menuruni batutumonga hingga palawa

0-toraja-bori-batutumonga-cover

“Harry – you’re a great wizard, you know.”
“I’m not as good as you,” said Harry, very embarrassed, as she let go of him.
“Me!” said Hermione. “Books! And cleverness! There are more important things – friendship and bravery and – oh Harry – be careful!”
― J.K. Rowling, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone

Sampai sebelum berangkat ke Toraja ini, aku hanya sekali bertemu Winny Alna di salah satu acara yang diadakan di Jakarta. Selain itu, kami hanya bercengkrama di blog, bertegur sapa lewat komentar, dan berbalas twitter saja. Rupanya jadwal jalan Winny dan aku ke Toraja klop, sehingga kami memutuskan untuk menjelajah bersama. Surprisingly, gadis batak ini membuat perjalanan seru dan cerah dengan berbagai keputusan spontan. Sesudah seharian banyak berjalan kaki di Londa, Kete Kesu dan Lemo, di hari kedua kami memutuskan “naik gunung”. 

Batutumonga

Berkat petunjuk kak Olive, kami naik angkot sampai pasar Bolu dan sambung angkutan umum lagi menuju daerah tertinggi di Tana Toraja. “Berapa lama sampai atas, Pak?” tanya Winny akrab pada pak supir yang sedang bekerja. Kira-kira sejam, jawab supirnya dengan logat yang khas. Kami melewati desa-desa di tengah hutan bambu dengan banyak rumah tongkonan. Nah, ternyata lebih mudah menemukan tongkonan di sini, tidak banyak jalan kaki seperti yang kita alami kemarin.

Bahkan sesudah satu sawah luas yang membentang, kami tiba di desa Bori yang dari jauh bertebaran rumah tongkonan dari ujung ke ujung. Wih, kayaknya kepingin berhenti dan memotret yang lama di situ, tapi mobil terus melaju. Tapi pelan-pelan sih, karena melihat kami yang begitu excited mengeluarkan kamera dari jendela. Soalnya kan ada penumpang lain di angkutan umum yang kami naiki, masa mau menunggu kami foto-foto sih?

menhir di pekarangan rumah

menhir di pekarangan rumah

Usai lewat desa Bori, keindahan lain ditangkap lewat menhir-menhir yang mengitari beberapa pemukiman yang hampir kesemuanya berupa tongkonan. Aku jadi berpikir, bagaimana batu-batu ini diangkat hingga ke halaman rumah warga ini, ya? Sepertinya juga ada pola yang khusus dengan posisi-posisi batu ini, yang mungkin dipahami oleh warga setempat.

Lewat dari berbagai desa ini, di jendela terhampar pemandangan lembah khas Indonesia dengan sawah-sawahnya yang bertingkat-tingkat ketika mobil terus melaju di ketinggian. Nah, uniknya, ketika di antara sawah-sawah tersebut terdapat batu-batu besar, pastilah ada tongkonan kecil di sampingnya pertanda bahwa batu tersebut merupakan makam. Ah, apakah semua batu di Toraja sudah dikapling, ya?

bebatuan di antara desa

bebatuan di antara desa

sawah yang diintip dari balik jendela

sawah yang diintip dari balik jendela

tana toraja dari pegunungan

tana toraja dari pegunungan

tongkonan yang mudah ditemukan di desa

tongkonan yang mudah ditemukan di desa

ketika ada penumpang turun, kami mengambil kesempatan

ketika ada penumpang turun, kami mengambil kesempatan

“Win, gimana kalau mobil ini kita carter saja? Daripada pusing nanti turunnya?” cetusku. Winny langsung sigap bertanya pada si bapak supir, “Pak, nanti sampai di atas kami turunnya bagaimana ya?” Pak supir langsung merekomendasikan untuk naik mobil berikutnya saja. Winny masih membujuk-bujuk, tapi rupanya pak supir ini sudah mendapat panggilan untuk carteran terlebih dahulu via telepon genggamnya. Jadi terpaksa kami pasrah dan hanya mengandalkan keberuntungan mobil untuk turun lagi nanti.

