kolf braza dari tepi sungai

“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”
― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky

Kapal speedboat yang membawa kami menderu di sungai Aswet usai dilepas di Pelabuhan yang berada di belakang pasar Agats bersama menuju Distrik Kolf Braza yang menurut informasi berjarak sekitar enam jam dari ibukota kabupaten tersebut. Di pelabuhan tadi kami juga bertemu Kak Seto yang hendak ke Distrik Jetsy untuk beraktivitas dengan anak-anak. Tim yang berangkat adalah Prof. Heri Hermansyah, Albert Roring, Dr. Sri Wahyuni, dr. Taufik, dr. Firsandi, Dr. Chairul Hudaya, Indri Juwono, I Made Genta, Ade Putra dan Ahmad Lutfi. Di bawah bantuan komando Letda CKM dr. Marsandi yang juga merupakan alumni FKUI, tim berangkat jam 08.00 menggunakan tiga speedboat beserta logistik yang diperlukan. Tim juga dibantu oleh Sertu Anang dari SatgasKes III Asmat serta Pratu Hepsy dan Kopda Wahyu dari batalion yang mengawal perjalanan kami sehingga total anggota tim menjadi 14 orang.

Tim yang berangkat ke Distrik Kolf Braza berjumlah empat belas orang yang terbagi menjadi tiga kelompok kapal speedboat. Rencananya di tengah perjalanan kami akan berhenti di distrik Suator untuk mengisi bahan bakar dan membeli logistik lagi. Aku naik speedboat bersama dr. Taufik, dr. Firsandi, Koptu Wahyu dan Dr. Chairul.

Kupikir berada di dalam speedboat selama enam jam akan begitu membosankan, tapi ternyata pemandangan di kanan kiri penuh dengan kejutan-kejutan menarik. Kami melihat desa-desa di antara hutan-hutan yang berada di tepi sungai. Rumah-rumahnya berbentuk rumah panggung, berjajar linier sepanjang desa sekitar 200-300 meter. Di sisi lainnya, pohon kayu besi yang menjulang tinggi di antara hutan menjadi pemandangan khas sungai ini. Sesekali kami temui pondok-pondok tunggal di tepi sungai yang sepertinya menjadi tempat istirahat sementara bagi penduduk yang mencari hasil bumi di hutan.

Sungai yang kami lalui pun tak melulu itu-itu saja. Speedboat sempat beberapa kali berbelok-belok di beberapa persimpangan sungai. Hebat banget memang si supir speedboatnya ini, bahkan nggak ada tanda-tanda jalur mana tetapi ia tahu saja jalur yang harus diambil ketika ada persimpangan. Mungkin memang ada panduannya antara pohon satu dengan yang lain.

Salah satu jalur yang seru ketika kami harus melalui sungai meliuk yang terus menerus berkelok-kelok dengan jarak yang pendek. Speed boat tetap melaju kencang sementara kami di kapal jadi harus berpegangan. Disini diuji lagi kehandalan supirnya karena tidak semua sisi sungai yang relatif sempit ini cukup dalam. Tentunya supir harus menghindari permukaan yang dangkal supaya speedboat tidak kandas. Nah, ini perlu intuisi sendiri membaca permukaan sungai untuk memperkirakan dalamnya.

Akhirnya kendaraan kami tiba di sungai utama menuju Kolf Braza, yaitu sungai Elianden yang lebarnya sekitar 80-100 meter. Hampir tidak ditemui lagi perahu lain di perjalanan ini, hanya beberapa perahu kayu dan satu kapal penjual bahan bakar di tengah sungai. Banyak eceng gondok yang terhanyut di sungai yang harus diwaspadai juga supaya tidak tertabrak oleh speedboat.

Menjelang siang, kondisi di sungai Elianden makin panas dan terik sehingga kami pun harus menutupi kepala dengan topi supaya tidak terbakar matahari. Di tepi-tepi juga ditemui pemukiman penduduk yang berkelompok dengan rumah panggung dan jalan kayu yang mengambang di atas tanah. Adanya dermaga besar menjadi penanda bahwa terdapat pemukiman di sekitar situ sebagai titik transportasi. Hutan-hutan dan pohon kayu besi yang menjulang masih menjadi pemandangan yang dominan di tepi sungai ini. Pohon sagu pun terlihat di tepian dengan subur, sumber makanan sehari-hari penduduk Papua.

