tak cuma ada dodol di garut

CDMA/GSM smartphone 5"

CDMA/GSM smartphone 5″

The Caller: If you have to ask, you’re not ready to know yet.
– Phonebooth [Movie-2002]

Seberapa penting sih smartphone buat kamu? Buat aku yang lebih sering mematikan ponsel ketika bepergian merasa nggak terlalu perlu juga sih. Apalagi kalau pergi ke tempat terpencil yang mungkin sinyal juga tiada. Agak-agak bingung juga apa yang akan aku perbuat ketika aku mendapat Smartfren AndromaxV ketika diundang datang ke acara buka puasa bersama. Iya, setelah beberapa kejadian smartphoneku tidak bisa berfungsi maksimal ketika dibawa jalan-jalan, fitur lain apa yang sebenarnya bisa digunakan?

Dua minggu lalu aku berjalan-jalan ke Kampung Naga Tasikmalaya bersama Bintang, lalu menjemput Lanny dan Fadi dari Jakarta, dan Sanjaya yang datang dari Jogja. Jalur Kampung Naga ini ada di daerah Singaparna yang termasuk dalam Kabupaten Tasikmalaya, namun harus dicapai dengan melalui kota Garut. Kebetulan saat itu Smartfren AndromaxV-nya terbawa, sehingga fitur-fiturnya dicoba oleh diriku yang sebenarnya agak gaptek ini.

Karena aku sudah pernah ke Garut sebelumnya (namun agak tersesat), namun jalan dari pintu tol Cileunyi hingga Garut cukup jelas selama kami mengikuti papan petunjuk jalan ‘Garut Kota’. Aku membuka googlemap p ada AndromaxV untuk mencari jalan menuju posisi di mana Sanjaya berada. Karena ia sudah tiba sejak subuh tadi pagi, aku minta ia mengirimkan posisi lewat whatsapp. Untunglah ia mengirimkan lokasi, karena titik yang ia sebut adalah Masjid Agung Garut. Kalau ia tidak mengirimkan lokasi, bisa-bisa kami tersesat ke beberapa masjid yang cukup besar di kota Garut.

menggunakan 'direction' pada googlemap

menggunakan ‘direction’ pada googlemap

Sabtu itu kota Garut cukup ramai oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Udara pagi menjelang siangnya mulai panas menyengat ditambah dengan poster-poster calon Bupati di mana-mana membuat kota menjadi agak pengap. Dengan kontur yang berbukit-bukit, dan jalan yang tidak terlalu besar, mobil beringsut di belakang angkot-angkot menuju Masjid Agung Depok dengan berpatokan peta pada googlemap. Layar AndromaxV berukuran 5” yang cukup besar ini memudahkan pandangan membaca peta. Tak sulit kami menemukan bangunan masjid itu. Lurus terus ke arah selatan, lalu berbelok ke timur, sampailah kami di halaman Masjid yang berhadapan dengan Lembaga Pemasyarakatan kota Garut ini. Tampak Sanjaya sedang berteduh di bawah pohon menunggu kami.

masjid agung garut dan andong domba di pelatarannya

masjid agung garut dan andong domba di pelatarannya

Setelah menelepon Farchan, salah satu teman blogger yang berdomisili di Garut, kami menuju Kampung Naga yang berada di Jalan Raya Salawu menuju Tasikmalaya. Tentunya lagi-lagi berkat googlemap kami tidak tersesat lagi seperti dua tahun yang lalu pernah kualami. Walaupun petunjuk yang kudengar cuma ‘dari jalan Otto Iskandar Dinata sekarang lurus saja nanti ketemu jalan ke Kampung Naga’ tapi untuk memastikannya tentu kami cek di peta.

mencari jalan ke ke kampung naga

mencari jalan ke ke kampung naga

Sebelum menuju ke sana, karena sudah lapar dan memasuki jam makan siang kami mampir di Rumah Makan Asep Stroberi. Khas Sunda banget kan? Lihat saja namanya. Dilengkapi saung-saung kecil membuat kita nyaman selonjoran sesudah menempuh perjalanan sekitar 3 jam. Terdapat kolam ikan mas yang besar dan kebun strawberry di belakangnya. Pengunjung yang membawa anak kecil (sebenarnya orang dewasa juga bisa sih..) bisa memetik strawberry yang besar-besar di kebun itu dan ditimbang dihargai Rp. 5000 per 100 gram-nya.

