amazing 2015!

Tanpa diduga tahun 2015 menjadi salah satu tahun yang paling memberi banyak kejutan untukku. Diawali dengan tidak adanya ekspektasi atau rencana apa pun, ternyata begitu banyak hal baik yang terjadi di tahun 2015. Mungkin seperti rumus matematika, ketika kamu tak banyak berharap, disitulah datang berkah tak hingga. 1/0 = ~

Awal tahun 2015 aku memutuskan kembali bekerja, menyerah dari pekerjaan menjadi arsitek freelance, karena ternyata begitu banyak hal-hal yang harus aku pelajari sendiri, bukan sekadar kemampuan menggambar, tapi juga tentang manajemen waktu dan biaya. Keputusan ini bukannya kalah terhadap kebebasan waktu yang didapat pada masa freelance, tapi merupakan kemenangan atas tanggung jawab terhadap hidup, yang tidak boleh aku hadapi dengan egois. Dan kembalilah aku menyusur stasiun setiap hari, berkumpul dengan lautan orang yang mengadu nasib ke ibukota. Ini, pilihanku.

Dunia penulisan juga sedang riuh di awal tahun, berbagai hal terjadi dan pergi dan berbagai tiba-tiba datang menghampiri. Satu per satu wishlist aku akan satu tempat tercapai, dalam perjalanan yang terencana tiba-tiba. Mungkin ini rejeki dari Tuhan, mungkin ini pelipur lara, mungkin juga ini bagian dari perjalanan hidup yang manis. Continue reading

Advertisements

[giveaway] kalender tintin 2016

   

 

“Sejuta topan badai!”

Tahu dong kalimat di atas kata-kata siapa? Yes, itu Kaptain Haddock, sahabat wartawan petualang kesayanganku, Tintin. Betul, topan badai adalah salah satu fenomena alam yang sering ditakuti pelaut walaupun sudah mengarungi banyak lautan. Dan termasuk si nahkoda baik hati yang suka menyumpah-nyumpah ini. Apalagi penggemar Tintin, pasti tahu kalau di petualangannya, Tintin kerap kali menggunakan kapal.

Entah kenapa, walaupun aku nggak bisa-bisa banget berenang, tapi aku senang sekali naik kapal. Mau kapal ferry, kapal kayu besar, kapal kayu kecil, jukung, atau bahkan getek pun aku suka. Asyik rasanya bergoyang-goyang di atas air sambil merasakan hembusan angin yang mengacak-acak rambut keritingku dan membuyarkannya.

Nah, karena itu sehubungan dengan pergantian tahun, seperti tahun lalu aku akan bikin giveaway kalender Tintin! Kalender ini penuh dengan ilustrasi dari komik Tintin yang legendaris itu, dan bisa dipakai juga sebagai kartu pos. Ada satu kalender Tintin 2016 limited edition yang bisa dimenangkan oleh pembaca blog Tindak Tanduk Arsitek ini, beserta satu pin menemani, dan kotak merah seperti gambar di atas.

Mau?

Pertama :
Follow blog Tindak Tanduk Arsitek (bisa melalui tombol follow bagi pengguna wordpress atau submit lewat email di kolom sebelah) dan follow twitter @miss_almayra dan instagram @miss_almayra atau like fanpage di facebook Tindak Tanduk Arsitek.

Kedua :
Beri komentar di bawah ini dengan bercerita tentang pengalamanmu dengan kapal, baik di laut maupun sungai, menunggu kapal, menanti di dermaga, atau pengalaman terkait lainnya, yang senang dan susah, tapi jangan sedih.

Tulis dengan format :
Nama – akun twitter atau facebook
Email
Cerita pengalaman

Ketiga :
Pengguna twitter – Share link postingan giveaway ini lewat social media dan ajak serta mention temanmu untuk ikut bergabung. Jangan lupa mention @miss_almayra dan tagar #KalenderTintin2016 (pastikan kamu sudah follow @miss_almayra ya!)
Pengguna facebook – Share post dari fanpage Tindak Tanduk Arsitek atau share link postingan giveaway ini di timeline kamu (setting audience Public), dengan menyertakan tagar #KalenderTintin2016 di kalimat pengantarnya.

