sportivitas alami permainan tradisional di TAFISA 2016

tafisa-jakarta-2016-11-balap-bakiak

‘I’ve got the snitch!’ he shouted, waving it above his head, and the game ended in complete confusion.
J.K. Rowling, Harry Potter & The Sorcerer’s Stone

Buat aku yang menghabiskan masa kecil keliling pulau Jawa, pasti akrab dengan segala permainan sore hari yang sering dimainkan bareng teman-teman di berbagai kota. Salah satu yang paling diingat adalah bentengan! Pernah bermain bentengan di masa kecil? Sepertinya sih terakhir main bentengan waktu SMP kelas 1 di Blitar, bikin berisik se-RT karena teriak-teriakan seru, demi memperebutkan tiang listrik oleh sekelompok orang? Apa coba filosofinya? Menurutku bentengan ini membawa nilai-nilai untuk memperjuangkan terus apa yang kita mau, hingga posisi itu jadi milik kita. Tentunya dengan kerjasama antar teman-teman yang berlarian dengan riang gembira serta kejujuran dan sportivitas antar kita sendiri. Karena, permainan seperti ini kan nggak ada wasitnya, apalagi Komite atau Persatuan Nasional-nya, sehingga aturan-aturannya diketahui dan disepakati bersama sebelum main. Kalau ketahuan curang, siap-siaplah di-huu dan disebelin jadi teman. Makanya, asyik-asyik sajalah.

blogger yang datang lebih awal

blogger yang datang lebih awal

rombongan blogger bersama Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrowi

rombongan blogger bersama Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrowi

Di TAFISA 2016 yang baru kukunjungi hari Sabtu lalu, ternyata banyak permainan jadul yang mengorek lagi kenangan nostalgia masa kecil di berbagai kota. Ada engklek yang ternyata muncul di berbagai negara, ada congklak alias dakon yang paling pas dimainkan di musim hujan ketika nggak bisa ke mana-mana, ada juga aneka dam-daman dari berbagai negara yang disusun di deret bangku panjang untuk bermain berpasangan. Sebagai mantan atlet bekel yang bisa main dari awal sampai naspel tanpa putus, maupun juara halma lima game berturut-turut, permainan-permainan di sini sangat menggoda hati untuk berlama-lama nongkrong dan mencobai satu-satu.

Eh, berbagai negara? Memangnya TAFISA itu apa sih? Nah, TAFISA ini kependekan dari The Association For Sports for All, atau Festival Olahraga Rekreasi Dunia, yang di tahun 2016 ini diadakan di Jakarta, yang berpusat di Taman Impian Jaya Ancol. Jadi ada 87 negara di sini yang berpartisipasi untuk memeriahkan acara ini dengan memboyong permainan dari negaranya masing-masing hingga mencapai 9000 orang. TAFISA GAMES 2016 ini punya maskot Tarsius, binatang mungil khas Sulawesi yang juga sudah mulai punah, seperti juga permainan tradisional yang jarang dimainkan lagi. Sedih ya, kemajuan teknologi dan pembangunan malah membuat permainan yang mengasah sportivitas alami ini menjadi terpinggirkan. Karena itu acara-acara semacam ini perlu, untuk mengingatkan lagi pada kebutuhan bergerak manusia yang membuat tubuh jadi sehat. Nggak perlu sering-sering ke gym atau ikut macam-macam senam, karena ikut permainan tradisional ini saja sukses membuatku tetap langsing sampai akhir usia belasan.