Masakan di sini lezat sekali. Entah karena rentang enak menurutku hanya enak dan enak sekali, maka kami merasa kekenyangan. Aku dan Sanjaya memesan Nasi Tutug Oncom dan Bebek bakar, sementara Lanny dan Fadi ingin mencoba paket berdua Nasi Liwet Gepuk dan ikan asin. Sementara Bintang dengan bekal bawaannya dari rumah yang dihabiskan sambil ia memetik strawberry.

Yang mengejutkan adalah porsinya! Nasi liwet untuk dua orang datang dalam panci kecil berukuran diameter 15 cm dengan tinggi 20 cm. Weih, Lanny sampai melongo melihat porsi yang harus mereka habiskan. Sementara Nasi Tutug Oncomku juga nggak kalah besar, kira-kira sebesar cepukan mangkok bakso cap ayam jago. Berhubung kami belum sarapan dan ini sudah tengah hari, jadi kami melahap cepat makanan-makanan tersaji, walaupun akhirnya bersisa juga.

memetik strawberry sambil makan siang

memetik strawberry sambil makan siang

Kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Naga, yang ditempuh sekitar 1 jam dari rumah makan tadi. Sepanjang sisi kiri jalan mengalir sungai yang di belakangnya sawah-sawah terasering menghijau. Khas pemandangan di Jawa Barat dengan latar pegunungan berkabut di kejauhan. Sepanjang perjalanan Bintang asyik bermain game dengan Smartfren AndromaxV itu dan berhenti ketika masuk kecamatan Salawu. Ia mulai menikmati pemandangan lagi.

Tiba-tiba aku melihat tugu kujang di bawah jalan dan langsung mengenalinya sebagai jalan masuk ke area Kampung Naga. Setelah parkir, kami disambut oleh pemandu bernama Kang Uriya yang akan mengantarkan kami berkeliling kampung. Fungsi pemandu di sini adalah untuk menjelaskan tentang kampung, termasuk menunjukkan area yang pantang untuk kami potret dan kami masuki. Tidak bisa masuk Kampung Naga asal saja, harus ijin setidaknya oleh guide yang orang asli dari Kampung Naga-nya.

Sambil menuruni anak tangga batu berjumlah 339 itu, aku mencatat penjelasan Kang Uriya tentang sejarah kampung ini dengan fitur Notes pada Smartfren AndromaxV ini. Tapi ternyata terlalu banyak yang diucapkan sehingga aku berganti dengan fitur Recorder saja. Kan nanti ketika mau menulis bisa mendengarkan ulang penjelasan Kang Uriya ini. Sambil smartphone tetap di tangan, kami mengikuti pemandu itu yang menunjukkan satu spot bagus untuk memotret.

mencoba menulis dengan notes

mencoba menulis dengan notes

lebih baik merekam untuk membuat catatan

lebih baik merekam untuk membuat catatan

Nah, di sini aku tak mempergunakan kamera ponsel ini untuk memotret karena masih kugunakan untuk merekam. Kami berempat bergantian memotret dengan kamera DSLR masing-masing. Sambil melanjutkan turun, tanpa terasa kami sudah sampai di tepian sawah sebelum masuk Kampung Naga.

kampung naga dari satu celah pandang

kampung naga dari satu celah pandang

Kami melalui kolam ikan mas yang berada di samping sebuah gazebo tempat berkumpul untuk merontokkan padi. Karena obyek foto makin banyak dan tanganku penuh, akhirnya kuputuskan memasukkan smartphone ini ke saku dan lebih sering menggunakan kamera DSLR untuk memotret bangunan-bangunan dan suasana kampung yang namanya berasal dari Kampung Na Gawir dan akhirnya lebih sering disebut Kampung Naga saja.

kolam ikan mas

kolam ikan mas

Kami melalui permukiman yang menghadap utara selatan itu sambil bertemu beberapa penduduk yang sedang bercengkrama. Pemukiman ini berpola memanjang dalam bebeerapa baris.Tak jauh terdapat bekas petilasan atau tempat sholat para sesepuh kampung dulu. Tempat ini dipagar bambu dan terlarang untuk difoto.

