jati meranggas #1 : matahari di atas bromo lautan pasir

cover

i love indonesia more than ever
~ tulisan di kaos

Pohon apa yang meranggas di musim kemarau? Pertanyaan umum sejak SD ini cuma memiliki satu jawaban pasti : Jati. Entah kenapa, pohon mahoni, pohon karet, atau pohon-pohon kayu yang sengaja menggugurkan daunnya untuk menjaga ketersediaan air di dalam tubuhnya, tidak ikut menjadi opsi jawaban. Pertanyaan ini yang menjadi bahan kenangan kami, empat orang yang tidak pernah bepergian bersama sebelumnya, sepanjang penjelajahan kami keliling Jawa Timur yang penuh dengan pohon jati di sepanjang jalan. Lagipula, akronim Jawa Timur dan Jati Meranggas bisa jadi sama, yaitu Jatim. Tujuan perjalanan kami kali ini adalah Pegunungan Bromo, Pegunungan Ijen, dan terutama Taman Nasional Meru Betiri yang merupakan impianku mencapai ujung timur pulau Jawa.

ide dari dua kota
Awalnya digagas dari aku yang ingin ke Ijen dan Meru Betiri, dan Sansan yang kukenal dari jejaring maya goodreads indonesia jogja yang ingin ke Bromo dalam satu status facebooknya, akhirnya kami jadikan satu rangkaian saja sebagai satu tur ke Jawa Timur. Sejak Juli 2012 kami sudah mulai mengutik-utik itinerari yang pas untuk perjalanan ini, juga tanya-tanya kiri kanan sebagai pembanding harga yang harus dikeluarkan kelak. Agak merepotkan karena kami beda kota, sehingga komunikasi kami hanya lewat email dan twitter. Selain itu, aku dan Sansan juga mencari teman-teman seperjalanan yang lain untuk meringankan biaya patungan sewa jeep nanti. Banyak yang maju mundur, namun akhirnya yang berangkat selain kami berdua juga Herdian yang pernah kukenal di salah satu event jalan-jalan goodreads bandung dan Adhib, teman sekantor Sansan di Jogja.

Kami janjian ketemu di Terminal Bungurasih Surabaya, setelah tiba dengan moda transportasi masing-masing. Aku naik kereta dari Jakarta ke Surabaya ke Stasiun Pasar Turi, Herdi dengan pesawat dari Jakarta ke Surabaya, Sansan dan Adhib naik kereta dari Jogja, walau dari kota yang sama namun dengan kereta yang berbeda sampai Stasiun Gubeng, Surabaya. Jadilah kami berempat bertemu di Terminal untuk menunggu bis tujuan Lumajang, untuk turun di Probolinggo, sebelum naik ke Cemorolawang, titik menginap di Bromo. Tiket bis ini hanya Rp. 23.000 per orang.

Tak berapa lama kemudian bis datang dan dengan sedikit berebutan kami naik bis tersebut dan tertidur sampai tiba di Probolinggo. Sesudah melahap nasi pecel buah tangan kak Nungki Prameswari dari Surabaya, kami dijemput mobil sewaan sampai Cemorolawang. Sebenarnya, di terminal Probolinggo banyak Elf menuju Ngadisari, terminal desa di bawah Cemorolawang, namun karena terlanjur mem-booking mobil sewaan, dan naik elf sepertinya ngetem lama, jadilah kami naik mobil itu dengan pemandangan yang indah di kiri dan kanan.

dari jalan yang berkelok-kelok

dari jalan yang berkelok-kelok

Setiba di penginapan, rupanya ada miskomunikasi dengan penginapannya, karena di sms ia menulis check-out tanggal 16, yang mana ia maksudkan sebagai check-in. Jadi bookingan kami tanggal 15 dan check-out tanggal 16 itu ditulis sebagai masuk tanggal 16 dan keluar 17. Jadi teman, berhati-hatilah dalam kata check-in dan check-out, karena si pengguna sering tertukar karena tidak pahan dengan artinya. Akhirnya kami ditawari kamar baru di belakang dengan tarif Rp. 200.000,- per malam, dengan kamar mandi dalam, sayangnya tidak ada air panas. Hii, bayangkan di Bromo tanpa air hangat untuk mandi, pasti dingin setengah mati. Jadi kami ambil juga dua kamar itu dengan syarat kami dapat air panas di ember.