Giveaway ini akan ditutup pada hari Selasa 5 Januari 2016 jam 23.57 dan akan diumumkan pada tanggal 6.01.2016 di antara jam 21.27-23.59 WIB.

Good luck!

Maros, Sulawesi Selatan, 29 Desember 2015. 04:53 [Indri on vacation]

  

momen-momen tetirah mama

indri-mama

Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter
~ Maywood, 1980

Momen di atas adalah salah satu waktu yang aku sempatkan bersama mama, di antara waktu-waktuku yang teramat padat ini (foto Agustus 2015 ini di Bandung, dan sejam berikutnya aku kembali ke Jakarta karena urusan kampus). Sering sekali aku iri dengan teman-teman yang sering mengajak ibunya jalan-jalan, yang meluangkan waktu bersama, karena kami jarang melakukannya akibat sama-sama sibuk tetirah.

Yes, I can say that my mother is a traveler.
(atau pikniker juga boleh..)

Mama adalah tempatku bertanya ketika pertama kali aku ke luar negeri, karena beliaulah yang lebih dulu berkeliling Singapura, Malaysia, hingga Hatyai, di saat ku baru lulus kuliah dulu. Katanya begini, “Kamu kan sudah bekerja, beban agak ringan, jadi mama mau jalan-jalan dulu.” Maktub. Continue reading

elegi fatumnasi

0-cover-fatumnasi

Di jalanan ini aku banyak bertemu dengan orang hebat,
salah satunya adalah Mateos Anin, seorang bijak bestari dari Fatumnasi.
Ia mengajariku tentang arti sebuah ketulusan, ia juga yang menerima kehadiranku seperti anaknya sendiri.
~ Tekno Bolang : Kembara [2014]

Kami terantuk-antuk di bak belakang Toyota Fortuner yang kunaiki bersama Firsta dan Dea, serta tim dari ASITA NTT yang mengundang kami menjelajah pulau Timor. Dari kota Soe yang merupakan ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan itu, jalanan yang mula-mula berupa aspal mulus, lalu berubah menjadi agak kasar dengan tanjakan-tanjakan curam yang membuat kami harus berpegangan pada tepi bak mobil. Bukannya kami tak muat duduk di dalam kabin, tapi rasanya lebih asyik di luar dan merasakan angin menampar-nampar pipi dan meniup rambut, melihat hamparan tanah-tanah kering di sekitar sepanjang jalan. Continue reading

12 jam keliling kupang

Begitu mendarat di Kupang, yang menarik perhatianku cuma satu : panasnya, pasti mataharinya ada dua nih! Suhu udara yang berkisar di antara 30-33 derajat Celcius ini membuatku mengipas-ngipaskan brosur ke wajah. Ibukota Nusa Tenggara Timur ini terletak di pulau Timor, sekitar dua jam penerbangan dari Denpasar. Lokasinya yang strategis di tepi laut di selatan Indonesia, membuatnya sebagai jalur transportasi yang kerap dijadikan sebagai tempat transit pesawat atau kapal laut menuju banyak pulau-pulau di Nusa Tenggara. Berbagai usaha juga tumbuh di sini, sehingga sering dikunjungi untuk business trip.

