wayang, upaya memperkuat nilai-nilai luhur bangsa

IMG_2994 

Sehabis lesat pasopati, senja datang tergesa, perang terhenti. Seorang ibu meraihmu dalam gugu yang nyeri. Gelombang rindu tak sampai-sampai. Betapapun telah deras berbadai-badai hujan di batinnya, untukmu Karna cukuplah kiranya gerimis wangi ini. Kami dilarang menangisi.‪ #‎karnatandhing_020315‬

Di panggung Mahakarya Indonesia, Nanang Hape mengangkat Karna di tangannya, si ksatria dari Hastina yang dipisahkan dengan kelima saudara-saudaranya Pandawa Lima, dan terpaksa bertarung melawan mereka karena setianya pada sang guru, Duryudana. Lelaki ini, yang berusaha untuk bercerita tentang wayang untuk generasi muda yang sudah mulai melupakan kebiasaan-kebiasaan lama ini.

Aku ingat dulu sewaktu kecil, sering ada pertunjukan wayang kulit di kampung kakekku yang dipentaskan hingga semalam suntuk. Waktu itu aku tidak banyak tahu tentang cerita-cerita ini, tapi pelajaran bahasa Jawa berhasil membuatku penasaran untuk mengetahui lebih banyak kisah-kisah mereka. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Gatotkaca, putera Bima yang perkasa, atau keanggunan Abimanyu yang mewarisi ketampanan Arjuna dan cantiknya Dewi Subadra. Mulailah aku banyak membaca tentang kisah-kisah Pandawa Lima yang semua berakhir dengan perang besar di Kurusetra.
Continue reading

Advertisements

earthday2015 : dilema batu kapur

tebing-karst-citatah

The harder you fall, the heavier your heart; the heavier your heart, the stronger you climb; the stronger you climb, the higher your pedestal.
― Criss Jami, Killosophy

Kira-kira sepuluh tahun lebih yang lalu, ketika aku masih kuliah, aku cukup sering berkunjung ke daerah Citeureup, kabupaten Bogor, karena di sana banyak sekali goa-goa kapur yang bisa dikunjungi. Yang kuingat adalah goa Keraton yang bisa masuk horisontal dengan ornamen-ornamen yang indah. Stalagtit yang menggantung, yang terbentuk dari endapan air kapur, disinari cahaya senter kami. Lalu ada beberapa goa vertikal yang sempat kami turuni sebagai latihan menggunakan menggunakan tali statik dibantu dengan jummar untuk naik kembali.

    Beberapa tahun yang lalu aku bertanya lagi pada junior-juniorku tim caving, masih sering ke Citeureup?
    Goanya sudah runtuh, kak.

Continue reading

[giveaway] travelio : interior hotel keren

cover-interior-mercure-lift

    @viraindohoy : @miss_almayra buruan sampai sini! Kamarnya bagus!
    Vira mengirimkan lewat twitter gambar kamar yang kami tempati di Lombok tempat kami menginap bulan Oktober tahun lalu. Aku terkikik membaca kicauannya.
    @miss_almayra : @viraindohoy dasar blogger! nyampe hotel pasti langsung foto!
    Dan aku langsung kepingin buru-buru sampai untuk melihat interior ruangan seperti yang ditunjukkan Vira. Menyesal karena sempat ketinggalan pesawat dan harus menunggu lima jam lagi.

Pernahkah kamu memilih tempat menginap di masa liburan berdasarkan interior di dalamnya? Atau memilih tempat menginap untuk bussiness trip berdasarkan interior suasana hotel yang dilihat di situsnya? Atau suka melihat-lihat interior hotel di majalah?

Aku, tentu saja selalu suka memperhatikan detil-detil interior hotel, baik di situs, di buku-buku, di majalah, ataupun di hotel-hotel yang aku inapi, karena tuntutan pekerjaan, dong. Sebagai arsitek yang beberapa kali mendesain hotel, sangat perlu berkoordinasi dengan desainer interior yang akan mempercantik ruangan-ruangan tertentu dari hotel, karena berkaitan dengan desain-desain eksterior, dinding, lantai, dan lain-lain yang saling bertemu.
Continue reading

kenangan simpang tugu muda semarang

cover-tugu-muda

selalu ada beberapa kenangan yang tidak pernah pudar…

Yang paling kuingat dari kota Semarang yang pernah menjadi kota tinggalku selama lima tahun, adalah Tugu Muda dan Lawang Sewu. Betapa tidak, rumahku dulu di daerah Karangayu tidak terlalu jauh dari situ sehingga bisa dibilang ke mana pun ayah dan ibuku membawaku di dalam kota Semarang, hampir pasti akan melewati dua ikon menarik Semarang ini.

Diajak ibu belanja ke Pasar Bulu? Selemparan pandangan mata, pasti kulihat Tugu Muda. Ikut ke kantor ayah di dekat Pasar Johar? Untuk mencapai Jalan Pemuda terus hingga ke Johar, melewati Tugu Muda. Olahraga pagi ke Stadion Tri Lomba Juang? Berangkat dari rumah pasti melewati titik ramai ini. Ke Simpang Lima untuk nongkrong-nongkrong dan makan tahu petis? Sebelum melewati jalan Pandanaran pasti lewat Tugu Muda juga. Tak heran, di usiaku yang waktu itu amat belia, Tugu Muda lekat sekali dalam ingatanku sampai bertahun-tahun kemudian, aku kembali lagi ke sana.

