lombok dan kenangan-kenangan yang mengikuti

“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”

― Paulo Coelho, The Alchemist

Aku pertama kali ke Lombok tahun 2005 atas rekomendasi seorang teman yang bermukim di Bali. Katanya, Bali sudah terlalu biasa dan ramai sehingga aku harus mencoba pulau lain. Walaupun sempat menemuinya di Pulau Dewata itu, aku terbang ke Lombok dari Denpasar dengan pesawat Merpati berbaling-baling yang terbang rendah dalam waktu kurang dari satu jam hingga mendarat di Bandara Selaparang. Dari sini kami dijemput supir dan menginap di daerah Senggigi yang jaraknya cukup dekat.

Seingatku, kami berjalan-jalan ke Desa Sade hingga Pantai Kuta yang waktu itu diceritakan oleh atasanku sebagai pantai yang indah dan cantik dengan keistimewaannya adalah pasirnya dengan bulir-bulir sebesar merica. Sayangnya karena saat itu tiba di Pantai Kuta pada tengah hari, jadi rasanya begitu panas dan enggan untuk bermain di pasirnya.

Aura Lombok yang kurasakan saat itu adalah pulau yang kering, dengan pemandangan sepanjang jalan ilalang-ilalang tinggi berwarna hijau, jalanan sepi dan pariwisatanya yang bergerak lamban. Kebetulan juga saat aku datang hanya terpaut beberapa bulan dari peristiwa bom Bali, sehingga Lombok yang biasanya menerima limpahan turis dari Bali pun terlihat cukup sayu dengan banyaknya hotel-hotel besar yang kosong. Sempat menyeberang ke Gili Meno dan naik Cidomo, saat itu aku masih tidak terlalu menikmati laut dan koral-koralnya yang indah.

Kali kedua ke Lombok adalah tahun 2013 ketika aku memimpikan untuk menaiki Gunung Rinjani. Lagi-lagi berangkat dari Bali, bandara sudah berpindah ke Praya yang terletak di tengah kota Lombok. Dengan naik sepeda motor dibonceng oleh guide yang akan mengantarku ke Rinjani, kami menyusuri bukit-bukit dengan pemandangan yang indah hingga kota Pancor yang tak jauh dari titik awal pendakian, yaitu Sembalun di Lombok Timur.

Saat itu aku begitu excited dengan gunung Rinjani yang terlihat begitu indah, megah di depan mata. Belum sampai titik awalnya saja sudah disuguhi dengan pemandangan bukit-bukit di kiri dan kanan jalan termasuk udara sejuk yang menemani. Banyak sekali titik pandang untuk menikmati indahnya desa Sembalun dari atas, hingga akhirnya kami harus mulai berjalan kaki mendaki kaki gunungnya. Perjalanan hingga punggungan Plawangan Sembalun selama delapan jam, mulai dari padang rumput yang amat luas hingga hutan-hutan yang kutemui (dengan tanjakan yang sangat mengesalkan) sebelum tiba di tempat camp. Paginya, mendaki puncak melalui jalur pasir yang cukup berat dilalui.

Tempat favoritku di Rinjani adalah Danau Segara Anak yang dicapai sekitar 3 jam dari Plawangan Sembalun yang menjadi kaldera gunung dengan airnya yang segar serta ikan-ikan yang bisa dipancing dan dijadikan lauk makan malam. Memandang bintang di tepi danau adalah hal yang mungkin membosankan tapi ingin dilalui sepanjang malam. Apalagi sumber air panasnya yang membebaskan dari rasa kedinginan, sekaligus pereda lelah dari pendakian yang panjang.

Pengalaman luar biasa dari tepi Segara Anak adalah mendaki lagi hingga Plawangan Senaru, dan berjalan kaki selama belasan jam lewat hutan-hutan dengan vegetasi yang cantik dan berubah-ubah setiap ketinggian tertentu. Variasi jalur dengan Sembalun ini yang membuat perjalanan ini kaya dan penuh kenangan. Ada kalanya aku berjalan sendirian selama beberapa lama sambil mendengarkan cericit burung terbang, namun berharap semoga tidak ada yang ‘menyapa’. Pos demi pos dilewati sambil beristirahat, hingga tiba di desa Senaru sekitar jam 11 malam di tengah taburan bintang pada malam gelap. Menurut guide-nya, desa ini tak jauh dari Air Terjun Sendang Gile yang berjarak satu jam perjalanan. Tapi tungkai kaki rasanya sudah mau copot karena berjalan sekian lama, dan ternyata masih ditambah dua jam sebelum benar-benar tiba di tempat istirahat.