kabut dan dingin
Sesudah beres-beres di penginapan, kami jalan-jalan ke kebun bawang yang banyak terdapat di sekitar desa Cemorolawang. Bagusnya adalah, penginapan kami dekat sekali dengan tepian jurang lautan pasir, sehingga kami bisa melihat Gunung Batok yang menjulang dengan lautan pasir di bawahnya. Sayang sekali, karena agak mendung, maka matahari terbenamnya tidak terlalu nampak karena tertutup kabut. Gerimis pun turun tipis menjelang lembayung senja di kejauhan. Dingin mulai menggigit, sehingga kami yang sebenarnya sudah malas mandi ini memutuskan untuk tidak mandi sama sekali. Sampai di kamar, kedua cowok, Sansan dan Herdi, di kamar sebelah malah langsung krukuban (berselimutkan) sarung.

lereng samping kebun bawang

lereng samping kebun bawang


kebun bawang yang berderet di samping rumah penduduk

kebun bawang yang berderet di samping rumah penduduk


herdi dan sansan berlatarkan gunung batok

herdi dan sansan berlatarkan gunung batok

Tak berapa lama muncullah mas Gitar, pengemudi yang akan mengantar perjalanan kami, dan membawa kabar buruk. Jreenggg..!!! Katanya, tidak ada driver yang berani membawa kami untuk terus melakukan perjalanan ke Meru Betiri, tempat tujuan utama kami, karena akan melintasi sungai dan hutan. Tidak ada juga yang mau meminjamkan jeepnya tanpa resiko hanyut di sungai. Errr, mendengar itu kami agak kaget. Jadi kalau ke Meru Betiri ini harus melintasi sungai, ya? Asyik juga. Kami sempat komplain pada mas Gitar karena penghubung kami sebelumnya yang orang Bromo, menyatakan bisa membawa ke Meru Betiri. Akhirnya setelah menelepon contact person di Meru Betiri, yang bersedia menjemput kami di Banyuwangi, kami pun bersedia menerima tawaran mas Gitar yang hanya bisa menyupiri kami sampai Ijen. Tawar-tawaran pun terjadi lagi. Untuk keliling-keliling Bromo di pagi hari besok sebesar Rp. 550.000,- satu jeep untuk 4 tempat, yaitu Sunset Gunung Pananjakan, Kawah Bromo, Pasir Berbisik, dan Bukit Teletubbies. Dan juga nego ulang untuk perjalanan ke Ijen sejauh 7 jam perjalanan sebesar Rp.1.500.000,-. Tentunya biaya-biaya ini cuma bisa dibagi empat. Kalau seandainya kita jalan dengan lebih banyak orang (maksimal 6) tentu harga per orang bisa lebih ditekan lagi.

Malamnya kami sempat berjalan-jalan di desa Cemorolawang itu sambil mencari makan malam, di tengah dingin yang sangat menggigit, melihat beberapa hotel di sekitar yang cukup bagus. Hehe, kalau saja uang berlebih, tentu memilih menginap di tempat yang lebih nyaman. Tapi tempat kami menginap pun cukup strategis, karena tak jauh dari pintu masuk menuju kawah, dan berada di jalur ke Pananjakan esok harinya. Seperti biasa kalau di daerah dingin, kalau bernapas di atas gunung muncul uap putih yang terhembus. Makan malam di warung-warung sekitar Bromo tidak terlalu mahal, sekitar Rp 10.000-Rp.15.000 per orang. Tidak ada makanan khas di Bromo, sehingga kita hanya pesan nasi rawon dan nasi goreng saja, tentunya dengan teh manis panas yang dalam beberapa saat berubah menjadi hangat. Karena diingatkan bahwa besok paginya kita harus bangun jam 03.00 pagi, jadi sesudah makan malam kami cepat-cepat tidur.

kawasan wisata
Kawasan Bromo-Tengger berada dalam wilayah Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Bisa dicapai dengan jeep dari kota Malang, atau mobil dari Probolinggo. Mata pencaharian penduduknya yang utama adalah petani. Banyak tanaman khas dataran tinggi di sini seperti bawang merah, kubis, yang ditanam di lereng-lereng gunungnya dengan sistem terasering. Banyak sekali penduduk di sini yang menyewakan rumahnya menjadi homestay bagi yang mau bermalam sebelum naik ke kawasan wisata.