rumah penduduk dari kayu dan anyaman bambu

rumah penduduk dari kayu dan anyaman bambu

Ada tanah lapang besar di tengah kampung yang menghadap ke arah masjid. Di situ biasanya penduduk berkumpul untuk mengadakan acara. Ketika kami sedang asyik memotret-motret, datang serombongan orang yang sepertinya dari Pemda hendak studi di Kampung Naga. Rupanya, keunikan kampung ini memang banyak membuat banyak orang mengunjungi untuk mempelajari pola bertinggal di sini.

masjid kampung naga

masjid kampung naga

Kang Uriya mengajak kami ke atas untuk menunjukkan rumah tetua, yang juga tidak boleh difoto kemudian mengajak kami mampir ke rumah neneknya untuk beristirahat sambil aku mengamati bangunan ini. Sesudah puas selonjoran, kami melanjutkan perjalanan ke mata air. Konon kabarnya, mata air ini membuat awet muda! Entah percaya atau tidak, Sanjaya meraupkan air tersebut pada wajahnya.

ayam yang banyak berkeliaran di kampung

ayam yang banyak berkeliaran di kampung

Jam 4 kami kembali ke Garut untuk bertemu Farchan. Seperti biasa, jalan pulang selalu lebih cepat sehingga tak terasa sampai kota lagi dan harus mencari-cari lokasinya menunggu kami. Dengan Google map lagi kami dipandu hingga sampai Jalan Pembangunan dan bertemu pertama kalinya dengan blogger asal Magelang yang berdomisili di Tangerang ini.

Berhubung area makanan yang berada di dekat Masjid Agung ditutup, kami diarahkan untuk berjalan memutar. Dan ternyata, lumayan juga putar-putar kota Garut di sore hari. Walaupun kota ini adalah akhir tujuan wisata dan bukan kota transit, kawasan niaganya cukup besar. Sepanjang jalan berbukit-bukit yang kami lalui toko-toko banyak yang buka mulai dari yang jejaring nasional, minimarket, sampai toko-toko yang lama berdiri dan masih berpintu kayu berjejer. Kami melalui sentra penjualan olahan kulit sapi dan domba. Harga jaket kulit di sini berkisar Rp 750-800 ribu per buah. Lumayan juga apabila ingin berbisnis jaket kulit asli dan mengambil stok di sini.

Ketika kami tiba di dekat tempat makan yang dituju, angin dingin langsung menusuk sekeluarnya kami dari mobil. Wah, tak kusangka kota yang siangnya panas menyengat ini pada malam hari bisa bikin menggigil. Di sini kalau malam suhunya bisa 17 derajat, kata Farchan.

Di satu jalan yang dipenuhi warung tenda kami mampir makan soto ayam. Seperti diperkirakan sebelumnya, nasinya banyak banget. Segera sesudah satu porsi nasi yang pertama datang, kami minta nasinya 1/2 saja. Bisa-bisa berat badan naik kalau kami lebih lama lagi tinggal di Garut. Soto ayam kampung itu terasa gurih lezat mengguyur tenggorokan. Sayangnya, pengamen di sini bak ketombe yang digaruk muncul lagi agak mengganggu kenyamanan makan soto ini.

sebenarnya kami makan soto

sebenarnya kami makan soto

Usai mengantarkan Farchan pulang, kami mampir membeli Dodol Picnic yang khas kota Garut untuk oleh-oleh. Tak lupa ke toko Chocodot membeli coklat-coklat lucu untuk oleh-oleh teman kantor. Perjalanan sehari di Garut pun usai. Rasanya ingin kembali lagi untuk main ke Kampung Sampireun atau mandi air panas di kawah Kamojang. Kaki gunung selalu punya pesona yang menarik kembali.

photomix dari kampung naga

photomix dari kampung naga

rumah di tepi tanah lapang

rumah di tepi tanah lapang

note : foto-foto selain screen capture bukan diambil dari smartfren andromaxV

perjalanan: sabtu, 28 september 2013
ditulis di KRLdepok-juanda 10.10.13

lebih dalam : kampung naga dalam uraian uriya

Advertisements

4 thoughts on “tak cuma ada dodol di garut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s