IJSW 2017: memperkenalkan ‘jakarta’

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-0-cover

Liburan kali ini mendadak harus kembali ke kampus sesudah ada pemberitahuan seru, International Joint Eco City Workshop & Studio, yang diselenggarakan bareng dengan Cardiff University dari Inggris dan Florida University dari Amerika. Jadi beberapa mahasiswa dari dua perguruan tinggi ini bergabung dengan Universitas Indonesia di Departemen Arsitektur FTUI untuk bersama-sama melakukan workshop tentang lingkungan di Indonesia, khususnya Jakarta, Depok dan sekitarnya. Kota ini memang banyak menyimpan kejutan-kejutan di balik pembangunannya yang pesat dan seolah tak kenal henti. Sebagai ibukota negara dengan penduduknya yang amat padat, ada berbagai hal yang perlu dibangun untuk menuju kota yang berkelanjutan.

Sekitar Universitas Indonesia

Ditemani Prof Gunawan Tjahjono, seluruh peserta workshop memulai perjalanan dari depan Engineering Center. Guru Besar Departemen Arsitektur yang dahulu ikut merancang kompleks Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa kompleks UI yang dibangun pada tahun 1985-1987 ini terdiri dari berbagai fakultas yang tersebar di berbagai titik namun berpusat pada gedung Rektorat yang merupakan bangunan tertinggi di UI. Hmm, dulu bahkan Gedung Rektorat ini adalah bangunan paling tinggi di Depok, karena aku bahkan bisa melihatnya dari rumah di Jl Tole Iskandar. Sesudah pembangunan gedung-gedung tinggi di Depok, gedung beratap runcing ini menjadi agak tersembunyi di dalam kompleks Universitas Indonesia.

Kami menyeberangi jembatan TekSas, yang merupakan akronim dari Teknik dan Sastra, karena jembatan ini menghubungkan Fakultas Teknik dan Fakultas Sastra (sekarang Ilmu Budaya) di atas Danau Mahoni. Sewaktu aku kuliah S1 dulu, teringat bahwa lahan ini berupa sawah sehingga tinggal menyeberangi pematangnya untuk tiba di fakultas sebelah. Ketika berubah menjadi danau yang juga merupakan salah satu penyeimbang sistem air di kawasan Depok, aku hanya bisa menyeberang lewat jalur bendungan dan pintu air yang ada di belakang Fakultas Ekonomi. Kalau merasakan air danaunya, pernahlah beberapa kali menceburkan diri di situ sambil belajar naik perahu karet.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-1

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-2

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-3

Nah, salah satu ekspresi tak terlupakan ketika pelajar dari Barat tersebut melihat pohon nenas tepat di ujung jembatan di wilayah Fakultas Ilmu Budaya. Rupanya selama ini mereka mengira bahwa nenas tumbuh di pohon, bukan dari model tanaman yang seperti ini. Bakal buah nenas yang masih merah segera saja menjadi obyek perhatian yang menarik. Jalur pejalan kaki di Fakultas Ilmu Budaya berupa pecahan batu alam juga menarik, dengan jalur yang berlekuk-lekuk organik. Mungkin keluwesan pola ini yang membedakannya dengan Fakultas Teknik, yang cenderung lebih kaku dan lurus-lurus saja. Walaupun bentuk-bentuk bangunannya agak sama, pola sirkulasi ini membedakan keduanya.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-4

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-5

Melalui Fakultas Ilmu Budaya, kami menuju Danau Kenanga yang menjadi latar depan dari dua landmark UI yaitu Gedung Rektorat dan Balairung. Danau ini adalah salah satu dari beberapa danau di dalam kompleks UI yang juga menjadi salah satu laluan air dari Bogor menuju Jakarta. Pada sisi timur, terdapat jaring perangkap untuk mengumpulkan sampah yang berasal dari saluran kota supaya tidak ikut masuk ke dalam danau. Agak sedih juga melihat sampah-sampah yang begitu banyak berkumpul di danau sudut bawah masjid itu, meskipun jarang terlihat karena lokasi ini jarang dilalui orang. Kami juga mengamati pintu air yang berada di sebelah timur danau (di depan masjid UI), yang berfungsi sebagai indikator tinggi muka air.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-6

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-7

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-8

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-9

Kota Tua, Kali Besar, Menara Syahbandar

Dengan naik kereta Commuter Line, kami menuju Stasiun Kota yang berada paling ujung dari jalur kuning kereta rel listrik ini. Sepanjang perjalanan dengan kereta, sangat mudah dilihat wajah Jakarta sesungguhnya dari balik jendela. Mulai dari kerimbunan di sekitar UI, kemacetan lalu lintas di luar sana, rumah-rumah yang berderet di samping rel, bukaan yang cerah di depan taman Monumen Nasional, hingga kepadatan hunian yang luar biasa menjelang tiba di tujuan.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-10