Seperti di Sembalun, Senaru juga memiliki desa adat Sasak yang terjaga dengan baik dan sempat kukunjungi sebelum bertolak ke laut. Berbeda dengan jalur berangkat, kami kembali dengan menyusuri jalur pantai Lombok Utara hingga pelabuhan Bangsal, dan menyeberang ke Gili Air untuk santai-santai beristirahat. Perjalanan ini membuat aku jatuh cinta sekali dengan Pulau Lombok dan keindahan alamnya. Mungkin kali ini aku datang di musim yang tepat, dengan perjalanan penuh perjuangan sehingga benar-benar menikmati keindahan dan keramahan penduduknya.

Ketiga kalinya aku ke Lombok pada tahun 2014 hanya terpaut tiga hari sebelum berangkat untuk mereview satu resort mewah yang berada di Lombok Utara, diawali dengan drama ditinggal pesawat karena tak bisa check in. Terpaksalah aku tiba di sana dalam kondisi sudah gelap dan dijemput oleh supir resort membelah Pulau Lombok pada tengah malam. Selama di lokasi terpencil itu selama tiga hari melihat matahari terbit di depan pantai yang cantik dalam suasana yang tenang dan damai, cocok untuk beristirahat dengan tenang sambil menulis. Sekali lagi, Lombok membuatku jatuh cinta.

Sisi lain Lombok aku temukan dalam perjalanan berikutnya di tahun 2015 untuk melihat petani tembakau yang sukses mengelola lahan perkebunannya di daerah Lombok Timur. Sepertinya lahan-lahan yang dahulu gersang di tahun 2005 sudah dibudidayakan menjadi hamparan tembakau berkualitas tinggi yang dijual pada pengepul-pengepul maupun perusahaan rokok yang membuka lahan pengeringan di sana. Selain melihat kebun, kami juga diperlihatkan proses pengeringan baik yang tradisional maupun hingga pengepakan sebelum dibawa ke pabrik-pabrik untuk diolah.

Petani-petani ini mengaku mereka menanam tembakau karena hasilnya yang sangat besar, bahkan bisa untuk biaya naik haji berkali-kali. Beberapa petani yang kreatif meminta bantuan sapi dari pemerintah uantuk kemudian dikembangbiakkan dan beranak pinak sehingga membawa manfaat yang cukup besar bagi kawasan ini.

Terakhir kalinya ke Lombok adalah saat paling mengesankan di akhir tahun 2015 bersama-sama mengikuti Travel Writer Gathering bersama dengan pemenang lomba yang lain berkeliling Pulau Lombok, mulai dari pantai-pantai di selatan yang unik, tinggal di desa Sembalun yang indah hingga mendaki bukit Pergasingan selama tiga jam demi menemui matahari terbit dari balik puncak Rinjani. Karena harus menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan, maka banyak sekali titik-titik menarik Lombok yang menjadi tujuan perjalanan bersama hingga resort di Senggigi dan perjalanan ke Sumbawa lewat Pelabuhan Kayangan.

Tak ketinggalan juga saat ini kami juga mengunjungi kawasan budaya peninggalan Hindu berupa pura-pura di kawasan Mataram, serta mencoba aneka masakan Lombok yang khas mulai dari nasi puyung dekat bandara, sate Rembiga, hingga masakan rumahan di warung-warung tradisional di tengah pulau. Perjalanan yang hampir batal karena Gunung Anak Rinjani terus-terusan batuk ini ternyata tetap bisa dijalani dengan lancar dengan cuaca yang bersahabat. Teman-teman dari berbagai kota ini mulai yang tidak kenal hingga kami tetap akrab hingga sekarang, saling berkabar dan bertukar cerita.

Karena itu mendengar bahwa Pulau Lombok dilanda gempa membuat hatiku rasanya mencelos, sedih karena pulau indah itu terlihat hancur bangunannya di mana-mana. Penduduk yang ramah dan baik itu kehilangan tempat tinggal dalam sekejap, serta harus tinggal di tenda-tenda darurat yang datangnya pun tersendat-sendat. Kaki ini rasanya ingin segera berangkat untuk memeluk anak-anak yang ketakutan karena gempa, membacakan cerita dan mengurangi trauma. Hingga kini gempa sudah tiga minggu melanda Pulau Lombok dan sedikit demi sedikit menghancurkan daerah-daerah getaran yang dilalui. Berita kerusakan-kerusakan di Utara, Timur, Barat yang terus-menerus bertubi-tubi membuat dada sesak untuk pilihan membantu yang tentu tidak bisa pada semua tempat. Banyak kluster-kluster tersembunyi dan rusak yang tidak mudah terlihat dari tepi jalan raya.

