menjajal rangers chicken di MORStore gajahmada

cover MOR

I brush my teeth with a leg of fried chicken, and gravy is my toothpaste.
Jarod Kintz, This Book Has No Title 

Apa yang membuatku kabur dari meeting sabtuan di kantor dan memilih makan ayam? Tentu saja ketemu dengan kak Cerita Eka yang centil dan super ceriwis sesudah mendapat undangannya untuk menjajal salah satu restoran di daerah Gajahmada, Jakarta Pusat. Melihat alamatnya, kelihatannya cukup strategis dan mudah dijangkau, ya.

Benar saja, hanya berjalan-jalan cantik sejenak dari halte busway Harmoni, walaupun agak panas terik, namun menemukan toko (ternyata bukan restoran) MORStore yang ber-AC amat melegakan jiwa (katanya petualang, tapi ketemu ruang dingin girangnya bukan main). Langsung saja aku bercipika-cipiki dengan kak Eka termasuk membesut gosip yang cuma kami berdua yang tahu (hush!). Tapi tentang MORStore sendiri, buat apa dirahasiakan, justru banyak hal-hal asyik yang bisa dibagi.

Continue reading

Advertisements

ramadhan itu istimewa

masjid istiqlal

Malam ini, seperti kebiasaanku di tahun-tahun sebelumnya sejak 12 tahun yang lalu mengadu nasib di ibukota, aku pulang terburu-buru untuk menunaikan ibadah sholat tarawih pertama bersama keluarga. Buatku pribadi, sholat tarawih pertama menjadi penting sebagai penanda masuknya bulan Ramadhan yang menjadi bulan yang istimewa.

Sejak pertama kali diperkenalkan dengan bulan Ramadhan sewaktu kecil, aku merasa bulan ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Pikiran anak kecil yang sederhana ini hanyalah kalau bulan puasa, mama tak akan ribut menyuruh aku makan (itulah kenapa badanku kecil). Setiap sore selalu ada penganan dan minuman segar lezat yang dihidangkan. Kami sekeluarga akan menunggu adzan magrib untuk berbuka bersama dan sholat magrib bersama-sama. Lalu aku akan bergerombol dengan teman-teman menuju masjid untuk (niatnya) sholat isya dan tarawih, walaupun kadang lebih sering bermain-main ketika orang dewasa sholat, dan hanya menghampiri penceramah untuk meminta tanda tangan dan cap masjid. Jika tidak lengkap, bisa-bisa nilai agamaku jatuh.
Continue reading

solo traveling at cirebon : bersendiri di kota udang

cover

Menurut aku, salah satu kota yang asyik untuk solo traveling itu adalah Cirebon. Kenapa demikian? Pertama karena aku lahir di sana, namun tidak pernah tinggal di situ sehingga setiap tahun selalu mampir untuk berkunjung pada kerabat. Masalahnya, dari seluruh sepupu-sepupu yang sebaya itu, tak satu pun yang tertarik untuk mengamati peninggalan budaya yang tersebar di berbagai kota seperti aku. Kalau makan, kami tetap pergi beramai-ramai. Jadilah aku yang suka membaca buku sejarah ini berkeliling Cirebon tanpa ditemani pemandu. Solo traveling, kenapa kamu tidak?

Cirebon berada di propinsi Jawa Barat, tepatnya di pesisir pantai utara Jawa yang tak jauh dari perbatasan ke Jawa Tengah. Lokasinya yang sedikit bimbang ini membuat dialek bahasanya cukup berbeda dari bahasa Sunda pada umumnya di propinsi Jawa Barat. Bahasa Cirebon agak bercampur dengan bahasa Jawa, dan cengkok pengucapannya pun agak berbeda. Seperti karakteristik bahasa untuk kota-kota di tepi pantai, pengucapannya tidak halus, cenderung cepat dan keras.

Dengan posisi geografisnya, Cirebon di masa lalu sering dirapati oleh pendatang dari berbagai bangsa, seperti Melayu, Tionghoa, dan Arab. Bertempat juga di jalur pos utara Jawa, menjadi titik perpindahan suku Sunda dan Jawa. Akulturasi dari pertemuan ini membentuk budaya yang kaya baik dari makanan, pakaian, atau bangunan dan masih bisa dinikmati hingga hari ini.

Continue reading

rumah dunia, serang : pelabuhan mimpi pejalan

petunjuk-rumah-dunia x

Kenapa tak pernah kau tambatkan perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu pelabuhan tenang
yang mau menerima kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada satu pelabuhan kecil,
yang kemudian harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu,
dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

[Pelabuhan, Tias Tatanka]

Gola Gong (dan aku berkeras menulis ejaannya seperti aku pertama kali mengenalnya dulu) adalah sosok yang sangat menginspirasi. Aku bisa berkata bahwa tulisan-tulisan dan bukunyalah pernah membalikkan hidupku. Aku ingat bertahun-tahun yang lalu ketika aku masih menjadi remaja yang tenggelam dalam rutinitas belajar, suka membaca buku-buku populer, tiba-tiba diperkenalkan pada sosok Roy, karakter ciptaannya yang menjelajah bumi Indonesia, bertualang ke Asia Tenggara hingga India. Sesosok remaja ganteng yang menjadi idolaku, membuatku jatuh cinta dan terpaku untuk mengikuti ke mana arah perjalanannya.

Roy dan Gola Gong mengubahku dari gadis remaja biasa yang rajin belajar, menjadi dewasa oleh perjalanan. Seseorang yang berkacamata tebal dan kutu buku menjadi berani berkenalan dengan orang baru, mencoba hal-hal di luar hal biasa dan menentukan sikap. Berani mengambil keputusan untuk jauh, berani menerima tantangan. Berani untuk naik gunung, menjelajah, belajar ke alam, berpendapat dan bersuara. Bertahan karena merasa benar. Roy membuatku kembali menulis tentang hari-hari, bercerita kisah-kisah yang aku lalui dan tidak membuatku meninggalkan buku-bukuku.
Continue reading

1O1 suryakancana bogor : latar gede-pangrango

cover

Suatu hari ketika aku rindu bangun di kota yang lain, menikmati jendela yang berbeda, menghirup udara pagi yang lebih sejuk, mengamati ruang kota yang dinamis, menghamparkan pegunungan dalam jarak, tanpa menjadi terlalu penat. Kesibukan sehari-hari ke arah utara, menelan derap langkah kaki di stasiun dan pergerakan cepat membuatku ingin melambat sejenak.

Slow down, you need a rest.

Seorang teman pernah bercerita bahwa ia jatuh cinta pada Bogor yang dijuluki kota hujan, menyukai pohon-pohon besarnya di sepanjang jalan, makanan-makanan pinggir jalan yang lezat, gadis-gadis cantik dan ramah, rusa-rusa di depan istana, embun pagi dan rerintik di sore hari. Dan begitulah, titik-titik air dari langit menyambutku yang turun di stasiun Bogor.

Dear rain, hide my tears.
Continue reading