Tengah hari kami tiba di Distrik Suator untuk menambah persediaan logistik dan juga mencari informasi tinggi muka air yang aman untuk dilalui speedboat. Jika tidak cukup tinggi, sungai yang sering dangkal ini hanya bisa dilewati dengan perahu ketinting dan akan memakan waktu yang lebih lama lagi. Pantas saja kemarin Pak Bupati Asmat mengatakan bahwa perjalanan ke Distrik Kolf Braza ini bisa memakan waktu sekitar 12 jam. Hanya dua speedboat yang berhenti di Suator, karena speed pertama sepertinya lanjut terus hingga Kolf Braza.

Kami melanjutkan perjalanan selama satu jam dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya tiba di dermaga berpasir di sebelah kiri sungai. Tampak penumpang speed pertama sedang beristirahat di bawah dermaga sambil menunggu kami. Karena bagian bawah dermaga kondisinya lapuk, speedboat hanya bisa bersandar di tepian pasir tersebut dan menurunkan barang-barang secara estafet.

Jalur masuk ke Distrik Kolf Braza berupa jalan kayu berjajar panjang di atas tanah selebar 1.2 m yang harus dilalui berhati-hati karena beberapa bagiannya sudah agak lapuk. Hanya satu dua rumah yang kami temui di tepi-tepi jalan ini, hingga akhirnya kami menemui sungai yang sedang diperbaiki jembatannya. Mereka bergotong royong memotong kayu untuk menggantikan kayu lama di atas sungai. “Lewat saja, tak apa-apa, hanya belum dipaku!” teriak mereka melihat kami yang agak ragu-ragu melintasi jembatan.

Untungnya bagian jembatan yang berada di atas sungai sudah selesai, sehingga bisa dilalui dengan nyaman, hanya saja bagian ujungnya masih memasang tiang jadi kami melompat untuk turun dari jalur dan beristirahat di warung sambil mengamati proses konstruksinya. Ternyata untuk membuat jalur jalan terus yang melayang di tanah, ditopang oleh tiang-tiang berdiameter sekitar 20 cm. Ujung kayu ini diruncingkan kemudian ditanam begitu saja ke lubang yang sudah digali terlebih dahulu. Sesudah beberapa kayu ditanam berjajar, baru ditimbang ketinggiannya dengan benang untuk melihat kerataannya, baru dipotong sisa bagian atasnya dengan kampak. Di antara tonggak yang sudah rata ini baru dipasang kayu penyangga sebagai dudukan papan-papan kayu besi tempat laluan orang nantinya.

Pemilik warung ini ternyata bukan warga asli Papua, melainkan pendatang dari Saumlaki, Maluku Tenggara. Sudah beberapa tahun ia tinggal di sini sambil berdagang. Biasanya ke kota beberapa minggu sekali untuk membeli barang dagangan. Kami juga bertemu dengan beberapa ibu-ibu yang membawa jala sesudah mereka menangkap ikan di sungai. Mereka berjalan dari tepi sungai hingga jalan papan untuk menuju desanya.

Melanjutkan perjalanan, kami menuju Puskesmas Kolf Brazza dan bertemu dengan Agustinus Tagoy selaku kepala Puskesmas dan menjelaskan maksud kedatangan kami di sini sehubungan dengan KLB gizi buruk di Asmat. Puskesmas ini cukup lengkap dan dibantu oleh empat orang suster dan satu perawat pria. Terdapat banyak ruangan-ruangan di puskesmas ini mengelilingi satu bukaan yang rencananya akan dijadikan kolam. Air di puskesmas ini menggunakan air sumur sehingga tidak mengandalkan tadah hujan seperti halnya kebutuhan lainnya. Di depan puskesmas terdapat empat rumah dinas yang kami tinggali sementara berada di Desa Binamzain Kolf Brazza ini.

