menjelajah eropa lewat @EuropeOnScreen

europe-on-screen-ticket

The whole of life is just like watching a film. Only it’s as though you always get in ten minutes after the big picture has started, and no-one will tell you the plot, so you have to work it out all yourself from the clues.
― Terry Pratchett, Moving Pictures

Gelaran Europe on Screen atau Festival Film Eropa baru saja usai dan menyisakan pengalaman-pengalaman menjelajah visual lewat mata dan layar lebar. Film memang sering membangkitkan keinginan terpendam untuk mengunjungi tempat-tempat yang disinemakan. Dalam beberapa kali perjalananku pun lebih kurang terinspirasi oleh film. Walau pun tak meniatkan dengan betul, ternyata film-film yang kutonton di Festival ini adalah film traveling tentang ruang, kota, dan kekhasan lokal di daerah-daerahnya.

Kalau ditanya oleh teman, kenapa harus menonton di Festival? Bukankah unduhannya banyak tersedia di internet? Alasanku sebenarnya sederhana, film-film Eropa banyak yang tidak masuk di jaringan besar bioskop di Indonesia. Dan ketika ada kesempatan untuk menontonnya sambil mengintip isi beberapa Pusat Kebudayaan di Jakarta, kenapa tidak? Bangunan-bangunan ini punya fasilitas audio visual yang cukup menarik, selain pengalaman serasa memasuki area negara itu sendiri.

Kali ini, aku hanya menonton di Goethe Haus Jl Sam Ratulangi Menteng, Pusat Kebudayaan Jerman yang ruang audio visualnya menyerupai bioskop dengan kursi-kursi lipat yang cukup curam sehingga nyaman untuk mata. Aku sudah beberapa kali ke sana sehingga tempat ini tak asing lagi bagiku. Selain itu aku juga menonton di IFI Thamrin, Pusat Kebudayaan Perancis yang cukup terjangkau tempatnya, dengan keamanan yang cukup ketat. Tapi sesudah melewati pintu pemindai barang-barang, suasana di dalam ternyata cukup santai.

Alasan lain tidak menonton di rumah, karena pasti berpotensi tertidur. Beberapa film yang memang bergenre drama dengan dialog yang panjang bisa menjadi membosankan ditonton di layar kecil. Pindah ke tempat dengan layar besar meminimalkan kejadian tertidur, walaupun gratis.

Winter Sleep

Film berdurasi 138 menit ini mengambil latar di Turki, tepatnya area Cappadocia yang termahsyur di musim panas dengan balon-balonnya yang mengudara di angkasa. Tapi apa yang bisa dilakukan di sana pada musim salju? Bercerita tentang pengusaha hotel goa batu yang memiliki berbagai properti di sekitarnya, juga masalah hati keluarganya. Sejak pertama layar memperlihatkan lansekap goa-goa batu yang ditatah untuk dijadikan tempat tinggal, aku terpesona. Lekuk pegunungan dengan anak tangga batu, ruang-ruang dalam yang dingin dan memerlukan penghangat, lubang-lubang jendela yang dramatis, ditambah salju yang menghampar di belakang, menahanku untuk tetap duduk dan menikmati di tengah dialog-dialog super panjang dan filosofis.

Kehidupan in-the-middle-of-nowhere ini juga kaku dan dingin, seperti batu-batu yang melingkupinya, dan udara dingin yang menjadi latar musimnya. Pertengkaran rentan terjadi dalam diam dan senyum sinis, membawa rahasia-rahasia yang tak terungkapkan karena semua menyimpannya dengan rapat. Tak ada sinar matahari yang cerah di musim ini, seiring hujan salju semestinya tempat ini bisa menjadi perfect-hideaway.

cave dwelling turkey (pic from pinterest)

cave dwelling turkey (pic from pinterest)

gamirasu cave hotel (pic from koolroom.com)

gamirasu cave hotel (pic from koolroom.com)

100 years old men who climbed out the window and disappeared

Ketika sudah mencapai usia 100 tahun dan mengalami hidup yang luar biasa, apakah ulang tahun yang biasa juga untuk memperingatinya? Allan, seorang Swedia yang menghabiskan masa tuanya di rumah jompo memutuskan untuk melakukan petualangan kecilnya. Siapa sangka yang dilibatkan menjadi perkara besar. Allan muda yang mengalami hidup yang berpindah-pindah, mulai dari rumahnya, hingga hobinya meledakkan dinamit membuatnya diterima dengan mudah di ketentaraan, bersama Sekutu menghadapi Jenderal Salamanca di perbatasan Spanyol. Allan yang juga sempat tak sengaja terdampar di negeri Mikhail Gorbachev terperosok juga ke kamp Gulag, hingga bebas.

Menonton film ini dengan latar perjalanan Allan di berbagai negara sembari mengingat sejarah-sejarah besar dunia. Khas film Eropa, film ini tumpul oleh gunting sensor adegan-adegan ledakan yang keras, kepala terlontar atau banyolan yang menjurus porno. Melihat Allan tetap selamat walau hampir seumur hidup seorang diri, karena teman baiknya selalu di mana-mana. Aku menonton film ini sebelum membaca bukunya, tapi kurasa tetap menarik untuk membacanya juga.

on their escaping by railroad (pic from prae.hu)

on their escaping by railroad (pic from prae.hu)

meet the elephant (pic from butlercinemascene)

meet the elephant (pic from butlercinemascene)

Night Train to Lisbon

Jeremy Iron membawa menyusuri sudut-sudut kota Lisbon, Portugal, yang tak sengaja ia jelajahi karena penasaran dengan buku yang ditinggalkan seseorang dalam jaketnya. Kota Lisbon di tepi laut dengan kontur bertingkat-tingkat membuat suasana anggun dan cantik terus menemani seluruh lansekap yang ditangkap mata. Buku yang berisi catatan harian seorang dokter dari Portugal ini tentang caranya memandang hidup menciptakan gambaran kota di masa lalu ketika pemberontakan pada jenderal Mendez bergulir di mana-mana.

