engineering in symphony: harmoni keselarasan

“Karyaku Untuk Negeri”

Negeri ini tak butuh gelar mu
Tak butuh ijazah atau predikat cumlaudemu
Negeri yqng telah membayar semua rasa banggamu
dengan sebuah jaket kuning dan lencana makara
Hanya berharap KARYAmu
Dari ilmu yang kau petik
Yang tumbuh dengan pupuk rasa keingintahuan
Dan disiram dengan air ketekunan
Karena Ilmu adalah sebuah LAKON
yang di mainkan dengan CINTA
Bukan sekedar dibingkai emas
Namun untuk dihayati dengan dedikasi
Dan dirayakan denga nsemangat dan optimisme
Agar mekar sempurna menjadi karya dan bakti nyata
Bagi bangsa

[Indy Hardono]

Kalimat-kalimat ini dibacakan pada awal konser Engineering in Symphony yang diadakan di Makara Art Centrum, Universitas Indonesia pada 18 Juli 2018 lalu. Konser yang dikomandoi oleh Erwin Gutawa ini diadakan untuk memperingati Dies Natalis Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang ke 54. Bang Erwin sendiri adalah alumni Departemen Arsitektur FTUI yang memang memutuskan untuk berkarir di bidang musik yang sesuai dengan panggilan jiwanya.

Gedung Makara Art Centrum sendiri yang terletak di tepi Danau Kenanga, berhadapan langsung dengan Balairung dan Rektorat UI, merupakan bangunan yang ditujukan untuk pertunjukan seni dan budaya di kawasan Universitas Indonesia. Dengan tata akustik yang dirancang khusus, bangunan ini sesuai untuk penyelenggaraan orkestra.

Sebelum pelaksanaan acara, tim Erwin Gutawa sendiri sudah berlatih selama hampir seminggu untuk perhelatan ini. Kedisiplinan dan harmonisasi antar pemain musik mutlak dikoordinasikan untuk hasil yang sempurna pada sebuah orkestra. Tidak hanya para pemainnya, tim manajemen pun memegang peranan penting dalam keberhasilan ini.

Banyak reuni kecil-kecilan antara alumni yang hadir dari berbagai Departemen di FTUI. Tidak disangka aku bertemu dengan beberapa teman-teman angkatan 1996 yang juga hadir dan tertarik pada orkestra. Ternyata banyak juga lulusan Fakultas Teknik yang suka musik-musik serius semacam ini.

Dengan MC Shahnaz Haque yang merupakan alumni Teknik Sipil FTUI, acara diawali dengan pemutaran video rekayasa Indonesia dan ucapan selamat ulang tahun khusus dari Prof. Dr. BJ Habibie untuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Semangat pada negeri pun dibangun dengan pembukaan orkestra dengan lagu Indonesia Jiwaku, diiringi oleh tampilan layar yang menayangkan keindahan Indonesia.

Nuansa jenaka dan riang disemarakkan oleh orkestra ini pada saat memainkan lagu Kolam Susu yang pernah dipopulerkan oleh Koes Plus. Lagu yang sering kudengar pada masa kecil ini mengingatkan pada tanah Indonesia yang amat subur dan bagaimana seharusnya kita menjaga lingkungan supaya tetap bersahabat.

Kejutan diberikan oleh dua solis muda berbakat, Gita Gutawa dan Gabriel Hervianto yang membawakan lagu-lagu dengan semangat kebangsaan dan cinta tanah air dengan harmonisasi yang cantik. Dan di tengah-tengah, ternyata Dekan FTUI, Bapak Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono, M.Eng yang multi bakat ini juga ikut andil dengan menyumbangkan permainan suling yang diiringi oleh Erwin Gutawa Orkestra dan diakhiri dengan tepukan tangan panjang dari para penonton.

Beberapa alumni FTUI pun membacakan narasi yang ditulis oleh kak Indy Hardono untuk menguatkan tema Indonesia yang dikumandangkan oleh lagu-lagu yang ditampilkan oleh Erwin Gutawa Orkestra yang dibacakan oleh Prof Bondan, Yori Antar, Milatia Kusuma, Teten Derichard, Arief Budhy Hardono, dan Shahnaz Haque.

Erwin tidak hanya menjadi konduktor bagi orkestranya, namun penonton pun sesekali diajak untuk ikut bernyanyi mengikuti lagu yang dimainkan. Tentu saja kami tak segan untuk ikut berdendang dan bertepuk tangan mengikuti arahan sang konduktor untuk menghidupkan suasana dalam konser sepanjang dua jam ini.

Berhubung aku tak biasa menonton orkestra, aku tidak tahu apakah seharusnya lampu di dalam area penonton itu gelap atau remang, karena tidak kontras dengan pencahayaan di panggung. Mungkin kalau seandainya di area penonton lebih remang, cahaya dari ponsel tidak diperkenankan untuk menyala karena mengganggu komposisi.

Orkestra ditutup dengan lagu Syukur yang dinyanyikan dengan indah oleh Gita dan Gabriel penuh penghayatan dan elegan. Di akhir acara, diserahkan beasiswa dari sebagian hasil penjualan tiket kepada Yayasan Mata Air Biru yang akan menyalurkan sebagai dana pendidikan bagi mahasiswa yang studi di FTUI.

Tentunya tak hanya menikmati orkestra yang menjadi tujuan hadir di acara ini. Usai acara, teman-teman alumni maupun dosen saling bertukar kesan setelah sekian lama tidak bertemu. Keakraban pun tercipta walaupun acara sudah usai diiringi oleh gelak tawa dan peluk erat.

Bagiku, sebuah proses engineering mungkin seperti halnya orkestra. Seperti halnya menggerakkan sebuah mesin, seperti juga merancang bangunan atau jembatan, setiap baut, setiap batu, setiap tumpuan, setiap energi, setiap transmisi, adalah hal yang harus bisa diselaraskan seperti halnya alunan nada yang menjadi manajemen untuk keberhasilan rangkaian proses simponi.

Video Engineering in Symphony bisa dilihat di sini:

Advertisements

One thought on “engineering in symphony: harmoni keselarasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s