Di masa lalu, Pulau Timor memiliki 12 bandar laut di pesisir-pesisir pantai, di mana salah satunya menghadap ke teluk Kupang. Nama Kupang sendiri berasal dari nama seorang raja, yaitu Nai Kopan atau Lai Kopan, yang memerintah sebelum bangsa Portugis tiba di Nusa Tenggara Timur. Sewaktu zaman Belanda dan VOC-nya tempat ini disebut Koepan, dan lama kelamaan dilafalkan sebagai Kupang. Kota ini mengalami banyak akulturasi karena kedatangan bangsa-bangsa barat tersebut, karena menjadi pelabuhan yang strategis sehubungan dengan kekayaan rempah Nusa Tenggara Timur. Pada masa VOC, mereka mendatangkan penduduk dari pulau Rote, Sabu, dan Solor di daerah penyangga untuk pengamanan kota Kupang. Continue reading

sriwijaya air menuju langit nusa tenggara

0-cover-sriwijaya-air-sunrise

Setiap perjalanan terbangku bermula, aku selalu memasrahkan diri pada semesta, pada birunya langit dan awan-awan putih yang menggelayut, pada udara yang menjadi tempatku berada, pada menit-menit yang terhitung pasti, akan semuanya aku berdoa.

Selalu aku memilih untuk duduk di tepi jendela, di mana lubang kecil itu akan menunjukkan lansekap tanah, tinggi rendah nusa di bawahku. Di sana kadang aku memandang sawah, jalan, kumpulan pemukiman, sungai berkelok, dan gunung-gunung. Benar, gunung adalah pemandangan favoritku jika sedang berada di udara. Jika tidak sedang tertutup awan, membaca gunung seperti berbicara pada alam, pencapaian pada ketinggian tapak. Membaca peta, mencocokkan apa yang ada di kepala dengan yang dibawah sana, menerka-nerka nama. Continue reading

warisan lampau desa adat beleq, sembalun

0-cover-sembalun-desa-adat-beleq-blek

Atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu berterima kasih kepadamu dan bersukaria 
Lahir dari tanah, menguning di sawah, menjadi beras di tampah, kemudian nasi memasuki tenggorokan hambamu yang gerah, adalah cara paling mulia bagi padi untuk tiba kembali di pangkuanmu
[Emha Ainun Najib]

Bagian mana dari desa Sembalun yang menjadi favoritku? Aku rasa, aku suka semuanya. Terlebih lagi jika berada di ketinggian dan memperhatikan sawah-sawah yang menghampar permai di bawah sana, mendengarkan cericit burung dan angin yang mengalun.

Desa Sembalun ini bukan hanya Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung saja seperti yang sering diberitakan oleh media-media, namun lebih luas lagi di sekitarnya, begitu cerita Mbak Lia, pemilik Nauli Bungalow tempatku tinggal selama di Sembalun. Ia bercerita, sewaktu beberapa tahun yang lalu ada syuting film di sini, artis-artisnya merasa damai, karena bisa menjalani hidup seperti manusia biasa, tidak dikejar-kejar penggemar seperti biasa jika hidup di kota besar. “Kalau Dude Herlino yang datang, pasti dikerubutin juga sih..”
Continue reading

semilir nauli, bungalow di kaki rinjani

11-nauli-bungalow-sembalun-lombok-pekarangan

Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaanku ketika tiba di Nauli Bungalow tengah malam itu, selain perasaan yang campur aduk antara Rinjani, Sembalun, dan kenangan-kenangan tentangnya beberapa tahun sebelumnya. Sebenarnya aku tidak pernah berpikir untuk kembali ke kaki Rinjani selama sehari semalam untuk memandangi gunung yang pernah gagal kudaki sampai puncak itu.

Namun tempat ini manis, dan teramat sayang untuk dilupakan. Di tengah hembusan angin, aku merasakan kehangatan tuan rumah yang membuatku nyaman. Tidak ada konter resepsionis atau lounge besar seperti halnya hotel berbintang, hanya satu bangunan ruang bersama dengan meja-meja makan dan televisi yang menyambut. Dingin gemerutuk seketika terasa ketika turun dari mobil. Kami duduk-duduk dulu di situ sambil bertemu mas Teguh yang sudah menanti perjalanan kami. Tanpa jendela kaca yang melindungi, angin menelusup lewat sisi-sisi bangunan.

“Lihat keluar sana, itu Rinjani sudah kelihatan,” kata mas Teguh, induk semang kami selama di Lombok.
Continue reading