Kami turun di depan kantor polisi Batutumonga ketika ditunjukkan arah bukit yang harus didaki untuk menuju titik tertinggi. Tapi, tepat di depan kantor polisi ini rupanya ada satu kompleks rumah tongkonan yang sudah kosong sehingga kami malah asyik bermain di situ. Area tongkonan ini lengkap, dengan dua tongkonan banua di mana satu sudah agak lawas dan satu lagi masih segar cat ukirannya, dan enam tongkonan alang yang cantik. Bahkan termasuk kerbau yang diikat di pekarangan ini sambil mengunyah rumput.

tongkonan banua di batutumonga

tongkonan banua di batutumonga

tongkonan alang di batutumonga

tongkonan alang di batutumonga

Sementara Lukman dan Winny asyik berfoto-foto di dekat batu, aku mengamati dalam tongkonan itu yang kebetulan bisa dimasuki dengan mudah. Rupanya di dalamnya ada tungku yang dipakai untuk memasak, juga menghangatkan ruangan dan mengasapi atap bambu di atasnya supaya tidak lembab. Sayangnya, tongkonan ini kosong, sehingga tidak ada satu orang pun yang bisa kami tanya-tanyai. Tak ada juga jejak kehidupan bahwa ada yang bertinggal di sini. Tapi kami mengetahui berbagai jejak ukiran yang begitu cantik di dinding-dindingnya, berwarna merah saga yang sepertinya menggunakan pewarna alami untuk mencerahkan kayu-kayu sebagai dinding.

ukiran dalam tongkonan

ukiran dalam tongkonan

tungku di dalam tongkonan mengasapi penutup atap

tungku di dalam tongkonan mengasapi penutup atap

ukiran di sisi luar tongkonan

ukiran di sisi luar tongkonan

LOKA MATA

Lalu, apakah kami jadi ke puncak gunung?

Sambil berjalan kaki menunggu mobil, kami melihat beberapa petunjuk untuk ke arah puncak bukit. Hmm, masih berpikir keras mau naik sampai puncak tidak ketika kami bertemu serombongan biker yang bersiap-siap. Winny langsung berinisiatif menyapa mereka, “Hai, kalian dari puncak, kah? Lama tidak naiknya?”
“Kira-kira satu jam sampai atas..”
(Hah, satu jam? Kalau kami bisa dua jam nanti..)

“Boleh lihat foto-foto di atas? Ayolahh, jangan pelit-pelit, supaya kami bisa tahu di atas pemandangannya seperti apa..,” tukas Winny lagi. Cowok-cowok tanggung ini (sepertinya masih SMA atau baru lulus) pun segera menyorongkan ponselnya ke Winny untuk memperlihatkan apa yang mereka lihat tadi pagi. “Kami naik sejak kemarin, menginap di atas,” ceritanya. Hm, kalau kami yang tanpa persiapan begini dan sudah menjelang tengah hari baru mau naik, nanti bisa-bisa kami tak sempat ke mana-mana lagi.

“Terima kasih, kaakkk,” seru kami serempak sambil berpamitan dan akhirnya memutuskan untuk tidak naik ke puncak. Untung Winny nekad bertanya-tanya sebelum kami tersesat tanpa tujuan.

Jadi kami memutuskan untuk ke Loka Mata saja untuk melihat kuburan batu lagi, yang menurut peta, jaraknya masih 3 km lagi. Eh, untunglah di ujung persimpangan kami bertemu dengan sebuah mobil yang menganggur, dan lagi-lagi Winny langsung bertanya, “Pak, bisa antar kami ke Bori?”

Asyik banget punya teman seperjalanan yang penuh inisiatif seperti ini. Tapi mengingat jadwal hari ini, kami pun menawar juga supaya bapak ini mau mengantar sampai Palawa dan Tobarana. “Wah, nanti sore mobilnya mau dipakai, jadi cuma bisa sampai Bori saja.”
“Terus dari situ kami naik apa, Pak?”
“Nanti juga ada mobil lagi yang lewat sampai ke bawah..”

