kampung naga dalam uraian uriya

cover
“Tiap orang harus berani mengembara, mematangkan diri, memetik tiap pengalaman menjadi guru, yang akan memberi makna hidup lebih dalam, dan boleh pulang kelak, bila ia sudah cukup paham akan apa arti hidup. Dan itu semua hanya akan diperoleh di tempat yang jauh dari kampung halaman, yang tak pernah punya janji masa depan.”
-Mohammad Sobary

Ini adalah kali keduaku ke Kampung Naga. Hampir tiga tahun yang lalu aku tiba di pemukiman tradisional ini ketika matahari hampir tenggelam sehingga tak banyak menggali tentang tempat ini karena keburu gelap. Saat matahari kembali ke peraduannya, gelap seakan jatuh di desa ini. Tak ada terang lampu yang menengahi rembang petang. Satu dua obor dihidupkan di depan rumah-rumah yang membujur arah timur barat. Suara bedug mesjid besar dipukul tiga kali, diikuti kumandang adzan maghrib tanpa pengeras suara. Angin lembah menyelisip di sela-sela rumah, memberi sedikit gigil pada yang berdiri di luar rumah. Suara tenggerek bersahut-sahutan dari hutan di balik sungai. Merdu seperti berirama khas pedesaan. Satu tempat yang tak jauh dari peradaban kota. Ah, beradab adalah satu makna relatif dalam satu habitat. Tak semua harus mengikuti satu parameter bukan?

Sebenarnya Kampung Naga berada hanya sekitar 30-an km dari kota Garut. Namun karena berada dalam kabupaten Tasikmalaya, maka sering orang tersesat hingga dikira Kampung Naga berada di jalur Garut Tasikmalaya yang melalui Malangbong, satu jalan propinsi di jalur selatan yang populer sebagai alternatif menuju Timur. Padahal Kampung Naga berada di jalur Garut Tasikmalaya via Singaparna, jadi agak ke sebelah baratnya kota Garut menuju selatan. Bila berada di kota Garut, ambillah arah petunjuk jalan yang menuliskan kecamatan Salawu atau Singaparna. Dari terminal Garut juga bisa naik bis 3/4 atau elf yang melaluinya. Jangan khawatir kelewatan, supir atau kenek jalur itu pasti menurunkan di depan gerbang Kampung Naga.

Dari tepi jalan terdapat lapangan parkir dengan tugu kujang di tengahnya yang menandakan area masuk ke Kampung Naga. Terdapat warung-warung untuk membeli cemilan atau istirahat. Tempat ini juga dilengkapi toilet. Di satu sudut, berkumpul beberapa warga Kampung Naga yang sudah dididik menjadi pemandu. Aku, Sanjaya, Bintang, Lanny dan Fadi keluar dari mobil. Pak Alit supir kami memilih untuk beristirahat saja warung-warung sekitar area parkir, tidak ikut turun ke kampung.

Seorang lelaki berbaju hitam berperawakan sedang menghampiri kami. Ia menanyakan keperluan kami datang ke situ. Ketika kami menjelaskan tujuan kunjungan ini hanya berjalan-jalan biasa, ia menjawab,”Menurut peraturan di sini, setiap orang luar yang berkunjung ke Kampung Naga harus menggunakan pemandu. Nanti akan dijelaskan tentang kampung juga tempat-tempat yang dianggap keramat yang juga tidak boleh diambil gambarnya. Untuk melindungi pendatang juga supaya tidak salah melangkah.”

Pemuda 20-an tahun ini memperkenalkan diri dengan nama Uriya. Dengan fasih ia menjelaskan tentang kampung yang berisi 108 kepala keluarga itu. Kami berenam menuruni tangga batu yang direnovasi oleh pemerintah tahun 2009 menjadi 439 anak tangga. Tangga ini cukup nyaman diinjak, cukup lebar dan takikannya tidak terlalu tinggi. Di sampingnya terdapat saluran air yang mengalir sampai ke sungai.

