mengheningkan cipta di hiroshima

Udara panas menyengat ketika aku turun di stasiun Hiroshima siang hari itu. Aku bergegas mencari pusat informasi untuk memperjelas cara menuju hostel dari stasiun. Sebenarnya aku sudah mencari tahu sebelumnya melalui google map, tapi tetap saja untuk lebih yakinnya, aku bertanya di kantor mungil itu. Karena aku tidak bisa berbahasa Jepang sama sekali, maka tourist information centre adalah salah satu tempat untuk mengorek keterangan menuju lokasi hingga sejelas-jelasnya. Dan di Jepang, fungsi ini selalu berada dekat atau di stasiun.

Keluar dari stasiun, aku menaiki streetcar (tram) jalur kuning tujuan Dobashi. Kuhitung ada 13 stasiun hingga streetcar ini akan berhenti di tempat aku aku turun. Peta di tanganku bertuliskan huruf kanji buta kubaca, namun juga dilengkapi dengan tulisan latin. Peta ini cukup lengkap informasinya, termasuk cara transit streetcar antar jalur, cara menukar uang kecil di mesin, sampai beberapa lokasi wisata favorit. Untunglah, di setiap perhentian diumumkan nama stasiun yang lamat-lamat kucocokkan dengan tulisan di peta. Ransel jinggaku kuletakkan di lantai trem sehingga agak menghalangi orang lewat. Berkali-kali aku bilang ‘sorry’ sambil menundukkan kepala.

Ting! “Dobashi!” seru pengeras suara di dalam streetcar. Continue reading

Advertisements