Ternyata tidak semua jalan di sini menggunakan jalur papan, karena ketika menjelang sore kami menuju rumah Kepala Distrik, di ujung jalan papan kami melalui bangunan SD dengan enam lokal kelas yang menghadap satu lapangan bola besar di tanah berpasir putih. Tampak anak-anak kecil berlarian mengejar bola dengan seru dan riang. Baru di ujungnya ada jalur jalan lagi untuk menuju rumah maupun kantor Kepala Distrik. Agaknya di sinilah pusat pemerintahan Distrik Kolf Brazza yang wilayahnya mencapai gunung dan bukit-bukit yang ada di belakang.

Tepat di depan area ini terdapat lapangan yang juga terbuat dari papan-papan, mengambang di atas tanah. Saat itu beberapa orang sedang asyik bermain voli di situ. Mungkin biasanya lapangan ini digunakan untuk acara-acara distrik ataupun lapangan upacara.

Di rumah para suster tempat kami makan malam, menggunakan listrik tenaga surya untuk keperluan sehari-hari. Entah karena cuaca agak lembab usai hujan, malam itu banyak sekali laron yang merubung semua sumber cahaya yang menyala. Aku dan bu Uci memutuskan untuk tinggal di rumah ini bersama para perawat, semantara tim yang laki-laki menginap di rumah-rumah dinas yang disediakan dengan sumber penerangan TaLis yang dibawa oleh Dr. Chairul Hudaya. Ternyata Talis ini pun tak luput dari serangan laron yang banyak. Yang agak menyusahkan ketika menggunakan headlamp sambil jalan, karena laron-laron beterbangan di depan mata sehingga agak menghalangi pandangan.

Rupanya tim kami ini cukup rajin karena keesokan paginya semuanya tepat waktu berkumpul di rumah suster untuk sarapan sebelum melakukan pelayanan kesehatan di Kampung Pepera yang masih merupakan bagian dari distrik Kolf Brazza, namun berjarak 15 menit dengan speedboat menyusuri sungai Elianden. Ternyata kampung ini kemarin sudah kami lewati dalam perjalanan.

Setiba di dermaga Pepera, tim langsung berjalan menuju gereja yang rencananya dijadikan tempat pemeriksaan kesehatan. Penduduk desa pun mulai keluar dari rumah dengan wajah ingin tahu ketika melihat tim kami datang. Rumah-rumah di Pepera hanya menghadap satu arah, yaitu ke arah sungai, berdiri sekitar 1.5 meter di atas tanah dan dihubungkan oleh jalan panjang selebar 2 meter dari papan-papan kayu.

“Kalau yang di belakang itu rumah bujang, asli dari penduduk sini. Kalau yang di tepi jalan ini rumah bantuan pemerintah,” jelas Pak Kepala Puskesmas ketika aku penasaran pada tonggak-tonggak yang tidak menyangga apa-apa di tepi jalan. Beberapa rumah memang berdiri langsung di tepi jalan, sementara beberapa lainnya memang masih menampakkan rumah aslinya yang menjorok ke belakang.

“Rumah-rumah di sini memang bentuknya rumah panggung karena air sungai masih bisa naik pasang ke daratan apabila musim hujan,” sambungnya. Awalnya aku tak percaya karena jaraknya yang cukup jauh, sekitar 15 meter dari sungai. Tapi mengingat lokasi rumah asli memang jauh lebih mundur ke belakang, sepertinya penjelasannya masuk akal jika dikaitkan dengan kejadian yang sudah lalu.

Di bangunan gereja yang dindingnya terbuat dari batang-batang pohon sagu, penduduk berkumpul untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dr. Firsandi dan dr. Taufik memeriksa penduduk yang sudah mengantri di bangku-bangku, sementara Sertu Anang dan dua perawat membantu memberikan obat-obatan sesuai yang diresepkan. Berangsur-angsur penduduk datang ke bangunan gereja sesuai arahan dari kepala kampungnya.

“Yuk, kita jalan-jalan ke SD saja,” kataku mengajak Ade Putra yang sedang berdiri di bawah pohon mengamati kondisi di dalam. Karena menurut informasi biasanya SD akan pulang jam 9, maka aku berusaha buru-buru melihaat situasi kelas. Kuajak juga Lutfi yang juga banyak ide untuk bermain dengan anak-anak. Ternyata lokasi SD berada di ujung lainnya dari desa, dan hanya memiliki dua lokal kelas. Ketika kami tiba, Pak Ahmad Suyudi sedang menyatukan kedua kelas ini dan menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Kemudian ia tiba-tiba mempersilakan kami ‘mengambil alih’ kelasnya.