Tak sampai 10 menit berjalan kaki, kami tiba di tepi sungai yang berarus tidak terlalu deras. Air sungai ini bisa dialirkan ke sawah-sawah warga di sampingnya apabila debitnya normal. Di seberang sungai terdapat hutan yang terlarang bagi seluruh warga Kampung Naga untuk memasukinya. Ketika kami tiba, debit air sedang normal, dan padi belum memasuki masa panen. Tumbuhan padi setinggi dada orang itu masih hijau menghampar. Di sini panen setahun hanya 2x yang dipanen secara tradisional dengan ani-ani.

sawah, jalan, sungai, dan hutan larangan

sawah, jalan, sungai, dan hutan larangan

Kami berjalan dan menemukan saung sawah yang sering digunakan untuk beristirahat ketika bekerja di sawah. Tak jauh dari situ, tampak kolam ikan mas yang mengelilingi bangunan untuk menumbuk padi. Kampung Naga dibagi menjadi dua bagian, untuk bermukim di bagian dalam, dan bersawah dan lainnya di luar. Mandi, memelihara ternak, menyiangi padi, semua dilakukan di luar pagar batas pemukiman yang terbuat dari bambu.

saung sawah dan anak-anak bermain

saung sawah dan anak-anak bermain

saung luar untuk menyiangi padi

kolam ikan dan saung tempat mengupas batang padi

mang uriya menerangkan fungsi lesung dan penumbuk

kang uriya menerangkan fungsi lesung dan penumbuk

Sebagian besar penduduk Kampung Naga bermata pencaharian sebagai petani. Anak-anak mereka sekolah, namun harus berjalan kaki ke luar kampung setiap hari. Beberapa pemandu di sini adalah hasil didikan bersama untuk menjaga budaya lokal mereka. “Kampung Naga terdapat 113 bangunan,” ujar Kang Uriya, “Disini dipimpin oleh Pak Kuncen yang bertugas sebagai pemangku adat, Pak Lebe yang bertugas di bidang keagamaan, dan Pundu yang bertugas mengayomi masyarakat.”

Jadi di Kampung Naga ada dua sistem pemerintahan, pertama secara adat, yang jabatan-jabatannya didapat turun temurun dalam keluarga, kedua secara pemerintahan formal. Di sini ada ketua RT yang mengurus masalah kependudukan dan jabatannya melalui musyawarah warga.

Kampung Naga yang berasal dari istilah Kampung Na Gawir atau Kampung di tebing, karena lokasinya di lembah bertingkat-tingkat. Lama kelamaan populer dengan sebutan Kampung Naga. “Kalau ular di sini namanya ular naga, kalau di kota kan ular kota,” seloroh Kang Uriya.

Antara luar dan dalam dibatasi oleh pagar bambu. rumah-rumah hanya boleh didirikan di dalam lingkungan pagar bambu tersebut. Semua pekerjaan dilakukan secara gotong royong. Meletakkan posisi rumah tidak boleh sembarangan, harus mengikuti alur banjar yang sudah ada sebelumnya.

kolam ikan yang membatasi area pemukiman

kolam ikan yang membatasi area pemukiman

pagar bambu ini batas area bermukim

pagar bambu ini batas area bermukim

kang uriya memasuki pagar batas pemukiman

kang uriya memasuki pagar batas pemukiman

Rumah-rumah di Kampung Naga tidak terlalu besar, ukurannya rata-rata 5×6 m2. Semua rumah memanjang ke arah lembah dari barat ke timur sehingga berhadapan arah utara dan selatan dalam beberapa jalan kecil sejajar. Jarak berhadapan antar rumah sekitar 1-2 m berupa tanah alas tanpa perkerasan apa pun yang juga berfungsi sebagai jalan desa. Tidak terlalu tinggi juga sehingga kepala masih bisa meraih ujung atap yang terbuat dari injuk pada bagian luar dan tepus sebagai penahan dalam.