Karena kami nggak mau rugi, Winny menawar, “Tapi antar kami juga melihat Loka Mata ya, Pak. Daripada kami berjalan kaki ke sana.”
Sesudah deal harganya dengan mobil tadi, kami langsung naik mobil yang mengantar kami ke Loka Mata. Wah, ternyata pemandangan di samping bebatuan yang indah, walau banyak terdapat pintu di situ, pertanda bahwa batu tersebut adalah kuburan. Bapak Supir ini menceritakan bahwa memang keluarga sudah memiliki lahan untuk memakamkan di batu-batu tersebut, dan ada beberapa orang yang memang berprofesi sebagai pengrajin batu untuk membuat lubang makam.

“Harus memotong satu kerbau kalau mau upacara pemakaman di sini,” kata pak supir sambil menunjukkan seekor kerbau putih di halaman rumah orang yang kami lewati. “Nah, kalau tedong (kerbau) bule seperti itu, harganya bisa 500 juta,” sambung ceritanya. Wah, sudah sama rupanya membangun rumah di dunia dan kuburan.

kubur batu di tepi jalan

kubur batu di tepi jalan

tedong bule

tedong bule

dari tepian loka mata

dari tepian loka mata

Di Loka Mata sendiri berdiri satu bongkah batu yang sangat besar dengan berbagai pintu-pintu yang menandakan bahwa di dalamnya terdapat peti-peti leluhur yang dimakamkan di situ. Beberapa tongkonan kecil di depannya, dan karangan bunga yang bertumpuk, mengisyaratkan bahwa tempat ini cukup sering diziarahi oleh keluarganya. Beberapa tongkonan kecil menandai keluarga mana saja yang berdiam di batu Loka Mata tersebut.

batu besar di loka mata

batu besar di loka mata

pintu-pintu pada batu, di mana makam berada

pintu-pintu pada batu, di mana makam berada

Dalam perjalanan turun ke Bori, pak supir mengajak kami untuk mampir di sebuah keluarga yang sedang mengadakan Rambu’ Solo’. “Eh, boleh ini pak, kami langsung masuk begitu saja?”, tanyaku gamang. Beliau mengiyakan, dan kami pun masuk ke pekarangan yang baru saja memotong kerbau di hari sebelumnya. Di pekarangan didirikan bale-bale bambu memanjang untuk tuan rumah menyambut tamu-tamunya yang hadir di upacara sebelum pemakaman. Hampir keseluruhannya dihias dengan warna merah dan putih. Beberapa orang berkumpul di depan jenazah yang sudah ditutup kain.

Kabarnya jenazah ini bisa saja sudah disimpan selama bertahun-tahun dengan pengawet di dalam rumah sebelum akhirnya dimakamkan sesudah upacara yang menelan biaya yang cukup besar ini. Kami juga bertemu dengan beberapa turis bule yang menyaksikan acara Rambu’ Solo’ ini, tapi karena kami merasa nggak enak berada dalam acara orang lain, kami pun melanjutkan perjalanan.

ketemu tongkonan di mana-mana

ketemu tongkonan di mana-mana

keluarga yang mengadakan upacara rambu' solo'

keluarga yang mengadakan upacara rambu’ solo’

bangunan sementara tempat upacara

bangunan sementara tempat upacara

bori kalimbuang

Setibanya di Bori Kalimbuang, ternyata ada tiket masuknya yang bisa kami dapatkan lebih murah karena Winny mengaku mahasiswa. Sayangnya di sini tongkonannya sedang diperbaiki sehingga kurang mendapatkan angle yang bagus berhubung bambu dan kayu bertebaran di mana-mana. Tapi batu-batu ini didatangkan dari mana ya? sepertinya dari bebatuan yang tadi kami temui di atas yang dipahat sedemikian rupa. Menhir ini rupanya sudah sejak zaman dahulu ada di sini, untuk menghormati leluhur atau pemuka adat yang sudah meninggal, yang didirikan dengan upacara-upacara tertentu termasuk mengorbankan kerbau dan sapi juga.

