiket pesawat murah ke Jogja, lalu terpikir mengunjungi candi terbesar di Jawa Tengah itu. Ditambah Endah Tri Utami, teman kuliahku dari Jakarta yang pengen sekali menyaksikan prosesi ini, dan my best travelmate Felicia Lasmana dari Bogor juga ikut, maka kuputuskan untuk mengatur perjalanan ini.

Sialnya, tiket kereta ke Yogyakarta ternyata mahal sekali. Masa untuk kereta ekonomi tiketnya mencapai lebih dari Rp. 200.000. Bukan aku tak mampu membayar, tapi rasanya nggak pantas saja harga yang harus dibayarkan ini. Jadi aku berputar haluan ke Semarang, dan didapat tiket kereta bisnis seharga Rp. 155.000. Segera kuhubungi temanku Astin Soekanto yang ternyata menyambut baik ajakan ini bahkan bersedia menjemput di Stasiun Semarang Tawang bareng dengan Pra Vlatonovic.
Continue reading catatan waisyak dari tepi-tepi candi

rendang minang #2: ber-google maps raun-raun padang

coverFB

A map such as that one is worth many hundreds, and as luck will have it, thousands of dollars. But more than this, it is a remembrance of that time before our planet was so small. When this map was made, I thought, you could live without knowing where you were not living.
― Jonathan Safran Foer, Everything is Illuminated

cerita sebelumnya : rendang minang #1: mengurai pantai di sikuai

Hari telah gelap ketika kami meninggalkan Muaro Batang Arau. Dengan berpedoman pada google map, aku dan Felicia berjalan kaki sampai penginapan. Kenapa kami memilih berjalan kaki? Melihat jarak tempuh yang diperkirakan google map hanya 21 menit, berjalan kaki akan memperkaya pengalaman lokasi dan orientasi kota. Selain itu, entah kenapa kami selalu berpikir positif bahwa semua orang itu baik, dan akan menunjukkan jalan yang benar.

dua versi dari google map, by car and by foot
dua versi dari google map, by car and by foot

Continue reading rendang minang #2: ber-google maps raun-raun padang

baduy dalam: mengembalikan energi positif dalam diri

5370_97317799132_2031769_n

“Kebudayaan yang benar dilahirkan di alam, sederhana, rendah hati, dan murni”
~ Masanobu Fukuoka

lari dari Jakarta
Ingin menenangkan pikiran? Self healing? Kembali pada alam? Macam-macam alasanku kenapa aku melakukan perjalanan ke Kanekes, Baduy Dalam ini. Lokasi ini adalah salah satu wishlist sejak remaja karena keunikan karakter kehidup. Entah mengapa selalu tertunda, karena sewaktu kuliah juga tidak kunjung ada yang mengajak ke sana,  padahal aku sudah hampir keliling Jawa Barat. Akhirnya aku setengah nekat saja. Ketika milis traveling Jejak Kaki yang kuikuti mengadakan perjalanan ke Baduy Dalam, aku memutuskan ikut.

Kesan pertama perjalanan ini adalah, persahabatan, teman baru. Karena aku ikut sendiri dengan tim Jejak Kaki yang sama sekali nggak ada yang kukenal, tapi ternyata karena semua punya sifat dasar yang sama, yaitu gokil dan doyan becanda dan juga banyak teman senasib, maksudnya solitaire dan baru kenal disitu, jadilah perjalanan ini seru-seru saja.

Kanekes ditempuh dengan bis selama 5 jam perjalanan. Kami berangkat dari Jakarta jam 9 malam ke arah Serang, lalu masuk ke arah pedalaman Banten, yang jalannya rusak parah, sehingga badan pegal di jalan, hingga sampai di Ciboleger jam 2 pagi. Dimana disitu sinyal Telkomsel hilang sama sekali hanya sinyal Indosat yang tampak plangnya sangat besar di depan Tugu Selamat datang. Menginap sejenak di satu rumah kosong dimana kita menghampar ramai-ramai, dengan udara dingin yang cukup menusuk dari jam 2 pagi sampai jam 6 (nyesel juga nggak bawa sleeping bag). Bangun pagi ada MCK umum yang kita ngantri bergantian sambil ngobrol di muka KMnya, airnya agak butek tapi ya entah lah, gelap ini, sehingga warna air tak lagi diindahkan.
Continue reading baduy dalam: mengembalikan energi positif dalam diri

ruang luas, ruang sempit

pejalan kaki

ruang luas menjauhkan, ruang sempit mendekatkan.

Pernahkah kamu mengalami ketika kamu mengambil jalan memutar tetapi lebih terasa dekat karena ruang yang kamu lalui lebih sempit? Pernahkah kamu diharuskan ke suatu tempat melintasi lapangan yang nyata-nyata lebih dekat, namun kamu memilih untuk menyisir koridor kelilingnya padahal lebih jauh secara jarak? Pernahkah kamu merasa bahwa lambat itu berharga?

Ada pengalaman yang kemudian membuat aku berpikir tentang ini. Malam itu aku pulang dari ITC Depok, seperti biasa mencari angkutan kota nomor 04 di dekat stasiun yang berada di belakang ITC Depok tersebut. Di tengah jalan kakiku di lorong sempit antara tukang-tukang jualan itu aku berpikir, lho, bukannya kalau lewat depan ITC lalu ke lampu lalu lintas sesudah terminal di samping ITC lebih dekat ya? Hanya melipir tepi jalan Margonda di depan terminal saja. Terus kenapa aku selalu lewat lorong ini? Padahal kalau dihitung langkah kaki, pasti perjalananku lebih panjang.
Continue reading ruang luas, ruang sempit