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-11

Bangunan Stasiun Kota dengan busur bajanya yang cantik selalu menyita perhatianku setiap tiba di sini. Kekokohan bangunan sejak masa kolonial ini menjadi titik awal dari perjalanan kami mengitari peninggalan Belanda di masa lalu. Keluar dari stasiun, tim mahasiswa dari Cardiff maupun Florida terkejut selain karena udara yang agak panas, juga keramaian kendaraan yang lumayan pekat di situ. Hoyt, salah satu mahasiswa asal Cardiff mempertanyakan, jika daerah ini adalah tempat wisata, kenapa tak ada jalur aman untuk menyeberang menuju Taman Fatahillah, usai kami melintasi jalan raya yang cukup ramai sambil berdebar-debar di antara angkot, mobil box, bajaj, dan bis kota. Aku hanya tersenyum ringan, bisa jadi sebenarnya jalurnya adalah lurus hingga depan gedung BNI lalu menyeberang, tapi ternyata tak kulihat juga jalur zebra cross ataupun papan petunjuk yang harus dilewati orang ke situ.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-12

Taman Fatahillah adalah salah satu wilayah ramai di Jakarta yang memang banyak didatangi orang sebagai tempat wisata. Dikelilingi berbagai bangunan yang sekarang difungsikan sebagai museum, dahulu tempat ini adalah tempat berkumpul warga kota di zaman Hindia Belanda. Bernama asli Stadhuisplein, area ini dilestarikan untuk mengenali tonggak masa yang ditandai oleh hasil arsitektur pada zamannya. Fungsi bangunan-bangunan di sekitarnya yang tadinya kantor-kantor pemerintahan sudah berubah. Stadhuis van Jakarta sudah berubah menjadi Museum Fatahillah, Rad de Justitie sudah berubah menjadi Museum Keramik, De Nieuwe Hollandse Kerk berganti bangunan baru menjadi Museum Wayang, begitu pula dengan beberapa kantor di sekitarnya yang berubah fungsi menjadi kafe atau restoran. Satu-satunya yang tidak berubah fungsi hingga sekarang adalah Gedung Pos yang sejak masa berdirinya pada tahun 1928 sudah berfungsi untuk melayani jasa surat menyurat di masa itu.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-13

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-14

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-15

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-16

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-17

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-18

Beruntung rombongan kami bertemu dengan pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta, sehingga kami sempat mendapat banyak cerita tentang perkembangan pelestarian kota tua ini dari waktu ke waktu. Usai berfoto di depan Museum Fatahillah, dengan didampingi lagi dengan beberapa staf Kota Tua, kami berjalan kaki hingga menyusuri Kali Besar Jakarta. Sayang sekali, akibat sampah yang terbawa oleh aliran air dari hulu mengakibatkan Kali ini mengalami pendangkalan, berbau tak sedap, dan berwarna hitam gelap. Pantas saja pemerintah kota bergiat untuk menata ulang kawasan ini sehingga menjadi bersih lagi dan layak sebagai obyek wisata yang diunggulkan. Padahal di sisi kanan dan kiri Kali Besar ini banyak terdapat bangunan-bangunan zaman kolonial yang masih bagus dan anggun jika dirapikan dan difungsikan lagi. Miris melihat tumpukan sampah yang menumpuk di dalam sungai, membuat udara yang sudah panas lembab ini makin pekat dan sesak. Mahasiswa-mahasiswa asing ini agak heran karena ada orang-orang yang bisa tinggal di daerah ini tanpa merasa terganggu dengan tumpukan sampah di sungai ini. Di ujung Kali Besar, kami berhenti di Jembatan Kota Intan yang dahulu bisa diangkat naik turun supaya kapal-kapal-kapal dari dan menuju muara Sunda Kelapa bisa lewat. Sekarang, jembatan ini hanya menjadi monumen saja, agak sedikit menghibur sih sesudah melewati sungai yang tak terawat tadi.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-19

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-20

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-21

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-22

Dengan berjalan kaki, kami menuju Menara Syahbandar yang juga terdapat tonggak titik nol Jakarta. Sebelumnya, tepat di tepi lanjutan Kali Besar juga, Prof. Kemas Ridwan menunjukkan area yang dulunya adalah Kastel Batavia, yang sudah menjadi reruntuhan dan diambil alih sebagai markas militer. Sungai di sini tidak terlalu dipadati sampah lagi dan bertemu dengan jalur yang menuju muara sungai di Sunda Kelapa sana.

Menara Syahbandar adalah salah satu ikon kota Jakarta di mana dari ketinggian 12 m kita bisa melihat aktivitas pelabuhan Sunda Kelapa dari kejauhan, Museum Bahari, Pasar Ikan, dan Kampung Luar Batang yang baru digusur beberapa waktu lalu. Dibangun tahun 1839, menara ini berfungsi sebagai menara pemantau untuk kapal-kapal yang keluar masuk Kota Batavia. Di seberang jalannya yang sudah kami lalui tadi, berdiri bangunan yang tadinya kantor VOC. Pantas saja kantor perusahaan dagang Belanda ini berdiri dekat sekali dengan pelabuhan, sehingga letaknya strategis. Di halaman Menara Syahbandar yang bangunannya kini agak miring ini berdiri tugu 0 km kota Jakarta (Batavia dulu) sebagai penanda jarak antar satu kota dengan kota lainnya.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-23

