Tag Archives: pasir

south lombok : the blue, the pink, the beach

0-cover-south-lombok-gili-sunud

And me? I still believe in paradise. But now at least I know it’s not some place you can look for. Because it’s not where you go. It’s how you feel for a moment in your life when you’re a part of something. And if you find that moment… It lasts forever.
– The Beach [movie 2000]

Kapal bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Tanjung Luar di Lombok Selatan sekitar jam setengah sebelas pagi. Menurut Pak Man yang menyupiri perjalanan ke sini, jika tiba lebih pagi kami bisa melihat kesibukan pasar ikan yang menjual aneka hasil laut yang ditangkap oleh nelayan maupun dibudidayakan oleh petani laut.

Air laut yang berombak perlahan menampar-nampar tepi kapal kayu yang dilengkapi dengan jukung sebagai penyeimbang itu. Aku memperhatikan wajah pengemudinya yang mantap dan yakin mengendalikan kendaranya itu. Jika ia terlihat tenang, maka tak ada alasan untuk takut di laut. Lagipula perairan yang kami lalui cukup tenang tidak banyak goncangan yang berarti di atas kapal kecil yang memuat kami berdua belas yang mengikuti perjalanan Travel Writers Gathering Lombok ini.
Continue reading south lombok : the blue, the pink, the beach

renjana rinjani : jalan mengenali diri

cover

    Aku tidak pernah sampai puncak.

    Jam delapan tiga puluh pagi itu, ketika matahari mulai bangun dari balik punggungan puncak, ketika langit memantul di Danau Segara Anak di bawah, ketika tiupan menghantam tubuhku yang terseok-seok di jalur berpasir, aku menyerah.

    “Mas Sopyan, sampai sini saja,” ucapku gemetar sambil menahan tangis dan dingin. Satu jalur pendakian di depanku menuju puncak nampak 45 derajat di depan. Aku tak kuat lagi. Sudah hampir 6 jam kami berjalan dari Plawangan Sembalun, dan belum juga sampai titik pendakian akhir. Kakiku rasanya kaku untuk digerakkan.
    Continue reading renjana rinjani : jalan mengenali diri

kecup pantai gawu soyo dan ture loto : ya’ahowu nias #4

cover

Akankah aku memilih untuk hidup di bumi setelah mengetahui dengan pasti bahwa aku tiba-tiba akan dicabut dari sana, dan barangkali di tengah-tengah kebahagiaan yang memabukkan? Atau, akankah aku, bahkan pada tahap yang paling awal, dengan hormat menolak untuk ikut dalam permainan ini?
[Gadis Jeruk – Jostein Gaarder]

terbangun dari tidur di : ketika museum pusaka nias bertemu debur samudera : ya’ahowu nias #3

Aku selalu suka melihat laut. Debur ombak selalu memberikan kedamaian pada hati. Apalagi diterpa angin sambil merentangkan tangan dan membaui asin yang meruak ke udara. Tak cuma pantai, pelabuhan dengan kapal dan laut tidak biru pun bisa membuang efek negatif yang mungkin kebetulan sedang hinggap. Mungkin karena aku dilahirkan di tepi laut di Cirebon sehingga selalu akrab dengan perbatasan darat dan perairan ini. Kapal, ombak, dan batas cakrawala selalu menarikku untuk kembali.

Seusai segar mandi, kami dijemput Java dan supirnya untuk menjelajah ke Nias Utara. Sepertinya hari kedua ini tema petualangan kami adalah air, karena sesudah berenang-renang di laguna tadi pagi, siang ini kami menuju Pantai Gawu Soyo yang berpasir merah dan snorkeling di Pantai Ture Loto.

Perjalanan ke utara melalui jalan-jalan yang cukup mulus sesudah diperbaiki LSM paska gempa. Setelah satu jam jalanan mendatar, mobil berbelok ke arah barat. Karena hari ini hari Jumat, masih banyak pelajar berseragam yang kami temui di jalan baru saja pulang sekolah. Di Nias utara ini kami mulai menemukan masjid berada di tengah pemukiman warga yang rata-rata berdinding kayu. Menurut Java, di sini banyak perantau yang berasal dari Aceh.
Continue reading kecup pantai gawu soyo dan ture loto : ya’ahowu nias #4