menhir di bori kalimbuang

menhir di bori kalimbuang

sudut favorit

sudut favorit

tumpukan bambu bahan tongkonan

tumpukan bambu bahan tongkonan

Atas petunjuk kakak penjaga karcis, kami melanjutkan berjalan kaki ke atas, hingga menemukan kubur batu lagi. Sayang sekali, suasananya seperti tidak terawat, sepi, dan terasa horor. Apalagi kami menemukan satu boneka tau-tau yang sendirian di pojok seolah mengawasi. Karena gamang, kami meneruskan mengikuti jalan setapak ke desa untuk melihat Baby Graves, yaitu makam untuk bayi-bayi yang ditanam pada pohon besar. Sesudah bolak balik naik turun, akhirnya kami menemukan penduduk yang mengatakan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon yang kami temukan di ujung jalan setapak tadi. Hiii, jadi di pohon ini dilubangi untuk memakamkan jenazah bayi yang masih kecil dan muat di badan pohon.

ada kuburan batu lagi

ada kuburan batu lagi

baby graves di atas pohon

baby graves di atas pohon

Berhubung bapak supir tadi hanya mengantar kami ke Bori Kalimbuang saja, jadi untuk perjalanan selanjutnya kami dibantu oleh kakak penjaga tiket yang mencarikan… ojek!! Rupanya kakak ini menghubungi beberapa temannya yang bisa mengantar kami ke desa Tobarana dan Palawa yang merupakan destinasi selanjutnya. Memang sih menunggu agak lama, sampai Winny juga berniat menyetop mobil polisi yang kebetulan lewat juga. Untungnya niat tersebut tidak terlaksana, karena beberapa belas menit kemudian, kami sudah berangin-angin di boncengan motor menuju To’barana.

Tobarana dan Palawa

Sayangnya lagi, hampir sampai di To’barana (yang kabarnya sedang ada Rambu’ Solo’ juga), ternyata pas dengan hujan deras, sehingga kami berteduh di halaman rumah warga sambil memandang lapangan yang katanya sering digunakan sebagai pasar kerbau. Salah seorang penghuni rumah bahkan menghamparkan tikar dan menawarkan kami beristirahat di bawah tongkonan alang di depan rumahnya. Usai hujan, kami melanjutkan perjalanan ke Tobarana, namun sedang ramai sekali oleh acara adat di sana.

sejenak melihat to'barana

sejenak melihat to’barana

Merasa tidak nyaman, kami malah menuju desa Galuguh Dua untuk melihat tenun toraja. Ambooi, cantiknya aneka tenun ini di depan satu kompleks pemukiman tongkonan juga. Memang sih, tidak menyangka kami akan sempat mampir di Galuguh Dua ini karena memenuhi titipan dari kak Cumi. Tongkonannya masih sangat asli, di tengah udara yang berhembus sejuk beratapkan bambu dan berdinding kayu. Di antara tongkonan alang dan banuanya terhampar rumput segar yang cukup asyik untuk berguling-guling. Ternyata, tidak sempat mampir Tobarana, kami masih bisa melihat pemukiman lain yang lebih indah dan asli.