Ada beberapa level ketinggian dalam kampung ini tergantung kontur tanahnya, sehingga membuat permukiman ini tampak bertingkat. Tidak ada kekhususan posisi di sini karena rumah sudah dimiliki secara turun temurun. Dalam satu area, jarak tepi rumah satu dengan lainnya sangat rapat, hampir tak tercelah. Namun ada beberapa gang yang terbuka memisahkan rumah dan bisa dilalui orang.

jalan antara dua rumah yang berhadapan utara selatan, rumah panggung menggantung

jalan antara dua rumah yang berhadapan utara selatan, rumah panggung menggantung

anyaman sasag di pintu dapur dan tempat ayam bertelur

anyaman sasag di pintu dapur dan tempat ayam bertelur

Kami melangkah ke kanan dan menemukan satu area terbuka yang ditutup lagi dengan pagar bambu. “Ini bekas petilasan atau tempat sholat jaman dulu,” jelas Kang Uriya. Oh, rupanya ini salah satu tempat yang tidak boleh mengambil gambar di sini. Dua tahun lalu ketika ke sini, aku tak mampir ke titik ini, karena kami langsung ke atas pemukiman.

Keluar dari lorong di antara rumah-rumah ini, kami bertemu dengan lapangan besar. Tempat ini adalah ruang bersama warga Kampung Naga untuk berinteraksi sosial. Beberapa rumah-rumah di sini menjual cinderamata hasil karya mereka sendiri. Banyak anak-anak bermain di halaman yang berhadapan langsung dengan masjid itu.

lapangan tempat bersosialisasi

lapangan tempat bersosialisasi

Bedug dipukul tiga kali, dan adzan Ashar berkumandang. Masjid ini adalah bangunan terluas di Kampung Naga dan bisa menampung seluruh warga apabila berkumpul bersama. Bangunan ini berdinding kayu sama dengan rumah-rumah lain dengan kisi-kisi ventilasi silang-silang. Tidak ada satu ukiran khusus pada bangunan masjid ini, sesederhana cara hidup mereka sehari-hari. Ada tempat wudhu yang dibangun dari batu dan selalu mengalirkan air yang berasal dari mata air.

masjid yang juga sering dipakai untuk perrtemuan

masjid yang juga sering dipakai untuk perrtemuan

bagian perempuan, bagian laki-laki, dan bagian depan (imam) masjid

bagian perempuan, bagian laki-laki, dan bagian depan (imam) masjid

Di belakang masjid agak menyudut ke utara terdapat Bale Ageng yang termasuk dalam bangunan yang tidak boleh diambil gambarnya, karena di sini adalah tempat diadakannya upacara-upacara adat desa. Posisi Bale Ageng ini juga lebih tinggi kira-kira 3 m dan dihubungkan dengan tangga batu yang cukup lebar. Pada saat upacara adat, barulah penduduk Kampung Naga memakai pakaian adatnya yang berupa jubah panjang. Dalam hari-hari biasa, pakaian adat itu tak diperkenankan dipakai.

Kang Uriya mengajak kami untuk mampir di rumah neneknya yang tak jauh dari masjid. Tempat tinggal ini menghadap selatan dan berada di ketinggian kira-kira 2 m lebih tinggi dari tanah masjid berdiri tadi. Kontur desa yang bertingkat-tingkat membuat rumah-rumah tersusun tidak pada ketinggian yang sama.

rumah keluarga kang uriya

rumah keluarga kang uriya

Rumah kayu ini berdiri pada pondasi batu beton pada masing-masing kolom kayunya. Ada teras kayu di depan sebagai area bersosialisasi. Terdapat dua pintu di sisi depan, satu pintu untuk ruang tamu, dan satu pintu lagi ke dapur. Bahan dindingnya pun berbeda, ruang tamu berdinding papan kayu yang disusun, sementara dapur dengan anyaman bambu yang disebut ‘anyam sasag’. Celah-celah pada anyaman bambu ini membuat asap dapur mudah keluar dari sela-selanya sehingga tidak menimbulkan kepengapan di dalam. Biasanya di bagian kolong rumah dipakai sebagai tempat memelihara binatang ternak ayam atau tempat menyimpan persediaan kayu bakar.

sisi depan dengan dua pintu : panil kayu untuk ruang tamu, anyaman untuk dapur. rumah panggung di atas batu

sisi depan dengan dua pintu :
panil kayu untuk ruang tamu, anyaman untuk dapur
rumah panggung di atas batu