Sebenarnya, Bromo tidak pernah masuk jadi destinasi impianku. Bukan meremehkan, cuma memang sudah terlalu banyak orang yang ke Bromo dan ingin ke Bromo. Jadinya nggak terlalu istimewa buatku. Terlalu mainstream, hehe. Tapi ternyata ketika sampai di Cemorolawang sore hari itu, banyak yang menarik perhatianku. Melihat desa ini benar-benar sebagai desa wisata yang menjadi basepoint sebuah tempat wisata terkenal di Jawa Timur. Desa ini bersih, dengan jalan-jalan yang cukup lebar dan bagus untuk dilalui kendaraan. Tak banyak penginapan mewah di sini, hanya masuk kategori ‘bagus’ saja ada beberapa buah. Selebihnya, pendatang banyak yang menginap di homestay-homestay yang diberdayakan oleh penduduk.

Dari penuturan mas Gitar, jeep-jeep di kawasan Bromo dikelola oleh koperasi. Sehingga tidak rebutan dan mempunyai aturan yang jelas. Ada ratusan jeep di kawasan Bromo. Kendaraan ini memang cukup tangguh untuk medan-medan menanjak, pasir, maupun berbatu-batu. Sayang banyak yang umurnya sudah cukup tua. Aku tak tahu, apakah Toyota masih memproduksi jeep jenis ini ya?

malam berkabut di cemorolawang. jeep yang banyak digunakan

malam berkabut di cemorolawang. jeep yang banyak bertebaran di bromo


Air bersih, seperti beberapa kawasan pegunungan lainnya, harus membeli, karena sulit membuat sumur bor di ketinggian seperti ini. Di penginapan kami terdapat penampungan air yang dialirkan ke kamar-kamar tamu penginapan. Tentu saja, karena dinginnya udara, kami tak sering-sering mandi. Lagipula, tubuh tidak berkeringat di udara yang sejuk ini.

pananjakan II
Keesokan paginya, kami dibangunkan oleh suara alarm dan mobil-mobil yang menderu-deru melewati depan penginapan kami menuju Gunung Pananjakan II. Sebenarnya, biasanya melihat sunrise dari Gunung Pananjakan I, namun jalan menujunya masih dibeton, sehingga kami dibawa ke Gunung Pananjakan II. Ratusan jeep tampak berderet ke jalan gunung tersebut. Sesampai kaki gunung tersebut, kami berjalan kaki sampai kaki tangga yang dibangun sampai puncak. Tak sedikit kuda tunggang yang ditawarkan untuk orang-orang yang tak kuat mendaki. Alasan kami memilih untuk berjalan kaki, selain karena lebih murah, juga untuk menghangatkan tubuh. Semakin banyak bergerak membuat kita semakin cepat hangat bukan?

Karena ada tangga, jadinya serasa piknik, karena tidak terasa mendaki lagi. Sampai bawah kaki tangga itu aku sudah merasa kepanasan, sweater dobel jaket windbreaker yang dipakai rasanya sudah ingin dilepas saja. Tapi harus ditahan, karena sebenarnya udara dingin yang menampar langsung badan yang berkeringat akan berbahaya untuk tubuh. Akhirnya, sesudah pendakian anak tangga selama 20-30 menit sampailah di puncak Gunung Pananjakan II yang di situ bisa memandang Gunung Bromo dan Gunung Batok di sebelah selatan.

Di puncak yang cukup datar sudah ramai orang berkumpul memandang timur bersiap-siap memantau matahari terbit. Karena sudah penuh, kami memutuskan untuk sedikit mendaki tebing sedikit untuk mendapatkan posisi enak melihat sunrise. Tempat yang kami dapat tidak terlalu lapang, malah hanya cukup untuk kami berempat, namun langsung menghadap timur dan tidak terhalang kerumunan orang. Mulai pukul 4.21 sinar matahari sudah mulai menyusup dari bukit-bukit sampai pukul 05.02 lingkaran jingga itu pun mulai naik ke udara. Tak lepas kami membidikkan kamera untuk melihat momen-momen berharga itu. Sebelum matahari terbit sepenuhnya, kami bergantian sholat shubuh dengan tayammum di lokasi yang sempit itu.

matahari terbit di bromo

matahari terbit di bromo

Sesudah matahari terbit sepenuhnya, barulah kami turun ke pelataran yang datar itu dan mengambil gambar gunung Batok, Bromo, dan Semeru di kejauhan, yang sering dijadikan latar foto-foto di kartu pos. Subhanallah, indah sekali memang ketinggian dari puncak ini. Di bawah kami melihat lautan pasir, di kiri tampak jalan berkelok yang kami lalui tadi pagi, di kanan tampak hutan ngarai bernuansa hijau kecoklatan membingkai pemandangan pengunungan kawasan Tengger ini, seperti lukisan alam yang ditorehkan. Mahameru tampak menjulang di belakang sana, tampak angkuh juga memanggil-manggil untuk didaki.

