[ANTARA] untuk lombok

“Expose yourself to your deepest fear; after that, fear has no power, and the fear of freedom shrinks and vanishes. You are free.” 
― Jim Morrison

Sudah keenam kalinya aku menginjakkan kaki di bumi Mandalika ini, yang hampir semuanya dalam rangka jalan-jalan dengan gembira. Namun baru kali ini aku datang dengan getir, karena sekarang di sepanjang perjalanan tampak sepi. Jalanan pantai Senggigi yang biasanya ramai terlihat lengang, dan sesekali terlihat tenda terpal muncul di antara hamparan padang-padang. Terus menuju utara, reruntuhan pun menjadi pemandangan yang jamak di kiri dan kanan jalan.

Senggigi tetap menyajikan pesona senja yang luar biasa di bulan September dengan pemandangan Gunung Agung di seberang lautan yang bisa dinikmati dengan mata telanjang, berpadu dengan jingga dari bola matahari yang perlahan-lahan menghilang ditelan petang. Disambung dengan lembayung yang memenuhi udara menemani perjalanan terus ke Lombok Utara, memberi pesan bahwa waktu matahari tadi, masih menjadi pesona Lombok yang akan mengembalikannya sebagai pariwisata unggulan. Continue reading

Advertisements

kolf braza dari tepi sungai

“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”
― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky

Kapal speedboat yang membawa kami menderu di sungai Aswet usai dilepas di Pelabuhan yang berada di belakang pasar Agats bersama menuju Distrik Kolf Braza yang menurut informasi berjarak sekitar enam jam dari ibukota kabupaten tersebut. Di pelabuhan tadi kami juga bertemu Kak Seto yang hendak ke Distrik Jetsy untuk beraktivitas dengan anak-anak. Tim yang berangkat adalah Prof. Heri Hermansyah, Albert Roring, Dr. Sri Wahyuni, dr. Taufik, dr. Firsandi, Dr. Chairul Hudaya, Indri Juwono, I Made Genta, Ade Putra dan Ahmad Lutfi. Di bawah bantuan komando Letda CKM dr. Marsandi yang juga merupakan alumni FKUI, tim berangkat jam 08.00 menggunakan tiga speedboat beserta logistik yang diperlukan. Tim juga dibantu oleh Sertu Anang dari SatgasKes III Asmat serta Pratu Hepsy dan Kopda Wahyu dari batalion yang mengawal perjalanan kami sehingga total anggota tim menjadi 14 orang.
Continue reading

Harum Pala Banda yang menguar hingga Eropa [review film Banda: The Dark Forgotten Trail]


Beta pattiradjawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.
[Cerita buat Dien Tamaela-Chairil Anwar]

Aku pertama kali mendengar nama Banda mungkin ketika SD atau SMP di tengah buku-buku pelajaran sejarah yang harus dilahap ketika itu, sebagai salah satu pulau di kawasan Maluku. Tapi tidak pernah terbersit untuk mempelajarinya lebih jauh, hanya mendengarnya sebagai salah satu penghasil rempah-rempah yang menjadi awal kolonialisme di Indonesia. Namun kepulauan Maluku memang memiliki daya tarik yang kuat untuk membaui harumnya rempah-rempah yang lebih berharga dari emas, sampai-sampai aku sempat melakukan perjalanan ke Ternate dan Tidore untuk melihat jejak-jejak kolonialialisasi. Karena belum sempat ke Banda, maka ajakan ILUNI UI untuk menonton bareng film BANDA: The Dark Forgotten Trail karya sutradara Jay Subyakto pantang kulewatkan.

Continue reading