Wah, kelas ini cukup riuh dengan berbagai tingkatan umur di dalam kelas. Sebagian di depan yang masih muda tersipu malu-malu, sementara sebagian lagi memandang dengan rasa ingin tahu. Hm, aku mengingat hal-hal yang kulakukan dulu di kelas inspirasi. Dimulai bernyanyi dan aneka tepuk, aku menuliskan angka dan menantang anak-anak untuuk menggambar bentuk-bentuk dari angka tersebut. Tentunya tak lupa mengajarkan “whooshh” untuk menyemangati anak-anak yang berani maju. Lutfi dan Chairul juga ikut bermain dengan anak-anak sambil bercerita dan bernyanyi di kelas. Ternyata anak-anak ini hanya bersekolah hingga jam 9 pagi hari itu karena ada kegiatan bersama di desa.

Usai kelas bubar, Pak Ahmad Suyudi bercerita, “Kadang-kadang sungai ini dangkal hingga tidak bisa dilewati kapal.” Ditunjukkannya satu area yang terlihat pasirnya kering sehingga kapal pun kandas di situ. Rasanya kemarin kami melihat daerah yang dilihat ini masih berupa peraran semua. Mungkin memang di jam-jam tertentu airnya surut. Baru teringat, kemarin memang lewat di sini sudah tengah hari.

Kami berjalan lagi kembali ke arah gereja yang ternyata masih dipenuhi penduduk yang memeriksa kesehatannya. Sembari menunggu, aku masuk ke salah satu rumah penduduk asli di situ. Berdiri di atas ketinggian sekitar satu meter, rumah panggung ini berbentuk segiempat dengan keseluruhannya terbuat dari kayu. Dinding-dindingnya terbuat dari papan dan tak berjendela, sementara atapnya dari seng. “Apa di sini tidak bisa dibuat jendela, Pak?” tanyaku. “Jendela untuk rumah dari pemerintah,” jawabnya. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Di bagian belakang rumah lantainya menggunakan bambu dan dindingnya dari daun sagu. “Ini area dapur dan tungkunya,” kata Pak Martin, penghuninya. Namun ditunjukkannya juga satu area kamar yang juga memiliki tungku di dalam kamar. “Kalau sudah berkeluarga, punya tungku sendiri,” jelasnya.

Ia juga menunjukkan bagian belakang rumah di mana ia memelihara ayam dan babi. Keluarga ini tidak memiliki WC, namun punya tangki air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Pak Martin juga menunjukkan kolam di belakang rumahnya tempat ia memelihara ikan. “Ada sepuluh ikan di sini tadinya, tapi hilang dimakan tikus,” ceritanya. Ia juga menunjukkan aneka pohon buah-buahan yang tumbuh begitu saja di belakang rumahnya yang berbatasan langsung dengan hutan. Hm, desa Pepera ini begitu subur dan penduduknya bisa mengambil apa saja dari hutan. Seharusnya tidak ada masalah dengan jumlah makanan penduduk di sini.

Menjelang jam dua siang anak-anak malah berkumpul di sekitar gereja, sehingga Lutfi dan aku jadi berinisiatif untuk bermain bersama mereka lagi sembari berputar-putar. Beberapa penduduk pria yang sudah kembali dari kebun pun ikut mengantri untuk diperiksa. Beberapa malah ikut nongkrong dengan kami sambil mengobrol. Akhirnya setelah 143 pasien diperiksa, tim pun kembali ke Desa Binamzain dan beristirahat. Sorenya, dr. Taufik dan dr. Firsandi kembali bertugas di Puskesmas untuk melayani beberapa penduduk.

Perjalanan Papua 20-21 Februari 2018
ditulis di Flores 25 Maret 2018

cerita lain dari Papua :
cerita dari agats, kota sejuta papan
selamat pagi desa binamzain asmat papua

Advertisements

4 thoughts on “kolf braza dari tepi sungai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s