tongkonan lebar di galuguh dua

tongkonan lebar di galuguh dua

aneka tenun di galuguh dua, berwarna warni cantik

aneka tenun di galuguh dua, berwarna warni cantik

Masih dengan ojek, kami melanjutkan perjalanan ke desa Palawa. Winny dan Lukman yang sepertinya sudah kebanyakan melihat tongkonan memilih untuk duduk-duduk saja, sementara aku yang menemukan pembangunan tongkonan malah bercakap dengan Pak Angel, salah satu pengrajin yang sedang membangun tongkonan untuk tempat tinggalnya sendiri. Pria berusia 40-an tahun ini memperlihatkan aneka bahan baku yang dipersiapkan untuk pembangunan, termasuk alat-alat yang digunakannya untuk merakit rumah tongkonan ini. Berbagai rangka penahan (steger) menahan di beberapa bagian bangunan sebelum kelak dilepas. Pak Angel memiliki keahlian sebagai artisan kayu secara turun temurun, mempelajari detail dan sambungan untuk pembangunan tongkonan. Bisa dibaca detail tertawan arsitektur tongkonan ini.

tongkonan di palawa

tongkonan di palawa

tongkonan banua dan tongkonan alang

tongkonan banua dan tongkonan alang

Jadi, senang bangetlah mampir Palawa yang memang klimaks dari semua tongkonan yang kami lihat hari itu. Sesudah sehari sebelumnya kami harus keluar masuk desa untuk mencari tongkonan, ternyata di arah sebelah utara Rantepao, begitu banyak desa-desa tradisional yang tidak banyak dikunjungi oleh turis. Kami pun berjalan kaki dengan ringan hingga ke jalan raya, kali ini dengan perasaan puas. Di mobil angkutan yang menuju Rantepao lagi cukup bersyukur, karena perjalanan hari ini cukup hemat ongkos karena tidak perlu mencarter mobil. Untunglah ada Winny yang ahli berkenalan dengan orang-orang untuk mendapatkan transportasi bagi kami. Asyiknya lagi, dia juga tertarik dengan kultural, sehingga perkara berlama-lama di satu titik tidak menjadi masalah sambil mengobrol-obrol. Semoga lain waktu bisa traveling bareng lagi, ya!

nah, kali ini satu frame dengan winny

nah, kali ini satu frame dengan winny

biarpun blur, yang penting abang ojeknya eksis

biarpun blur, yang penting abang ojeknya eksis

hello, world!

hello, world!

perjalanan batutumonga 27 desember 2015
ditulis di KRL perjalanan ke ancol 9 oktober 2016, nggak sengaja ketemu winny lagi di sana. ah, si butet!

SulselTrip2015/16
makassar dan hujan sehari
toraja tau-tau: berangkat dari rantepao
tertawan arsitektur tongkonan
menuruni batutumonga hingga palawa
rammang-rammang: berdialog dengan batu

Advertisements

13 thoughts on “menuruni batutumonga hingga palawa

  1. winnymarlina says:

    hiks aku bacanay terharu kak Indriiii, i love you full!! baca cerita kakak kayak flashback banget mulai dari jalan kaki, nyasar, nyari mobil hingga terlunta lanta bahkan nyari pohon itu ampun tpi kesan apik!! Rindu jalan kakak lagi semoga ada kesempatan perjalanan berikutnya!! (mata masih berkaca-kaca). Uniknya kak Indri paling suka dengan rumah tongkonan dan hasilnya menakjubkan 🙂

  2. ainun says:

    Seru kak ceritanya, dari nyasar sampai jalan kaki yg jauhnya ampun ampun tuh kayaknya.
    Kenalan dengan orang2 baru dan jalan bareng dengan winny sebagai travelmatenya.

    aku jadi kangen jalan lagi nihh

  3. Gandhi Kurniawan says:

    Sejak jalan-jalan bareng istri ke Tana Toraja tanggal 6 November 2016 kemarin, sampai saat ini masih belum bisa move on. Kepengen banget bisa ke sana lagi, apalagi setelah baca cerita perjalanan di atas.
    Kami kemarin hanya bisa satu hari menjelajahi Tana Toraja (Toraja Utara). Setelah turun dan mandi di pool (garasi) bus Metro Permai kami langsung carter 1 unit mobil Kijang Innova untuk satu hari (Rp. 500.000). Alhamdulillah drivernya masih muda, gaul, pintar dan sopan. Namanya Aditya Saputra (Adit) asli Londa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s