gunung batok, kawah bromo, dan mahameru sebagai latar

gunung batok, kawah bromo, dan mahameru sebagai latar


cemorolawang dari atas pananjakan

cemorolawang dari atas pananjakan

gunung, kawah, dan lautan
Sesudah jam 6 pagi dan langit sudah terang benderang, kami turun dari Pananjakan. Berempat memasuki jeep lagi yang kemudian turun ke lautan pasir menuju kaki kawah. Sebelum turun kami melewati gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di depan hotel Lava View dan membayar karcis sebesar Rp. 6000 per orang belum termasuk mobil. Namun ternyata kami hanya ditarik Rp 20.000 saja. Aneh memang perhitungan matematis di sini. Tapi biarlah, yang penting kami dapat lebih murah.

Ternyata, jeep hanya boleh melewati jalur pasir yang sudah ditentukan, karena menurut mas Gitar, ada detektor aktivitas vulkanik dan tektonik yang ditanam di tempat-tempat di lautan pasir tersebut. Parkir jeep pun cukup jauh dari kawah, sehingga kami berjalan kaki sampai kaki kawah, melewati satu kompleks pura hindu yang biasa digunakan beribadah oleh masyarakat Tengger di situ.

jalan menuju puncak

jalan menuju puncak

Suasana Bromo sedang luar biasa ramainya karena memang sedang long holiday tanggal 16 Nopember itu. Sambil menyantap bakpao kukus seharga Rp. 2500, kami berjalan sambil berfoto-foto. Tidak sedikit kuda tunggang yang ditawarkan pawangnya untuk dinaiki sampai kaki kawah. Namun kami yang memang bertekad untuk berjalan, berusaha menapakkan kaki yang berkali-kali terbenam pasir saat mendaki landaian di kaki gunung itu. Sambil berjalan santai kami sampai kaki tangga menuju kawah Bromo yang luar biasa ramai siang itu. Seluruh tangga dari bawah sampai atas penuh dengan manusia!! Rupanya banyak orang yang mengambil libur panjangnya dengan berwisata ke gunung Bromo ini. Sampai lebih dari 20 menit kami mengantri di tangga, beringsut sedikit demi sedikit ke atas sampai tepian kawah.

tangga ke kawah

tangga ke kawah

Di puncak tak kurang ramainya. Tepian yang hanya selebar 1.5 meter itu penuh orang sehingga untuk mengambil foto terpaksa kami nyelip-nyelip dan berpose. Kawah yang malam sebelumnya kami lihat berstatus waspada itu tampak mengepulkan asapnya. Terdapat danau kecil di kalderanya yang baru terjadi sesudah letusan terakhir Bromo beberapa tahun terakhir ini.

Tak tahan dengan keramaiannya, hanya 15 menit di atas kami memutuskan untuk turun lagi. Ini pun masih antri, sehingga harus bersabar turun pelan-pelan. Segera setelah sampai di bawah tangga, kami berlarian di lautan pasir sambil berhati-hati supaya tidak tertabrak kuda. Masih sempat berhenti sejenak untuk foto-foto di spot menarik, kira-kira jam 8 kami sudah kembali di jeep merah mas Gitar untuk menuju tempat selanjutnya, Bukit Teletubbies.

tepi kawah yang padat, kaldera. kembali ke bawah

tepi kawah yang padat, kaldera. kembali ke bawah

Entah sejak kapan tempat ini jadi terkenal dengan nama bukit Teletubbies. Bukit dengan warna hijau kuning ini memang mirip dengan bukit yang menjadi rumah makhluk-makhluk lucu yang beken di televisi tahun 90-an. Padang cantik ini menjadi kontras dengan pakaian warna-warni yang dikenakan pengunjungnya. Permainan cahaya light and shade yang jatuh di sisi-sisi bukit menambah kecantikan suasana. Menurut mas Gitar, di bulan Desember, akan banyak bunga warna-warni yang bermekaran menambah kecantikan suasana. Duh, rasanya ingin kembali lagi di bulan-bulan itu.

bukit teletubbies yang menguning cantik

bukit teletubbies yang menguning cantik

Banyak pengunjung, termasuk kami tidur-tiduran di semak berwarna kekuningan tersebut. Kadang-kadang terdengar deru jeep yang datang dan parkir juga di tengah padang. Rasanya damai sekali tidak ingin pulang. Di tempat ini diharapkan untuk tidak menyalakan api, karena sangat kering. Percikan api yang mengenai ranting bisa saja menyambar dan menghanguskan keindahan ini.

