Harum Pala Banda yang menguar hingga Eropa [review film Banda: The Dark Forgotten Trail]


Beta pattiradjawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.
[Cerita buat Dien Tamaela-Chairil Anwar]

Aku pertama kali mendengar nama Banda mungkin ketika SD atau SMP di tengah buku-buku pelajaran sejarah yang harus dilahap ketika itu, sebagai salah satu pulau di kawasan Maluku. Tapi tidak pernah terbersit untuk mempelajarinya lebih jauh, hanya mendengarnya sebagai salah satu penghasil rempah-rempah yang menjadi awal kolonialisme di Indonesia. Namun kepulauan Maluku memang memiliki daya tarik yang kuat untuk membaui harumnya rempah-rempah yang lebih berharga dari emas, sampai-sampai aku sempat melakukan perjalanan ke Ternate dan Tidore untuk melihat jejak-jejak kolonialialisasi. Karena belum sempat ke Banda, maka ajakan ILUNI UI untuk menonton bareng film BANDA: The Dark Forgotten Trail karya sutradara Jay Subyakto pantang kulewatkan.

Film BANDA ini memberikan gambaran besar mengenai Kepulauan Banda, yang ternyata hanya tampak seperti titik saja pada peta Indonesia, apalagi pada putaran globe. Ketujuh pulaunya, Banda Besar, Neira, Gunung Api, Rozengain, Ai, Pisang dan Rhun mashyur pada abad 15. Namun dari sinilah awal mulanya penjajahan nusantara selama berabad-abad, untuk menuai rempah pala dan cengkeh yang merupakan komoditas tinggi kebutuhan dunia, hingga bangsa barat berlomba-lomba untuk mengadakan ekspedisi mencapai sumber rempah-rempah di daerah timur.

Pala sebagai komoditas utama menjadi sentral terhadap keseluruhan cerita, karena buah inilah yang begitu digandrungi oleh bangsa Eropa di abad 15 sebagai pengawet, aphrodisiak dan penenang. Mulai dari makanan hingga mummi menggunakan pala dalam proses pengawetannya. Sebagai penghasil pala berkualitas terbaik di dunia, Banda menjadi arah tujuan ekspedisi untuk mendapatkan rempah-rempah dalam jumlah besar, untuk mendapatkan keuntungan bagi bangsa barat yang mengeksploitasinya. Karena itulah perseteruan hingga penindasan pada penduduk asli hingga bangsawan Banda terjadi, dan membuahkan begitu banyak pertumpahan darah hingga Belanda menegakkan benteng-bentengnya di kepulauan ini.

Hutan-hutan pala yang sudah berumur ratusan tahun menjadi pelindung bagi kebanyakan orang Banda, namun sekaligus sebagai kekayaan yang menyilaukan penjajah untuk merebutnya. Harga segenggam pala yang setara dengan emas membuat nusantara dijajah hingga 350 tahun dan dikuasai dengan berbagai cara untuk mengurasnya. Kapal-kapal datang silih berganti mengangkut hasil bumi ini berlayar ke Eropa melewati jalur-jalur yang kemudian dinamakan jalur rempah.

Peninggalan zaman eksploitasi itu masih tersebar di berbagai pelosok Banda, berupa benteng-benteng yang dijadikan pusat pertahanan Belanda di masa lalu. Adalah benteng Belgica yang terletak di kota Naira, desa Nusantara yang masih utuh hingga kini dibangun pada tahun 1611 yang merupakan salah satu yang terluas dan masih terpetakan. Bentng-benteng lain yang berada pada sisi lain kepulauan seperti benteng Nassau dan Concordia digambarkan dengan visualisasi yang indah dan dramatis, sekaligus mengerikan mengingat apa yang terjadi di sana amat menyakitkan bagi bangsa.

Sejarah juga mengingatkan bahwa Bung Hatta dan Bung Syahrir juga pernah dibuang ke Banda selama beberapa tahun, dimana mereka tetap memberikan warna dan kenangan tersendiri bagi warga Banda. Penggagas-penggagas kemerdekaan yang idenya tak pernah mati walaupun dijauhkan dari pusat komunitas, dan justru malah makin bersinar ketika berada di kepulauan yang menjadi muasal pergerakan nusantara. Warga Banda mencintai mereka, bahkan menyisipkan nama Hatta untuk Pulau Rozengain dan nama Syahrir untuk Pulau Pisang.

Banda kini bukanlah Banda yang dahulu menyilaukan bangsa barat untuk meraup kekayaannya. Fungsi pala sebagai pengawet sudah digantikan oleh penemuan lemari pendingin sehingga popularitasnya kian lama kian merosot. Banda kini adalah Banda yang ditinggali olah manusia Indonesia multietnis, yang datang untuk bertinggal di Banda dan mencari penghidupan di sana. Banyak orang Banda yang sekolah keluar dan tak kembali, membuat pengelolaan pulau agak terbengkalai. Karenanya, generasi muda sebagai peneruslah yang harus diingatkan akan menjaga pulaunya dan mempelajari lagi sejarah yang pernah menjadi sentra penting di abad 15 untuk berkembang mengikuti zaman tanpa melupakan masa lalu.

Film ini menjadi pengingat buah pala sebagai awal, benteng-benteng bersejarah, Hatta dan Syahrir, kehidupan pulau-pulau, konflik horisontal, penduduk pendatang hingga budaya Banda yang masih terjaga hingga sekarang. Visualisasi dramatis dengan warna-warna yang indah karena lokasinya yang memang cantik menjadi penikmat layar lebar untuk memindahkan kenangan langit biru, awan berarak, siluet gunung api, hingga gemerisik ombak dan laut yang memecah pantai. Jay Subyakto yang juga alumni Arsitektur UI ini mengeksplorasi ruang hutan dalam rapat untuk menimbulkan penasaran, juga mengolah ruang luas dengan pandang cakrawala untuk menciptakan kemegahan.

Membangun nusantara adalah kewajiban seseorang yang mencintai negerinya ini. Menguak sejak asal muasal kenapa negeri ini ditindas hingga melantangkan kemerdekaannya, menghargai setiap jerih dan getih pendahulu yang berupaya bangsa ini maju.

Menghilangkan masa lalu bangsa, sama artinya dengan membunuh masa depan bangsa.

Selamat menyambut kemerdekaan ke 72, negeriku.

[gambar berasal dari trailer BANDA: The Dark Forgotten Trail]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s