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-24

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-25

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-26

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-27

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-28

Kami berjalan kaki lagi melewati Museum Bahari menuju reruntuhan Kampung Luar Batang yang beberapa waktu lalu digusur. Tampak tumpukan puing-puing masih menumpuk di kiri  jalan, bangunan Pasar Ikan persegi enam yang dulu riuh dan sekarang sepi, sedikit orang-orang yang berlalu lalang, gubuk-gubuk semi permanen bertempelkan poster pemilihan kepala daerah. Kami naik di antara reruntuhan tersebut dan dijelaskan oleh salah satu penduduk di sana, bahwa kalau mau ke Masjid Luar Batang bisa naik perahu dari salah satu dermaga kecil di depan sungai.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-29

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-30

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-34

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-33

Terdapat tenda dengan bendera Indonesia di situ yang masih dihuni oleh penduduk yang tidak mau pindah dari kampung ini ke rusunawa di kawasan Marunda. Alasan mereka karena di sini lebih dekat dengan tempat bekerja mereka yang berlokasi sekitar pelabuhan. Seorang bapak bahkan berbicara dengan nada agak tinggi ketika membicarakan penggusuran yang baru terjadi. Aku memilih untuk menurunkan kamera dan mendengarkan cerita orang-orang ini. Mereka tidak tahu hendak berapa lama lagi bisa bertahan di tempat ini.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-32

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-31

Kampung Tongkol dan Kampung Kerapu

Usai menengok sejenak ke Pelabuhan Sunda Kelapa, kami memasuki Kampung Tongkol yang tak jauh dari pelabuhan, salah satu lokasi Community Based Development dari Arsitektur UI untuk program pendampingan perbaikan kampung. Sebelumnya rumah-rumah di Kampung Tongkol ini berada dekat dengan bantaran sungai, namun sekarang atas kesadaran sendiri, warga memundurkan rumahnya hingga lima meter dari tepi sungai, sehingga areanya sekarang bisa digunakan sebagai jalan, yang juga sebagai tempat interaksi sosial warganya. Bangku-bangku permanen ditempatkan di tepi sungai sebagai tempat bercengkrama, sementara anak-anak asyik bermain di jalan yang tak ramai lalu lalang.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-35

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-36

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-37

Tampak sisa balok beton yang baru dipotong di atas beranda rumah, dan cat berwarna warni yang masih baru dan membuat suasana semarak. Apalagi ditimpali oleh suara es dung-dung yang menggoda untuk mencairkan keringnya tenggorokan usai berjalan di siang hari bolong tadi. Pohon-pohon rindang menjadi naungan sepanjang perjalanan menyusuri kampung ini. Kami tiba di depan rumah dari bambu yang berwarna warni, yang merupakan hunian untuk empat keluarga berlantai tiga, masing-masing dengan pintu sendiri dan bagian atasnya sebagai tempat berkumpul. Di bagian belakang rumah ini dilukis mural dengan motif dan gambar yang ceria.

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-38

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-39

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-40

Di balik Kampung Tongkol ini ternyata langsung menghadap pada seruas jalan tol Grogol Priok yang dibatasi dengan satu area besar tempat parkir truk pengangkut semen. Tak heran, karena di situ juga terdapat xylo beton readymix yang mungkin dipergunakan untuk pembangunan di sekitar. Belasan pemuda bertato nongkrong-nongkrong di situ sambil memperhatikan kami, tapi mereka tidak mengganggu. Sesudah mengamati sebagian reruntuhan Kastel Batavia di situ, kami kembali ke jalan raya dan terus berjalan hingga kembali ke jalan di antara Gedung Kantor Pos dan Dasaad Musin Building. Hari sudah mulai temaram menjelang senja berakhir. Masih banyak pertunjukan hidup di Taman Fatahillah, masih ramai orang-orang berlalu lalang dengan sepeda kuno sewaan, sembari perlahan-lahan matahari menghilang.

Aku jadi teringat kutipan dari seorang teman, “Sesekali, kau perlu pergi ke tempat baru dan bertemu orang asing untuk tahu dirimu beruntung.”

IJSW hari pertama 10.01.2017
ditulis di Depok 29.01.2017.

Advertisements

7 thoughts on “IJSW 2017: memperkenalkan ‘jakarta’

  1. Matius Teguh Nugroho says:

    Menarik sekali kegiatannya, mbak. Tapi ini tidak terbuka buat umum ya? Aku pengen berjalan mengeksplor Jakarta bersama orang asing, menunjukkan banyak wajahnya 🙂

    Btw, apa pendapat mereka soal Commuter Line?
    Kawasan Kota Tua memang perlu dipernyaman untuk wisatawan, misalnya ada JPO yang menghubungkan Stasiun Kota dengan Jl. Gadjah Mada dan kedua sisi lainnya selain sisi Bank Mandiri yang sudah terhubung via underpass.

    Eh, aku belum pernah ke Menara Syahbandar. Malah baru tau wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s