Usai bukit cantik itu kami menuju lautan pasir yang dijadikan set lokasi film Pasir Berbisik. Di padang pasir ini biasanya ada gumuk (bukit) pasir yang bisa berpindah-pindah apabila musim angin tiba. Suasanyanya sangat kering, namun udara tetap terasa sejuk walau sinar matahari panas. Berada di lautan pasir membuat rasa kosong. Aku jadi ingat salah satu adegan film Tendangan dari Langit. Di film itu diceritakan si bocah tokoh utamanya berlatih bola sendirian di padang pasir ini. Kalau ada badai, bisa-bisa kehilangan arah karena tertutup debu pasir yang bergerak. Aku melihat jam. Sudah hampir pukul 10. Perut sudah keroncongan lapar lagi karena hanya terganjal bakpao tadi.

asyik bermain di lautan pasir

asyik bermain di lautan pasir


kami dan jeep. sansan, indri, herdi, adhib

kami dan jeep. sansan, indri, herdi, adhib

desa di atas lautan pasir
Kami kembali ke penginapan dan segera mandi dan packing. Wah, sudah terlalu siang dan bisa kemalaman sampai Ijen, tujuan kedua. Mas Gitar mengganti jeepnya dengan Mitsubishi Maven biru. Wah, cukup lega di sini bisa tidur-tiduran. Kemudian kami meluncur ke bawah melewati kawasan pemukiman penduduk yang berdiam di desa itu.
Kebanyakan orang Tengger tinggal di dekat terminal Ngadisari. Di ujung gang-gang jalan ke pemukiman mereka, terdapat gapura batu. Rumah mereka biasa saja, rumah kayu atau batu dengan jendela dan berlangit-langit rendah. Setiap hari mereka pergi ke kebunnya untuk bekerja. Di sela-sela pemukimannya sering terdapat kebun bawang atau kebun tomat budi daya mereka. Rumah-rumah yang di tepi jalan bercat warna-warni. Inilah desa yang bisa menghidupi dirinya sendiri.

gapura dan desa

gapura dan desa

Menurutku, walaupun banyak dikunjungi wisatawan, namun desa ini bertahan tetap menjadi desa. Aku tak tahu pasti juga, karena aku hanya semalam di sini. Namun perasaan tenang, suara jangkerik, wajah orang-orang tua yang menyapa tulus, anak-anak muda yang ramah, tukang jual sarung tangan wol yang menawarkan dagangannya, gerak yang lambat, membuat tenang di sini. Sesuatu yang aku tak dapatkan di kota besar. Pantas saja di sini sering dipakai syuting FTV.

Desa-desa penunjang kawasan wisata seperti Bromo perlu banyak ditiru di tempat-tempat lain. Di sini tak banyak orang ramai menawarkan ini-itu dagangan atau hotel (atau mungkin tak kelihatan?), bisa menjumpai suasana desa yang asli apabila mau blusukan ke dalam kawasan Tengger ini. Sebagai penyangga kawasan wisata, Cemorolawang telah menjadi tuan rumah yang baik untuk semua yang datang mengunjungi keindahan Bromo.

Sebelum meninggalkan Cemorolawang, kami makan nasi goreng dulu di bawah terminal Ngadisari. Ya, ini niatnya sarapan tapi jadinya masuk jam makan siang. Akhirnya, kami baru meninggalkan kawasan Bromo-Tengger pada jam 1 siang, menuju gunung Ijen di Bondowoso-Banyuwangi.

perjalanan tanggal 15-16 nopember 2012.
rumahkentang. 17.01.2013. foto koleksi pribadi

bersambung ke jati meranggas #2: pesisir, jati, dan kopi

peta perjalanan surabaya-bromo

peta perjalanan surabaya-bromo

.

Advertisements

24 thoughts on “jati meranggas #1 : matahari di atas bromo lautan pasir

    • indrijuwono says:

      ayo diatur jadwal cutinya. bandung surabaya kan banyak penerbangan murah tuh.. 😀
      aku juga tinggal 5 tahun di surabaya nggak pernah ke sini. malah pas di jakarta ke bromo-nya..

  1. helvry says:

    mantap nih catatan perjalanannya teh, aku dulu kesini memang tanpa persiapan dan mencuri waktu di sela-sela waktu penugasan jadinya minim eksplorasi, hehehe..
    lanjut jalan-jalannya teh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s