Continue reading

filosofi kopi : review film dari bukan penggemar kopi

filosofi-kopi-cover

Peminum kopi itu pemikir, peminum teh itu romantis.

Kata-kata itu pernah kusampaikan pada seorang teman bertahun-tahun yang lalu, dalam satu perdebatan minuman pagi, kemudian dikutip dalam novel yang ditulisnya. Buatku yang tidak kuat minum kopi, kalimat itu untuk menjustifikasikan diriku yang romantis. Padahal sesungguhnya, suka membaca buku puisi ditemani segelas teh sambil memandang hujan itu bisa dilakukan siapa saja. Oh, tapi ternyata lebih banyak waktuku memandang hujan sambil memandangi berkas-berkas gambar dan angka-angka. Sungguh tidak romantis. Pemikir, iya. Apa sebaiknya aku minum kopi saja?

Sedari dulu aku memang jarang meminum kopi, sering mencoba memaksakan diri untuk minum biji hitam dengan merk instan ini sembari mengerjakan tugas-tugas gambar, malah membuat perutku bergemuruh tak karuan, malah memaksaku untuk berbaring menenangkan rasa mual. Jadi, walaupun aku harus berpikir banyak, tapi kopi tidak mampu menjadi teman diskusiku.
Continue reading

candi gedong songo : menapaki jalan batu bersusun pagi hari

candi-gedong-songo-3-d

    salamku matahari, wangi pohon, dedaunan, kupu-kupu menari,
    embun di pucuk-pucuk rerumputan.
    ikutlah bersama dan menyapa batu-batu, cukup kuatkan kakimu.

Jam ponselku menunjukkan pukul enam pagi ketika kami tiba di pelataran kompleks candi Gedong Songo. Sesudah berada dalam mobil selama hampir satu jam, angin pegunungan berhembus menggigit tulang seketika pintu terbuka. “Wah, tukang karcisnya belum buka. Sarapan dulu, yuk!” ajak Astin yang menyetir mobil sejak jam lima pagi tadi di Semarang mengeluh lapar. Beruntunglah ada satu warung yang menjual mi instan rebus yang mampu mengganjal perut sebelum mulai mendaki.

Candi Gedong Songo terletak tidak jauh dari kota Semarang. Dari Banyumanik, kawasan atas kota Semarang bisa ditempuh dalam waktu satu jam mengendarai mobil menuju arah Ambarawa, kemudian berbelok ke arah barat dan terus mendaki sampai daerah Bandungan. Daerah dataran tinggi yang sering menjadi tempat peristirahatan warga Semarang ini jalannya tidak terlalu lebar sehingga membutuhkan skill yang cukup untuk menyetir belok sambil mendaki begini. Untung Astin cukup piawai mengemudikan mobilnya sampai-sampai tidak mau kugantikan. Mungkin dia tidak percaya pada kemampuan anak kota sepertiku. Setelah beberapa kali berbelak-belok melewati villa-villa asyik dan Pasar Bandungan, kami tiba di pelataran parkir Kompleks Candi Gedong Songo. Untung tadi Astin masih ingat dengan jalannya, sehingga kami bisa sampai. Daripada mengandalkan googlemaps yang sinyalnya timbul tenggelam, lebih disarankan bertanya pada penduduk setempat apabila menemukan persimpangan meragukan.
Continue reading

5 tindak tanduk asyik di batam!

cover-batam

Be like a bridge; be on this side, be on the other side and be on no side! In other words, be in everywhere because the highest wisdom can be attained only by being everywhere!
― Mehmet Murat ildan

“Mau ngapain di Batam, kan tidak ada apa-apanya!” pasti begitu komentar teman-teman yang dimintai rekomendasi tentang pulau kecil ini. “Mampir Batam doang sih, kalau mau ke Singapura!” atau “Tiket ke Batam lebih mahal daripada ke Singapura!” begitu pendapat yang lain juga. Tang ting tung, mungkin pendapat orang berbeda-beda, dilihat dari kepentingan dan cara pandangnya.

Mendengar kata Batam, yang teringat pasti pulau kecil yang berhadapan dengan negeri jiran Singapura. Sejak dikembangkan menjadi daerah industri di tahun 1970-an, pulau yang tadinya tidak ada apa-apanya ini mulai menjadi daerah industri dengan dibangunnya pabrik-pabrik di sana sini, dan berangsur-angsur memunculkan kantung-kantung pemukiman sebagai ruang bertinggal yang tentu membutuhkan pendukungnya sebagai fungsi kota. Nama Batam selalu dibayang-bayangi dengan Singapura, yang hanya sejauh 1/2 jam pelayaran namun memiliki infrastruktur dan wisata yang dipromosikan terus menerus.
Continue reading