Kami duduk di ruang tamu yang juga berlantai papan itu. Di sini, kayu tidak boleh dilapis bahan kimia apa pun, sehingga untuk perlindungan ketahanan kayunya paling bisa menggunakan kapur. Ternyata dinding papan hanya digunakan pada ruang tamu, karena untuk ruangan kamar-kamar di belakangnya semua menggunakan anyaman bilik bambu yang juga dilapis kapur. Ruang tamu cukup terang karena bukaan jendelanya semua menggunakan kaca, sementara untuk ruang-ruang dalam jendela berterali dengan daun jendela kayu masif. Kalau siang daun jendela ini terbuka untuk dan sesekali ada yang ditutup tirai. Diperkenankan menggunakan paku sebagai sambungan lantai papan dan kusen pintu jendela. Antar kayu hampir tak berjarak dan membuat udara di dalamnya terasa hangat.

ruang tamu berjendela banyak sebagai ventilasi udara

ruang tamu berjendela banyak sebagai ventilasi udara

ruang tengah, pintu-pintu kamar dan lantai papan kayu

ruang tengah, pintu-pintu kamar dan lantai papan kayu

Memasuki dapur, material yang digunakan sangat berbeda. Tak hanya anyaman sasag yang melapisi dinding yang membuat pengudaraannya baik, lantai dapur tak menggunakan papan kayu melainkan bambu belah. Dari sini udara bisa menyelisip keluar dan udara luar pun bisa masuk ke dalam. Sebuah tungku batu berdiri di tengah-tengah dengan tumpukan kayu di atasnya untuk bahan bakar memasak. Alat masak digantung dengan rapi di sekelilingnya. Jendela berterali di samping cukup memberi penerangan pada dapur berukuran 2 x 3 m tersebut. Jika pintu-pintu pada ruang tamu maupun ruangan-ruangan lain menggunakan pintu panil kayu, di dapur pintunya juga berventilasi dengan anyaman sasag tersebut.

dapur dengan lantai bambu dan di tengahnya ada tungku batu. asap mengalir lewat jendela atau celah-celah anyaman.

dapur dengan lantai bambu dan di tengahnya ada tungku batu. asap mengalir lewat jendela atau celah-celah anyaman.

Tidak diperkenankan adanya listrik di Kampung Naga membuat penerangan di malam hari menggunakan petromaks atau lentera tempel. Sebenarnya ini juga agak menimbulkan bahaya kebakaran, karenanya kalau malam hari di sini semua cahaya dimatikan. Di atas ruangan-ruangan ini ditutup papan sehingga bisa difungsikan sebagai gudang.

Seluruh atap bangunan di sini menggunakan injuk sebagai penutup atapnya. Di bawah injuk hitam itu ada lapisan tepus yang berasal dari pohon pinang untuk mencegah kebocoran. Deretan tepus ini terpasang pada reng bambu yang berjarak 20-25 cm di atas kaso dan gording kayu. Beberapa bagian injuk tampak sudah mulai ditumbuhi jamur.

rangka atap untuk menggantung, penutup atap injuk (ijuk) hitam namun mulai berjamur.

rangka atap untuk menggantung, penutup atap injuk (ijuk) hitam namun mulai berjamur.

Pembangunan rumah dilakukan pada hari-hari baik menurut perhitungan tertentu. Seseorang yang sudah berkeluarga diharuskan memiliki rumah sendiri yang masih berada dalam lingkup tanah adat yang berpagar bambu itu. Ketika melalui salah satu koridor permukiman, ada satu anyaman sasag yang disandarkan pada satu sisi bangunan. “Itu untuk persiapan, kalau sampai hari baiknya datang, bahan-bahan sudah ada dan tinggal mendirikan bangunan secara bergotong-royong,” jelas pemandu kami yang masih lajang dan tinggal bersama orang tuanya itu.

persiapan membuat rumah : dinding anyaman, dan bambu belah untuk alas dapur

persiapan membuat rumah : dinding anyaman, dan bambu belah untuk alas dapur.

