mentari mesem dari lasem

1-matahari-terbit-lasem-sunrise-A

Tahukah kamu betapa bahagianya bangun tidur di tengah desa?
Bersepeda menuju tengah sawah sambil bertemu dengan anak-anak sekolah tertawa riang
Sembari menanti matahari yang terbit dari sisi bukit, bersembunyi malu-malu lalu perlahan mendadak terang.

Tahukah kamu bahwa menghirup udara ini adalah kemewahan sederhana?
Berkilometer jauh dari kota untuk menemukan sejuk menghembus sedikit
Sembari melambaikan tangan pada para petani berangkat usai pagi menggigit.

Di jalan aspal yang membelah rumah dengan sawah, anak-anak sekolah bersepeda, berjalan menyambut harapan mereka. Usai sang mentari mengangkasa, berangsur-angsur mereka lewat di depan hamparan hijau yang dilatari gunung gemunung bagaikan gambar pada masa kecilku dulu.

Kami berjalan ke dalam melalui jalan setapak, menuju muara sungai. Petak-petak tambak bandeng memantulkan mega di angkasa. Sesekali beberapa petani melintas dengan sepeda tuanya. Di antara jalan yang sempit itu, kebiasaan membuat tak sulit juga untuk seimbang. Aku jadi iri ingin ikut bersepeda seperti mereka.

2-matahari-terbit-lasem-petani-sunrise

3-matahari-terbit-lasem-sunrise

4-matahari-terbit-lasem-anak-sd-sunrise

Menemukan celah menuju sungai, sontak kami berlarian ke dermaga. Mungkin tempat ini sangat cocok untuk merenung lesu, memancing rindu, atau sekadar melepas kenangan yang berlarian dari kalbu. Perahu-perahu berlalu menuju muara di ujung sana. Suara bising motor tempel sesekali memecah keheningan kecipuk air sungai yang tenang.

Dulu sungai ini menjadi laluan perdagangan candu di Lasem. Di beberapa tempat dibuat lubang-lubang yang mengarah langsung ke rumah-rumah tinggal yang berdinding tebal. Sekarang hanya nelayan yang melewati sungai ini, jalan mereka menuju laut.

5-matahari-terbit-lasem-tambak-bandeng

6-matahari-terbit-lasem-tambak-bandeng-sunrise

7-matahari-terbit-lasem-tambak-bandeng

8-matahari-terbit-lasem-sepeda

Di sisi kiri dan kanan sungai, terpasang keramba-keramba ikan yang menggantung ke dalam air. Sepertinya benih di dalamnya masih belum terlalu besar sehingga hanya arus sungai yang membuatnya terlihat bergoyang.

Lalu aku kembali bermain dalam angan. Seandainya saja wisata bersepeda digalakkan untuk keliling desa-desa Lasem, dan disambung dengan bertualang naik perahu ini hingga muara sambil diceritakan tentang sejarah wilayah yang merupakan titik akulturasi Cina di bumi Mataram ini, pasti akan menambah kenangan yang lebih manis dari kota di garis pantai utara Jawa ini.

9-matahari-terbit-lasem-dermaga-sungai

10-matahari-terbit-lasem-perahu-muara-sungai

11-matahari-terbit-lasem-perahu-muara-sungai

12-matahari-terbit-lasem-perahu-muara-sungai

13-matahari-terbit-lasem-perahu-muara-sungai

Lasem, 31 Maret 2015
ditulis di Salemba, 15.01.2016 20.41

Koran Tempo : Menyusuri Jejak Budaya Lasem
mencapai Lasem? baca: 9 trik (tidak) tersesat di Lasem
ada apa rahasia di balik tembok pecinan lasem?

Advertisements

28 thoughts on “mentari mesem dari lasem

  1. Matius Teguh Nugroho says:

    Tenang sekali, mbak. Berjalan di antara hamparan hijau sawah, bertegur sapa dengan penduduk desa yang ramah, mengayuh perahu melalui sungai di bawah langit yang cerah…

    I missed those things, saat dulu aku kecil dan hidup sepertinya bergerak dengan lambat

  2. folkandtravel.com says:

    Wisata Perahu. Wah betul sekali mba, mengingat di Pacitan wisata semacam ini sudah sangat populer dan menarik banyak perhatian wisatawan.
    Ide yang sangat bagus untuk kemajuan pariwisata nih hehe
    Ngomong – ngomong, salam kenal ya mba Indri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s