pemandu lokal dari tidore

“We have all a better guide in ourselves, if we would attend to it, than any other person can be.”
― Jane Austen, Mansfield Park

Namanya Iki. Aku mengenalnya tepat ketika turun dari kapal yang membawaku menyeberang dari Pelabuhan Bastion ke Tidore. Ia langsung mengenali penampilanku yang ‘turis banget’ dan menawarkan jasanya untuk mengantarkanku berkeliling pulau rempah ini. Badannnya hitam dengan perawakannya tinggi besar. Semula aku agak takut, tapi ia cukup ramah apalagi sesudah menyepakati harga sebesar seratus dua puluh ribu hingga tiba lagi di pelabuhan. “Nanti foto-fotoin saya di spot-spot bagus, ya, Bang,” pintaku.

“Kalau turis memang biasanya lebih suka naik motor, kak. Lebih segar katanya,” ceritanya di awal perjalanan. Aku menyepakati perkataannya. Dengan naik motor, menikmati pemandangan langsung tanpa penghalang kaca jendela, mengatur cepat lambatnya perjalanan jika melihat sesuatu yang menarik. Continue reading

Advertisements

ruang-ruang sosial di tepi laut ternate

Kevin Lynch mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen penting dalam pembentukan imaji fisik suatu kota. Dalam bukunya yang berjudul Image of the City, terdapat pengaruh-pengaruh dari pencitraan yang dilihat secara fisik untuk memperkuat makna kota. Mengacu pada lima elemen, yaitu path, edge, district, node, dan landmark, yang seringkali berulang lagi dalam satu lingkungan, bukan hanya seluas fungsi kota, unsur-unsur ini muncul bukan hanya karena sengaja dibangun oleh manusia, tapi bisa juga memang muncul karena kegiatan manusianya yang membuat unsur ini menjadi berfungsi dengan sendirinya.

Bukan berarti jika elemen-elemen ini tidak dipenuhi, maka suatu tempat tidak layak disebut kota, karena ini hanyalah salah satu tengara fisik yang mudah diamati ketika berkeliling kota, ketimbang harus memahami batas-batas administratif yang ditentukan oleh pemerintahan. Berkeliling pada satu sisi Pulau Ternate di sebelah timur menghadap Laut Jailolo, tempat mayoritas kegiatan bisnis dan sosial berlangsung yang tidak banyak berubah sejak masa perdagangan Portugis hingga VOC. Pola perkotaan yang berbasis pada laut, mengakibatkan orientasi kota tidak mengacu pada pusat tertentu, melainkan pada tepian laut lepas. Karena itu area kegiatan sosial lebih banyak terletak di tepian perairan yang mengelilingi pulau.
Continue reading