Yang pertama aku lihat di tepi laut Ancol adalah perahu naga yang aslinya dari Cina. Biasanya diadakan pada tanggal lima bulan lima di penanggalan Imlek dengan mengadu dua perahu berkepala naga yang dibuat lebih dinamis dengan tabuhan genderang. Kekompakan tim dalam mendayung perahu dan kelihaian skipper (jurumudi di belakang) menjadi hal penting untuk memenangkan perlombaan ini. Satu perahu bisa berisi hingga 30 orang yang mendayung seirama. Sorak-sorakan gembira saling ditimpali dari satu tim untuk menyemangati sesama pendayung. Karena lombanya nggak serius-serius amat, jadi yang penting rekreasi dan gembira.

perahu naga

perahu naga

habis ketemu perahu naga ramai-ramai foto dengan pak menteri

habis ketemu perahu naga ramai-ramai foto dengan pak menteri

Tepat di tepi laut Beachpool juga beberapa orang asyik main voli pantai. Permainan yang banyak dimainkan spontan di pantai-pantai Amerika ini (begitulah kalau melihat film-film) cukup banyak diminati beberapa tim yang saling adu men-smash dan bergembira. Lalu ada permainan asal Perancis yaitu Lioness, di mana mainnya paduan antara bowling dan melontar, dengan tujuan mengenai satu bola di tengah. Bola yang dilemparkan berdiameter kurang lebih 12 cm, kira-kira sebesar Bludger yang terbang-terbang di permainan Quidditch, dan berat! Ketika aku mencoba mengangkat dan mengayun untuk mengenai sasaran, ternyata bolanya menggelinding begitu saja lepas dari tanganku, tak tampak bekas lontaran dengan gerak hiperbola yang dicontohkan sebelumnya. Setelah dua kali mencoba dan gagal, aku lebih sadar dengan kemampuanku sebagai atlet bekel saja.

voli pantai

voli pantai

melontar bola lioness, bisa lihat video di bawah nanti

melontar bola lioness, bisa lihat video di bawah nanti

Dari situ kami berpindah ke Eco Park yang bagian depannya disambut oleh instalasi bambu yang apik menaungi berbagai bangku dengan berbagai permainan berpasangan. Bagi yang tidak punya pasangan, disediakan akang-akang dengan ikat kepala biru baduy yang dengan senang hati akan mengajari (melawan) dalam permainan yang berjajar-jajar. Bidak-bidak kayu dengan berbagai bentuk dan formasi akan menguji kelihaian otak dalam menyusun strategi untuk menang. Kali ini aku mendapat pasangan seorang rekan blogger belia yang berkostum rapi bak akan rapat ke gedung pencakar langit. Sebenarnya paling asyik mencoba satu bangku demi satu bangku hingga ujung. Kalau datang dengan pacar, bisa-bisa berantem sampai ujung yang sana karena nggak mau kalah. Wih, padahal permainan ini kan menguji kesabaran dan kerelaan hati untuk menerima kekalahan dan kekurangan diri, sekaligus menyusun strategi tangkas untuk menang lagi.

lawan yang tangguh

lawan yang tangguh

deretan lawan-lawanan

deretan lawan-lawanan

keliling indonesia?

keliling indonesia?

Dalam Eco Park yang hijaunya menghampar, rombongan kami disambut oleh permainan Krawjang dari Kediri yaitu sepak takraw yang yang memasukkan bola rotannya ke keranjang di atas, juga melempar buluh yang merupakan permainan dari Jambi. Sempat juga bertemu dengan beberapa kontingen negara lain seperti Slovenia dan Korea yang membawa peralatan mainnya dari negaranya beberapa kayu-kayuan.

Di lapangan sebelah, ternyata lebih banyak lagi histeria permainan tradisional dalam hamparan hijau yang besar. Bertemu dua jangkungan dalam kostum mang Cepot dan Gatotkaca, terdapat jalur instalasi bambu yang dijadikan jalur estafet berbagai permainan di beberapa titik, termasuk menembak bola dengan leunca! Seru sekali berlalu lalangnya di jalur ini ditemani kitiran yang riuh bersuara. Di sisi lain ada juga yang mencoba egrang (jangkungan), juga permainan balap bakiak yang membuat tertawa terbahak-bahak. Nggak takut kotor, nggak takut hujan, yang penting bergembira dan sportif dalam tanah lapang.