Di sebelah selatan permukiman terdapat mata air yang dialirkan melalui pipa sehingga mudah diambil untuk keperluan memasak sehari-hari. Karena semua rumah tidak memiliki kamar mandi, jadi tidak ada pemipaan ke rumah-rumah, namun wargalah yang datang ke sini untuk mengambil sesuai dengan kebutuhannya. Menurut Kang Uriya, mata air ini membuat awet muda.

Posisi pemukiman di tengah lembah ini membuat rumah-rumah ada yang di bawah dan di atas. Setiap level ketiinggian dihubungkan dengan tangga-tangga batu. Biasanya yang lebih dituakan posisi rumahnya lebih tinggi. Di tepian juga dibangun saluran untuk mengalirkan air hujan.

pemukiman yang berbukit-bukit

pemukiman yang berbukit-bukit

rumah di area tinggi

rumah di area tinggi

jalan batu di antara bawah dan atas

jalan batu di antara bawah dan atas

Keluar dari area permukiman, kami mulai melihat sekeliling apa yang berada di garis luar ini. Ada kamar mandi yang dipergunakan bergantian oleh warga, ada kandang ternak kambing, juga beberapa kolam untuk memelihara ikan mas. Ada beberapa kamar mandi di sini, ada yang sederhana dari kayu, maupun permanen dari batu yang terletak di ujung dekat lapangan. Lanny dan Bintang mencelupkan kakinya di kolam itu dan segera ikan-ikan merapat dan menggigiti kaki-kaki. Agak geli dan ngeri sebenarnya, tapi toh ikan tidak bakal menggigit kita. Hitung-hitung fish therapy gratis seperti yang sedang marak di pusat kecantikan di kota.

penduduk yang sedang membuat kerajinan di depan rumahnya. penduduk yang sedang mengurus peliharaannya.

penduduk yang sedang membuat kerajinan di depan rumahnya. penduduk yang sedang mengurus peliharaannya.

batas permukiman dan area luar.

batas permukiman dan area luar.

kandang kambing dan kamar mandi

kandang kambing dan kamar mandi

cemplungin kaki ke kolam

cemplungin kaki ke kolam

Suara tenggerek sudah mulai terdengar sore itu. Beberapa rombongan pengunjung lain sudah pulang melewati kami kembali ke atas. Sebenarnya di sini diperkenankan menginap dengan seijin tetua desa, seperti ada sekelompok rombongan yang kami lihat berada di rumah-rumah penduduk. Namun karena masih ada keperluan lain kami mohon diri untuk kembali ke Garut.

Kampung ini tak berbeda jauh dengan yang pernah kudatangi hampir tiga tahun yang lalu. Penduduknya yang masih sederhana dan ramah, juga bangunan-bangunannya yang hangat dan menyenangkan masih senantiasa menyambut kedatangan kami di sana. Kami kembali berjalan menyusur sungai dan bersiap menanjak menaiki ratusan anak tangga tersebut. Dulu kami terengah-engah menaiki anak-anak tangga ini, namun sekarang dengan jumlah anak tangga yang tak berubah rasanya nyaman saja menaikinya.

439 anak tangga dengan saluran yang bersahabat dengan pohon.

439 anak tangga dengan saluran yang bersahabat dengan pohon.

Seperempat jalan terakhir aku membalikkan badan dan melihat lagi kampung yang sunyi dari keramaian itu. Tak ada hingar teriakan dari sana, hanya suara angin menyapu persawahan.

Perjalanan 28 September 2013.
Depok, 12 Oktober 2013. 03:03 dini hari.

Advertisements

18 thoughts on “kampung naga dalam uraian uriya

  1. giewahyudi says:

    Kampung Naga katanya serupa Kampung Baduy di Banten, cuma lebih terbuka sama pengunjung, enggak banyak ini itunya.
    Itu foto yang kakinya direndem di kolam kayaknya yang paling santai..

    Kapan-kapan ngajak dong. 🙂

    • indrijuwono says:

      Kampung Naga jauh lebih rapi pola permukimannya. Tapi kl dibandingkan Baduy Dalam emang mirip sih, ada lapangan juga namun bukan menghadap masjid, tapi rumah pu’un, dan area bersih2nya di luar.

      weih, saung kolam itu emang paling asyik. ayuk kapan2 ikut 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s