Menikmati perjalanannya di antara trem, perpustakaan, hotel tua, laut, juga bercerita tentang nostalgi sejarah lampau membuat ingin mengunjungi negeri Luis Figo ini di kemudian hari nanti. Gambaran lambat menyajikan detil-detil arsitektur kota yang indah, bangunan-bangunan kuno yang masih dijaga sejak masa lampaunya, hingga kuburan yang terawat apik. Perjalanan singkat ini begitu memberikan kesan bahwa mungkin setiap orang memang perlu berbuat nekat satu kali dalam hidupnya, walaupun tak tahu apa yang menghadapinya di depan. Siapa sangka perburuannya dengan cerita buku itu mendapatkan kata : Why don’t you just stay?

Lisbon landscape (pic from popculture-y.com)

Lisbon landscape (pic from popculture-y.com)

Tram inside Lisbon (pic from scissorsclosetsandstreets)

Tram inside Lisbon (pic from scissorsclosetsandstreets)

Exit Marrakech

Apa yang harus dilakukan anak muda Jerman jika harus menghabiskan liburannya di negara muslim yang eksotik ini? Alih-alih menghabiskan waktu dengan semua fasilitas mewah yang didapat, remaja ini malah berkeliling melihat kehidupan sehari-hari penduduk Maroko. Sempat ada pertentangan antara ia dan ayahnya yang sutradara teater yang sedang pentas. Lewat film ini aku menyaksikan potret kota yang bersolek cantik di satu sisi, namun bobrok juga di sisi lainnya.

Saking isengnya, si pemuda kabur mengikuti gadis yang baru dikenalnya untuk pulang kampung. Sisi Maroko dengan kota yang berbukit-bukit berubah ke luar kota dengan hamparan tebing-tebing batu yang didominasi warna coklat, hampir-hampir menuju gurun. Kehidupan kaum muslim di desa-desa di tengah perbukitan batu yang panas memperlihatkan keaslian budaya di situ. Tentu gegar budaya akibat tibanya si pemuda di situ menjadi perdebatan.

Pelarian si pemuda membuat ayahnya kalang kabut mencarinya. Dialog-dialog hubungan ayah-anak yang terpisah semasa remaja ini mencairkan kekakuan diantara mereka. Gurun, batu, jalan panjang, tersesat, makanan khas, menjadi ikon lokalitas yang begitu kuat terhadap tema Maroko. Perjalanan yang mengembalikan hubungan yang lama hilang.

the magnificent marrakech (pic from wikipedia)

the magnificent marrakech (pic from wikipedia)

the boy in the middle crowd (pic from clutchpr.com)

the boy in the middle crowd (pic from clutchpr.com)

Film-film ini melemparkanku ke ruang-ruang hidup di sisi-sisi yang tak biasa, bersentuhan dengan tradisi lokal yang masih dijaga atau hanya sebagai pesan latar. Sudut-sudut pengambilan gambar yang cantik menerbangkan dari tempat dudukku ke emosi imaji vista yang disampaikan oleh sutradaranya. Warna-warna dominan cokelat dan putih memberikan gambaran nuansa Eropa dalam bingkai layar.

Menonton EuropeOnScreen tidak sama dengan menonton film di bioskop biasa. Sebelum pertunjukan selalu ada pembukaan dari MC, dan berakhir dengan tepuk tangan. Seru kan? Apalagi tanpa tanda masuk alias gratis. Tempat duduk juga bisa pilih sendiri suka-suka kita. Sudah beberapa tahun mengikuti event ini dan ternyata tetap seru hingga sekarang. Asyik juga, subtitle-nya dalam bahasa Inggris.

Padahal, tahun ini aku tidak merencanakan benar-benar ingin menonton, lho. Baru setelah hari pertama pemutaran, langsung tiba-tiba kepingin lalu mengecek jadwal, dan cocoklah dengan lokasi dan jam pemutarannya. Kalau tak ada teman, nonton sendiri tak mengapa, cuma film ini. Untuk jadwal tahun depan, ikuti saja twitternya di @EuropeOnScreen atau http://www.europeonscreen.org. Nanti muncul kabarnya!

[almost midnight at the room with yellow light 25.05.2015 : 23.40]

Advertisements

12 thoughts on “menjelajah eropa lewat @EuropeOnScreen

  1. Gara says:

    Saya bisa membayangkan bagaimana kata teman saya yang begitu semangat ketika cerita soal film eropa. Tentang sinematografinya yang berbeda, temanya yang unik, latar tempat yang ikut bercerita, sampai tokoh-tokoh yang merupakan gambaran sifat manusia yang asli. Untuk saya yang awam film, awalnya itu cuma saya anggap pendapat semata, sampai saya membaca tulisan ini dan sedikit banyak mulai membenarkan pendapatnya :)).

    Karya sinema yang kaya :)).

  2. Anita Dwi Mulyati says:

    Link Youtube-nya berguna banget nih buat nonton. Nanti nyicil nonton ahh..Cappadocia on Winter..Marrakech bersama adegan cowo ganteng..Jadi bikin can’t hardly wait to go there feeling nih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s