buluh jambi

buluh jambi

bedil leunca

bedil leunca

si cepot

si cepot

gatotkaca

gatotkaca

gatotkaca bergaya

gatotkaca bergaya

Atlet-atlet dari negara lain tak kalah serunya mencoba adu dagongan, mendorong buluh bambu dewasa bersama dalam kelompok melawan kelompok lain yang menahan. Rupanya butuh tenaga yang besar untuk mendorong tim lawan hingga keluar batas permainan. Di ujung lainnya, rupanya banyak anak sekolah yang sedang asyik bermain gobak sodor walaupun cuaca hujan gerimis sejak tadi dan alasnya menjadi licin. Langsung saja kepala teringat kala selalu memainkan permainan ini ketika SD se-ti-ap ha-ri pulang sekolah di jalan samping rumah hingga tiba jamnya untuk nonton film kartun di TVRI. Pokoknya, kalau bikin acara kemping-kempingan, gobak sodor ini Harus dijadikan salah satupermainan bersama! Sehat dan melatih sportif alami kan?

dagongan

dagongan

egrang

egrang

voli lubang

voli lubang

Satu hal yang paling menarik perhatianku adalah aneka instalasi bambu yang menaungi berbagai sudut. Material asli Indonesia ini punya keistimewaan yaitu tidak bisa dipaku, sehingga untuk merangkaikannya harus dengan pasak atau ikatan tali, atau disusun sedemikian rupa saja sehingg kuat sebagai naungan. Bambu ini juga material yang lentur, sehingga bisa digunakan untuk membentuk lengkungan-lengkungan apabila diperlukan. Pasti banyak artisan tradisional yang ikut mengolah berbagai instalasi yang digunakan di sini. Limbah bambu sebagai bahan ekologis pun bisa terurai oleh alam, sehingga material ini bisa menjaga sustainabilitasnya. Di jembatan Eco Park, di lorong permainan anak, di area estafet, juga untuk menaungi deret dam-daman di depan, didiminasi oleh instalasi bambu yang cantik.

tafisa-jakarta-2016-16-instalasi-bambu

tafisa-jakarta-2016-17-instalasi-bambu

tafisa-jakarta-2016-18-instalasi-bambu

tafisa-jakarta-2016-15

tafisa-jakarta-2016-0

Sebenarnya aku sempat mencari adakah perwakilan dari Hogwarts yang mengadakan permainan Quidditch di sini, karena aku ingin mencoba menangkap Snitch yang sebesar bola bekel itu. Tapi yang kami temui malah permainan mirip voli, tapi netnya berlubang. Mungkin lain kali kalau Profesor Sprout mendengar tentang TAFISA, beliau akan mengirimkan beberapa atlet dan sapu terbangnya untuk kita cobai bersama-sama (semoga semacam Cedric Diggory).

Jadi, walaupun event TAFISA ini sudah selesai, tapi jangan pernah lupakan permainan-permainan yang sarat dengan nilai-nilai kekeluargaan yang alami, pertemanan dan sportivitas. Dengan melestarikan permainan ini diharapkan akan membuat lebih banyak lagi ruang terbuka di antara kota, sebagai tempat berkumpul, bersosialisasi, mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan lupa untuk ikut lomba-lomba yang sering diadakan di acara 17 Agustus, meneruskan kepada anak-anak supaya mereka juga tertular keseruan yang dialami ketika kita muda dulu.

phonto

Terima kasih Bapak Menpora Imam Nahrowi atas undangannya, rekan-rekan Kemenpora, dan teman-teman blogger yang telah menemani Luna Lovegood yang bertopi bundar jingga. TAFISA GAMES 2016 tidak hanya berlangsung di Ancol, ada si Kemayoran juga di Pulau Pramuka.

p.s. Tahu kan Quidditch itu apa? Jangan khawatir, bisa di-google koq.

Advertisements

6 thoughts on “sportivitas alami permainan tradisional di TAFISA 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s