Kali pertama yang kutanya adalah bagaimana kabar desa-desa adat di kaki Senaru maupun di kaki Sembalun? Sedih rasanya mendengar bahwa dudukan rumah adat di Sembalun runtuh, sehingga rumah-rumah dengan dinding kayu dan anyaman sasag ini meliuk doyong karena topangannya tidak berdaya. Seketika teringat dengan hutan-hutan bambu di sekitarnya yang bisa cepat dijadikan bahan bangunan. Teringat dengan atap alang-alang yang membuatku jatuh hati dan menjadi bahan penelitian selama setahun. Apalagi kabar dari Sembalun ini terlambat datangnya karena lokasinya yang di pelosok sana. Namun selain itu aku cukup lega mendengar kabar bahwa kampung Senaru tidak terlalu banyak rusak, semua dudukan dan sambungan kayunya masih berdiri dengan baik, sementara rumah batu di luar desanya hancur karena getaran yang bertubi-tubi.

Sebagai seorang arsitek, ingin rasanya cepat membangunkan tempat tinggal untuk orang-orang yang tidak lagi punya tempat bernaung itu namun tahan dari gempa yang terus-terusan terjadi, menggantikan tenda-tenda yang kelak menipis. Sayangnya belum juga mulai pembangunan ternyata gempa datang lagi dengan skala yang lebih besar dan membuat orang-orang pun gamang untuk tinggal di dalam rumah, namun itu tidak menyurutkan tim untuk terus cepat mendesain naungan-cepat-bangun untuk penyintas berteduh dari cuaca sehari-hari. Juga menggunakan material yang mudah ditemukan di lokasi untuk terus menggerakkan perekonomian lokal. Walaupun aku masih di Jakarta, berusaha membantu apa saja yang bisa didukung dalam tim relawan untuk Lombok yang sudah berjuang di lapangan maupun mencari bahan bantuan di Jakarta.

Lombok masih punya sejuta pesona pariwisata yang bisa diolah lagi sehingga pulau ini bangkit lagi sebagai tujuan. Lombok masih punya potensi sumber daya alam maupun hayati yang bisa menggerakkan roda perekonomian. Lombok masih punya orang-orang optimis bahwa kondisi ini akan bisa dilalui. Lombok pernah sepi di masa lalu, namun dengan tekad yang kuat dan potensi diri yang besar, pasti bisa kembali. LOMBOK BANGKITLAH!

Dekat kampus UI, Depok. 22.08.2018
note: foto masa bencana oleh ILUNI UI

indahnya lombok pernah kuceritakan di:
KORAN TEMPO : MEMBURU MENTARI DI BUKIT PERGASINGAN
WARISAN LAMPAU DESA ADAT BELEQ, SEMBALUN
SEMILIR NAULI, BUNGALOW DI KAKI RINJANI
SOUTH LOMBOK : THE BLUE, THE PINK, THE BEACH
MENDAMBA FLAMBOYAN DI LOMBOK SELATAN
HAMPARAN HIJAU TEMBAKAU LOMBOK
GILI TRAWANGAN : LIVING AND TOURISM ARE COUPLED
DESA TRADISIONAL SENARU, KUNJUNGAN PASCA RINJANI
RENJANA RINJANI : JALAN MENGENALI DIRI
RENJANA RINJANI : MENUJU KABUT DI HENING SANG DEWI
RENJANA RINJANI : BUKAN HANYA MEMBAWA HATI
TUGU HOTEL : PANTAI BERMATAHARI HINGGA PURNAMA
TUGU HOTEL : TEPIAN LOMBOK UTARA MENATAP RINJANI

Advertisements

9 thoughts on “lombok dan kenangan-kenangan yang mengikuti

  1. Gallant Tsany Abdillah says:

    Itu acara TW Gathering aku daftar tapi nggak dipanggil. Pernah juga diajakin mendaki Rinjani tapi pas nggak ada uang. Belum sempat menengok Lombok tapi sekarang dia sedang “sakit” semoga lekas sembuh, Lombok!

  2. omnduut says:

    Salah satu destinasi yang bukan hanya aku, tapi satu keluarga di rumah idam-idamkan. Ah, cantiknya “lukisan” sang pencipta ya mbak. Di foto aja bikin merinding gini liatnya, apalagi liat dengan mata kepala sendiri.

    Semoga Lombok bangkit dengan cepat. Amiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s